INTERMESO

Dibuat Frustrasi
Acne Shaming

“Padahal sudah berapa banyak duit saya habisin cuma buat ke dokter atau gonta-ganti skincare. Sampai gaji habisnya cuma buat berobat aja.”

Ilustrasi : Edi Wahyono

Minggu, 22 Agustus 2021

Selvi Almira sudah lupa kapan terakhir kali ia punya kulit wajah bening dan mulus bak artis Korea. Seingatnya, ketika memakai seragam merah putih dan memasuki masa pubertas, Selvi sudah berteman dengan jerawat. Ketika datang bulan tiba, wajah Selvi mulai dipenuhi jerawat. Hal ini membuat Selvi tidak percaya diri untuk bergaul dengan teman sebayanya.

“Istilahnya sekarang, tuh, jadi ansos (antisosial). Padahal, ya, ngelihat teman-teman seusia saya dulu, kok, mukanya mulus semua,” kata perempuan yang kini berusia 25 tahun ini.

Selvi kebetulan mempunyai latar belakang keluarga berjerawat. Ayah dan ibu Selvi di masa mudanya juga menghadapi problematika serupa. Selvi pun berasumsi jerawat yang sampai kini masih dideritanya merupakan faktor genetik. Kondisi wajahnya pun sama seperti kedua orang tuanya, seperti ‘tambang minyak’ dan sangat rentan jerawatan.

“Kayak sekarang saya lagi jerawatan lagi parah-parahnya. Sedih banget setiap lihat muka di kaca. Untungnya sekarang ke mana-mana pakai masker. Aku jadi nggak terlalu malu dan orang nggak akan lihat aku dengan tatapan jijik,” curhat Selvi, yang memiliki usaha online shop ini.

Pejuang jerawat seperti Selvi harus supertabah. Bukan hanya menghadapi jerawat yang tak kunjung sembuh, Selvi juga harus menghadapi acne shaming. Ini merupakan bentuk rundungan yang menyinggung soal tumbuhnya jerawat di wajah. Nyinyiran ini datangnya tidak hanya dari orang lain, tapi juga teman, bahkan keluarga sendiri. Tentunya dibumbui kalimat yang akan membuat pejuang jerawat sakit hati.

Ilustrasi wajah berjerawat
Foto : iStock

“Sering banget dapat komentar ‘Ih, kok, jerawatan, sih?’, ‘Kamu nggak ngerawat kulitnya ya?’ Padahal sudah berapa banyak duit saya habisin cuma buat ke dokter atau gonta-ganti skincare. Sampai gaji habisnya cuma buat berobat aja,” katanya. Lebih pedih lagi ketika komentar pedas itu datang dari ibunya. “Bahkan ibu aku nanya jerawatnya diobatin atau nggak, sih? Sakit banget ditanya begitu. Ibu nggak tahu perjuangan aku kayak gimana.”

Ada pula orang-orang sok baik hati yang menyarankan Selvi menggunakan obat, skincare, bahkan dokter kulit ke sana-kemari. Bukannya tidak menghargai mereka yang memberikan saran. Tapi Selvi sudah telanjur frustrasi. Semua cara sudah ia coba, tapi hasilnya nihil.

Untuk obat setiap bulan aku habisin Rp 500 ribu. Sedangkan konsultasi tiga bulan sekali Rp 350 ribu. Belum termasuk ongkos akomodasinya."

“Saya udah coba semua cara. Mulai diet sehat, puasa, skincare, banyak minum, tetep aja nggak ilang jerawatnya. Kalau udah frustrasi, rasanya pengin menghilang aja biar nggak ditanyain tentang jerawat lagi,” ujar Selvi.

Meski terkadang dilanda stres akibat mengalami jerawatan parah di wajah, Selvi kini sudah mulai bisa menerima kondisinya. ”Daripada kita kesel sendiri malah membuat jadi lebih stres dan jerawat malah tambah parah, ya, sudah, saya harus ikhlas dan menerima kondisi kalau ditakdirkan punya wajah yang nggak mulus,” tutup Selvi.

Demi menyembuhkan penyakit membandel, Peggy Fadhila juga rela melakukan apa saja. Termasuk datang jauh-jauh dari rumahnya di Bandung menuju sebuah klinik dokter SPKK terkenal di Jakarta Selatan. Peggy diiming-imingi obat mujarab yang diklaim dapat memusnahkan jerawat jika dikonsumsi dalam jangka waktu panjang.

“Berobat di dokter itu perjuangan banget. Dapetin slot konsultasinya susah, harus berebutan via telepon. Setiap kali konsultasi, aku rela cuti kantor dulu,” tutur Peggy. Ia bukan satu-satunya pasien yang datang dari luar kota. “Waktu aku di klinik sempat ngobrol sama yang lain. Bahkan ada yang datang jauh dari Makassar. Nggak kebayang, deh, perjuangannya kayak apa.”

Ilustrasi acne shaming
Foto : iStock

Setelah lulus kuliah dan bekerja, Peggy mendapatkan pekerjaan di bidang marketing. Pekerjaannya mengharuskan Peggy sering beraktivitas di luar kantor dan sering bertemu orang. Tentu Peggy ingin tampil maksimal di depan kliennya. Hal itulah yang mendorong Peggy segera menuntaskan jerawatnya.

Obat dan krim resep dokter sudah di tangan. Peggy menjalani pengobatan itu selama dua tahun. Selama itu pula, Peggy rutin ke Jakarta untuk berkonsultasi dan membeli obat. “Untuk obat setiap bulan aku habisin Rp 500 ribu. Sedangkan konsultasi tiga bulan sekali Rp 350 ribu. Belum termasuk ongkos akomodasinya,” ungkap Peggy.

Setelah dua tahun berjalan, hasil perawatannya memang luar biasa. Tak satu titik pun jerawat muncul di wajah. Baru kali ini Peggy merasakan senangnya punya wajah mulus. Namun sayang, pengobatan jangka panjang mulai menimbulkan efek samping. Peggy mengalami rambut rontok yang cukup parah. “Banyak banget rontoknya. Rambut aku yang tebal sampai tipis sekali. Sejak saat itu aku udah setop obatnya sama sekali."

Semenjak berhenti mengkonsumsi obat, jerawat Peggy pun kembali berdatangan. Kini Peggy hanya bisa pasrah dan hanya mengandalkan produk perawatan kulit yang dijual bebas di supermarket. “Sementara nggak ke dokter dulu. Karena rasanya capek banget harus mulai dari awal pengobatannya dan aku nggak tahu harus ke mana lagi,” keluh Peggy.


Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho

[Widget:Baca Juga]
SHARE