INTERMESO

Hikayat Proklamasi
15 Agustus di Cirebon

Dua hari menjelang 17 Agustus 1945, proklamasi kemerdekaan sudah dibacakan oleh dokter Sudarsono di Cirebon. Menurut salah satu versi sejarah, naskah proklamasi itu dibuat Sutan Sjahrir.

Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom.

Kamis, 11 Agustus 2022

Tugu Proklamasi berbentuk obelisk, segi empat dengan ujung runcing seperti piramida, berdiri kokoh di tengah Kota Udang, Cirebon, Jawa Barat. Monumen bercat putih dengan tinggi 3 meter itu berada di pojok Alun-alun Kejaksaan, tepat di persimpangan Jalan Siliwangi dan Jalan Veteran, Kebon Baru, Kejaksaan. Tugu itu menjadi saksi sejarah pembacaan proklamasi kemerdekaan Indonesia, 77 tahun silam.

Di tempat itu, proklamasi kemerdekaan Indonesia dibacakan oleh Kepala Rumah Sakit Kesambi atau Rumah Sakit Orange (kini menjadi RSUD Sunan Gunung Jati) dokter Sudarsono pada Rabu, 15 Agustus 1945, atau bertepatan dengan 7 Ramadan 1364 Hijriah. Proklamasi kemerdekaan itu lebih cepat dua hari dari proklamasi yang dibacakan oleh Sukarno-Mohammad Hatta.

Sudarsono tak lain adalah ayah Juwono Sudarsono, mantan Menteri Pertahanan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan serta Menteri Lingkungan Hidup. Proklamasi itu dibacakan di hadapan 100-150 orang. Mereka kebanyakan anggota Partai Nasional Indonesia (PNI) Baru. Sudarsono mendapatkan instruksi dari Sutan Sjahrir melalui telegram agar segera membacakan proklamasi kemerdekaan karena Jepang telah kalah dan menyerah kepada Sekutu.

Memang, secara resmi, Jepang baru meneken perjanjian menyerah kepada pasukan Sekutu di atas kapal perang milik Angkatan Laut Amerika Serikat, USS Missouri, yang merapat di Teluk Tokyo, Minggu, 2 September 1945. Tapi, tiga pekan sebelumnya, Kaisar Jepang Hirohito sudah memutuskan menyerah tanpa syarat kepada Sekutu melalui siaran radio, Selasa, 14 Agustus 1945.

Di wilayah Hindia Belanda, yang menjadi wilayah jajahan Jepang, tak ada yang tahu kabar kekalahan pasukan militer Jepang oleh Sekutu dalam Perang Asia-Pasifik tersebut. Pasalnya, pemerintah Dai Nippon sangat ketat menyensor semua berita, termasuk melarang rakyat memiliki radio. Bila kedapatan, radio akan disita dan dihancurkan, plus ditangkap pemiliknya.

Tugu Proklamasi di Alun-alun Kejaksaan, Kota Cirebon.
Foto: Sudirman Wamad/detikcom

Rupanya larangan itu tak berlaku bagi kaum pemuda gerakan bawah tanah yang dipimpin Sjahrir. Secara sembunyi-sembunyi, Sjahrir mendengarkan siaran radio British Broadcasting Corporation (BBC) London, yang mewartakan kekalahan Jepang tersebut pada 14 Agustus 1945. Sjahrir menyembunyikan radio di lemari pakaian. Ia membongkar rangka radio dan menyembunyikan di balik kain batik agar tak kentara.

“Jika Sjahrir bilang, ‘Des, butuh batik,’ kami sudah tahu maksudnya,” tutur Des Alwi Abubakar, sejarawan yang juga dikenal sebagai anak angkat mantan wakil presiden Mohammad Hatta, dalam seri buku Tempo berjudul Sjahrir: Peran Besar Bung Kecil (2010).

Setelah mendengarkan warta kekalahan Jepang itu, lantas pemuda asal Minang, Sumatera Barat, itu menyampaikan kembali kekalahan Jepang oleh Sekutu itu kepada pemuda gerakan bawah tangan lainnya, seperti Adam Malik, Wikana, Darwis, dan Chaerul Saleh. Ia juga menggerakkan para pemuda untuk mendesak Sukarno dan Mohammad Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan.

Pada hari yang sama, Sukarno, Hatta, dan KRT Radjiman Wediodiningrat baru saja mendarat di Kemayoran, Jakarta. Mereka pulang setelah bertemu dengan Panglima Perang Tertinggi Jepang Wilayah Selatan (Asia Tenggara) Jenderal Besar Terauchi Hisaichi di Dalat, Vietnam, pada 12 Agustus 1945. Jenderal Terauchi memang meminta Sukarno dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) segera menyiapkan kemerdekaan kapan pun.

Mendengar ketiga tokoh tersebut pulang, Sjahrir bergegas menuju kediaman Hatta di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, pada malam hari. Ia menanyakan hasil pertemuan di Dalat sekaligus memberi kabar tentang kekalahan Jepang oleh Sekutu melalui siaran radio. Hatta menceritakan apa yang terjadi di Saigon, bahwa kemerdekaan Indonesia tinggal menghitung hari dan menunggu waktu yang tepat.

Sjahrir marah mendengar cerita Hatta tersebut. “Ini pasti muslihat Jepang, karena penyerahan itu bisa setiap waktu diumumkan. Saya usul sebaiknya kemerdekaan kita diproklamasikan secepatnya. Setiap orang nanti akan berpendapat bahwa proklamasi kemerdekaan itu hasil perundingan di Saigon,” kata Sjahrir dalam buku Seri Pengenalan Tokoh: Sekitar Proklamasi Kemerdekaan terbitan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (2010).

Sutan Sjahrir dan Sukarno.
Foto: Perpusnas

Hatta terkejut mendengar penjelasan Sjahrir. Hatta mengatakan tak bisa berbuat banyak tanpa Sukarno. Hatta lalu mengajak Sjahrir menuju rumah Sukarno di Jalan Pegangsaan Timur No 56, Menteng, untuk menyampaikan hal yang sama. Dalam pertemuan itu, Sukarno berjanji akan mengumumkan proklamasi kemerdekaan pada 15 Agustus 1945 pukul 17.00 WIB.

Setelah pertemuan itu, Sjahrir lalu menginstruksikan kepada semua pemuda gerakan bawah tanah tentang kabar itu dan mempersiapkan proklamasi kemerdekaan. Instruksi itu pun sampai kepada dokter Sudarsono di Cirebon. Keesokan harinya, tanggal 15 Agustus 1945, Sukarno, Hatta, dan Mr Ahmad Subarjo pergi menuju Gunseikanbu (kantor pemerintahan Jepang). Tapi tak satu pun pejabat yang bisa mereka temui.

Lantas ketiganya pergi mencari informasi kepada Laksamana Muda Tadashi Maeda, Kepala Penghubung Angkatan Laut dan Angkatan Darat Kekaisaran Jepang di Hindia Belanda. Sukarno menanyakan apakah benar Jepang sudah menyerah kepada Sekutu. Namun ia tak mendapat jawaban yang memuaskan dari Maeda karena belum mendapat perintah langsung dari Tokyo. Ketiganya lalu pulang ke rumah masing-masing.

Tepat pukul 17.00 WIB pada hari yang sama, ribuan pemuda berkumpul di pinggiran kota. Mereka siap masuk Jakarta segera setelah proklamasi. Begitu proklamasi disiarkan, para pemuda tersebut akan berdemonstrasi di Gambir. Mereka akan merebut kantor Domei dan gedung Kenpeitai. Ternyata, pukul 17.30 WIB, Sukarno mengabarkan belum akan mengumumkan proklamasi. Hal itu membuat pemuda pengikut Sjahrir marah.

Sjahrir menduga polisi rahasia Jepang tahu rencana proklamasi. Para pemuda tetap mendesak proklamasi segera diumumkan tanpa Sukarno-Hatta, tapi Sjahrir tak setuju. Ia khawatir akan terjadi konflik di antara bangsa sendiri. Tapi kabar bahwa proklamasi batal diumumkan tak sempat dikabarkan ke Cirebon.

Para pemuda di Cirebon yang dipimpin Sudarsono telah mengumumkan proklamasi versi mereka hari itu. Alasannya, mereka tak mungkin menyuruh ratusan orang yang telah berkumpul di Alun-Alun Kejaksaan, Cirebon, pulang tanpa penjelasan.

Sebuah prasasti pengakuan dari Presiden Sukarno atas apa yang dilakukan para pemuda di Cirebon saat itu.
Foto: Sudirman Wamad/detikcom 

“Memang waktu itu terjadi pergolakan-pergolakan untuk memproklamasikan bangsa Indonesia. Kemudian muncul dari kelompok Sjahrir yang mendelegasikan Sudarsono untuk membacakan naskah proklamasi di Alun-alun Cirebon, sekarang jadi Alun-alun Kejaksaan,” ungkap sejarawan dan budayawan Cirebon, Nurdin M Noer seperti dikutip detikcom, 15 Agustus 2019.

Nurdin tahu peristiwa pembacaan proklamasi kemerdekaan di Cirebon karena diceritakan ayahnya sendiri, Moch Hasyim, yang ikut menyaksikan peristiwa tersebut. “Kebetulan saksi mata bapak saya sendiri. Tinggalnya 200 meter dari alun-alun, ya sehingga bisa cerita kepada saya. Hanya dihadiri puluhan orang,” kata Nurdin lagi.

Selain memproklamasikan kemerdekaan, kelompok Sjahrir juga pembacaan naskah proklamasi di Alun-alun Ciledug, Cirebon. Sayangnya, lanjut Nurdin, naskah proklamasi yang dibacakan Sudarsono hilang tanpa jejak. “Tidak tahu apakah naskah versi Sjahrir sama seperti yang Sukarno bacakan. Kita pernah cari tahu, tapi tidak ketemu. Kita cari di Arsip Nasional dan daerah tak ketemu,” tutur Nurdin.

Sementara itu, ada dua versi asal-usul teks versi Cirebon. Menurut Maruto Nitimihardjo, salah seorang pendiri PNI Pendidikan yang sempat bertemu dengan Sudarsono di Desa Parapatan, sebelah barat Palimanan sehari sebelum dibacakan proklamasi, kedatangannya sempat dikira membawa naskah bikinan Sjahrir.

“Saya sudah bersepeda 60 kilometer hanya untuk mendengar, Sjahrir tidak berbuat apa-apa. Katakan kepada Sjahrir, saya akan membuat proklamasi di Cirebon,” ungkap Hadidjojo Nitimihardjo dalam bukunya Ayahku Maroeto Nitimihardjo: Mengungkap Rahasia Gerakan Kemerdekaan (2009).

Sedangkan menurut Des Alwi, teks proklamasi yang dibacakan Sudarsono adalah hasil karya Sjahrir dan aktivis gerakan bawah tanah lainnya. Penyusun teks di antaranya melibatkan Sukarni, Chaerul Saleh, Eri Sudewo, Johan Nur, dan Abu Bakar Lubis. 

Sukarno membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945. 
Foto: IPPHOS/Arsip Nasional RI

Penyusunan teks itu dikerjakan di Asrama Prapatan No 10, Jakarta, pada 13 Agustus 1945. Des hanya mengingat sebaris teks proklamasi versi kelompok gerakan bawah tanah, ‘Kami bangsa Indonesia, dengan ini memproklamirkan kemerdekaan Indonesia, karena kami tak mau dijajah dengan siapa pun juga’.

Sedangkan menurut Rudolf Mrazek dalam bukunya, Sjahrir: Politik dan Pengasingan di Indonesia (1996), Sjahrir mengatakan teks proklamasinya diketik sepanjang 300 kata. Teks itu bukan berarti anti-Jepang atau anti-Belanda.

“Pada dasarnya menggambarkan penderitaan rakyat di bawah pemerintahan Jepang dan rakyat Indonesia tidak mau diserahkan ke tangan pemerintahan kolonial lain,” kata Mrazek mengutip perkataan Sjahrir. Tapi Sjahrir pun mengaku kehilangan teks proklamasi yang disimpannya.

Akhirnya, pembacaan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia oleh Sukarno-Hatta dan pengibaran bendera Merah-Putih baru bisa terwujud di Jalan Pegangsaan Timur, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat, 17 Agustus 1945, pukul 10.10 WIB. Acara tersebut tak dihadiri oleh Sjahrir.


Penulis: M. Rizal Maslan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE