INTERMESO

Kembang Api Terakhir di Pantai Karnaval

Bagi orang-orang yang tahun kemarin kehilangan anggota keluarganya karena COVID-19, perayaan tahun baru tak lagi sama.

Foto : Pesta kembang api di Kawasan Ancol tahun 2019 (Pradita Utama/detikcom)

Sabtu, 1 Januari 2022 

Tak peduli apa yang terjadi, mau itu senang atau sedih, waktu terus bergerak maju. Tahun pun akan segera berganti, tapi bagi Reynaldo, dunianya seakan berhenti berputar di bulan Juli kemarin. Dari total 144.088 orang yang dilaporkan meninggal dunia karena COVIS-19 pada kamis, 30 Desember 2021, salah satu diantaranya merupakan ayahnya.

Bagi sebagian orang, angka yang tercatat di sana hanyalah sekedar tulisan yang tidak memiliki arti. Mungkin itu kenapa mereka sudah mulai berani berkumpul, merayakan kebebasan yang belakangan ini banyak terenggut. Tapi, bagi Reynaldo, sejak kepergian ayahnya, dunia sudah tak lagi sama. Ditambah lagi kini ia harus memegang tongkat estafet kepala keluarga.

“Sejujurnya sampai sekarang saya masih trauma. Selain karena kerja sampai sekarang saya belum berani ke mall,” ungkap anak sulung dari tiga bersaudara ini saat dihubungi detikX. Sementara ibunya sudah tiada sejak ia berumur 15 tahun.

Masih lekat di ingatan Reynaldo dan kedua adiknya, perayaan tahun baru tahun 2019 yang mereka rayakan bersama. Senyum ayah dan adik-adiknya merekah saat menyaksikan pertunjukan kembang api menari-nari di atas langit Pantai Karnaval, Taman Impian Jaya Ancol. Mereka pun turut berjingkrak saat sejumlah musisi ibu kota tampil di atas panggung untuk meramaikan pergantian tahun baru.

COVID-19 di tahun 2019 merenggut banyak korban, termasuk mereka yang terpaksa isolasi mandiri karena penuhnya kapasitas rumah sakit di Jakarta dan sekitarnya
Foto : Rifkianto Nugroho/detikcom

“Biasanya emang tahun baruan di Ancol, papa ngajak saudara sama sepupu-sepupu yang lain. Itu memang udah jadi kebiasaan kami waktu tahun baru,” ucap laki-laki berusia 28 tahun ini. Adik perempuan pertamanya baru lulus kuliah dan adik bungsu tengah sekolah di tingkat kelas 2 SMA. “Nggak nyangka sama sekali kalau itu jadi perayaan tahun baru terakhir kita bareng-bareng sama papa.”

Sementara di penghujung tahun 2020, Reynaldo terpaksa tidak merayakan tahun baru bersama keluarga. Saat itu ia yang bekerja di bidang perbankan dipindahtugaskan sementara di cabang Semarang. Ditambah himbauan untuk merayakan tahun baru di rumah saja, Reynaldo tidak pulang ke rumahnya di Jakarta Barat. Ia hanya bertukar sapa melalui video call.

Rupanya kalung ini jadi kenangan terakhir kita waktu masih bersama."

“Kalau diingat-ingat saya rasanya nyesel banget. Kalau tahu bakal begini, waktu itu pasti saya akan bela-belain buat pulang ke rumah, ngerayain tahun baru. Walaupun di rumah juga nggak masalah buat saya. Yang penting bisa sama papa,” sesal Reynaldo. Tanpa ayahnya, pergantian tahun baru kali ini terasa begitu sunyi. “Saya nggak kepikiran juga mau ngerayain. Soalnya biasanya justru papa yang paling semangat ngajakin anak-anaknya buat merayakan tahun baru.”

Tahun 2021 juga menjadi tahun yang sangat tidak terlupakan untuk Agustine. Di usianya yang masih 29 tahun, Agustine harus menerima kenyataan pahit. Suaminya yang terpaut usia 2 tahun lebih tua meninggal karena COVID-19. Kondisi suaminya saat itu diperparah dengan riwayat penyakit maag yang lumayan parah.

“Suami aku tuh meninggal bulan Agustus kemarin. Waktu COVID-19 di Indonesia lagi parah,” kata Agustine. Padahal pernikahan keduanya baru berjalan selama dua tahun. Mereka berdua juga belum dikaruniai anak. “Sangat nggak menduga sama sekali, di usia segini malah aku sendiri lagi, ditinggal suami. Kadang tuh aku masih nggak bisa terima.”

Suami Agustine merupakan teman satu kelas selama menempuh pendidikan SMA di Cirebon. Mereka baru berpacaran sejak lulus SMA. Kebetulan keduanya sama-sama merantau ke Jakarta.

Malam pergantian tahun baru di Ibukota Jakarta terlihat sepi dari hiruk pikuk warga karena pandemi COVID-19 yang belum usai. Salah satunya di Bundaran Hotel Indonesia, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Jumat (31/12/2021) malam.
Foto : Rengga Sancaya/detikcom

Sebagai pasangan yang menganut agama Kristen Protestan, mereka berdua biasanya menghabiskan waktu untuk perayaan tahun baru di salah satu gereja di Jakarta Barat. Biasanya acara tahun baru itu diisi dengan ibadah lalu dilanjutkan dengan makan bersama.

“Biasa ada puji-pujian juga dan kembang api. Tahun baru itu apalagi sejak sudah nikah dan tinggal bareng, kita pasti selalu di gereja,” ucapnya.

Sepulangnya dari gereja, tak seperti biasa, suami Agustine memberikan sebuah kotak kecil yang ternyata isinya adalah sebuah kalung emas lengkap dengan inisial namanya.

“Aku agak kaget juga. Karena suamiku itu bukan tipe yang romantis. Tapi kok tumben dia kasih aku hadiah. Katanya kado untuk merayakan tahun baru,” ujar Agustine. Kini meski sang suami telah tiada, kalung berinisial A itu masih ia kenakan sampai sekarang. Termasuk ketika Agustine ‘merayakan’ natal di makam suaminya beberapa pekan lalu. “Rupanya kalung ini jadi kenangan terakhir kita waktu masih bersama.”


Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE