INTERMESO

Aku Bukan Lelaki, Bukan Juga Perempuan

“Aku cuma mau orang menerima aku apa adanya tanpa memaksakan aku buat memilih gender.”

Ilustrasi: Getty Images/iStockphoto/LemonTreeImages

Sabtu, 27 Agustus 2022

Ketika Bayu, bukan nama sebenarnya, lahir ke dunia ini, dokter di rumah sakit langsung menyematkan identitas laki-laki. Alat reproduksi menjadi dasar dokter dalam menentukan jenis kelamin. Karena Bayu lahir dengan alat kelamin berupa penis, maka dokter menyebutnya sebagai laki-laki.

Karena lahir sebagai laki-laki, maka ibu Bayu memakaikan pakaian bayi bermotif bola dengan pilihan warna abu-abu dan biru. Sementara ayah Bayu memilih mainan robot dan mobil-mobilan untuk menghibur anaknya di kala senggang.

Karena masih bayi, tentu Bayu tak bisa menolak pemberian kedua orangtuanya itu. Namun, seiring bertumbuhnya dirinya, identitas gendernya di lingkungan sosial sebagai laki-laki mulai meresahkan Bayu.

“Dari kecil aku selalu bertanya-tanya, kenapa, sih, kalau anak cowok harus rambut pendek, sedangkan perempuan boleh rambut panjang? Kenapa ke anak cowok boleh kasar, tapi ke cewek itu harus protektif banget?” ungkap Bayu kepada detikX. Ia meminta identitasnya dirahasiakan.

Beranjak remaja, orang tua Bayu kerap menegur gaya bicara dan gaya berjalannya yang lemah gemulai layaknya anak perempuan. Di sekolah, Bayu tidak menyukai pelajaran olahraga. Biasanya ia berkumpul di pinggir lapangan sepak bola bersama teman-teman perempuannya.

Tapi menjadi satu-satunya laki-laki di geng pertemanan perempuan tidak sepenuhnya membuat Bayu merasa nyaman. Teman perempuan Bayu memang menyambut Bayu dengan hangat. Bahkan Bayu kerap diajak nimbrung untuk membicarakan hal-hal yang hanya boleh didengar oleh sesama perempuan saja.

Namun, tetap saja Bayu tidak merasa dirinya cocok bergaul dengan mereka. “Mereka, kan, suka ngobrolin pengalaman mereka waktu menstruasi atau waktu mereka pacaran sama laki-laki. Aku, sih, dengerin mereka aja,” ucap Bayu yang tahun ini berusia 22 tahun.

Ilustrani nonbiner atau gender netral
Foto: Edi Wahyono

Meski berkawan dengan perempuan, hal itu tak serta merta mengubah penampakan Bayu menjadi perempuan pula. “Aku nggak pernah sengaja supaya kelihatan feminim kayak perempuan. Cara ngomong aku, ya, naturalnya dan nyamannya, ya, emang kayak begini. Emang ini aslinya aku.”

Bagi Bayu, tidaklah mudah menentukan jati dirinya yang sebenarnya di dunia yang mengkotak-kotakkan manusia antara laki-laki atau perempuan. “Aku nggak ngerasa kalau diri aku ini perempuan atau laki-laki. Aku juga nggak kepengen jadi perempuan. Aku cuma mau orang menerima aku apa adanya tanpa memaksakan aku buat memilih gender,” ungkapnya.

Bayu baru merasa hidupnya tercerahkan saat mengetahui tentang istilah nonbiner. Nonbiner atau gender netral, menurut CSE Officer Rutgers, Sanyulandy Leowalu, adalah sebutan bagi orang yang tidak mau mengidentifikasikan gendernya secara eksklusif sebagai perempuan atau laki-laki.

Seseorang itu cenderung menentukan gendernya sendiri sesuai dengan kehendaknya yang berada di luar gender biner. “Nonbiner bukan orientasi seksual, tapi identitas gender,” kata Sanyu seperti dikutip detikHealth beberapa waktu lalu.

Istilah nonbiner, menurut Bayu, paling pas dengan situasi dirinya. Meski fisiknya laki-laki, ia tidak merasa bahwa dirinya adalah seorang laki-laki tulen. Tapi ia juga tidak mengakui sebagai bagian dari kelompok anak perempuan.

Setelah mengetahui identitas dirinya yang sesungguhnya, tak ada yang nampak berbeda di kehidupan Bayu. Ia tidak coming out alias menunjukan identitasnya di hadapan orang tua dan kerabatnya. Bayu menyimpan identitas barunya itu rapat-rapat. Itu sebabnya Bayu bisa menjalankan kehidupan barunya di sebuah universitas negeri dengan damai.

Bayu tidak sefrontal mahasiswa baru di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin (Unhas) yang beberapa lalu sempat viral. Di hadapan publik, mahasiswa ini sempat mengaku dirinya bukan laki-laki maupun perempuan, alias nonbiner. Pengakuan itu langsung memicu perdebatan publik. Ada yang memberi dukungan pada mahasiswa itu, namun ada juga yang mempertanyakan kenekatannya.

Seorang mahasiswa baru di Unhas dikeluarkan dari acara orientasi beberapa hari lalu setelah menyatakan diri nonbiner
Foto : Dok Istimewa

“Menurut gue, sih, harusnya di-keep sendiri. Jangan lupa juga, lu, tuh, hidup di Indonesia, bukan Amerika. Di sini sudah jelas konsep nonbiner bertentangan sama pola pikir masyarakat kita. Yang diakui di sini cuma laki-laki sama perempuan,” tulis seorang pengguna Twitter.  

Berbeda dengan kehidupan nyata, rupanya Bayu juga cukup vokal mengenai identitasnya di Twitter. Di akun Twitter miliknya, Bayu tidak memajang foto profilnya sendiri, melainkan sebuah karakter anime favoritnya.

Ia hanya tak ingin teman-teman apalagi keluarga mengetahui identitas aslinya. Pada profil Twitter, Bayu menuliskan kata ganti dalam Bahasa Inggris ‘Him’ atau ‘They’. Kata ganti netral gender ini juga kerap digunakan oleh kelompok nonbiner lainnya.  

“Aku akuin dia berani banget, apalagi di depan orang banyak. Tapi mesti paham konsekuensinya. Itu yang sampai sekarang bikin aku ragu buat jujur sama orang tua,” kata Bayu mengomentari kejadian di Unhas. Di Twitter, Bayu cukup intens membuat paragraf pembelaan untuk mahasiswa itu.

Di Indonesia, istilah nonbiner memang masih awam. Istilah itu belum terlalu populer, apalagi diungkapkan orang secara terbuka. Padahal, sebetulnya istilah nonbiner bukanlah barang asing bagi sebagian masyarakat Indonesia.

Di Sulawesi Selatan, masyarakat Bugis bahkan memiliki lima sebutan untuk gender yang muncul karena pengaruh tradisi dan adat. Kelimanya adalah Orowane (laki-laki), Makkunrai (perempuan), Calabai, Calalai dan Bissu.  

Calabai adalah orang yang dilahirkan dengan kondisi biologis laki-laki tetapi dalam kesehariannya berperilaku seperti perempuan. Sedangkan Calalai adalah orang yang dilahirkan dengan kondisi biologis perempuan tetapi dalam kesehariannya berperilaku seperti laki-laki.

Sedangkan Bissu adalah seseorang yang bukan laki-laki maupun perempuan. Bissu menempati peran sebagai dukun dalam agama Bugis. Identitas mereka ditunjukkan melalui pakaian. Mereka sering memakai bunga, simbol tradisional feminin, tetapi membawa keris yang terkait dengan laki-laki.


Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE