INTERMESO

Identitas Baru di Selasar Sudirman

"Mereka jadi punya style sendiri dan sebuah identitas baru. Ketika itu viral, mereka bangga setengah mati."

Ilustrasi: Edi Wahyono

Sabtu, 09 Juli 2022

Sebuah daerah di pinggiran Kabupaten Bogor dekat Kota Depok, atau lebih tepatnya Desa Citayam, belakangan ini sedang naik daun dan menjadi perbincangan hangat para netizen. Bermula dari aksi para ABG alias Anak Baru Gede berpakaian nyentrik asal Citayam yang menyerbu kawasan Dukuh Atas, Sudirman.

Namun, sebenarnya para bocah tanggung berusia 11 sampai 16 tahun itu bukan cuma datang dari Citayam. Mereka berdomisili di daerah di luar Jakarta lainnya, seperti Bojong Gede dan Tangerang. Namun, entah mengapa istilah Citayam Fashion Show, Citayam Fashion Week, sampai Citayam Waves malah disematkan pada fenomena ini.

Nikita dan dua orang temannya ikut meramaikan tren Citayam Fashion Show. Mumpung sekolahnya di tingkat SMP masih libur, Nikita mengajak teman sekolahnya untuk mengadu gaya di bawah terowongan Sudirman yang instagramable.

Sebelum mejeng, Nikita sudah menyiapkan ‘alat tempur’ berupa satu set outfit kekinian terbaik miliknya yang ia beli secara online. Terdiri dari sebuah celana jeans high waist bolong-bolong dipadukan dengan crop top berwarna hitam, lalu ditutupi kemeja flanel oversize dan sebuah topi. Nikita sudah merasa jadi orang paling keren di tongkrongan Sudirman.

“Belinya pas lagi promo jadi lebih murah atau beli baju bekas di online shop. Aku beli bajunya aja cuma Rp 30 ribu udah gratis ongkir,” ucap Nikita yang kerap mencontek padu padan busana dari sebuah e-commerce dan Instagram.

Istilah "Citayam Fashion Week" muncul belakangan ini di Jalan Sudirman setelah para remaja dari luar Jakarta meramaikan kawasan itu.
Foto: Pradita Utama/detikcom

Ditambah modal uang Rp 3 ribu, Nikita naik kereta dari Stasiun Citayam menuju Stasiun Sudirman. Transportasi aman dan ber-Ac itu membawa Nikita menuju pemandangan gedung-gedung tinggi di tengah kota, Sebuah pemandangan tak biasa dan tak pernah ia temukan di Citayam.

“Bagus banget buat foto-foto. Lebih bagus pas lihat langsung. Di tempat aku, mah, nggak ada yang kayak gini,” ucapnya terkesima saat pertama kali turun di Stasiun Sudirman.

Pulang nongkrong, Nikita bisa membawa ratusan foto yang tersimpan di ponsel miliknya. Kalau beruntung, Nikita bisa diwawancara dadakan dan menjadi popular layaknya Bonge, Roy atau Jeje. Mereka adalah pentolan yang kerap menghiasi kawasan Sudirman. Buat orang yang tidak mengikuti Citayam Fashion Show pasti akan merasa asing dengan nama-nama itu. Namun, di Sudirman, mereka bak artis ternama.

Setiap saat ada saja permintaan foto atau video yang mereka layani. Mereka menjadi bahan rebutan para pembuat konten. Jika membuat konten tenang mereka, niscaya videonya akan masuk FYP atau For you Page di TikTok.

Popularitas mereka bermula dari konten wawancara berpasangan oleh seorang pembuat konten TikTok. Jawaban nyeleneh dan polos terkait hubungan cinta mereka yang masih seumur jagung dan putus nyambung lantas menarik perhatian bahkan sampai dibuat parodi. Sebelum terkenal mereka bukan siapa-siapa. Bonge cuma seorang remaja yang hobi memelihara ikan cupang. Roy seorang bocah jago menggombal yang katanya punya kharisma dalam menggaet lawan jenis.

Sedangkan pasangan Roy, Jeje, katanya anak perempuan tercantik seantero tongkrongan Sudirman. Berkat ini ia sampai diundang ke berbagai podcast, salah satunya podcast milik Atta Hallilintar. Setelah itu, sudah bisa ditebak, berbagai permintaan endorse mengalir ke kantong Jeje.

Soerang remaja laki-laki dari luar Jakarta yang nongkrong di Jalan Sudirman 
Foto: Pradita Utama/detikcom

Keberadaan para muda mudi di Sudirman turut mengundang pro dan kontra. Sasmita Dwingga, karyawan yang sehari-hari bekerja di kawasan Sudirman ini bersyukur sempat mengadakan foto prewedding sebelum Citayam Waves menyebar. Melalui fofo itu ia sempat mengabadikan kondisi Dukuh Atas dan sekitarnya ketika masih sepi.

“Kalau dulu aku fotonya pas akhir tahun lalu masih sepi, banyakan karyawan kantor aja di sini. Kalau sekarang udah ramai banget kayak pasar,” ucapnya.

Kehadiran mereka turut menganggu ketertiban jalan. Sebagian dari mereka membuang sampah dan merokok sembarangan, juga membuat Sasmita kesulitan mengorder ojek online. “Kondisinya super ramai. Driver yang mau jemput jadi susah karena banyak banget orang di sana,” ucap Sasmita yang pernah telat masuk bekerja perkara kesulitan menaiki ojek online.

Bukan hanya itu. Keberadaan mereka kerap dinilai membuat kawasan Sudirman menjadi kumuh. Padahal, untuk nongkrong di sana, Nikita dan teman-temannya sudah menyiapkan outfit terkeren milik mereka. Namun, tentu saja pakaian mereka jauh berbeda ketimbang setelan necis orang kantoran yang transit di Stasiun Sudirman.

Antropolog Universitas Gadjah Mada, Prof Heddy Shri Ahimsa-Putra menilai wajar jika 'invasi' bocah asal Citayam dan sekitarnya mengagetkan netizen serta penghuni kawasan perkantoran di Sudirman. Apalagi fenomena ini terjadi dalam waktu singkat dan mereka datang dalam gerombolan besar.

“Kawasan itu sudah menjadi wadah pertemuan dua kelas sosial yang berbeda antara kelas menengah ke atas dan kelas bawah. Kalau anak pinggiran kota melihat sesuatu yang menarik di pusat kota lalu mereka berhenti untuk kemudian berfoto, itu sangat masuk akal,” katanya saat dihubungi detikX.

Mereka memanfaatkan libur sekolah untuk nongkrong di Jalan Sudirman, Jakarta
Foto: Pradita Utama/detikcom 

Fenomena ini muncul seiring dengan pertumbuhan transportasi umum seperti KRL yang murah, cepat dan nyaman. “Perubahan transportasi umum kita sehingga orang mudah pergi ke Jakarta, itu dampaknya luar biasa. Salah satunya muncullah fenomena ini. Karena nomor satu harus murah. Kalau ongkos kereta dibuat Rp 20 ribu misalnya, nggak akan mereka ke situ. Selanjutnya nanti tempat sepi tertentu yang mudah akses transportasinya mungkin saja akan diramaikan dengan kehadiran mereka.”

Kelompok ini akan semakin bertumbuh subur berkat label yang disematkan oleh netizen. Terlepas dari sindiran sinis yang kerap disematkan karena kehadiran mereka, dengan menyematkan label Citayam Fashion Show, sama saja dengan telah mengakui kehadiran para bocah ini.

“Sadar atau tidak sadar, ketika orang menyebut Citayam Fashion Week, sama saja dengan mengakui keberadaan mereka. Di situlah identitas sosial baru mereka terbentuk. Membuat mereka malah jadi semakin bangga dan menguatkan eksistensi mereka,” ungkapnya.

Itu sebabnya, meski netizen melihat keberadaan mereka hanya sebagai guyonan belaka, mereka seakan tak peduli. Kini, Sudirman malah semakin padat dengan kehadiran mereka. Pemprov DKI Jakarta mengerahkan Satpol PP untuk membantu menertibkan kawasan Sudirman.

“Kalau kelas bawahnya orangtua mungkin akan malu, kalau anak remaja lain. Mereka malah ingin menunjukan 'kami punya gaya' terlepas dari gaya itu akan dimaknai sebagai positif atau tidak. Mereka jadi punya style sendiri dan sebuah identitas baru. Dan, satu lagi, ketika itu viral, mereka bangga setengah mati.”


Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE