INTERMESO

Saat Orang Tua Tak Percaya Omicron

“Kata ibuku, ‘Nggak usah semua di-COVID-kan. Kamu itu cuma sakit flu biasa'.”

Ilustrasi: Edi Wahyono

Minggu, 13 Februari 2022

Pandemi COVID-19 yang berkepanjangan dan tak kunjung usai ternyata juga bisa membuat hubungan antarkeluarga merenggang. Cerita ini dialami oleh Ratna, bukan nama sebenarnya, anak pertama dari dua bersaudara. Ia minta identitas dirinya dirahasiakan.

Di rumahnya yang diisi empat orang, Ratna terpaksa 'melawan' ayah dan ibunya. Sejak pertama kali virus COVID-19 terdeketeksi di Indonesia, mereka berdua kompak tidak ingin percaya pada virus tersebut. Bahkan ketika varian Delta menyebar dan sempat membuat sejumlah tempat pemakaman umum (TPU) penuh, mereka tetap bergeming.

Sayangnya, kedua orang tua Ratna lebih mempercayai bisikan tetangga dan artikel tidak jelas yang disebarkan lewat grup WhatsApp keluarga. “Di lingkunganku, yang seperti itu bukan satu-dua orang. Jujur, ya, aku kesal banget, termasuk ke keluarga aku sendiri. Pantes aja COVID ini nggak kelar-kelar,” tutur perempuan yang tinggal di Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, ini.

Bahkan, ketika hasil pemeriksaan swab antigen Ratna dinyatakan positif, kedua orang tuanya hanya menganggap enteng saja. Ingin rasanya Ratna minggat dari rumah. Apalagi kondisinya saat ini bisa saja membahayakan orang tuanya. Terutama ayahnya, yang memiliki riwayat penyakit hipertensi atau tekanan darah tinggi.

“Kata ibuku, ‘Nggak usah semua di-COVID-kan. Kamu itu cuma sakit flu biasa'," kata Ratna menirukan ucapan ibunya. “Walaupun mereka mati-matian nggak percaya, aku nggak mau mereka sakit gara-gara aku.”

Saat dinyatakan positif, pegawai toko baju ini ingin menyewa kamar hotel untuk melakukan isolasi mandiri. Tapi, karena keterbatasan biaya, ia terpaksa mengurungkan niatnya. “Aku isolasi mandiri di rumah. Hanya, adikku aku suruh tidur di kamar Bapak sama Ibu,” ujar Ratna, yang berusia 21 tahun.

Seorang sedang menjalani tes antigen untuk mendeteksi COVID-19
Foto: Agung Pambudhy/detikcom

Bagaimana virus itu bisa bersarang di tubuhnya, Ratna sama sekali tidak tahu. Ia baru saja dua minggu bekerja sebagai pegawai toko. Sepulang bekerja, badannya tidak enak. Ratna mengira ia kelelahan karena beberapa hari belakangan ia harus lembur karena ditugaskan melakukan stock opname di gudang.

Namun lambat laun seluruh badannya letih, hidungnya tersumbat, dan tenggorokannya gatal. Ratna juga sempat merasa mual dan tidak nafsu makan. Sampai akhirnya ia memeriksakan diri di klinik terdekat dan ia dinyatakan positif mengidap COVID-19.

“Bapak sebelumnya juga sempat batuk-pilek juga. Apa aku ketularan dari Bapak, ya? Tapi aku nggak tahu pasti. Soalnya, Bapak ngeyel, tes swab nggak mau. Aku mau bayarin pun dia tetap nggak mau,” katanya.

Walaupun kali ini nggak separah sebelumnya, tetap aja jangan sampai kena lagi, deh. Paling nggak tega ngelihat anak saya sakit."

Untungnya, Ratna hanya mengalami gejala ringan saja. Kondisinya berangsur membaik setelah meminum obat dari dokter di klinik. Adiknya yang masih SMA juga masih bisa diajak kerja sama. Tiap hari adiknya yang sedang sekolah daring membantu menyiapkan makanan dan segala keperluannya dan diletakkan di depan kamar.

“Terserah orang tuaku mau ngomel atau bilang apa. Kayaknya mereka juga udah capek sama aku. Yang penting, di rumah aku sudah berusaha banget buat jaga diri sendiri, pakai masker, dan nggak keluar dari kamar,” tutur Ratna, yang baru saja menjalankan isolasi mandiri selama lima hari.

Di sisi lain, Venna Kartika dan keluarganya sudah dua kali terinfeksi COVID-19. Pertama kali di saat varian Delta tengah merebak. Lalu ia, suami, dan anak laki-lakinya yang masih berusia 10 tahun kembali terinfeksi di tengah gelombang varian Omicron. Mereka bertiga mengalami gejala yang berbeda-beda. Namun, saat itu, hanya Venna yang indra penciumannya terganggu.

Merebaknya varian Omicron membuat masyarakat berburu vaksin booster..
Foto: Agung Pambudhy/detikcom

“Waktu kena Delta, cuma saya yang nggak bisa cium bau apa-apa. Sampai dua bulan, lho, baru penciumannya balik lagi,” ucap ibu rumah tangga ini, yang sempat khawatir karena indra penciumannya tak kunjung kembali normal.

Kali ini Venna duluan yang merasakan demam setelah merayakan Hari Raya Imlek. Awalnya Venna sempat ragu untuk berkunjung ke rumah orang tua dan saudaranya. Ternyata keraguan itu ada benarnya juga. Satu per satu keluarga yang ikut berkumpul akhirnya tumbang .

“Habis, waktu itu mikirnya sudah dua tahun nggak pernah ketemu Mama dan saudara-saudara. Makanya saya nekat aja, eh, ternyata malah kena,” tuturnya. Venna dan keluarganya sudah dua kali menerima vaksin Sinovac. Mereka sedang menjadwalkan untuk booster vaksin ketiga. Namun, apa daya, mereka malah terinfeksi Corona duluan.

Gejala yang dirasakan Venna dan anaknya tidak terlalu berat. Mereka sama-sama mengalami gejala ringan, seperti flu, batuk, sakit tenggorokan, dan sakit kepala. Suaminya malah tidak memiliki gejala sama sekali, namun juga dinyatakan positif. Mereka sudah menyelesaikan isolasi mandiri selama sepuluh hari dan hasil swab antigen keduanya sudah dinyatakan negatif.

“Walaupun kali ini nggak separah sebelumnya, tetep aja jangan sampai kena lagi, deh. Paling nggak tega ngelihat anak saya sakit,” kata Venna, yang berdomisili di Tangerang Selatan.


Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE