INTERMESO

Televisi yang Pernah Angkat Orang Jadi 'Sultan'

Televisi sempat menjadi barang ekslusif yang hanya dimiliki orang kaya. Menjadi seorang 'Sultan' pada zamannya.

Ilustrasi: Edi Wahyono

Minggu, 15 Agustus 2021

Televisi tabung 21 inch berwarna hitam milik Handoyo Putra kumat lagi. Ada kalanya televisi ‘gemuk’ milik Handoyo mogok kerja saat tengah digunakan. Seakan protes karena usianya yang sudah tua.Ketika gambar di layarnya memudar, Handoyo biasa mengeluarkan jurus jitu. Dengan tangannya, ia beberapa kali mengetok bagian belakang televisi. Niscaya gambar di layar akan muncul kembali. Namun ada saatnya juga cara itu tidak mempan.

“Televisi saya ini sudah rutin keluar masuk toko servis televisi. Selama masih bisa dibetulkan saya pakai aja terus,” tawa Handoyo.Di tengah serbuan televisi super tipis nan canggih, Handoyo tetap teguh dengan televisi lamanya. Apalagi pemerintah tengah menargetkan peralihan penuh siaran analog ke digital yang menjanjikan kualitas gambar yang lebih bersih di 2 November 2022. Posisi televisi tabung akan semakin tergerus.

Namun, televisi asal Jepang merk Hitachi miliknya menyimpan kenangan tersendiri. Setidaknya televisi itu yang menjadi saksi saat Handoyo pertama kali membangun bahtera rumah tangga dengan sang istri. Televisi itu jadi televisi pertama yang ia beli saat masih menjadi pengantin baru.

“Padahal istri saya sudah geregetan mau jual televisinya ke tukang loak. Tapi jangan salah, televisi ini awet lho. Semua komponennya asli Jepang. Nggak kayak televisi jaman sekarang cepat rusak,” kata Handoyo yang memiliki usaha toko elektronik ini.

Kumpulan televisi jadul
Foto : Thinkstock

Bagi Handoyo yang lahir di tahun 60an, kehadiran televisi tabung dengan antena berbentuk V, meski wujudnya kini dianggap kuno, merupakan sebuah kemewahan. Handoyo pernah melewati masa menonton televisi berlayar hitam-putih atau di saat ia harus menunggu sampai sore hari untuk menantikan mulainya siaran televisi.

Jauh sebelum era digital berkembang di Indonesia, menonton televisi menjadi sebuah aktivitas yang sangat langka dan mahal. Alasannya karena pada saat itu orang yang memiliki televisi jumlahnya hanya sedikit. Bisa ditebak, orang yang memiliki televisi di rumah merupakan ‘sultan’ di zamannya.

Karena saya pecinta badminton, dulu suka nonton pertandingan bulutangkis kalau ada Lim Swie King."

“Waktu dulu saya masih tinggal di Semarang. Di tempat saya tinggal itu cuma ada satu dua orang yang punya televisi. Kalau sudah mendekati jam tayang, tetangga akan berkumpul di pemilik rumah yang punya televisi ramai-ramai,” ujar Handoyo.

Di zaman orde baru, kebiasaan nobar alias nonton bareng sudah jadi hal biasa. “Cuma karena perkara televisi bisa buat hubungan antar tetangga jadi akrab, nggak kayak sekarang pada cuek-cuek.”

Tampilan televisinya pun belum berwarna alias hitam putih. Saat itu PLN belum ada. Sehingga jika ingin dihidupkan harus menggunakan aki karena aliran listrik baru menyala saat malam hari saja. Aki harus diisi dayanya setiap dua hari sekali. Kalau aki habis, gambar di televisi akan bergoyang dan gambar seketika menghilang.

“Kita yang nggak mampu beli televisi terkadang bayar iuran untuk isi aki,” ungkap Handoko.

Seorang pemilik bengkel elektronik tengah memperbaiki televisi lama
Foto : Fadhly Fauzi Rachman/detikcom

Siaran televisi juga masih sangat terbatas. Tidak ada pula Netflix, Viu, Disney+ atau semacamnya. Saat itu hanya ada TVRI. Di Indonesia, siaran TV pertama baru dilakukan pada 17 Augustus 1962, bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke XVII.

Pada saat itu, siaran hanya berlangsung mulai pukul 07.30 sampai pukul 11.02 WIB untuk meliput upacara peringatan hari Proklamasi di Istana Negara. “Karena saya pecinta badminton, dulu suka nonton pertandingan bulutangkis kalau ada Lim Swie King,” katanya.

Tontonan televisi tidak tersedia selama 24 jam seperti sekarang. Ketika TVRI masih berjaya, dari pagi sampai siang hampir tidak ada siaran. Tayangan kartun biasanya baru muncul menjelang sore hari. Sementara hari minggu merupakan hari merepotkan untuk pemilik rumah yang memiliki televisi.

Anak-anak dan remaja yang sedang libur sekolah biasanya akan seharian singgah di dalam rumah orang yang memiliki televisi. Meski menonton di dalam ruang keluarga yang sempit, mereka tetap bersemangat. Ketika dihidupkan suara riuh mulai terdengar. Bagi anak-anak melihat gambar bisa bergerak dan bersuara saja sudah bagaikan keajaiban.


Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE