INTERMESO

Warisan Keramik di Dasar Laut

Masih banyak keramik kuno yang terpendam di dalam lautan. Pengangkatannya butuh keahlian arkeologi dan dana besar.

Foto: Dok BPCB Makassar

Sabtu, 4 September 2021

Hingga kini, peninggalan keramik kuno yang terpendam di dasar laut Indonesia masih tak terhitung banyaknya. Sayangnya, proses ekskavasi atau pengangkatan benda kuno kurang memperhatikan metode penggalian arkeologi maritim yang memadai. Bahkan, selama ini terkesan penggalian dan pengangkatan dilakukan dengan cara tergesa-gesa, seperti menggali pasir di lautan.

Alasannya, penggunaan metode arkeologi maritim hanya memakan waktu lama dan biaya besar. Padahal cara serampangan mengangkat benda purbakala justru akan mengurangi nilai ekonomi dan nilai sejarah. Lain halnya, penggalian dan pengangkatan artefak bersejarah di dasar laut memakai metode akademik dan arkeologi, karena akan dibuatkan buku, narasi, dan cerita yang jauh lebih bernilai.

“Kalau keburu-buru malah kayak nelayan-nelayan pencuri saja itu, tidak ada ceritanya, tidak ada narasinya. Jadi di Indonesia ini tidak ada sama sekali metode arkeologi maritim yang diterapkan dalam proses pengangkatannya,” kata arkeolog maritim dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sulawesi Selatan, Laode Muhammad Aksa kepada detikX, 31 Agustus 2021.

Laode yang sering melakukan ekskavasi situs bersejarah mengakui, selama ini ada dua perusahaan yang bergerak di bidang konservasi situs purbakala di lautan. Tetapi mayoritas dalam bekerjanya pun masih menggunakan sistem darurat. Padahal, dalam proses mengangkat artefak kuno harus melalui prosedur ketat dan hati-hati, termasuk menghilangkan kadar garam yang melekat di benda itu dalam konservasi arkeologi.

“Asal keruk saja, diabaikan kadang kala. Mungkin mereka menjaga. Menjaga keselamatan, penyelamatannya baik. Tapi, ketika proses-proses dari awalnya itu mereka tidak mau lakukan, karena mereka tidak berbasis arkeologi,” imbuh Laode, yang kini menjabat sebagai Kepala Seksi Peninggalan Bawah Air di Direktorat Peninggalan Bawah Air Dirjen Kebudayaan, Kemendikbud-Restek itu.

Pengangkatan BMKT oleh PT Paradigma Putra Sejahtera di laut Jawa, utara Cirebon.
Foto : Dok Panitia Nasional BMKT

Penggalian harta karun yang berbasis arkeologi akan dimulai dengan pengukuran dan pembuatan kotak ekskavasi di dasar laut. Lalu penggalian dan mengambil benda purbakala diberi perlakuan khusus yang lebih menghormati benda itu, khususnya keramik yang mudah pecah. Benda-benda itu akan dimasukan ke dalam keranjang terlebih dahulu sebelum diangkat ke permukaan laut. “Tapi kalau diangkat kaya situng di pelabuhan, ya beda. Kalau diangkat, rapih dan taruh. Tapi kalau di atas kapal mereka kadang kala yang orang-orang Eropa itu ngerti. Tapi kalau nelayan yang disuruh, bablas saja mereka dikumpulin di karung,” jelas Laode lagi.

Laode menambahkan, dirinya sudah lama menyampaikan agar pengangkatan benda bersejarah di dasar laut menggunakan metode arkeologi kepada Pantia Nasional Pengangkatan Barang Muatan Kapal Tenggelam (BMKT). “Sampai tahun berapa itu, karena dikaji ulang, perbaikan peraturan, perbaikan dulu sistemnya diperbaiki. Sesuai dengan UU Cagar Budaya, tapi ya begitu lah. Nggak tahu bagaimana keputusan akhirnya, karena saya sudah pindah,” ujarnya.

Saat ini banyak orang Indonesia yang tergiur menjadi pemburu harta karun. Kebanyakan adalah para nelayan yang menjadi pesuruh pemilik modal yang kebanyakan orang asing atau Eropa. Para nelayan dimintai melacak keberadaan titik lokasi harta karun, setelah ditemukan, baru orang asing ini yang turun dan meminta izin ke pemerintah.

Biasanya orang terpikat, biasanya para konglomerat itu lah yang berani menilai dan mengoleksi dan ketika membeli itu kan dia harus bayar apakah sudah termasuk sertifikat dan sebagainya.

“Izin itu diberikan dulu oleh Panitia Nasional Pengangkatan Barang Muatan Kapal Tenggelam (BMKT) yang Sekretaraitnya diketuai oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), wakilnya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendibud), kemudian ada dari unsur TNI Angkatan Laut sebagai anggotanya,” ujar Laode.

Di dalam Pantia Nasional Pengangkatan BMKT, semua anggota akan dimintai masukan, apakah investor yang akan mengangkat harta karun atau benda bersejarah itu diberi izin atau tidak. Namun yang jelas, semua benda purbakala yang berada di wilayah Indonesia, baik di daratan dan lautan adalah milik negara. Karenanya, hasil ekskavasi menjadi milik negara.

Bila ada investor tak mengantongi izin resmi, maka bisa disebut sebagai pencuri barang purbakala yang akan dikenai sanksi atas pelanggaran Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Sampai saat ini sudah banyak pelaku pencurian harta karun di laut yang ditangkap. Kebanyakan yang ditangkap adalah pelaku lapangan, yaitu masyarakat sekitar atau nelayan. Sementara cukong atau pemodalnya lepas begitu saja.

“Ya orang-orang masyarakat itu-itu juga. Tapi kan nelayannya ada di Babel (Bangka-Belitung), Kepulauan Seribu, nelayan saja yang menjadi pelaku. Tapi kan sudah punya cukongnya, ya itu-itu juga cukongnya,” jelas Laode.

Keramik yang diangkat dari Perairan Cirebon 2004-2005 (Fot:o Dok Panitia Nasional Pengangkatan BMKT).

Ceret keramik yang diangkat  tahun 2005-2006 di Cirebon (Foto: Panitia Nasional Pengangkatan  BMKT).

Laode menyayangkan investor resmi yang sudah mengantongi izin tapi cara kerja di lapangan tergesa-gesa dan tak mau mengeluarkan banyak uang dalam mengangkat benda bersejarah. “Kita sebagai arkeolog menuntut agar proses pengangkatannya sesuai dengan nilai akademiknya dan UU Cagar Budaya, gitu,” imbuh Laode lagi.

Sementara sejarawan Asep Kambali menerangkan, eksistensi kelompok pemburu harta karun memang ada di Indonesia. Kebanyakan berkamuflase sebagai perusahaan penangkap ikan. Walau ada perusahaan yang terang-terangan mengklaim bergerak di bidang penyelamatan arkeologi bawah laut. “Saya nggak tahu pada akhirnya dia itu jujur atau tidak, apakah ditemani oleh pihak berwenang dari negara kita atau tidak, kan kita nggak tahu,” kata Asep kepada detikX, 30 Agustus 2021.

Berbicara harta karun, apalagi yang nilainya bisa mencapai triliunan rupiah, ujung-ujungnya yang kuatlah yang berkuasa. Bahkan di era digital sekarang, masih banyak yang berminat mencari harta karun. “Kalau dia bisa membuat suatu narasi ya, karena yang terpenting dari benda bersejarah itu narasi ya, kalau tidak ada narasinya nggak akan laku,” terang Asep lagi.

Menurut Asep, praktik jual beli ilegal barang bersejarah bukan hanya berupa keramik saja, tapi perhiasan atau benda pusaka lainnya. Contoh kasus keris milik Diponegoro yang diperjualbelikan di pasar gelap. Sudah barang tentu para pelakunya adalah orang yang bergantung tebal. Keramik harganya sangat relatif, tergantung dari era dinasti siapa, periode apa, ada logo atau simbol apa.

“Biasanya orang terpikat, biasanya para konglomerat itu lah yang berani menilai dan mengoleksi dan ketika membeli itu kan dia harus bayar apakah sudah termasuk sertifikat dan sebagainya,” jelas Asep.

Menurut Asep, memang harga keramik zaman now tak terlalu mahal-mahal amat. Tetapi bila keramik itu memiliki sejarah, tentunya akan memiliki nilai yang sangat tinggi. “Ini kan kaya gayung bersambut. Orang Indonesia nggak peduli sejarah, ya sudah, artefak sejarah banyak yang dijualin dan ketidakpedulian itu tercermin di banyak kasus, tidak hanya di keramik saja,” ujarnya.

Ia mencontohkan kasus di Palembang, banyak artefak bersejarah ditemukan di Sungai Musi. Pemburu harta karun tinggal menyelam menggunakan kompresor, mencari sendiri, ketemu langsung dijual. Di Kepulauan Seribu dan tempat lainya kasusnya hampir sama. “Saya pun sering dapat telepon dan WA, ‘Kang, ini kalau di jual ke mana ya?’ Nah ini salah kan. Jadi serba salah, ya,” ucap Asep.

Keramik kuno di Indonesia banyak ditemukan di situs daratan di daerah Sumatera Utara, Sumatera Barat, Palembang, Jambi, Riau, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Bali, Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat. Pada umumnya, keramik yang ditemukan dalam keadaan pecah dan sulit diidentifikasi seta tersebar di situs-situs pemukiman.

Kapal kerja eksplorasi BMKT (Foto: Panitia Nasional Pengangkatan BMKT).

Pengangkatan BMKT (Foto: Panitia Nasional Pengangkatan BMKT)

Sedangkan keramik kuno yang ditemukan melalui situs dasar lautan Indonesia tersebar diperairan Sumatera Timur, Bangka-Belitung, Laut Jawa, Sulawesi Selatan, Kalimantan Barat, dan Ternate-Tidore. Keramik di dasar laut ditemukan masih dalam bentuk utuh, mudah teridentifikasi, dan ditemukan pada rute-rute pelayaran. Inilah yang paling dicari para pemburu harta karun bawah air.

Keramik kuno yang ditemukan di Indonesia antara lain berasal dari Cina (abad 2-20 M), Thailand (abad 13-14 M), Timur Tengah (abad 7-14 M), Vietnam (abad 13-14 M), Jepang (abad 17-20 M), dan Eropa (abad 18-20). “Keramik yang paling banyak dibawa pada masa dinasti Tang akhir hingga dinasti Qing,” ungkap Kepala Unit Pengelola Museum Seni Kesejarahan DKI Jakarta, Sri Kusumawati kepada detikX, Selasa, 31 Agustus 2021.

Sri menjelaskan, komoditas barang ini didatangkan melalui jalur darat (silk road) dan jalur laut (ceramic road). Keramik yang datang melalui jalur darat dibawa menggunakan caravan dengan jumlah terbatas. Berbeda dengan keramik yang dibawa melalui jalur laut dengan menggunakan kapal yang memuat banyak keramik.

Sejumlah kerajaan yang berjaya di masa lalu memperoleh keramik dengan cara membeli atau menukar dengan rempah-rempah, seperti pala, lada, cengkeh, kopi dan lainnya.Menurut tinjauan arkeologi, keramik tertua diduga dibawa oleh migran Tiongkok yang menetap di nusantara di masa Dinasti Han (260 sebelum masehi - 220 masehi). Keramik kuno yang ditemukan berasal dari peninggalan kerajaan Hindu, Budha dan Islam mulai dari abad ke-1 hingga abad ke-15 masehi.

Peredaran keramik di Indonesia terbanyak berasal dari Cina, lalu urutan kedua berasal dari Eropa. Pada pengangkatan harta karun di perairan Cirebon tahun 2004-2005, banyak ditemukan keramik dari Dinasti Sung abad ke-11 hingga abad ke-15. Khusus keramik yang berasal dari Dinasti Ming yang memiliki warna putih-biru yang paling banyak dicari orang. Keramik tersebut banyak memiliki model dan desain, tak hanya piring dan mangkok, tapi juga teko, cangkir, guci dan sebagainya.


Reporter: Syailendra Hafiz Wiratama
Redaktur: M Rizal
Editor: Irwan Nugroho

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE