Ilustrasi: Edi Wahyono
Jumat, 17 Desember 2021Menjadi penerbang adalah dambaan setiap pemuda pada masa lalu. Begitu juga bagi pemuda bernama Willem Eduard de Graaff. Ia bergabung dengan maskapai komersial milik Belanda, Koninklijke Luchtvaart Maatschappij (KLM). Tapi kebanggaan itu sirna seiring perlakuan diskriminatif yang diterima dari rekan sesama satu profesinya.
Perlakuan itu didapatkan De Graaf karena wajah dan postur tubuhnya yang mirip orang Hindia Belanda (sekarang Indonesia). De Graaf memang bukanlah orang Eropa murni. Ia dilahirkan di Sukabumi, Jawa Barat, 11 Januari 1908 dari pasangan Gustaaf Willem de Graaf dan Elisabeth Cristina Fuglistahler.
Gustaaf, ayah De Graaf, adalah orang Eropa (Belanda) asli. Sementara Elisabeth, ibunya, berdarah campuran Indonesia-Eropa. De Graaf memiliki seorang kakak bernama Cornelia Augustina de Graaff yang lahir di Kediri, Jawa Timur, 24 Mei 1906, dan seorang adik, Felix Victor de Graaff, yang lahir di Zandport, 28 Februari 1915.
Sejak kecil, De Graaff belajar di Indonesia selama beberapa tahun hingga usianya genap 18 tahun. Setelah itu, De Graaff bergabung dengan KLM sebagai insinyur aeronautika pada 1926. Selama tiga mulai tahun 1930 hingga 1933, ia aktif bertugas di Departemen Penerbangan Angkatan Darat Belanda atau Luchtvaartafdeling (LVA). Saat itulah, ia mendapat kualifikasi brevet pilot militer dan brevet B.

Foto Willem Eduard de Graaff sekitar tahun 1930-an saat menjadi pilot KLM
Foto: Letletlet-wasplane
Di usianya 24 tahun, De Graaff menikahi seorang perempuan yang lebih tua delapan tahun dari umurnya yang bernama Reijkje Regina Meijer di Ziest, Utrecht, Belanda pada 22 September 1932. Tepat bulan Mei 1933, De Graaff kembali bertugas di KLM sebagai co-pilot untuk rute penerbangan Eropa-Asia, termasuk Amsterdam-Batavia (sekarang Jakarta).
“Kemungkinan dalam masa tugasnya inilah, De Graaff mengalami diskriminasi dan penolakan, karena tampilannya yang Indonesia banget, yang dapat menjelaskan keputusannya ‘mengkhianati’ negara induknya di masa Perang Dunia II,” kata pegiat sejarah Nazi, Alif Rafik Khan kepada detikX, Kamis, 16 Desember 2021.
De Graaff ‘membalas’ melalui keanggotannya di organisasi yang terkenal rasis dan merupakan kolaborator dari negara yang menjajah Belanda."
Secara kebetulan, sejak pasukan Jerman menginvasi Belanda tahun 1940, De Graaff langsung masuk menjadi simpatisan Partai Nationalsozialismus (Partai Nasional Sosialisme) yang lebih dikenal dengan sebutan Nazi. Ia bergabung dengan partai Nazi Belanda atau National Socialistische Beweging (NSB) pimpinan Anton Mussert.
Kenapa ia membelot ke pihak Jerman? “Dari faktor psikologis, sebagai seorang peranakan (Indonesia-Eropa) yang selalu dipandang sebelah mata oleh orang Belanda asli. De Graaff ‘membalas’ melalui keanggotannya di organisasi yang terkenal rasis dan merupakan kolaborator dari negara yang menjajah Belanda,” terang Alif.
De Graaff lalu mendaftarkan diri sebagai pilot sukarelawan di Luftwaffe atau Angkatan Udara Jerman. Ia masuk sebagai anggota 4.Staffel/Flieger Ausbildungs Regiment 42 di Salzwedel. Tak lama, ia memilih untuk mengabdi sebagai pilot pengantar dari pabrik pesawat di Liepzig ke tempat pendistribusian di lapangan terbang Berlin-Rangdorf.

Pesawat Letov B17 Cekoslowakia yang sempat dipiloti De Graaff. (Foto: Sudetenland.georgetchronis)
Tahun 1943, De Graaff ditransfer ke Versuchsverband des Oberkommandos der Luftwaffe (ObdL), sebuah unit elit yang biasa melakukan misi pengintaian rahasia dan menerjunkan agen-agen Jerman di garis belakang musuh. Penugasan itu dijadikan ajang pembuktian oleh De Graaff sebagai pilot yang handal dan kepercayaan atasan kepadanya.
Namun naas, De Graaff sempat mengalami kecelakaan ketika membawa pesawat pembom, Letov B-71 buatan Cekoslowakia, di semenanjung Krimea Utara. Ia mengalami luka di kakinya yang memaksanya absen beberapa bulan bertugas. Tepatnya tanggal 20 Februari 1944, Versuchsverband ObdL dilebur menjadi bagian dari skuadron pembom khusus atau Kampfgeschwader 200 (KG-200) pimpinan oleh Oberst Werner Baumbach, salah satu pembom terbaik Luftwaffe.
Di dalam buku Airbone Espionage: International Special Duties Operations in The World Wars yang ditulis David Oliver (2013), KG-200 merupakan sebuah unit klandestein baru di Luftwaffe di Gatow, Berlin. Tugas unit ini adalah menerjunkan para agen rahasia Reichssicherheitshaumtamt (RSHA) yang dibentuk oleh Heinrich Himmler (Kepala Kepolisian Jerman dan panglima tertinggi tentara Nazi, Schutzstaffel (SS).
KG-200 merekrut 100 awak pesawat yang berpengalaman yang dilengkapi 60 pesawat tempur, seperti Bucker BU-181 Bestman, DFS 230, LeO 246 buatan Perancis dan SB-2 buatan Rusia. Unit inilah yang berhasil menerjunkan 400 agen Jerman ke Inggris, Irlandia Utara, Perancis, Italia dan Yunani. Tak seperti pasukan elit lainnya, semua pilot KG-200 tak semuanya orang Jerman asli.
Mereka berasal dari wilayah lainnya seperti Polandia, Cekoslowakia, Belgia bahkan dari Hindia Belanda (Indonesia), seperti Willem Eduard de Graaff. Ia dan rekan seperjuangannya melakukan lebih banyak lagi misi-misi rahasia dan berbahaya sebagai anggota dari Komando Maria I Gruppe/KG-200. De Graaff bisa menerbangkan berbagai jenis pesawat terbang.

Willem Eduard de Graaff anggota pilot khusus KG-200
Foto : Letletlet-wasplane
Menjelang beberapa bulan berakhirnya Perang Dunia II, De Graaff sempat beralih membawa pesawat jet Messerschmitt Me-262 yang dijuluki Schwalbe atau Burung Walet. Setelah Jerman kalah dan menyerah kepada pasukan sekutu bulan Mei 1945, De Graaff bersembunyi selama berbulan-bulan di Jerman.
Banyak dari anggota KG-200 beralih menjadi pilot pesawat komersial. Misalnya Heinricht Schmitt mantan pilor Luftwaffe Ju 88 menjadi pilot komersial, lalu bermigrasi ke Amerika Selatan dan menghilang selamanya. Secara kebetulan, pilot KG-200, De Graaff pergi secara sembunyi-sembunyi menuju Amerika Selatan. Para pelarian itu, termasuk De Graaff menjadi daftar orang paling dicari oleh para agen intelijen tentara di bawah naungan Office of Strategic Service (OSS), dinas rahasia Amerika Serikat selama Perang Duni II.
Bahkan beberapa tahun kemudian, hingga OSS berubah wujud menjadi Central Intelligence Agency (CIA), jejak pelarian eks tentara Nazi tak pernah ditemukan jejaknya di Amerika Selatan. Termasuk De Graaff. Apakah dia pulang ke Sukabumi, Jawa Barat? Di mana keluarganya? “Kalau itu saya kurang tahu. Referensi yang saya dapatkan sangat terbatas,” ucap Alif.
Penulis: M Rizal
Editor: Irwan Nugroho