Ilustrasi: Edi Wahyono
Minggu, 12 Desember 2021Kisah di Balik Rias Pasangan Badut
Video : 20Detik
Mungkin Anda masih ingat dengan adegan mencengangkan yang membuka film IT. Seorang anak kecil bernama Georgie sedang asik bermain perahu ketika hujan deras. Namun, perahu itu terbawa aliran air dan jatuh ke selokan. Saat ia mencoba mengambilnya, badut bernama Pennywise malah muncul dan menggigit lengannya hingga putus. Badut ciptaan penulis Stephen King itu menyeret George hingga membuatnya menghilang tanpa jejak.
Karakter badut jahat yang tayang tahun 2017 sukses membuat anak-anak, bahkan orang dewasa, semakin takut dengan badut. Dan, ini bukan kali pertama badut digambarkan dengan begitu menyeramkan. Tengok saja karakter Joker yang merupakan musuh bebuyutan Batman. Padahal sejatinya badut adalah sosok penghibur yang seharusnya mengundang gelak tawa.
Sepasang badut yang detikX temui di Cimahi, Jawa Barat, sama sekali berbeda dengan imej horor di layar kaca. Pasangan badut sekaligus pasangan suami istri ini bernama Simi Kardin Karyadi dan Maria Tresna Asih Aminta. Mereka dikenal dengan nama panggung Sim Sim dan Nana. “Silakan isitirahat dulu, kita santai dulu aja, ya,” ucap Sim Sim saat menyambut kedatangan detikX di kediamannya dengan senyum lebar.
Rumah mereka yang terletak di Cimahi, Jawa Barat, bediri di lahan seluas satu hektare. Cukup luas, sehingga ada taman dan ‘panggung’ kecil di dalamnya. Sementara sebagian dinding rumah dihiasi dengan aneka gambar mural. Di tempat inilah Sim Sim dan Nana berlatih aneka trik badut. Mereka memperlihatkan kepada detikX bagaimana mereka berdua bertransformasi menjadi couple clown.

Momen Sim Sim dan Nana bermain bersama anak-anak
Foto : Dok Pribadi
“Jenis clown yang kita pakai adalah Hobo Clown. Ciri khasnya memakai jas dan rompi tapi sudah sobek, jadi ditambal-tambal begini. Karakternya diambil dari orang kaya di Amerika waktu jaman American The Great Recession yang jatuh miskin tapi suka travelling dengan kereta api,” terang Sim Sim sambil memulaskan make up ke wajahnya.
Kostum badutnya mereka bikin sendiri. Sedangkan peralatan atraksi dan perlengkapan lain seperti hidung badut ia beli di luar negeri. “Mendapatkan props badut di Indonesia itu sangat susah. Kecuali sepatu badut yang saya pakai ini. Kita bangga karena ini dibuat oleh seniman badut asal Malang. Sepatunya sudah go international, sudah diakui badut luar negeri kualitasnya luar biasa,” tutur Sim Sim memuji rekan seprofesinya. Kostum dan yang baik sangat penting dalam menunjang performa mereka.
Kalau ini unik nih ada sepasang badut. Dengan berdua, show duet kita bisa lebih banyak menciptakan variasi dan koreo gerakan."
Selesai berdandan, penampilan Sim Sim dan Nana jauh dari kesan suram dan horor. Nana bahkan terlihat manis dengan rok rompi dan blush berwarna pink di kedua pipinya.
Sebagai badut, Sim Sim dan Nana sadar betul mengapa profesinya ini kerap kali ditakuti orang. Ada badut yang selama beratraksi kelewat jahil sehingga membuat orang menjadi takut dan waspada. Orang yang berinteraksi dengan badut takut jika dirinya menjadi korban kejahilan yang mempermalukan.
“Oh badut itu kesannya tukang bully, tukang ngacauin acara. Kalau gitu nggak bakal ada yang mau manggil. Misalkan waktu show kita nge-bully profesi ayah si anaknya atau waktu mau duduk bangkunya kita tarik lalu diketawain. Itu hal-hal yang pantang kita lakukan di dalam show. Ada Do’s dan Don’ts,” tutur Sim Sim.
Salah satu acara ulang tahun yang diikuti Sim Sim bahkan pernah dihentikan oleh pihak penyelenggara. Saat itu ada badut yang ketahuan melempar kue ke penontonnya. “Penonton kita 90 persen anak-anak. Waktu memakai seragam badut, kita harus menjaga attitude. Saat pakai seragam nggak boleh merokok, nggak boleh bully. Kan children see children do. Kita harus jadi contoh yang baik untuk mereka,” katanya.
Awal mulanya Sim Sim terjun ke dunia badut dimulai ketika ia sering menemani ayahnya tampil di panggung. Sim Sim merupakan anak pertama dari pesulap legendaris Indonesia Robbin Massarie Jasin atau Mr Robbin yang Berjaya pada tahun 1970-an. Waktu itu Ayahnya melihat bakal sang anak di bidang juggling atau seni melempar benda.

Pasangan suami-istri Simi Kardin Karyadi dan Maria Tresna Asih Aminta
Foto: Dok Pribadi
“Ayah menyarankan saya sebagai juggler seni lempar benda karena baket kamu di situ mungkin sudah kelihatan, 1997 ayah sering isi acara ultah, saya kebagian opening. Sejak saat itu saya belajar jadi seniman badut yang baik dan benar,” cerita Sim Sim yang pernah bekerja di Trans Studio Bandung dari tahun 2011 sampai 2013 ini.
Setelah Mr Robbin meninggal di tahun 2009, Sim Sim bertugas untuk menyelesaikan kontrak yang sudah diteken Mr Robbin. Baru di 2010 ia bersolo karir menjadi badut di berbagai acara. Sim Sim lalu merekrut Nana yang merupakan teman SMA. Guru mereka dari Malaysia menyarankan Sim Sim dan Nana bergabung untuk menjadi couple clown.
“Kalau badut sendiri udah biasa. Kalau ini unik, nih, ada sepasang badut. Dengan berdua, show duet kita bisa lebih banyak menciptakan variasi dan koreo gerakan. Terus kalau ada perempuan buat pendekatan ke anak-anak seperti merangkul, main dengan mereka itu lebih nggak canggung,” tutur Nana.
Semenjak keduanya bergabung, berbagai prestasi berhasil merekas sabet. Di antaranya juara satu Bandung Clown Festival 2017 dan juara satu Variety Art Bali Clown Festival. Mereka berdua juga pernah singgal di Kota Kinabalu, Malaysia, selama sebulan untuk memperdalam ilmu balloon twisting.
“Pertama kali menang kompetisi tahun 2016 di Surabaya Clown Festival. Waktu itu cuma dapat juara harapan 2. Sejak saat itu saya juga jadi termotivasi supaya bisa lebih baik dan dapat juara satu,” kata Nana. Mereka berdua juga tergabung dalam World Clown Assosiation. Dari Indonesia hanya ada 10 orang badut yang tercatat keanggotaannya dalam organisasi badut internasional itu.

Sim Sim saat bermain bersama anak-anak di sebuah panti asuhan
Foto: Dok Pribadi
Seorang badut tidak hanya dilihat dari kelihaiannya melakukan juggling atau kostumnya yang nampak sempurna. “Badut itu harus dari penjiwaan. Jadi bukan orang dipakaikan baju yang seadanya, dibedaki tepung, lalu jadi badut. Tapi orang itu harus memiliki hati seorang badut. Kamu harus bisa bring happiness, joy and fun,” tutur Simli saat mengomentari profesi badut yang kini dijadikan alat untuk mengemis di jalan.
Dengan keterampilan mereka menjadi badut, Sim Sim dan Nana juga aktif menjadi penghibur di bangsal rumah sakit. Mereka juga menemui anak pasien kanker di rumah singgah sambil membagikan goodie bag berisi susu dan biskuit. Awalnya Sim Sim dan Nana bekerja sama dengan Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia.
Saya juga bingung kenapa profesi badut masih dianggap sebelah mata. Orang anggap yang keren itu kerja berdasi."
“Kita harus selalu tersenyum tapi dalam hati menangis membayangkan kondisi adik-adik di sana. Tapi sambutan mereka luar biasa. Anak-anak yang sedang berjuang ceria sekali menyambut kita. Dengan skill yang saya punya bisa berbagi sedikit kebahagiaan untuk menghibur mereka,” ucap Sim Sim. Selepas Sim Sim dan Nana pulang, anak-anak itu kembali menanti kedatangan mereka. “Anak-anak suka nanyain ‘Om badutnya ke mana? Kok nggak datang?’”
Salah satu pengalaman yang masih mereka ingat yaitu saat memberikan trauma healing di pusat terjadinya bencana. Di tahun 2017 Sim Sim dan Nana memberikan pertunjukan di hadapan korban Banjir Bandang di Garut. Di sana ada seorang anak kecil yang baru saja kehilangan kedua orang tuanya karena disapu banjir. Anak ini tadinya tak berhenti menangis, tapi begitu melihat aksi Sim Sim dan Nana, senyum langsung merekah dari bibirnya.

Sim Sim bersama anak-anak dalam sebuah perayaan ulang tahun
Foto: Dok Pribadi
“Kita adalah happiness dealer. Kalau kita bisa membuat seseorang melupakan sejenak kesedihan, beban dan masalah hidupnya yang berat. Ketika kita hibur mereka bisa tersenyum ceria, itu buat kami sangat luar biasa. Sebuah kepuasan yang nggak bisa dibeli dengan uang,” kata Sim Sim.
Di balik kegiatan sosial yang kerap mereka lakukan, nyatanya pintu rezeki bisa terbuka dari mana saja. Sim Sim dan Nana kerap meladeni acara ulang tahun anak usia satu tahun di hotel bintang lima. Atau diundang ke acara pesta ulang tahun di pelosok desa yang diadakan sangat meriah semalam suntuk. Profesi badut yang kerap dipandang sebelah mata namun rupanya sangat menjanjikan.
“Saya juga bingung kenapa profesi badut masih dianggap sebelah mata. Orang anggap yang keren itu kerja berdasi, padahal clown juga berdasi,” canda Nana.
Jadwal mereka di akhir pekan biasanya penuh. Dalam sehari Sim Sim dan Nana sanggup menerima dua panggilan. “Kita bahkan bisa merangkat jadi MC, Event Organizer, dekorasi balon. Clown itu hanya salah satu pelengkap saja. Kalau satu paket itu lumayan banget. Apalagi kalau rutin sabtu-minggu,” ucap Sim Sim.
Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho