INTERMESO

Tak Akan Ada Natal di Vienna

Memasuki liburan natal, negara di Eropa kembali lockdown seiring meningkatnya jumlah kasus COVID-19.

Foto: Warga Austria padati pasar Natal menjelang lockdown (Vadim Ghirda/AP Photo

Minggu, 28 November 2021

Seorang teman pernah berkata, “Jika ingin merasakan perayaan natal sesungguhnya, datanglah ke Kota Vienna di Austria. Sebab di sini, natal dirayakan dengan begitu meriah."

Menjelang akhir tahun, suhu di kota Vienna semakin menurun. Butiran salju mulai menghiasi atap-atap bangunan bergaya Baroque yang dikenal kaya akan detil nan indah. Namun, udara yang menusuk kulit itu tak menyurutkan antusias warga Vienna untuk mempersiapkan diri dalam menyambut hari raya natal.

Salah satu yang paling ditunggu warga lokal maupun wisatawan adalah diselenggarakannya tradisi Christkindlmarkt atau pasar natal. Kota Vienna dikenal sebagai pelopor tradisi pasar natal. Tradisi ini sudah berlangsung sejak tahun 1298. Dan kini pasar natal bisa ditemukan dengan mudah di Negara Eropa lainnya. Di Pasar natal serba ada ini, biasanya warga lokal berkumpul untuk berburu pernak pernik dekorasi perayaan natal.

Alexandra Ljesevic dan saudara perempuannya, Anna, tengah mengenang momen indahnya menyusuri pasar natal sambil menyesap anggur. Dekorasi pohon pinus warna warni, tak lupa arena seluncur es di pusat kota. Alexandra dan adiknya bahkan pernah menunggang rusa kutub di sana.

Namun tahun ini, lagi-lagi mereka berdua harus menggigit jari. Tradisi pasar natal tahun ini terpaksa ditutup lebih awal di tengah menggilanya kasus COVID-19 di Eropa, tak terkecuali Austria. “Ini adalah kesempatan terakhir untuk merasakan waktu dan suasana Natal,” kata Alexandra seperti dikutip dari dailysabah.

Pemandangan di Austria kala lockdown
Foto: AP Photo

Negara di kawasan Alpen ini mencatat rekor harian dengan 15.145 kasus per hari. Disusul kenaikan infeksi virus corona di sejumlah Negara Eropa lain. Salah satunya Inggris yang melaporkan lebih dari 45.000 penularan dalam sehari. Kemudian di Jerman menunjukkan mereka mengalami 65.000 kasus baru dalam 24 jam.

Pemerintah Austria mengambil tindakan tegas dengan memberlakukan lockdown total mulai Senin (22/11/2021) waktu setempat. Akibatnya menjelang liburan natal, Austria menutup toko-toko, restoran dan pasar Natal. Warga Austria tidak diizinkan meninggalkan rumah kecuali untuk keperluan berbelanja kebutuhan pokok, berolahraga dan bekerja. Austria juga memberlakukan wajib vaksin menyeluruh mulai 1 Februari tahun depan. Austria menjadi Negara Eropa pertama yang mewajibkan vaksin bagi warganya.

Kami memiliki kasus yang sekarang dikonfirmasi dari varian ini, B.1.1.529, yang pertama kali terdeteksi di Afrika Selatan"

“Karena didorong oleh para penentang radikal antivaksin, berita palsu, terlalu banyak orang yang tak divaksin,” kata Kanselir Alexander Schallenberg dikutip dari BBC. Hal ini lantas menyebabkan unit intensif di rumah sakit penuh.

Menjelang diberlakukannya kebijakan itu, Alexandra dan warga lokal lain menghabiskan akhir pekan dengan menuntaskan urusan belanja mereka. “Dengan waktu yang tersisa kita menyerbu pasar natal. Akibatnya pasar natal jadi ramai sekali. Mereka hanya buka sampai tanggal 21 November, padahal mereka baru beroperasi satu minggu,” ucap Alexandra.

Alexandra dan warga Austria hanya bisa pasrah dan menunggu pengumuman aturan selanjutnya. “Wacananya setelah tanggal 12 Desember toko-toko sudah mulai buka kembali. Tapi itu juga belum pasti, jadi kita tunggu saja kabarnya,” katanya.

Tak semua warga Austria menerima keputusan ekstrim itu dengan lapang dada. Menteri Dalam Negeri Karl Nehammer mengungkapkan, ada pula warga yang menjadi teradikalisasi. Satu hari menjelang aturan lockdown diberlakukan, sekitar 6 ribu orang berunjuk rasa di Kota Linz.Di tempat lain di Eropa diwarnai dengan aksi demonstrasi menolak lockdown. Beberapa diantaranya diwarnai bentrokan dengan polisi. Sekitar 130 orang telah ditangkap di Belanda dalam kerusuhan tiga hari yang dipicu oleh pembatasan terkait COVID-19.

Para petugas membawa kuda jenis Lipizzaner di sekolah berkuda di Wina, Austria (24/11).  Pertunjukan yang biasanya dipenuhi penonton tiba-tiba sunyi karena kebijakan lockdown COVID-19.
Foto : Vadim Ghirda/AP Photo

Direktur Organisasi Kesehatan Dunia, WHO untuk Eropa, Dr Hans Kluge mengatakan kepada BBC, sebanyak 500.000 lagi orang diperkirakan bisa menjadi korban meninggal COVID-19 pada bulan Maret bila tidak ada tindakan yang diambil segera.Ia mendukung sebagian besar langkah yang diambil negara-negara Eropa namun memperingatkan kewajiban vaksinasi harus dijadilan ‘upaya terakhir.’

Apalagi varian terbaru dari virus SARS-CoV-2 semakin membuat cemas dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut varian B.1.1.529 ini sebagai Omicron. Varian ini pertama kali ditemukan di Afrika Selatan, disebut-sebut sebagai varian yang memiliki banyak strain atau mutasi. Jumlahnya melebihi strain dari varian Alpha, Beta, hingga Delta yang masih mendominasi saat ini.

Sementara Belgia menjadi Negara pertama di Eropa yang menyatakan telah mendeteksi sebuah kasus infeksi varian baru COVID-19 ini. Kasus ini berasal dari orang yang tidak divaksinasi dan baru kembali dari luar negeri. “Kami memiliki kasus yang sekarang dikonfirmasi dari varian ini, B.1.1.529, yang pertama kali terdeteksi di Afrika Selatan,” kata Menteri Kesehatan Belgia Frank Vandenbroucke pada konferensi pers seperti diberitakan kantor berita AFP.


Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho

[Widget:Baca Juga]
SHARE