INTERMESO

Cyberbullying di Sekitar Kita

“Mereka post foto aib aku dan komentar yang menjijikkan. Sejak kejadian itu aku takut banget buat berangkat ke sekolah.”

Ilustrasi: Edi Wahyono

Minggu, 20 Februari 2022

Ketika hendak tidur, Rina, bukan nama sebenarnya, dikejutkan dengan bunyi notifikasi dari smartphone miliknya. Bunyi notifikasinya tak putus-putus sehingga membuat Rina begitu heran. Namun, alangkah terkejutnya Rina ketika mendapati asal muasal bunyi notifikasi itu.

Ada sebuah akun asing yang beberapa kali men-tag dirinya. Sebuah akun yang rupanya dibuat hanya untuk mengolok-olok dirinya. Akun itu diikuti tidak hanya oleh teman-teman seangkatan, tapi juga kakak kelasnya.

Entah berapa lama akun ini beraksi, yang pasti mereka berhasil mendapatkan foto-foto lawas Rina. Mereka lalu mengedit dan menyebarluaskan foto itu tanpa seizin Rina. Ada satu foto selfie Rina sambil menggunakan riasan make up yang baru saja ia pelajari dari YouTube. Di bawahnya tertulis caption ‘Miss Universe’.

Wajah Rina lantas memerah menahan tangis saat membaca candaan mereka di kolom komentar. Bahkan ada beberapa yang mengatai Rina dengan bahasa kasar dan ucapan tidak pantas.

“Mereka post foto aib aku dan komentar yang menjijikkan. Sejak kejadian itu aku takut banget buat berangkat ke sekolah,” ujar Rina yang baru setuju untuk berbicara dengan detikX setelah yakin identitasnya dirahasiakan. Firasat Rina betul saja. Begitu tiba di sekolah keesokan harinya, teriakan dan caci maki ditujukan ke arahnya. “Aku nggak bisa balas mereka. Aku cuma nangis di toilet sampai jam pelajaran udah mau mulai.”

Rina tak habis pikir, mengapa teman-teman seangkatan hingga kakak kelasnya melakukan perbuatan begitu kejam. Kesalahan fatal apa yang sebetulnya telah ia perbuat sehingga mereka seakan tak senang dengan kehadiran Rina di sekolah. Pertanyaan itu terus menghantui pikiran Rina, bahkan hingga kini ia telah lulus dari bangku SMA dan berkuliah.

Ilustrasi cyberbullying
Foto: Getty Images 

Padahal Rina tidak pernah macam-macam. Meski bukan termasuk cewek populer di sekolah, Rina punya beberapa teman yang memiliki idola K-pop serupa. Sejak awal duduk di bangku sekolah SMA keiginan Rina hanya satu. Ia ingin nilai rapornya cukup untuk mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi negeri. Anak pertama dari dua bersaudara ini ingin meringankan beban ibunya yang merupakan seorang single parent.

“Apa karena aku cupu dan mukanya kelihatan kayak gampang di-bully? Apa itu yang membuat mereka nggak suka sama aku?” tutur Rani yang kini menempuh pendidikan semester satu di salah satu universitas negeri di Jakarta.

Seakan tak puas mempermalukan Rina di jam sekolah, mereka kembali menghina Rina di Twitter. Setelah itu, entah sudah berapa kali Rina menjadi korban cyberbullying yang dilakukan teman sekolahnya sendiri. Teguran dari guru sekolah terhadap pelaku pun tak cukup menghentikan perbuatan mereka.

Ketika dihadapkan dengan teknologi digital ini kita nggak pernah diajarkan tentang bagaimana beretika dalam social media."

Tindakan mereka pelan-pelan menghancurkan Rina. Berangkat sekolah menjadi hal yang paling dibenci Rina. Ia bisa menghabiskan waktu menangis di depan kaca sebelum berangkat ke sekolah. Rina tak berani melapor ibunya. Ia tak ingin membuat ibunya khawatir. Dampaknya pun masih ia rasakan hingga sekarang.

“Di kampus pun aku minder banget dan jadi takut untuk bersosialisasi. Aku nggak mau kenal sama senior,” ucap Rina. Luka itu masih menghantui Rina. “Orang yang bully aku tetap hidup bahagia. Sedangkan aku belum bisa move on dari kejadian itu. Aku ngejalanin hidup tapi rasanya di dalam hati aku seperti udah mati.”

Dikuti dari laman Unicef.org, cyberbullying adalah bullying atau perundungan dengan menggunakan teknologi digital. Hal ini dapat terjadi di media sosial, platform chatting, platform bermain game, dan ponsel. Cyberbullying merupakan perilaku berulang yang wujudnya bisa dalam bentuk intimidasi, mempermalukan, penghinaan, maupun pelecehan.

Founder Bullyid, Agita Pasaribu, sering kali mendampingi para korban cyberbullying. Bullyid sendiri merupakan organisasi non pemerintah yang fokusnya memberikan dukungan dan bantuan kepada korban kejahatan siber. Sejak berdiri di tahun 2020, Bullyid telah menerima banyak aduan mengenai kasus cyberbullying.

Ilustrasi cyberbullying
Foto: Getty Images/Vladimir Viadimirov

Salah satu kasus yang pernah ditangani Bullyid korbannya merupakan seorang bocah perempuan berusia 9 tahun. Ia telah menjadi korban online grooming. Dalam kasus ini, laki-laki dewasa mengaku sebagai anak remaja. Pelaku itu berupaya menjalin hubungan emosional dan berteman dengan korban melalui sebuah game online.

“Lama kelamaan korban jadi comfortable dan mengirim foto dan video yang di-request oleh groomer-nya yang mana adalah orang dewasa. Foto-foto itu kemudian diperjualbelikan dalam sebuah website yang isinya para predator seksual,” ungkap Agita. Mewakili anaknya, orang tua korban kemudian meminta bantuan hukum kepada Bullyid.

Anak-anak sangat rentan menjadi korban dari cyberbullying. Apalagi Menurut penelitian UNICEF pada tahun 2019, sekitar 90 persen anak dan remaja Indonesia menghabiskan waktu 5 jam per hari pada hari biasa, untuk mengakses media sosial, game online, dan menonton tayangan streaming. Melihat realitas tersebut, upaya memberikan edukasi lingkungan digital yang aman dirasa perlu digencarkan untuk melindungi anak-anak.

“Ketika dihadapkan dengan teknologi digital ini kita nggak pernah diajarkan tentang bagaimana beretika dalam social media. Kita tidak pernah diajarkan di sekolah tentang apa saja yang boleh dan tidak boleh diakses di internet,” ungkap Agita.

Untuk itu Bullyid berupaya untuk melakukan edukasi ke sekolah demi mencegah terjadinya kasus serupa di kemudian hari “Kita mengandeng sekolah-sekolah maupun kampus dan membagikan awareness tentang bagaimana seharusnya kita bertindak dan bersikap saat dihadapkan dengan teknologi digital.”


Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE