INTERMESO

Malang Pedagang Batang Pinang

Dulu bahkan Jenderal Gatot Nurmantyo jadi pelanggan setia batang pohon pinang Iswandi. Sekarang 90 persen jualannya tak ada lagi yang membeli.

Ilustrasi : Edi Wahyono

Kamis, 12 Agustus 2021

Beberapa batang pohon pinang tergeletak begitu saja di tanah. Batang pohon yang bernama latin areca catechu itu terlihat keropos di bagian dalamnya. Batang pinang itu teronggok di lahan jualan milik Iswandi, 52 tahun, di pertigaan Jalan Manggarai Utara 2 dan Jalan Slamet Riyadi, Manggarai, Jakarta Selatan. Batang-batang pinang itu adalah sisa stok jualan Iswandi tahun 2020 lalu.

Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus, biasanya batang pinang milik Iswandi laris manis diborong pembeli. Masyarakat yang akan merayakan Agustusan membeli batang pinang untuk lomba panjat pinang. Setiap tahun, Iswandi bisa menjual 80-100 batang pinang yang dikirim ke sekitar Jakarta dan Bekasi.

Biasanya, Iswandi mulai memajang jualannya beberapa pekan menjelang 17 Agustus. Tapi, sejak pandemi Coronavirus Disease-2019 (COVID-19) melanda, bisnisnya lesu. “Lumayan, penjualan berkurang bukan lagi 50 persen, tapi lebih lah 80-90 persen mah ada pengurangannya,” kata Iswandi yang ditemui detikX di Jalan Manggarai Utara 2, RT 010/RW 01, Manggarai, Tebet, Jakarta Selatan, Rabu, 11 Agustus 2021.

Untuk tahun ini, lanjut Iswandi, ia rencananya baru akan mendatangkan 40 batang pinang untuk dijual. Batang-batang pohon jenis palma ini khusus didatangkan dari Malimping, Pandeglang, Banten. “Ya rencananya mau nurunin 40 batang dulu, nih, besok ini (Sabtu-Minggu). Ya, bismillah. Namanya orang dagang,” ucap pria kelahiran Jakarta tahun 1969 itu.

Lapak batang inang Iswandi di Jalan Manggarai Utara 2, RT 010/RW 01, Manggarai, Tebet, Jaksel
Foto : Syailendra Hafiz W/detikcom

Baru ada tiga orang yang datang melihat-lihat batang pinangnya. Untuk membeli, mereka masih menunggu keputusan RT/RW di lingkungan masing-masing apakah diizinkan merayakan HUT ke-76 RI di tengah Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat atau dilarang. “Nah, begitu boleh, dia kemari lagi. Kalau RT/RW-nya bengal, ya lanjut saja dia mesen di sini,” terang Iswandi lagi.

Pada perayaan Agustusan tahun 2020, Iswandi masih bisa untung menjual kurang dari 40 batang pinang. Tak hanya masyarakat, juga pedagang pernak-pernik kemerdekaan di kawasan Rawasari, Kalimalang dan Banjir Kanal Barat sampai Babelan, Bekasi, membeli batang pinang darinya.

Bahkan, mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo pernah membeli lima batang pinang Iswandi untuk dipasang di sekitar rumahnya di kawasan Sentul, Bogor, Jawa Barat. Gatot menyuruh anak buahnya untuk membeli batang pinang dan selanjutnya diantar Iswandi ke rumah Gatot di Sentul, Jawa Barat.

“Kalau dia memang dari dulu begitu, sudah langganan. Biasa anggotanya yang datang ke sini, terus nanti saya antar ke rumahnya di Sentul. 'Pokoknya nanti kalau di perjalanan ada apa-apa, kontak gua aja',' kata Iswandi menirukan ajudan Gatot. Tapi untuk tahun ini, Iswandi tak tahu apakah pensiunan jenderal itu akan memesan batang pinang lagi atau tidak.

Iswandi, pedagang batang pinang di Manggarai
Foto : Syailendra Hafiz W/detikcom

Tak hanya batang pinang, Iswandi juga menjual batang bambu untuk tiang bendera. Ia sudah menjalankan profesinya itu sejak umurnya 15 tahun. Ia ikut ayahnya berjualan batang bambu dan pinang sejak tahun 1984. “Ya, jadi jualan pinang ini babeh (ayah) yang nurunin, dari pinang masih harga Rp 30 ribu batang sampai sekarang jadi Rp 500-600 ribuan per batang,” katanya,

Selama bisnis jualan batang pinang, Iswandi membeli bahan baku dari Malimping yang dikenal memiliki batang pinang yang bagus dan lurus. Ia juga sempat mencari ke wilayah Pelabuhan Ratu, Sukabumi. Iswandi memang harus memastikan ke lokasi apakah batang pinangnya masih muda atau kondisinya melengkung. “Terus ada yang ditipu juga. Jadi 20 meter dia bagi dua gitu, karena pinang ada yang bisa sampai 20 meter. Cuma itu nggak bagus, bukan apa-apa cuman ujungnya jadi kecil,” jelasnya.

Per batang pinang utuh dibeli Iswandi seharga Rp 300 ribu. Begitu sampai di tempatnya, batang-batang pinang itu segera diserut kulitnya, dihaluskan, serta dipasang rangkain bambu untuk menambatkan aneka ragam hadiah yang akan diperebutkan dalam lomba. Biaya untuk menyerut tiap batang pinang dibutuhkan biaya Rp 60 ribu, dan memasang rangkaian bambu seharga Rp 50 ribu. “Jadi totalnya Rp 500-an ribu lah kira-kira sudah bisa kita lepas per batang, tergantung ukuran juga ada yang 6-10 meteran sih,” imbuh Iswandi.

Sebelum pandemi COVID-19, Iswandi sempat kehabisan stok batang pinang untuk dijual. Akhirnya, ia keliling Jakarta mencari batang pinang bekas untuk diolah kembali. Tapi sejak pandemi COVID-19, semua kegiatan yang bersifat kerumunan dilarang. Akibatnya berimbas pada penjualan batang pinang. Walau begitu, ada saja yang mencari, seperti sebuah production house memesan tiga batang pinang untuk digunakan dalam syuting sinetron di Cibubur, Jakarta Timur. 

Saah satu moment lomba panjat pinang pas HUT ke-74 tahun 2019
Foto : Grandyos Zafna/detikcom

“Itu ane jual Rp 1,5 juta sekalian antar. Ya namanya juga batang udah lama, ya Alhamdulillah masih ada yang cari. Dia sih ngomong, ‘kalau udah beres nanti diambil lagi aja nggak apa-apa.’, Tapi ya nggak, ah, males ongkosnya (angkut)” ujar Iswandi tertawa.

Selain untuk lomba panjat pinang, batang pinang bisa digunakan untuk permainan ‘gebuk bantal’ di empang atau kolam renang. Panjat pinang dibutuhkan batang sepanjang sembilan meter, sementara untuk gebuk bantal panjang enam meter. Apakah bisa dimanfaatkan untuk furniture? “Nggak bisa, buat kayu bakar saja nggak bisa,” pungkas Iswandi.


Reporter: Syailendra Hafiz Wiratama
Redaktur: M. Rizal Maslan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE