INTERMESO

Omicron Datang, Vakansi Melayang

“Saya pikir bakal mulai bangkit lagi. Ternyata ada virus varian baru. Klien-klien saya yang nelepon itu khawatir dan mau batalin perjalanan wisata mereka."

Foto: Pemandangan Romantis di Teluk Finlandia (AP/Dmitri Lovetsky)

Minggu, 4 Desember 2021

Setibanya Rista di meja kantor, telepon genggamnya tak berhenti berdering. Panggilan masuk itu membuat perempuan berusia 27 tahun ini sampai kewalahan. Satu per satu telepon yang masuk ia ladeni, dan seusainya menutup telepon, Rista menghela nafas panjang.

Sudah empat tahun ia bekerja di sebuah perusahaan perjalanan wisata ternama di Indonesia. Kantor pusat tempat Rista bekerja di Jakarta pusat kini nampak lebih lenggang. Selama pandemi Covid-19, perusahaan tempatnya bekerja mengalami gonjang ganjing yang cukup memprihatinkan. Hampir separuh rekan kerjanya dirumahkan.

“Akhir-akhir ini banyak klien saya yang mau batalin perjalanan untuk akhir tahun dan awal tahun baru,” ujar Rista, bukan nama sebenarnya, kepada detikX beberapa hari lalu. Di antara sekian banyak rekannya yang di-PHK, Rista masih bertahan.

Mulanya, Rista yang bekerja sebagai staff di divisi tur Eropa ini melihat secercah harapan tumbuh. Apalagi ketika kondisi pandemi COVID-19 di Indonesia mulai menurun. Selain itu berbagai Negara seperti Singapura dan berbagai Negara di Eropa sudah mulai membuka diri untuk dikunjungi wisatawan.

Sunyi sepi Austria saat di-lockdown
Foto: AP Photo 

“Saya pikir bakal mulai bangkit lagi. Ternyata ada virus varian baru. Klien-klien saya yang nelepon itu khawatir dan mau batalin perjalanan wisata mereka,” ucap Rista yang tahun lalu sempat diminta perusahaan tempatnya bekerja untuk berjualan alat kesehatan seperti Thermometer Gun dan Oxygen Meter ini.

Negara di berbagai belahan dunia kini memang tengah ketar ketir dengan munculnya virus baru Omicron (B 11529), yang merupakan varian baru COVID-19. Virus asal Afrika Selatan ini diyakini lebih ganas dari varian Delta. Virus COVID-19 terus bermutasi. Virus varian baru ini telah menjangkiti berbagai Negara, tak terkecuali Negara di Eropa.

Perjalanan saya yang harusnya cuma 10 hari kalau ditambah isolasi jadi 20 hari. Ya terang aja saya nggak mau. Masa toko saya ditinggal begitu lama"

Ketika sudah mulai bisa bernafas dalam menyambut momen liburan ini, pembatalan reservasi tentu makin menyulitkan perusahaan agen travel. Perusahaan travel harus mencari cara untuk mengembalikan uang yang telah disetor kliennya. Padahal proses refund adalah hal yang paling ingin Rista hindari.

“Pokoknya kita harus pertahanin, gimana caranya biar tetap bisa jualan. Biasa kita hold minta klien buat tahan dulu dananya untuk liburan selanjutnya. Atau kita sarankan untuk ikut paket perjalanan wisata domestik, seperti Bali atau Labuan bajo,” tutur Rista.

Pelanggan agen wisata Rista ada pula yang tetap kekeuh membatalkan perjalannya. Padahal, negara yang dituju bukanlah negara yang menerapkan lockdown. Beberapa paket perjalanan ke Eropa yang dijual dengan tujuan ke negara seperti Spanyol, Finlandia, dan Swiss. “Mungkin sudah terlanjur parno duluan, makanya mereka tetap mau batalin perjalanannya,” ungkap Rista.

Demi mencegah penyebaran kasus virus Omicron ini, berbagai langkah antisipasi diambil sejumlah negara. Laporan Reuters, negara seperti Belanda, Jerman, Austria dan Republik Ceko pun turut menerapkan lockdown ketat. Perdana Menteri Belanda Mark Rutte mengumumkan lockdown sebagian selama tiga minggu. Peraturan ini menjadikan Belanda negara pertama di Eropa Barat yang kembali memberlakukan pembatasan COVIS-19. “Virus ada di mana-mana dan perlu diperangi,” kata Rutte dalam pidatonya.

Maria Indrawati ada di antara deretan orang yang membatalkan perjalanan wisata akhir tahunnya ke luar negeri. Wanita yang memiliki toko baju anak-anak di kawasan Tanah Abang ini awalnya telah mengambil paket perjalanan wisata ke Swiss selama 10 hari. Rencanannya ia akan berangkat bersama 3 orang anggota keluarganya.

Ilustrasi pemandangan Kota Bern, Swiss
Foto: Getty Images 

“Liburan akhir tahun ini sebetulnya sudah dinanti-nanti banget ya, soalnya sudah mau 2 tahun nggak pernah ke mana-mana. Dan kebetulan keluarga saya udah dari dulu pengin sekali ke Swiss,”ucap Maria yang sudah dikenakan biaya paket tur sebesar Rp 30 juta per orang. Ia sekeluarga juga sudah divaksin sebanyak dua kali.

Maria dan keluarga sudah membayangkan dapat melihat langsung pemandangan wisata alam yang menakjubkan. Salah satunya menikmati pemandangan Gunung Matterhorn setinggi 4.478 meter dari atas cable car. Gunung Matterhorn merupakan salah satu gunung tertinggi di Pegunungan Alpen.

“Padahal semuanya udah disiapin, sampai baju dingin udah dimasukin ke koper. Soalnya kita rencana berangkat tanggal 24 Desember ini,” ungkapnya. Tapi setelah berita mengenai Virus Omicron sampai ke telinganya, Maria terpaksa membatalkan perjalannnya.”Soalnya kita belum tahu itu virus seperti apa. Takutnya malah membahayakan keluarga. Anak-anak saya pun ngambek karena batal berangkat.”

Belum lagi peraturan isolasi mandiri yang ia rasa cukup merepotkan dan sangat menyita waktu. Apalagi pemerintah RI baru saja memperpanjang masa karantina WNI dan WNA dari luar negeri. Masa karantina pelaku perjalanan dari luar negeri dari sebelumnyai 7 hari menjadi 10 hari. Kebijakan itu diterapkan guna mencegah penyebaran virus corona (COVID-19) varian Omicron yang ditemukan di Afrika Selatan yang sudah tersebar di sejumlah negara. Kebijakan penambahan masa karantina tersebut akan berlaku mulai hari Jumat (3/12).

“Tentunya kebijakan yang diambil ini akan terus dievaluasi secara berkala sambil kita terus memahami dan mendalami informasi tentang varian baru ini,” ujar Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dalam sebuah keterangan pers.Maria merasa keberatan dengan lamanya waktu untuk karantina mandiri itu. “Perjalanan saya yang harusnya cuma 10 hari kalau ditambah isolasi jadi 20 hari. Ya terang aja saya nggak mau. Masa toko saya ditinggal begitu lama,” tuturnya.

Pemerintah menetapkan masa karantina pendatang atau WNI dari luar negegeri selaam 10 hari. (Foto: Gramdyos Zafna/detikcom)

Kasus COVID-19 yang tiba-tiba saja meledak lagi di negara-negara Eropa juga membuat Jennifer Bachdim membatalkan niatnya berlibur di Eropa. Padahal awalnya istri dari pesepakbola Irfan Bachdim ini senang sekali bisa pergi liburan ke Eropa untuk bertemu keluarga.

“Kami semua bersemangat dan gembira sekali untuk terbang ke Eropa buat ketemu dengan keluarga di Holland dan Jerman tapi keberuntungan tidak sedang berpihak ke kami,” tulis Jennifer Bachdim dalam akun instagramnya.

Ia dan keluarganya sebenarnya sudah berangkat dari kediamannya di Bali menuju Jakarta. Lalu memutuskan untuk membatalkan perjalanan menuju Amsterdam. ”Semuanya terjadi di detik-detik terakhir, saya pun sudah menyelesaikan semua kerjaan untuk mempersiapkan pergi berlibur, kita sudah packing untuk musim dingin dan tentu saja kita sangat gembira bisa berkumpul kembali dengan keluarga-keluarga di sana,” sambungnya.

Kasus COVID-19 yang melonjak naik di Eropa khususnya di Belanda menjadi alasan utama yang membuat dirinya membatalkan perjalanan.Jennifer Bachdim menyebutkan lebih memikirkan kesehatan keluarga, khususnya anak-anaknya. “Orang-orang terdekat dari keluarga juga beberapa ada yang terpapar COVID dan saya pribadi tidak mau mengambil risiko karena perjalanan kami ataupun sedang berada di sana,” kata Jennifer Bachdim.


Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE