INTERMESO

Risau Terpendam Pengungsi Afghanistan

“Kamu jauh pergi tapi hidup lebih baik daripada kamu mati,” pesan istri kepada Musa ketika ia hendak meninggalkan Afghanistan ke Indonesia, delapan tahun silam.

Ilustrasi: Edi Wahyono

Kamis, 26 Agustus 2021

“Waalaikumsalam…” ucap Sazawar Muhammad Musa tersenyum membalas salam detikX ketika bertandang ke rumah kontrakannya di Desa Pandansari, Kecamatan Ciawi, Bogor, Jawa Barat, Senin, 23 Agustus 2021, siang. Pria berusia 41 tahun itu berjalan tertatih-tatih. Ia mengaku baru saja mengalami kecelakaan, jatuh dari sepeda motor yang dikendarainya beberapa hari lalu.

Pria asal Afghanistan itu langsung mengajak detikX masuk ke dalam kontrakannya. Ia mempersilakan detikX duduk lesehan di atas karpet bercorak warna merah dan hitam di ruang tamunya. “Mau coba makanan negara saya? Sebentar, ya,” tanya Musa yang lumayan fasih berbahasa Indonesia seraya meninggalkan tamunya.

Selintas Musa masuk ke kamarnya untuk mengganti pakaian, lalu ia menuju ke dapur. Tak lama, ia datang ke ruang tamu dengan membawa panci di tangan kanan dan sepiring roti di tangan kirinya. “Ini dia, masakan khas kami, nasi kebuli. Makannya harus pakai roti gandum ini supaya kenyang,” ujar Musa, yang sejurus kemudian tertawa dan meletakkan makanan itu di karpet.

Musa memang sengaja memasak sendiri menu spesial hari itu untuk menyambut tamunya. Musa langsung mengajak detikX menyantap makan siang itu. Sesekali, ia menerangkan tentang aneka makanan khas dari Afghanistan, salah satunya nasi kabuli palau (nasi kebuli). Sepintas nasi kebuli memang mirip dengan nasi biryani dari India dan Pakistan.

Setelah makan siang, Musa mengawali kisah dirinya meninggalkan negaranya yang dikenal dengan julukan Graveyard of Empires (Negeri Kuburan Para Kerajaan) itu. Sudah hampir delapan tahun Musa tinggal di Indonesia sebagai pengungsi, persisnya sejak 2013. Ia terpaksa meninggalkan negeri yang dicintainya itu, termasuk keluarga, istri, dan anaknya.

Musa pun harus rela meninggalkan pekerjaannya sebagai jurnalis, yang sudah ditekuninya selama 15 tahun. Ia pernah bekerja di sejumlah media massa, baik cetak, radio, maupun televisi lokal, di Kota Kabul, Afghanistan. Pria asal Distrik Jaghori, Provinsi Ghazni, itu biasa meliput politik dan keamanan. Bahkan ia sering meliput langsung kontak tembak pasukan Sekutu atau North Atlantic Treaty Organization (NATO) dengan Taliban. Karena aktivitasnya itulah, Musa sangat dicurigai kelompok Taliban, apalagi ia berasal dari suku Hazara.

Sazawar Muhammad Musa, pengungsi Afghanistan di Puncak, Bogor 
Foto: Syailendra Hafiz Wiratama/detikcom

“Saya sudah ditandai beberapa kali, sudah dipantau sama Taliban, diancam sama Taliban. Awalnya saya tak peduli. Saya beberapa kali ditangkap sama Taliban, pernah disiksa. Ya, teman-teman saya dibunuh,” ungkap Musa, yang sempat menjadi director of documentary di stasiun televisi lokal Gnews.

Setiap hari, Musa melihat rakyat Afghanistan ketakutan menghadapi kelompok Taliban. Di sana orang pergi bekerja, sekolah, atau kuliah selalu berpamitan dengan mengucapkan good bye, selamat tinggal. Sebab, belum tentu siang atau sorenya mereka dapat pulang ke rumah dengan selamat.

Sudah 80 orang kolega Musa, baik di kantor, lingkungan kampus, maupun tetangganya, yang terbunuh. Puncaknya ketika Musa menyaksikan langsung aksi pengeboman oleh Taliban, yang menewaskan rekan kamerawannya pada 2013. Ia begitu trauma melihat tubuh rekan kerjanya itu hancur. Melihat kenyataan itu, Musa, yang merasa jiwanya juga terancam, memutuskan hengkang dari negerinya. Ia berembuk dengan keluarga, khususnya dengan istri, tentang niatnya itu.

“Saya tidak kuat lagi dan memutuskan bersama keluarga saya untuk pergi dari Afghanistan. Pergi ke mana saja walaupun jauh dari anak dan istri. ‘Kamu jauh pergi tapi hidup lebih baik daripada kamu mati,’” jelas Musa seraya mengenang ucapan istrinya itu.

Tepat pada Mei 2013, Musa meninggalkan Afghanistan menuju Australia dengan membawa bekal tabungannya. Musa sempat singgah terlebih dahulu beberapa pekan di India, Thailand, Malaysia, dan Singapura. Sekitar Juni 2013, Musa akhirnya menginjakkan kakinya di Indonesia.

“Sewaktu datang di Indonesia, saya berharap punya negara seperti Indonesia. Damai. Bisa tidur nyaman. Anak-anak bisa pergi sekolah dengan aman, tidak ada kekhawatiran bom dan perang. Kenapa negara saya tidak seperti Indonesia dan negara lainnya yang bisa hidup tenang?” ujar Musa.

Musa tak tinggal bersama pengungsi asal Afghanistan lainnya yang ditampung di beberapa tempat oleh United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) di Kalideres, Jakarta Pusat. Musa sempat hidup mengontrak di Jakarta selama dua tahun. Tapi akhirnya ia memutuskan tinggal di kawasan Ciawi, Bogor, sejak 2015. Hingga kini, ia setiap hari masih berharap pembuatan dokumen (paspor dan visa) yang dijanjikan UNHCR segera jadi.

Para pengungsi Afghanistan berdemo di depan Kantor Badan Pengungsi PBB (UNHCR) di Jakarta"

Foto : Rifkianto Nugroho/detikcom

Mereka meminta kejelasan tentang nasib mereka di Indonesia

Foto : Rifkianto Nugroho/detikcom

Mereka sudah bertahun-tahun digantung stastusnya untuk mencari suaka

Foto : Rifkianto Nugroho/detikcom

Pengunjuk rasa mencapai 200-300 orang pengungsi Afghamistan"

Foto : Rifkianto Nugroho/detikcom

Ada yang sudah sembilan tahun hidup di Indonesia

Foto : Rifkianto Nugroho/detikcom

“Saya menunggu ambil paspor dan visa untuk pergi ke Australia dan keluarga saya ikut ke sana, nanti menyusul ke Australia. Tapi, sebelum aku ke sana, kondisinya sudah telanjur seperti ini,” jelasnya.

Seperti diketahui, sejak pandemi Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) dua tahun lalu, semua aktivitas sangat terbatas. Lebih-lebih kini terjadi perubahan situasi politik dan keamanan di Afghanistan yang begitu drastis. Pengurusan dokumen perjalanan Musa mungkin semakin tak jelas kapan jadinya. Walau ia mendapat kabar keluarganya saat ini dalam keadaan aman, tak ada yang berani keluar karena takut bertemu dengan pasukan Taliban.

“Mereka tidak bisa keluar dari Afghanistan karena tidak boleh sama Taliban. Bandara, semuanya, perbatasan, semua jalur diblokir sama Taliban. Kalau orang misalnya mau keluar, tidak bisa,” kata Musa, yang baru dua pekan lalu berhasil menghubungi keluarganya.

Musa dan para imigran Afghanistan lainnya di pengungsian juga tak mengerti kenapa Taliban begitu cepat dan mendadak bisa kembali menguasai Afghanistan. Hampir 90 persen seluruh wilayah di Afghanistan, yang terdiri atas 34 provinsi, dikuasai Taliban, kecuali Provinsi Panjshir. Padahal selama ini pasukan pemerintah Afghanistan, yang memiliki kekuatan yang besar dengan 350 ribu personel tentara, puluhan ribu tank, ratusan ribu senjata ringan dan berat, serta ratusan pesawat tempur dan helikopter, bisa tumbang sekejap dengan kekuatan Taliban yang bermodalkan kendaraan motor dan mobil biasa.

“Dadakan satu malam semuanya hancur. Ini big question, pertanyaan besar. Bagaimana mungkin Taliban yang tak memiliki itu semua bisa menguasai Istana?” tanya Musa lagi.

Musa menuding, Afghanistan jatuh ke tangan Taliban akibat sikap Presiden Mohammad Ashraf Ghani yang menjual negara. Ashraf Ghani, yang berasal dari suku Ahmadzai Pasthun, kerap menunjukkan sikap enggan menyerang basis-basis kekuatan Taliban. Bahkan Ashraf Ghani dinilai tak mau berbagi kekuasaan dengan pejabat lainnya, termasuk wakil presidennya sendiri, Amrullah Saleh, yang berasal dari suku Tajik.

“Dia (Ashraf Ghani) kabur dari Afghanistan dengan membawa USD 127 juta dengan keluarga, anak, dan kolega-koleganya. Sekarang tinggal di Dubai. Sekarang semua rakyat Afghanistan marah terhadap dia karena dia menjual tanah negaranya kepada Taliban,” tegas Musa.

Setelah mengambil alih Afghanistan, Taliban akan menetapkan tatanan politiknya dalam waktu dekat. Ada janji-janji yang terlontar dari mereka.
Foto: dok. AP

Musa mengenang ketika Taliban bangkit pertama kali di Kandahar pada 1992. Taliban mendapat simpati dan dukungan penuh rakyat Afghanistan. Namun, kenyataannya, Taliban menebar ketakutan dengan membakar kebun-kebun, menghancurkan fasilitas umum, jembatan, serta melarang televisi dan handphone. Malah sejumlah aktivis pembela hak asasi manusia dan perempuan, pegawai negeri, wartawan, serta lainnya ikut diburu dan dibunuh hingga 2001. “Menurut catatan saya selama ini, lebih dari 60 wartawan tewas dibunuh Taliban,” imbuhnya.

Teror ketakutan terhadap Taliban pun masih dirasakan ketika pemerintah Afghanistan yang didukung kekuatan multilateral Amerika Serikat dan sekutunya NATO selama 20 tahun pada 2001-2021. Semua anggaran negara dihabiskan untuk mendanai perang melawan kelompok Taliban dan teroris lainnya. Setidaknya ada 2.000-an tentara AS, 114 tentara NATO, dan 45 ribu tentara Afghanistan tewas.

Kampung Musa di Distrik Jaghori, Provinsi Ghazni, sering kali digempur pasukan Taliban. Terakhir pada 2019, hampir semua wilayah di provinsi ini diserang Taliban, yang menewaskan 120 orang penduduk sipil. Termasuk paman dan keponakan Musa, yang mati ditembak bersama beberapa perempuan lainnya. Bahkan dua pekan sebelum Taliban menguasai Kota Kabul, Taliban melancarkan aksi penyerangan ke seluruh provinsi.

Di setiap daerah di setiap provinsi, Taliban menargetkan mencari orang dari suku Hazara. Orang suku Hazara dikenal sangat antiperang, pekerja keras, dan gemar mencari pendidikan, khususnya bagi anak-anak dan perempuan. Taliban memang dikenal tak menyukai hal itu dilakukan oleh suku Hazara, Tajik, dan Uzbek.

Bagaimanapun, kini Taliban menguasai Afghanistan. Tentara AS dan sekutunya malah hengkang dari negara itu. Rakyat yang ketakutan akhirnya berusaha melakukan eksodus ke negara lain. Taliban sesumbar dengan janji manisnya yang akan mengampuni semua orang yang pernah melawannya.

Mereka juga menjamin keamanan kedutaan negara dan organisasi asing serta tak akan menggunakan Afghanistan untuk menyerang negara lain. Lalu Taliban tak akan lagi mendukung industri narkotika, menjamin hak-hak perempuan, dan menciptakan pemerintahan yang inklusif.

Musa skeptis terhadap janji Taliban itu. Namun ia berharap Taliban memenuhi janji manisnya tersebut. “Kalau tidak, saya benar-benar khawatir. Saya, rakyat Afghanistan yang sekarang, generasi yang baru ini, mereka semua sudah putus asa terhadap kondisi sekarang,” pungkas Musa, yang masih ragu terhadap janji Taliban tersebut.


Reporter: Syailendra Hafiz Wiratama
Reporter: M. Rizal Maslan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE