INTERMESO

Jempolmu Membunuhku

Meski tidak meninggalkan luka fisik, dampak yang ditimbulkan akibat cyberbullying tidak bisa dipandang sebelah mata.

Ilustrasi: Edi Wahyono

Sabtu, 19 Februari 2022

Sudah bukan rahasia jika netizen Indonesia memiliki 'jempol setajam silet'. Bermodalkan smartphone dan jaringan internet, mereka berselancar bebas sambil melontarkan komentar pedas. Di tahun 2020, Microsoft pernah mengadakan riset ketidaksopanan pengguna internet. Hasilnya, Indonesia menduduki peringkat jeblok alias berada di urutan ke-29 dari 32 negara.

Seorang YouTuber dan selebgram, Rahmawati Kekeyi putri alias Kekeyi, sudah teramat sering merasakan pahitnya jempol netizen. Tengok saja akun Instagram milik Kekeyi. Hampir di setiap konten yang ia unggah, kolom komentarnya selalu diisi dengan komentar julid netizen.

Padahal foto selfie menggunakan hijab berwarna merah jambu yang Kekeyi unggah di Feeds-nya terlihat biasa-biasa saja, tidak ada satu pun yang aneh. “W (gue) kira Anabel (Annabelle) anjr*t," tulis salah seorang pemilik akun alter.

Annabelle merupakan nama boneka hantu yang kisahnya diangkat ke layar lebar. Komentar ini lantas memancing banyak balasan dari pengguna Instagram lain. Salah satunya balasan singkat netizen ini. "Bagusan Anabele," tulis dia.

Dalam sebuah video YouTube, perempuan berusia 26 tahun ini pernah bercerita tentang kisah hidupnya yang tidak pernah bisa lepas dari tindak perundungan oleh teman sekolahnya. Kekeyi menjadi terkenal setelah mengunggah tutorial make up. Lagu parodi miliknya berjudul 'Keke Bukan Boneka' pun berhasil mendapatkan 47 juta views serta sukses mengalahkan lagu kolaborasi Lady Gaga dan girl band K-pop BlackPink.

Ironisnya, menjadi terkenal tidak lantas membuat Kekeyi terlepas dari tindak bullying. Perbuatan tidak menyenangkan itu malah semakin menjadi-jadi. Netizen dari seluruh penjuru Indonesia kompak melakukan cyberbullying atau perundungan di dunia maya.

Ilustrasi korban cyberbullying
Foto: IStock

“Sahabat, kalian tau nggak, sih, belakangan ini aku kepikiran banget sama komentar-komentar pedas yang ada di Instagram aku. Kenapa, sih, kalian komentarnya pedes banget yang selalu bikin aku sakit hati?" keluh Kekeyi dalam sebuah video yang ia unggah di akun Instagramnya, Januari tahun lalu.

Dikutip dari laman Unicef.org, cyberbullying adalah bullying atau perundungan dengan menggunakan teknologi digital. Hal ini dapat terjadi di media sosial, platform chatting, platform bermain game, dan ponsel. Cyberbullying merupakan perilaku berulang yang ditujukan untuk menakuti, membuat marah, atau mempermalukan mereka yang menjadi sasaran. Tindakan cyberbullying wujudnya dapat berupa tindak intimidasi, mempermalukan, penghinaan, maupun pelecehan.

Sejak berdiri di tahun 2020, Bullyid telah menerima aduan mengenai kasus cyberbullying. Bullyid sendiri merupakan organisasi nonpemerintah yang fokusnya memberikan dukungan dan bantuan kepada korban kejahatan siber.

Karena anonim, orang-orang di dunia online jadi lebih berani melakukan hal ini dari pada secara langsung di kehidupan nyata."

Cyberbullying ternyata bisa dialami siapa saja, tidak memandang status dan latar belakang pendidikannya. Termasuk mereka para profesional yang punya jabatan penting. Ada juga beberapa influencer yang melapor ke kami,” ucap Agita Pasaribu, founder Bullyid saat berbicara dengan detikX baru-baru ini.

Hasil riset yang diterbitkan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada 2019 mengatakan bahwa sedikitnya ada sekitar 49 persen warganet yang pernah mengalami cyberbullying. Sementara tahun lalu, sekitar 2.700 laporan cyberbullying diterima Bullyid. Laporan kasus yang paling sering diterima Bullyid adalah kasus pengancaman secara daring dan porn revenge.

Agita menilai tindakan cyberbullying lebih kejam karena bisa dilakukan di mana saja dan kapan pun tanpa mengenal waktu. Identitas pelaku juga terbilang sulit diketahui karena bisa saja mereka menggunakan identitas lain atau akun palsu.

“Karena anonim, orang-orang di dunia online jadi lebih berani melakukan hal ini dari pada secara langsung di kehidupan nyata,” kata Agita yang telah mendapat gelar Master of Arts in International Relations – ASEAN Studies dari University of Malaya pada tahun 2018 ini. Untuk memberantas cyberbullying, Bullyid bekerja sama dengan beberapa platform media sosial seperti Facebook, Instagram, dan Twitter.

Agita Pasaribu, founder Bullyid
Foto : Dok Pribadi (Instagram)

Meski tidak meninggalkan luka fisik, dampak yang ditimbulkan akibat cyberbullying tidak bisa dipandang sebelah mata. Kasus cyberbulllying sedikit banyak telah mempengaruhi kesehatan mental korban. Menurut studi dalam Journal of Medical Internet Research, korban cyberbullying lebih rentan menyakiti dirinya sendiri, bahkan melakukan aksi bunuh diri.

Indonesia turut mencatat kasus kelam cyberbullying. Delapan tahun silam, seorang event organizer bernama Yoga Cahyadi yang berumur 36 tahun meninggal setelah menabrakkan diri ke kereta api di Yogyakarta. Beberapa waktu sebelum kejadian itu, ia sempat nge-tweet di akunnya, "Trimakasih atas segala caci maki @locstockfest2 ini gerakan-gerakan menuju Tuhan salam".

Sedangkan di Jepang, seorang perempuan sekaligus pegulat bernama Hana Kimura turut menjadi korban. Di usianya yang baru menginjak 22 tahun, ia memiliki karir gemilang. Namun, ia mengakhiri hidupnya diduga karena tidak kuat menerima komentar negatif dari media. Sebelum melakukan aksi bunuh diri, ia sempat memberikan like di setiap komentar warganet. Komentar terakhir yang di-like adalah komentar untuk memintanya menghilang.

Menyadari dampak cyberbullying yang begitu mengerikan, Bullyid memberikan akses bantuan dan dukungan dalam bentuk mental maupun pendampingan hukum. Termasuk dengan menyediakan tenaga psikolog melalui fitur live chat yang disediakan platform bullyid.org. Namun, Agita mengungkapkan, kasus cyberbullying yang ia terima hanya segelintir saja yang diteruskan ke ranah hukum.

“Masih minim dan bisa dihitung jari yang akhirnya mau dibantu untuk dilaporkan ke pihak berwajib. Kebanyakan kasus yang kita tangani masih didominasi konseling ke mental health mereka. Dan sisanya kita bantu pelaporan ke platform media sosial terkait,” katanya.


Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE