INTERMESO

Meracik Nama-nama Tulen Indonesia

“Banyak juga yang kepengen nama anaknya mirip kayak nama cucu Presiden Jokowi.”

Foto: Dhani Irawan/detikcom

Sabtu, 19 Maret 2022

Kalau boleh jujur, Endang Iswandini selalu menghela nafas panjang jika harus membaca daftar absensi anak didiknya. Sudah lima belas tahun ia bekerja sebagai guru sekolah dasar di sekolah swasta. Namun, seiring bergantinya angkatan, nama murid-murid Endang malah menjadi semakin rumit dan semakin sulit dibacakan.

Sebut saja nama-nama seperti Cassiopeia, Earlyta, Queennaya, Razanaraghda, Odhiyaulhauq, Ariezzqwa dan masih banyak lagi. Itu pun baru nama depan alias kata pertamanya. Belum lagi nama tengah maupun nama belakangnya. Bisa-bisa separuh waktu mengajarnya dihabiskan dengan mengabsen nama-nama muridnya saja.

“Saya juga nggak ngerti kenapa, kok, orangtua kasih nama anaknya susah-susah sekali, ya. Kalau bisa keseleo mungkin sudah keseleo ini lidah saya,” keluh guru Bahasa Indonesia itu.

Nama anak menjadi tak ubahnya karya seni abstrak. Semakin tidak dimengerti, maka semakin dianggap bagus. Karena fenomena ini, komunitas nama simpel nan sederhana seperti Asep atau Agus semakin kesulitan mencari anggota baru. Tren nama seperti Budi, Bambang, Ani, dan Wati juga sudah tak lagi diminati.

Jika menengok nama para kakek, nenek, buyut, maupun orang zaman dulu, nama yang mereka gunakan begitu gampang dieja dan paling hanya terdiri dari satu atau dua kata saja. Seperti nama presiden pertama dan kedua Republik Indonesia yaitu Sukarno dan Soeharto.

Kala itu awalan "Su" dipakai orang Jawa untuk menamai anaknya. Nama berawalan "Su" yang memiliki makna bagus serta melampaui ini mungkin dulu sama populernya dengan nama Kenzo atau Queensha di masa sekarang.

Yosef Kelik Prirahayanto
Foto: Dok Pribadi (LinkedIn)

Setiap orang tua kini berlomba-lomba untuk menciptakan nama unik yang tidak pernah ada sebelumnya. Hal ini diakui oleh Yosef Kelik Prirahayanto, pendiri Astunamisae, bisnis yang menawarkan jasa meracik nama profesional. Yosef memiliki spesialisi di empat bahasa yaitu Sansekerta, Kawi, Jawa, dan Indonesia.

“Mereka (orangtua) seperti balapan. Ada semacam kompetisi bagaimana menciptakan nama yang diakui dan keren,” ucap laki-laki yang saat ini juga bekerja sebagai tim riset di Museum Ullen Sentalu, Yogyakarta. Ia mulai praktik sejak tahun 2019.

Hadirnya media sosial kerap membuat para orang tua menjadi overthinking dalam mencari nama anaknya. "Karena di satu sisi, mereka bisa dapat inspirasi nama dari yang sudah beredar di medsos. Atau bisa juga membuat mereka menghindari nama di medsos itu karena sudah banyak yang pakai.”

Memberi nama buat sebagian orang tua bukanlah tugas yang enteng, melainkan tugas yang sakral dan berat. Karena di balik nama anak, ada doa orang tua yang mengiringi. Tapi tidak semua orang tua pandai mencari kombinasi nama anaknya. Di kala sedang buntu inilah biasanya para orang tua meminta bantuan dari Yosef.

“Ibaratnya mereka ini seperti membawa pensil yang masih tumpul. Saya cuma membantu mempertajam pensilnya saja,” ucap laki-laki berusia 39 tahun itu.

Selain mengakomodir keinginan orangtua yang unik-unik dan luar biasa ini, Yosef mempunyai misi untuk menyelamatkan nama Indonesia yang hampir punah karena dihimpit oleh nama-nama kebarat-baratan maupun nama berbau Timur Tengah. Nama barat dan Timur Tengah hingga kini masih digemari oleh para orang tua.

“Saya karena sebenernya yang difokuskan itu lebih ke cluster aliran bahasa nusantara kuno itu. Saya mencoba mengurangi kadar kebaratan atau timur tengah. Misalnya kalau ada tiga atau empat kata akan saya mix. Supaya keindonesiaannya tetap ada,” ungkapnya.

Bupati bersama Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Karanganyar, Jawa Tengah, malah sempat bersiap membahas rancangan peraturan daerah (raperda) untuk melarang nama anak yang kebarat-baratan di wilayahnya demi melestarikan kebudayaan lokal.

"Nama-nama Jawa itu sudah tergerus oleh nama asing," kata Sumanto selaku Ketua DPRD Karanganyar saat dihubungi Detikcom 2019 silam.

Presiden Joko Widodo dan cucunya, Jan Ethes Srinarendra.
Foto: Tangkapan layar YouTube Sekretariat Presiden

Belakangan, banyak pula pelanggan Yosef yang menginginkan anaknya diberi nama menggunakan unsur bahasa Jawa baru yang lebih modern dan puitis, seperti keluarga Presiden RI Joko Widodo.

“Banyak juga yang kepengen nama anaknya mirip kayak nama cucu Presiden Jokowi. Susunan katanya unik kemudian gabungan bunyinya juga enak didengar. Jadinya memang nggak cuma enak di telinga tapi juga di hati. Mirip seperti yang dikerjakan penulis puisi atau pengarang lagu,” tutur Yosef. Dalam meracik nama, sebisa mungkin ia menghindari pilihan kata yang bakal berpotensi menjadi bahan perundungan.

Kegemaran Yosef menonton wayang sejak kecil dan pekerjaannya sebagai staf riset museum sejarah Jawa membuatnya semakin memiliki wawasan luas akan bahasa kuno. Ia kerap kali menemukan tokoh sejarah Jawa bernama indah yang akhirnya ia gunakan dalam meracik nama.

Orang pertama yang ia beri nama dari hasil racikannya sendiri adalah anak laki-lakinya. Anak itu dinamai Kalyana Labdabagja. Semenjak saat itu Yosef pun sering menerima permintaan konsultasi dari kerabat dekatnya perihal memberikan nama untuk buah hati mereka. Dari sana, ia iseng membuka jasa konsultasi bikin nama anak gratis di Twitter sejak 19 April 2019.

Yosef pun kebanjiran klien. Baru pada 25 Agustus 2019, layanan konsultasi nama bayi Astunamisae yang artinya sungguh nama yang baik diubah jadi berbayar. Jasa ini disediakan bukan cuma untuk calon orang tua tapi juga untuk pebisnis yang sedang pusing mencari nama merk. Tarif yang ia patok untuk paket peracikan nama berkisar antara Rp 65 ribu hingga Rp 350 ribu.

“Satu bulan ada sekitar 20 orang klien yang saya tangani. Saya bisa menyediakan sampai 6 rekomendasi nama. Dan saya pribadi paling sering diminta meracik nama yang terdiri dari 3 atau 4 kata,” ungkapnya.


Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE