INTERMESO

Rintihan Para 'Korban Ghosting' HRD

"Birokrasinya terlalu ribet. Kayak dibikin, lo, tuh harus berjuang dulu baru bisa diterima di sini."

Ilustrasi: Edi Wahyono

Sabtu, 14 Mei 2022

Di pagi buta, ketika sebagian orang masih terlelap dalam tidurnya, Femylia Fahmadiyah Yusdi sudah bersiap-siap pergi. Di tempatnya tinggal, yaitu di Desa Jenggawah, Kabupaten Jember, Jawa Timur, belum banyak ojek online. Dengan upah sebesar Rp 30 ribu, ia meminta tetangganya mengantarkan ke Stasiun Jember. Dari sana, perempuan yang akrab disapa Fe ini bertolak ke Surabaya dengan menempuh perjalanan selama empat jam. Total sudah enam kali rutinitas semacam ini ia jalani.

“Aku sudah bangun dari pukul 03.00 WIB. Dari desa ke kota Jember makan waktu 30 menit. Kalau keretanya berangkat pukul 04.30 WIB,” ucap Fe saat dihubungi detikX.

Semua berawal ketika Fe lulus dari jalur profesi Manajemen Keperawatan di Universitas Muhammadiyah Jember pertengahan 2019 silam. Sebagai anak baru lulus yang ingin cepat dapat kerja, Fe menebar surat lamaran kerja sebanyak mungkin. Entah sudah berapa banyak yang ia tebar. Bisa jadi puluhan atau bahkan ratusan, Fe sudah tak sanggup lagi menghitung. Kenyatannya dunia kerja tak lebih indah dari masa kuliah.

“Aku udah nyebar CV (Curriculum Vitae) dari sebelum lulus. Udah nggak kehitung, sudah 100-an lebih ada kali. Lowongan yang bukan keperawatan juga aku ambil soalnya,” ungkap perempuan yang kini berusia 27 tahun itu.

Begitu mendapat panggilan dari sebuah rumah sakit di Surabaya, tentu Fe melonjak kegirangan. Demi tahap seleksi kerja itu, ia rela menghabiskan seluruh tabungannya untuk ongkos bolak-balik Jember-Surabaya. “Bayar dianterin tetangga Rp 30 ribu, tiket kereta Rp 150 ribu, naik ojek online di Surabaya Rp 20 ribu. Belum uang makan selama di sana. Total sekali pergi aja aku udah habisin Rp 500 ribu,” imbuh Fe. Selama enam kali pergi ikut seleksi, paling tidak Fe sudah mengeluarkan ongkos Rp 3 juta.

Acara job fair yang dipadati para pencari kerja di Plaza Senayan, Jakarta, akhir tahun 2021
Foto: Pradita Utama/detikcom

Meski begitu Fe agak heran, mengapa di zaman yang serba digital ini ia masih disuruh datang oleh staf HRD di sana hanya untuk menyerahkan berkas dokumen. Namun, ia mengurungkan niat untuk protes kepada orang yang memiliki kuasa penuh untuk menentukan nasibnya itu. Di pertemuan keenam, Fe dan para kandidat lain diundang untuk mendengarkan pengumuman hasil rekrutmen, yang mana sebetulnya bisa dilakukan via email atau aplikasi online meeting misalnya.

“Kasian sih, ada yang dari Pasuruan, Probolinggo, Banyuwangi juga ada. Orang Surabaya malah sedikit. Bahkan salah satu temenku ada yang dari desa terpencil, Desa Sutco Pangepo dekat gunung tinggalnya,” tuturnya. Temannya yang tinggal dekat Gunung Argopuro ini sampai rela meminjam uang agar bisa mengikuti seleksi kerja. Sayangnya harapan mereka hancur seketika ketika hasil pengumuman menyatakan sebagian besar dari mereka tidak diterima.

“Kita dipanggil lagi hanya untuk dengar pengumuman kalau dari mereka ditolak. Aku udah keburu gedek banget sih. Birokrasinya terlalu ribet. Kayak dibikin lo, tuh, harus berjuang dulu baru bisa diterima di sini,” kata perempuan yang pernah bekerja sebagai penyiar radio lokal ini.

Proses seleksi kerja yang pernah ia lalui itu justru sangat berbeda dengan rekrutmen yang dilakukan di tempat ia bekerja sekarang. Sudah dua tahun Fe bekerja di Medel HearLife Indonesia cabang Surabaya, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pusat kesehatan pendengaran. Kurang lebih satu minggu, Fe berhasil lolos dan diterima bekerja di sana.

“Mungkin karena bosku orang luar negeri, Alhamdulillah sama sekali nggak ribet. Aku sempat video call juga dengan user yang ada di pusat. Habis nego gaji besoknya langsung disuruh kerja,” tuturnya. “Dan mereka tahu aku dari Jember. Mereka bikin proses rekrutmennya seefisien mungkin, jadi kerjanya nggak mempersulit kita.”

Ada pula hari di mana para kandidat pencari kerja ini menunggu jawaban tak pasti dari para recruiter. Hari demi hari berganti, namun mereka tak kunjung mendapatkan jawaban pasti. Menjadi lantas menjadi 'korban ghosting'. Padahal dampaknya bisa menimbulkan bahaya bagi kondisi kejiwaan korban. Perasaan marah, depresi, bingung hingga merasa tidak diinginkan bisa dialami.

Ilustrasi para pencari kerja 
Foto : Food NDTV

Insecure banget. Apa saking jeleknya dalam artian CV yang aku masukin atau soal-soal yang aku kerjain. Jadi ke mana-mana pikirannya,” kata Fe.

Hal itu pula yang dialami dan dirasakan Della Asri Rahmawati Utomo saat baru lulus dan mencari kerja. Banyak HRD yang ujung-ujungnya sama sekali tidak memberi jawaban. Ada segelintir yang berbaik hati mengirimkan surat pernyataan penolakan, namun itu pun tidak disertai penjelasan.

Sudah empat setengah tahun Della kini bekerja sebagai rekruter di sebuah perusahaan konsultan keungan. Ia mencoba membuat pendekatan berbeda. “Gue udah pernah ngerasa dighosting itu nggak enak. Makanya harus ada mata rantai pemutusnya. Gue harus menerapkan etika dari seorang recruiter,” ungkapnya.

Di perusahaan tempat ia bekerja, ada sebuah peraturan tidak tertulis di mana berkas yang dikirimkan oleh kandidat harus diproses selama maksimal dua minggu. Namun, apakah hasil penolakannya akan disampaikan kepada kandidat atau tidak, hal itu tergantung siapa recruiter yang menangani berkasnya.

“Karena balik lagi HR itu manusia yang punya banyak karakter yang pasti satu sama lain beda. Ada juga memang yang karakternya bodo amat. Gue di sini nggak mewakili siapapun, hanya mewakili diri sendiri aja,” tuturnya. Selain mengirimkan surat penolakan via email atau WhatsApp , Della juga memberikan penjelasan terkait penolakannya itu. “Supaya mereka tahu apa kelemahannya, jadi di lain kesempatan bisa diperbaiki. Misalnya bahasa Inggrisnya kurang, nih, nanti kan bisa ditingkatkan lagi.”


Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE