INTERMESO

Tentara Jepang Pembela Republik

Sejumlah tentara Jepang bergabung ke Republik pada masa agresi militer Belanda. Sebagian dimakamkan di taman makam pahlawan.

Ilustrasi : Edi Wahyono

Rabu, 10 November 2021

Suasana malam terlihat meriah di sejumlah kampung di Desa Pajaran, Kecamatan Poncokusumo, Malang, Jawa Timur. Di kiri dan kanan jalanan dipasangi lampu minyak oleh penduduk setempat. Jalanan pada malam itu menjadi terang. Tradisi memasang lampu minyak itu dilakukan atas paksaan Belanda untuk merayakan hari ulang tahun Ratu Belanda Wilhelmina Helena Pauline Marie van Orange-Nassau, 31 Agustus 1948.

Sekitar pukul 00.00 WIB, sekelompok orang terlihat berkelebatan di antara nyala lampu. Bagaikan ninja, gerakan mereka cepat. Mereka berlari sambil merunduk, mengendap-endap, bersembunyi ketika melewati kebun dan halaman belakang rumah warga. Mereka tak ingin diketahui musuh maupun warga, yang di antaranya berperan sebagai mata-mata tentara Belanda dan Sekutu.

Sejengkal demi sejengkal, mereka mendekati gudang padi yang dijadikan pos tentara Belanda di desa yang terletak di kaki Gunung Semeru itu. Begitu jaraknya semakin dekat, penyusup berjumlah sepuluh orang itu berkumpul dan mengatur strategi untuk memulai penyerangan. Mereka ternyata Pasukan Gerilya Istimewa (PGI) yang dipimpin Toshio Tanaka.

Pasukan Untung Surapati 18 (Pengganti Pasukan Gerilya Istimewa/PGI) isinya tentara eks Jepang.
Foto : Dok. Rahmat Shigeru Ono

Ke-10 penyusup itu adalah Shigeru Ono, Nagamoto Sugiyama, Syoji Yamaguchi, Goro Yamano, Isamu Hirooka, Genji Hayashi, Tatsuji Maekawa, Sakuo Iehara, Wakabayashi, dan Hiura. Mereka bekas tentara Dai Nippon (Jepang) yang bergabung dengan pasukan TNI, khususnya membantu satuan Brigade 13 Divisi 7 Malang pimpinan Zainal Arifin. Mereka diperintahkan menyerang pos tentara Belanda dalam tempo 30 menit saja.

Dalam hitungan detik, mereka melempari pos Belanda dengan granat dan bom antitank. Suara ledakan menggelegar malam itu. Rentetan tembakan senapan terdengar dari sisi kanan dan kiri pos dari dua tim satuan Brigade 13. Mereka menghabisi semua yang berada di dalam pos itu. Setelah 30 menit, pasukan PGI dan TNI pun mundur.

Bersamaan dengan itu, tiba-tiba muncul sepuluh tentara Belanda yang baru saja pulang menghadiri undangan kepala desa yang merayakan ulang tahun Ratu Belanda. Mereka hanya sekali melepas tembakan ke arah pasukan siluman PGI dan TNI yang menghilang di kegelapan malam. Mereka lemas menyaksikan posnya hancur dan tentara bergelimpangan tewas.

“Menurut laporan, bangunan pos Belanda hancur. Petugas jaga dengan senjata 12,7 mm semua mati. Di dalam gedung ada 20 orang Belanda mati karena tembakan, ledakan, dan reruntuhan,” kata Shigeru Ono dalam buku berjudul 'Mereka yang Terlupakan: Memoar Rahmat Shigeru Ono, Bekas Tentara Jepang yang Memihak Republik', yang ditulis Eiichi Hayashi (2011).

Hampir sebagian besar personel PGI adalah eks tentara Jepang. Mereka adalah tentara kekaisaran Jepang yang tak mau kembali ke negaranya ketika Jepang menyerah kepada Sekutu, 15 Agustus 1945. Alih-alih pulang atau diperintahkan harakiri (bunuh diri demi kehormatan dan harga diri), mereka memilih bergabung dengan pasukan TNI untuk membela kemerdekaan Republik Indonesia.

Menurut Shigeru Ono, kebanyakan eks tentara Jepang ini merasa perjuangan membebaskan Asia dari cengkeraman penjajahan Barat belumlah usai. Minimal mereka bisa membantu Indonesia merdeka dan berperang membantu perjuangan mengenyahkan pasukan Belanda dan Sekutu. Agar tak diketahui keberadaannya, mereka mengubah nama menjadi nama khas Indonesia.

Seperti sepuluh anggota PGI yang melakukan penyerangan ke pos Belanda itu. Shigeru Ono menjadi Rahmat, Toshio Tanaka (Hasan), Nagamoto Sugiyama (Sukardi), Syoji Yamaguchi (Husin), Goro Yamano (Abdul Majid), Isamu Harooka (Saleh), Genji Hayashi (Subejo) Tatsuji Maekawa (Umar), Sakuo Iehara (Suwadi), Wakabayashi (Hidayat), dan Hiura (Ali).

Tentara Jepang di Bandung. Shigeru Ono dilingkari.
Foto : Dok. Rahmat Shigeru Ono

Tak hanya di Pajaran, pasukan PGI ini pun sukses melakukan penyerangan ke markas musuh lainnya. Seperti penyerangan ke pos Belanda di Dusun Garotan, Kecamatan Wajak, Malang, pada 18 September 1948 pukul 03.00 WIB. Modus penyerangan sama, yaitu senyap dan dadakan, sehingga membuat musuh kocar-kacir. Selain bertempur, pasukan PGI ditugasi melatih para pejuang Indonesia.

Menurut keterangan Rahmat Shigeru Ono, PGI dibentuk TNI setelah Perjanjian Renville diteken pada 17 Februari 1948. Isi perjanjian itu tak menguntungkan pihak Indonesia. Wilayah Indonesia semakin sempit. Hal itu memaksa pasukan Divisi Siliwangi di Jawa Barat pindah ke Jawa Tengah. Kondisi wilayah Indonesia semakin buruk.

Situasi diperparah oleh kebijakan TNI yang mengurangi jumlah tentaranya pada Mei 1948. Dari total 463 ribu tentara dipangkas menjadi 160 ribu tentara. Sekitar 200 ribu tentara laskar dikeluarkan dari struktur TNI. Kebanyakan yang tak bisa bergabung ke TNI adalah para pemuda yang sebelumnya telah dididik militer oleh eks tentara Jepang.

Semasa Perjanjian Renville, Sekutu memerintahkan penangkapan semua orang Jepang yang masih ada di Indonesia. Karena itu, Tatsuo Ichiki atau Abdul Rahman, mantan taicho (komandan pasukan) Jepang, berunding dengan Kolonel Sungkono dari Divisi 7 Malang untuk mengumpulkan bekas tentara Jepang. Sungkono-lah yang meminta agar eks tentara Jepang berkumpul menjadi satu. Pasukan ini disiapkan apabila Belanda mulai menyerang lagi.

Rahmat Shigeru Ono, yang saat itu berpangkat chuii (letnan), yang tengah berada di Markas Batalion Divisi 7 Malang, dikunjungi eks tentara Jepang lainnya. Ia diajak bergabung dengan pasukan baru yang akan dibentuk khusus untuk mereka.

“Dia memakai seragam tentara Jepang. Dia mengaku Syoji Yamaguchi, yang memiliki nama Indonesia Husin. Dia mendapat perintah dari Tatsuo Ichiki untuk menemui saya. Dia mengabarkan akan ada rencana membuat Pasukan Gerilya Khusus Istimewa (PGI) di bawah Kolonel Sungkono,” terang Rahmat.

Semua dikumpulkan di sekitar pegunungan daerah Wlingi, Blitar, Jawa Timur, pada 24 Juli 1948. Saat berada di daerah itu, banyak sekali pasukan TNI dan beberapa bekas tentara Jepang lainnya, di antaranya Abdul Rahman Tatsuo Ichiki dan beberapa teman yang lain, seperti Shigeru Ochi (Bustaman), Nagamoto Sugiyama (Sukardi), dan Toshio Tanaka (Hasan). Setidaknya saat itu ada 28 orang eks tentara Jepang yang berkumpul.

Abdul Rahman (Tatsuo Ichiki)

Sukardi (Nagamoto Sugiyama)

Berdasarkan keputusan bersama Divisi Wlingi, PGI dibagi menjadi dua daerah operasi, yaitu di Dampit, Malang Selatan, dan Wlingi di Blitar. Pimpinan PGI saat itu adalah Tomegoro Yoshizumi alias Arif dan wakil komandannya adalah Abdul Rahman (Tatsuo Ichiki). Tapi pimpinan PGI diambil alih Abdul Rahman setelah Arif (Tomegoro Yoshizumi) gugur dalam pertempuran dengan pasukan Belanda di sekitar Blitar pada 10 Agustus 1948.

Setelah melakukan gerilya dan pertempuran, pasukan PGI pimpinan Abdul Rahman Tatsuo bergabung dengan pasukan PGI pimpinan Hasan Toshio Tanaka di Malang Selatan. PGI  melakukan penyerangan ke kubu musuh secara diam-diam. Alasannya, masa gencatan senjata. Awalnya mereka khawatir aksi itu akan ketahuan dan bisa membahayakan posisi Indonesia. Tapi, di sisi lain, pasukan Belanda juga sering melanggar kesepakatan dengan menambah terus pasukan dan persenjataannya.

“Maka, dalam rangka mencegah pasukan musuh terus maju dan menduduki wilayah Indonesia, mereka berpikir saat yang paling tepat melakukan pembalasan dan tetap berusaha mengadakan perlawanan secara diam-diam,” ungkap Rahmat Shigeru, yang tangannya kirinya putus akibat bom rakitannya sendiri saat usianya 29 tahun pada 26 September 1948.

Pertempuran demi pertempuran dijalani personel PGI di wilayah Malang. Tapi satu per satu personel mulai berguguran melawan pasukan Belanda. Bahkan pimpinan PGI saat itu, Abdul Rahman Tatsuo Ichiki, gugur tertembak masuk jurang di Arjosari, Sumberputih, Wajak, Malang, pada 3 Januari 1949. Ia dimakamkan warga desa secara islami. Mental PGI pun jatuh dan membuat pasukan TNI lainnya melorot.

Di tengah situasi itu, seorang  komandan TNI dari Malang bernama Mayor Wiyono datang. Ia memutuskan menggabungkan PGI ke dalam kesatuan militer. Pasukan PGI diubah namanya menjadi Pasukan Untung Surapati 18 (PUS 18). “Sebenarnya, menurut angka kesatuan, seharusnya bukan 18, melainkan 17, tetapi banyak orang Jepang yang menolak angka tersebut, karena 7 atau dalam bahasa Jepang shichi mengandung kata shi, yang artinya mati. Akhirnya pimpinan TNI setuju dan mengganti dengan angka 18,” kenang Rahmat Shigeru lagi.

Pasukan PUS 18 ini dipimpin oleh Sukardi Nagamoto Sugiyama dan Rahmat Shigeru Ono sebagai wakil komandannya. Sepak terjang pasukan PUS 18 ini selalu dibantu penduduk sekitar menyerang pos-pos militer Belanda, menghancurkan beberapa jembatan penghubung di Malang. Mereka terus berjuang hingga akhirnya Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia melalui Konferensi Meja Bundar di Den Haag pada 2 November 1949.

Shigeru Ono (Rahmat) waktu pangkat masih sersan di Bandung tahun 1943.
Foto : Dok. Rahmat Shigeru Ono

Sejak Januari 1950, sebagian besar eks tentara Jepang itu bergabung dengan TNI Angkatan Darat. Jejak-jejak keberadaan mereka hingga kini masih bisa dilihat di sejumlah taman makam pahlawan (TMP). Sebut saja Arif Tomegoro Yoshizumi, yang berpangkat letkol TNI AD di TMP Raden Wijaya, Blitar.

Lalu Husin Syoji Yamaguchi dimakamkan di TMP Ponorogo. Slamet Haruichi Sunakawa dimakamkan di TMP Mjokerto. Subejo Genji Hayashi di TMP Pasuruan. Sugiyanto Ryoichi Kitamaru, Saleh Isamu Hirooka, Umar Tatsuji Maekawa, dan Harsono Sumitoishi Tanimoto di TMP Kembang Kuning, Surabaya.

Di TMP Kalibata, Jakarta Selatan, terdapat 27 makam bekas tentara Jepang yang bergabung menjadi tentara Indonesia. Di antaranya, Abdul Majid Goro Yamano, Rahmat Gengo Kikuchi, dan Hasan Toshio Tanaka. Hanya dua anggota PGI yang memilih kembali ke negaranya, yaitu Ali Hiura dan Suhadirman Eizo Hashimoto.

Rahmat Shigeru Ono meninggal dunia karena kanker yang dideritanya pada 25 Agustus 2014 di Batu, Jawa Timur, dengan pangkat terakhir mayor TNI AD, di TMP Suropati, Malang. Rahmat Shigeru merupakan the last samurai yang hidup saat itu dan menjadi saksi kunci rekan-rekannya sesama bekas tentara Jepang yang rela berkorban demi Tanah Air Indonesia.

Di Kuil Seisho Ji, Kota Minato, Tokyo, yang tepat berada di Gedung Kembar (Mori Building) atau Tokyo Tower terdapat Soekaro Hi. Hi, yang berarti monumen, bertulisan 'Kepada Tatsuo Ichiki dan Tomegoro Yoshizumi. Kemerdekaan itu bukan hanya untuk satu bangsa, akan tetapi untuk seluruh bangsa yang ada di muka bumi ini' yang ditandatangani Presiden Sukarno pada 15 Februari 1958.


Penulis: M. Rizal Maslan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE