INTERMESO

Solidaritas dalam Sebungkus Nasi

Warga yang terpapar COVID-19 sebagian menjalani isolasi mandiri. Muncul gerakan kepedulian membantu makanan dan obat-obatan untuk mereka.

Ilustrasi: Fuad Hashim

Kamis, 15 Juli 2021

Ayu, seorang karyawati sebuah sekolah swasta di Jakarta, sedang kebingungan. Tujuh anggota keluarganya terpapar Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). Ia, yang juga harus menjalani isolasi mandiri (isoman) karena COVID-19, tak bisa meminta pertolongan untuk mendapatkan obat, vitamin, dan makanan kepada tetangganya. Pasalnya, tetangga di kiri dan kanan rumahnya di Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Banten, pun terpapar COVID-19.

Selain Ayu, tujuh orang anggota keluarganya yang terkena COVID-19 itu terdiri atas ayah dan ibunya yang sudah berusia di atas 58 tahun. Kemudian kakak kandung Ayu beserta suami dan ketiga anaknya yang masih kecil. Suami dan anak Ayu sendiri negatif COVID-19 dan tinggal di rumah terpisah tapi tidak terpaut jauh.

Selain harus menjaga asupan obat-obatan, vitamin, dan makanan, Ayu harus memenuhi kebutuhan hidup keluarga besarnya yang sekarang berjuang melawan COVID-19. Sebab, dari seluruh anggota keluarga itu, tinggal ia dan suaminya yang bekerja. Praktis, bencana COVID-19 ini menambah beban Ayu. “Di sini kan kondisinya adalah rumah keluarga saya jobless. Jadi tujuh orang itu jobless. Ibaratnya, yang beri makan saya dan suami, berdua,” ungkap Ayu kepada detikX, Rabu, 14 Juli 2021.

Ketika dirinya ketahuan positif COVID-19, Ayu tak mendapatkan obat-obatan dan vitamin dari pihak puskesmas setempat. Akhirnya Ayu harus mencari obat-obatan sendiri. Sementara itu, ia melihat teman-temannya yang juga terpapar virus Corona dan isoman di Jakarta justru mendapatkan bantuan pasokan antivirus dan vitamin dari pemerintah.

“Tapi kalau di Ciputat ini betul-betul obat nggak ada. Hanya Vitamin C. Itu pun hanya 50 gram. Padahal yang direkomendasikan oleh dokter di mana-mana seribu gram. Ini kan jauh banget,” katanya.

Sejumlah relawan dari IEA bersama satgas COVID-19 setempat mendistribusikan bantuan nasi kotak untuk warga yang membutuhkan di kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan.
Foto : Rifkianto Nugroho/detikcom

Ayu dinyatakan positif COVID-19 setelah menerima hasil tes usap (swab) pada 5 Juli, setelah badannya merasakan gejala tak beres dua hari sebelumnya. Ayu bersama suaminya akhirnya mencari vitamin C dan vitamin D sendiri ke apotek dan minimarket. Ia juga sempat mencari susu steril tapi habis karena diborong orang. Ia sempat mencari kelapa hijau, tapi harganya sudah naik tiga kali lipat.

“Rp 40 ribu satu biji, itu mahal banget, dari Rp 12 ribu jadi Rp 40-50 ribu. Dan masalahnya, yang kita beri kan bukan satu orang yang positif, tapi tujuh. Jadi kemarin sempat kita pusing banget karena kondisi biaya. Ini nggak disangka-sangka karena biaya di luar dugaan banget jadi seperti ini,” ucap Ayu.

Dalam kondisi kalut seperti itu, tiba-tiba Ayu mendapatkan kabar dari rekan satu kantornya yang menjadi anggota Harmoni Dinamik Indonesia (HDI). Organisasi nirlaba di bidang sosial itu tengah mengkampanyekan gerakan ‘Kita Peduli’ yang dipimpin Lusiana Kurniawatie. Lusiana membuat gerakan membagikan makanan gratis kepada warga, khususnya yang tengah menjalani isoman selama 10 hari.

“Akhirnya aku minta tolong sama Ibu Lusiana. Aku nggak berharap dapat untuk tujuh boks untuk tujuh orang, setidaknya bisa mengurangi beban pengeluaran aku,” kata Ayu penuh harapan.

Akhirnya Ayu hanya mengajukan permintaan bantuan makanan untuk tiga orang sebanyak enam kotak setiap hari. Enam kotak itu untuk makan siang dan malam. Selebihnya, ada saja bantuan dari tetangga yang mengirimkan bahan makanan yang dicantolkan di pintu pagarnya.

“Jadi langsung sih. Alhamdulillah. Ada tetangga saya yang COVID-19 juga cari-cari kayak Ibu Lusiana, kemarin rumah yatim piatu atau apa. Kalau kemarin yang Ibu Lusiana ini langsung dapat. Kalau yang lembaga-lembaga itu mesin yang jawab. WhatsApp-nya,” terang Ayu.

Relawan IEA memberikan langsung nasi kotak kepada warga yang sedang isolasi mandiri (isoman) Foto : Rifkianto Nugroho/detikcom

Gerakan ‘Kita Peduli’ membagikan makanan gratis kepada warga yang tengah menjalani isoman di rumah dan kontrakan/tempat kos, khususnya keluarga yang tak mampu, di sekitar Kota Tangerang Selatan dan Jakarta Selatan. Syaratnya cukup mengirimkan fotokopi /foto hasil tes polymerase chain reaction (PCR) yang menyatakan positif, kartu keluarga (KK), dan kartu tanda penduduk (KTP). Gerakan itu viral di media sosial.

“Kita lihat juga dari tanggal keluarnya hasil PCR mereka. Setelah kita data, nanti setiap harinya makanan tersebut kita distribusikan menggunakan jasa ojek online,” kata Lusiana kepada detikX, Senin, 12 Juli 2021.

Lusiana mengatakan usahanya mengirimkan makanan gratis kepada warga yang tengah menjalani isoman itu tanpa koordinasi dengan pengurus rukun tetangga/rukun warga (RT/RW) atau satuan tugas (Satgas) COVID-19 setempat. “Tidak ada, kita murni bergerak sendiri tanpa campur tangan pemerintah dan sebagainya, hanya donasi dari masyarakat,” imbuh Lusi, yang pernah bekerja sebagai pramugari di sebuah maskapai penerbangan.

Lusiana bilang, sejak tak bekerja lagi, ia bersama suaminya Aji Salim, yang mantan chef executive banquet di hotel di Jakarta, membuka bisnis kuliner online di Ciputat pada 2019. Namun, sejak pandemi COVID-19 melanda, Lusiana dan suaminya mulai membagikan makanan gratis kepada warga terdampak COVID-19. Awalnya, mereka mengumpulkan donasi melalui medsos setiap Jumat. Dana yang terkumpul dibuatkan makanan sebanyak 400 boks dan beberapa paket sembako.

“Kita berikan setiap hari Jumat kepada orang yang membutuhkan di jalan. Kami menjalankannya sejak gelombang pertama pandemi ini di Indonesia,” terang Lusiana.

Barulah, sejak pemerintah memutuskan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat pada 3 Juli 2021, Lusiana dan suaminya membuat gerakan ‘Kita Peduli’ khusus bagi orang yang tengah menjalani isoman di tempat kos, tidak punya keluarga, atau yang keluarganya kurang mampu untuk memenuhi kebutuhannya. Area yang menjadi fokus adalah Kota Tangerang Selatan dan Jakarta Pusat.

Relawan IEA memberikan bantuan kepada warga yang sedang menjalani Isoman di Jakarta Selatan
Foto : Ri

“Cuma kemarin kita menerima satu dari Karet, Jakarta Pusat, karena mereka sekeluarga kena COVID-19 di dalam permukiman yang padat penduduk, dan tidak menerima bantuan dan kesulitan untuk keluar mendapatkan makanan. Kita acc karena dia satu keluarga dan bayinya pun terkena COVID-19,” jelas Lusiana.

Ketika dihubungi detikX, Lusiana mengaku ada sepuluh orang yang masuk daftar antrean penerima bantuan ‘Kita Peduli’. Untuk sementara program itu sedang disetop karena keterbatasan dana. Setelah dana terkumpul, program tersebut akan berjalan kembali. Setiap hari Lusiana dan suaminya harus menyiapkan 20 boks makanan untuk 10 warga. Setiap orang akan mendapatkan dua boks untuk makan siang dan malam.

“Kalau menu, ya kita hanya menu rumahan saja. Intinya nasi beserta lauk pauknya dan ditambah buah dan puding. Per orang setiap harinya kami sediakan dua porsi nasi boks,” imbuh Lusiana.

Jika sudah mendapatkan dana atau sponsor, Lusiana mengatakan akan memperluas target penerima bantuan makanan gratis hingga Jakarta, Bekasi, dan Depok. Ia mengatakan misi mulianya adalah untuk membantu warga yang membutuhkan pertolongan. Supaya mereka bisa pulih kembali kesehatannya dan bisa berkumpul dengan keluarganya lagi.

“Tidak ada yang lain. Kita lihat kasus yang di Malaysia itu. Setahu saya, di Jawa pun ada yang mengibarkan bendera putih itu untuk mengetahui bahwa rumah itu sedang isoman,” ucapnya seraya berharap program yang dilakukannya bersama suaminya itu bisa menginspirasi masyarakat atau lembaga lainnya melakukan hal yang sama.

Memang bukan hanya Lusiana, Andhika pun melakukan hal yang sama, membagikan makanan gratis kepada warga yang menjalani isoman karena terpapar COVID-19. Andhika tercatat sebagai anggota relawan Indonesia Escorting Ambulance (IEA) Jakarta Selatan dan bekerja di Coffee & Resto Tatap Moeka di Jalan Margonda Raya, Beji, Depok. Ia bersama majikan dan teman-temannya sering membagikan makanan siap saji untuk tenaga kesehatan (nakes) di rumah sakit, puskesmas, petugas pemakaman TPU, serta warga terdampak COVID-19.

Satgas COVID-19 ditingkat RT/RW di Jakarta memberikan nasi kotak kepada warga yang membutuhkan bantuan
Foto: Rifkianto Nugroho/detikcom

“Karena kan kita lihat banyak warga yang terdampak isoman ini ada di beberapa tempat, yang tidak kebagian bantuan dari pemerintah atau ada warga sekitarnya yang mungkin kurang peduli, makanya kita inisiatif mau bagi-bagi nasi kotak gitu,” kata Andhika kepada detikX, Selasa, 13 Juli 2021.

Ide membagikan makanan gratis ini datang dari pemilik coffee & resto. Ia menggandeng kerja sama dengan IEA Jakarta Selatan. Dana digalang dari jemaah pengajian yang diikuti pemilik restoran tempat Andhika bekerja. Masyarakat lain yang ingin berkontribusi dipersilakan menyisihkan uang sebesar Rp 25 ribu untuk satu kotak makanan yang akan dibagikan kepada warga yang tengah isoman, warga tak mampu, atau mahasiswa yang berada di tempat kos yang memang kurang mendapatkan bantuan dari pemerintah.

“Kalau syarat-syarat sih nggak ada. Kita pokoknya lebih terfokus tempat itu nggak pernah dapat bantuan atau kurang bantuan dari pemerintah dan warga setempat, gitu sih,” jelas Andhika.

Dalam penyaluran bantuan, Andhika dan temannya selalu berkoordinasi dengan pengurus RT/RW atau Satgas COVID-19 setempat untuk mendapatkan data warga yang memang sangat membutuhkan bantuan secepatnya. Selama ini pihaknya sudah memberikan bantuan kepada masyarakat yang berada di wilayah Depok serta Lenteng Agung dan Jagakarsa di Jakarta Selatan. Bukan hanya warga yang tengah menjalani isoman, warga di pinggir jalan, panti asuhan, serta masyarakat yang kurang kebutuhan pokoknya pun dikirimi nasi kotak.

“Per orang dapat lima boks (kalau satu KK isi lima orang). Kita bagi sehari satu. Jadi kita kejar buat makan malam yang dibagikan jam tiga-empat sore. Kita masak, nyiapin boks semua, nanti tinggal kita distribusikan,” terang Andhika.

Diakui Andhika, penyaluran makanan gratis ini tak setiap hari. Yang jelas, rutin setiap hari Jumat didistribusikan sekitar 250 boks makanan siap saji yang berisi nasi, lauk pauk, sayuran dan minuman kepada masyarakat. Untuk makanan dimasak oleh tim dari restoran Tatap Moeka, sementara pendistribusiannya dilakukan anggota relawan IEA Jakarta Selatan. “Alhamdulillah, sampai sekarang masih berjalan terus,” pungkas Andhika.


Reporter: Syailendra Hafiz Wiratama
Redaktur: M Rizal Maslan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE