INTERMESO

Yang Muda yang Beternak Belatung

Di usianya yang masih 19 tahun, Hazim mengelola lahan perternakan. Salah satunya digunakan untuk budidaya belatung.

Ilustrasi: Edi Wahyono

Sabtu, 20 November 2021

Tidak ada perasaan takut atau jijik saat Muhammad Hazim Arroyan memegang belatung yang menggeliat di tangannya. Bahkan hewan mungil itu sudah menjadi ‘teman’ akrabnya. Di sebuah pertenakan seluas 1 hektar, setiap hari Hazim merawat lebih dari ratusan kilogram belatung.

“Kalau lagi panen bisa terkumpul sampai 200 kg per harinya,” ujar Hazim saat dihubungi detikX beberapa saat lalu.

Buat sebagian orang, gerombolan hewan ini mungkin akan membuat bulu kudung merinding. Namun larva yang dibudidayakan Hazim berbeda dari belatung kebanyakan. Mereka merupakan sejenis larva atau maggot BSF (Black Soldier Fly). Larva ini berasal dari BSF, jenis lalat berwarna hitam yang bentuknya mirip seperti tawon.

Larva yang dihasilkan tidak seperti belatung dari lalat hijau atau lalat hitam yang dikenal dapat membawa penyakit. BSF tidak akan hinggap di sampah. Larvanya pun tidak akan menimbulkan bau busuk dan aman meski disentuh dengan tangan kosong. Lalat BSF juga lebih jinak. Bahkan beberapa kali Hazim tak sengaja membawa pulang lalat-lalat itu ke rumah.

“Pas pulang ke rumah ternyata mereka nempel di baju saya. Soalnya mereka nggak gampang terbang kayak lalat lain. Dielus-elus kayak hewan peliharaan juga bisa, kok, dia nggak akan kabur,” ungkap Hazim.

Ternak belatung atau magot
Foto : Robby Bernardi/detikcom

Kini Hazim tengah menikmati cuan dari bisnis maggot. Apalagi saat ini budidaya maggot sedang naik daun dan digandrungi banyak orang. Berjualan maggot justru ia rasa lebih menguntungkan ketimbang bisnis ternak lele yang telah ia mulai lebih dahulu di tahun 2018. “Parah lah (untungnya) ketimbang lele. Udah mana modalnya juga jauh lebih kecil dari pada ternak lele,” kata anak bungsu dari tiga bersaudara ini.

Di usianya yang baru menginjak 19 tahun inilah Hazim menginisiasi sekaligus mengelola pertenakan di Bogor. Di lahan perternakannya bukan hanya maggot dan lele yang dikembangbiakan. Tapi juga ada burung puyuh dan ayam kampung.

Semua bermula ketika ia mendapatkan tantangan saat duduk di SMA kelas 2. Hazim bersekolah di SMX School of Maker di bogor. Ia ditantang membuat sebuah bisnis. Kebetulan Hazim sudah lama memiliki ketertarikan dalam hal merawat hewan. Hazim dan Ayahnya lantas meminjam lahan milik saudaranya di Jawa Timur untuk membuat kolam lele.

“Alhamdulillah waktu itu buat 2 kolam dan saat pertama kali mijah dapat 50.000 ekor benih,” ungkap Hazim menceritakan awal mula berdirinya perternakan yang ia kelola.

Buat saya, biar pers itu memaki-maki asalkan saja ia tidak menyebut kata-kata: 'Ini pemerintah bobrok, marilah kita berontak.'

Belakangan Hazim ingin menyeriusi bisnisnya dan memindahkan kolam lelenya ke lahan di dekat rumahnya di Perumahan Mutiara Bogor Raya. Di sana ada Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) yang kebetulan juga dikelola oleh ibunya.

“Kalau di Jatim jauh sama tempat tinggal saya dan ngontrolnya susah. Masa saya sebulan sekali harus pulang,” ungkapnya. Karena TPST yang ibunya kelola merupakan fasilitas umum, Hazim terlebih dahulu meminta izin kepada dinas terkait. “Malah mereka dukung usaha saya dan akhirnya saya jalanin sampai sekarang.”

Rupanya usaha yang dijalankan Hazim turut membawa dampak positif bagi lingkungan sekitarnya. Warga sekitar tak lagi harus mencium gas metan hasil dari penumpukan sampah. Sampah-sampah itu kini dipilah, sementara sampah organik Hazim kumpulkan untuk digunakan sebagai pakan maggot. Hazim tak sungkan meski harus turun tangan memilah sampah-sampah berbau menyengat itu.

Padahal sebelumnya, karena tak kuat menampung sampah yang jumlahnya bisa sampai ratusan kilogram per hari, mesin pencacah sampah di TPST itu sampai rusak. Warga juga sempat tersiksa karena harus menghancurkan sampah menggunakan golok. Namun semenjak pembudidayaan maggot ini, mereka malah kekurangan sampah.

Hazim saat sedang memanen hasil ternak maggot
Foto: Dok Pribadi (Instagram) 

“Maggot ini manfaatnya banyak banget. Dia bisa mengurai sampah jadi bermanfaat. Dari sampah padat sama dia dimakan dan pada saat 18 hari sampah itu hanya tersisa bubuk kompos,” kata Hazim. Kompos itu pun bisa ia jual lagi. Dalam sehari, kini ia bisa mengolah 100 kg sampah organik untuk diberikan sebagai pakan kepada belatung miliknya.

“Itu juga kurang. Saya sempat mau ambil ke pasar, hanya khawatir warga sekitar nggak setuju,” ungkap hazim yang kini kuliah semester satu jurusan perternakan di Universitas Juanda di Ciawi, Jawa Barat.

Ilmu tentang budidaya maggot ini Hazim dapatkan ketika ia menerima pelatihan yang diadakan Dinas Pertanian Kota Bogor. Di pelatihan itu ia lantas diberikan telur lalat BSF dan diberikan pendampingan hingga telurnya menetas menjadi larva. Fase metamorfosa maggot BSF dimulai dari telur, larva, prepupa, pupa, dan lalat dewasa. Semuanya memakan waktu antara 40 sampai 45 hari saja.

Setelah mendapatkan bekal cukup, Hazim mulai mencoba memberikan lelenya pakan maggot. Alhasil lele yang diberikan pakan maggot BSF ini menjadi gemuk-gemuk. “Mereka ternyata nafsu banget. Kalau cuma dikasih pelet doang beratnya ala kadarnya aja. Ini jadi gemuk-gemuk,” katanya. Namun hanya lele dewasa saja yang diberikan pakan maggot BSF.

Seiring meluasnya bisnis Hazim, ia merangkul warga sekitar untuk bergabung, baik dalam pendanaan atau ikut turun langsung ke lapangan. Hal ini menjadikan usahanya sebagai wadah untuk terbentuknya sebuah komunitas bisnis.

“Makanya dinamakan F2 Farm atau Family Fish Farm,” ujar Hazim. Di tahun 2019 Hazim baru memulai bisnis maggot. Di bantu ibunya, Hazim juga membuka lahan ternak baru di Bekasi seluas 4 hektar. Namun lahan itu belum dimanfaatkan sepenuhnya karena masih baru. Di sana ia mempekerjakan lima orang karyawan seumuran dirinya.

Hazim tak menyangka, modal hasil kerja part time di sebuah usaha kuliner di Bogor sebesar Rp 500 ribu ditambah bantuan dana dari ayahnya kini bisa menghasilkan 40 kolam ikan lele. Ditambah biopond atau tempat membesarkan larva lalat BSF yang kian hari jumlahnya bertambah seiring peningkatan permintaan. Biopond biasanya terbuat dari rangkaian kayu dan PVC lalu diisi dengan tanah gembur.

Hazim Arroyan
Foto : Dok pribadi (Instagram)

“Di Bogor sekarang ada 50 biopond, satu biopond saya isi 40 gram bibit. Biasanya kalau lagi panen bisa jadi 80 kg maggot,” tutur Hazim.

Keuntungan berbisnis maggot pun bisa lebih tinggi ketimbang berternak lele. “Kalau lele satu bulan di Bogor kotornya dapat Rp 10 juta, tapi dikurangin buat pakannya jadi cuma Rp 6 juta. Tapi kalau maggot sebulan bisa dapat Rp 15 juta dan pakannya gratis soalnya kan dari sampah,” ungkapnya.

Di waktu senggang, selayaknya anak muda lain, Hazim juga tidak ingin ketinggalan mengunggah konten tentang kegiatan sehari-harinya di F2 Farm melalui akun Tiktok di akun @haimarroyan yang sudah mendapatkan 3 juta likes.


Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE