INTERMESO

Antara Harmoko dan Soeharto

Harmoko dianggap berkhianat terhadap Soeharto. Tak diizinkan membesuk ketika Soeharto tergolek di rumah sakit pada 2008.

Ilustrasi: Luthfy Syahban

Selasa, 06 Juli 2021

Gelombang demonstrasi mahasiswa pada 12-18 Mei di gedung Majelis Perwakilan Rakyat dan Dewan Permusyawaratan Rakyat di Jakarta akhirnya membuat Ketua MPR Harmoko menyerah. Ia menemui para mahasiswa yang menuntut agar Presiden Soeharto mundur dan reformasi dilakukan di Indonesia. Harmoko menemui para mahasiswa pada 18 Mei sore.

Setelah menemui mahasiswa, Ketua Umum DPP Golkar yang juga mantan Menteri Penerangan tersebut menyerukan pengunduran diri Soeharto. Pernyataan itu langsung ditentang oleh Menteri Pertahanan dan Keamanan sekaligus Panglima Angkatan Bersenjata (sekarang Panglima TNI) Jenderal Wiranto. Ia mengatakan seruan Harmoko itu inkonstitusional karena ia mengusulkan pembentukan Dewan Reformasi.

Namun Harmoko bergeming. Tak biasanya, pada 21 Mei 1998, pukul 07.30 WIB, rumah dinas Harmoko dikunjungi sejumlah pimpinan DPR. Bersama Harmoko, mereka meriung membahas materi yang akan dikonsultasikan dengan Soeharto. Harmoko saat itu menjelaskan perkembangan terbaru terkait rencana berhentinya Soeharto sebagai presiden.

Suasana demonstrasi mahasiswa di Gedung DPR/MPR, Mei 1998.
Foto: Getty Images

“Dalam menanggapi situasi seperti tersebut di atas, pimpinan Dewan, baik Ketua maupun Wakil-wakil Ketua, mengharapkan, demi persatuan dan kesatuan bangsa, agar Presiden secara arif dan bijaksana sebaiknya mengundurkan,” ucap Harmoko kepada wartawan seusai pertemuan.

Saat itu terlintas dalam benak saya bahwa Pak Harto merupakan pemimpin yang konsekuen dalam melaksanakan konstitusi. Sebelumnya, saya berpikir, suksesi kepemimpinan Soeharto akan berakhir di sidang istimewa MPR.”

Dalam pertemuan itu, para pimpinan DPR sepakat berpegang pada Pasal 8 UUD 1945 dan Pasal 2 Tap MPR No VII/MPR/1973. Artinya, jika Soeharto menyatakan mundur, Wakil Presiden akan diambil sumpahnya sebagai presiden pada sidang paripurna DPR, Jumat, 22 Mei 1998, yang bertepatan dengan peringatan Kenaikan Isa Almasih.

Harmoko kemudian berusaha menelepon Menteri Sekretaris Negara Sa’adillah Mursyid, tapi tak kunjung diangkat. Untuk itu, pimpinan DPR merasa perlu membahas hal ini dengan Mahkamah Agung. Akhirnya Harmoko dan beberapa pimpinan DPR serta Sekjen DPR Afif Ma’roef bisa bertemu dengan Soeharto, yang didampingi oleh putrinya, Siti Hardijanti Rukmana, di Istana Merdeka, pukul 08.30 WIB.

Di Istana sudah hadir Wapres BJ Habibie, Mensesneg Sa’adillah Mursyid, dan Menhankam/Pangab Wiranto. Harmoko segera menyampaikan pendapatnya kepada Habibie mengenai pengambilan sumpah yang seharusnya dilakukan di gedung DPR, di hadapan para wakil rakyat. Ketua MA Sarwata menghampiri Harmoko dan menyatakan pembacaan sumpah di Istana tetap sah karena tak mungkin dilakukan di DPR, yang masih dikepung ratusan ribu mahasiswa itu.

Sarwata dalam buku ‘Berhentinya Soeharto, Fakta dan Kesaksian Harmoko’ karya Firdaus Syam (2008) bilang tidak boleh ada kekosongan kekuasaan sehingga pengucapan sumpah harus dilakukan sesegera mungkin. Setelah mendengarkan keterangan Sarwata, Harmoko bersama pimpinan DPR lainnya, seperti Syarwan Hamid, Abdul Ghafur, Fatimah Ahmad, Buya Ismail Metareum, diminta Soeharto bertemu di ruang Jepara.

Saat itu Soeharto menanyakan apakah ada dokumen-dokumen lain, Harmoko menjawab tidak ada. Semua data dan aspirasi sudah dilampirkan dalam surat tanggal 19 Mei 1998. Selanjutnya Soeharto mengatakan, setelah memperhatikan sungguh-sungguh saran dan pendapat pimpinan DPR dan pimpinan fraksi-fraksi, dia bersedia berhenti sebagai presiden.

Soeharto
Foto: AFP

“Saudara-saudara, di ruangan ini saja, saya akan mengumumkan kepada rakyat, dan nanti Wakil Presiden akan mengucapkan sumpahnya sebagai presiden di depan Mahkamah Agung,” lanjut Soeharto.

Bagi Harmoko, pernyataan Soeharto di hadapan pimpinan DPR di ruang Jepara sebenarnya sudah sah. Dan saat itu juga, di hadapan wakil rakyat, presiden sudah secara resmi mengundurkan diri. Harmoko juga mengisahkan suasana di ruang itu mendadak hening.

“Saat itu terlintas dalam benak saya bahwa Pak Harto merupakan pemimpin yang konsekuen dalam melaksanakan konstitusi. Sebelumnya, saya berpikir, suksesi kepemimpinan Soeharto akan berakhir di sidang istimewa MPR,” ujar Harmoko saat ditemui detikcom di kediamannya, Jalan Taman Patra XII No 12, Kuningan, Jakarta Selatan, pada 21 Mei 2008.

Harmoko sempat khawatir Soeharto akan mengambil tindakan negara dalam keadaan darurat. Tapi, setelah mengumumkan dirinya berhenti, Soeharto kembali datang ke ruang Jepara. “Saudara-saudara, sejak sekarang, saya tidak menjadi presiden lagi. Saudara-saudara selaku pimpinan DPR/MPR, semoga ikut menjaga bangsa dan negara ini. Terima kasih,” kata Soeharto sambil menyalami Harmoko cs dan meninggalkan ruangan.

Buku ‘Berhentinya Soeharto, Fakta dan Kesaksian Harmoko’ tidak menjelaskan perkembangan hubungan Harmoko dengan Soeharto maupun anak-anaknya setelah pertemuan di ruang Jepara. Yang jelas, pertemuan di ruangan itu merupakan perjumpaan Soeharto dengan ‘anak-anak emasnya’, termasuk Harmoko.

Namun, di mata keluarga Cendana, Harmoko dianggap sebagai pengkhianat karena telah menjerumuskan Soeharto ke dalam krisis yang berujung pelengseran. Padahal, setahun sebelumnya, sebagai Ketua Umum DPP Golkar, Harmoko menyatakan rakyat Indonesia masih mendukung penuh Soeharto sebagai presiden melalui penelitian yang dipimpin oleh Panglima ABRI Jenderal Feisal Tanjung dan Mendagri Yogi S Memet pada 1997.

Bahkan Harmoko langsung sigap melakukan kunjungan ke sejumlah daerah yang dikemas dengan agenda Safari Ramadhan. Sepulang dari kunjungan tersebut, Harmoko dengan yakin menyatakan rakyat masih menghendaki Soeharto menjadi presiden ketujuh kalinya. “Golkar yakin, Pak Harto tidak akan lari dari tanggung jawab atas kepercayaan yang diberikan rakyat. Setelah di-check and recheck, ternyata aspirasi masyarakat luas secara bulat mencalonkan kembali Pak Harto sebagai Presiden RI periode 1998-2003,” kata Harmoko di DPP Golkar pada 13 Januari 1998.

Harmoko
Foto: ANTARA Foto

Namun, belum genap setahun, Harmoko dengan alasan besarnya desakan dari sejumlah kalangan, terutama mahasiswa, justru meminta Soeharto mengundurkan diri. Bukan hanya Cendana yang memandang miring Harmoko. Para loyalis Soeharto mengecap Harmoko sebagai ‘Brutus’, yang menikam dari belakang. Hingga Soeharto kemudian jatuh sakit sejak 1998 hingga 2008, Harmoko tak pernah membesuknya. Alasannya, ia tengah sibuk mengurus pondok pesantrennya di Nganjuk, Jawa Timur.

Harmoko baru menengok Soeharto ketika terakhir kali dirawat di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP), Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada 16 Januari 2008. Kabarnya, tak satu pun putra-putri Soeharto yang menyambutnya. Harmoko juga tidak diizinkan menemui Soeharto, yang tengah tergolek di ranjangnya di ruang ICU lantai lima rumah sakit itu. Hanya istri Sudwikatmono dan istri Probosutedjo, yang juga keluarga Soeharto, saja yang menemani Harmoko.

Perlakuan keluarga Cendana kepada Harmoko berbeda dengan kolega Soeharto lainnya, seperti Moerdiono dan tokoh lainnya. Para loyalis Soeharto itu masih bisa mendekati ranjang Soeharto sekalipun di ruang ICU. Kendati begitu, Harmoko, yang juga pemilik perusahaan media Pos Kota Group, tak sakit hati atas perlakuan yang berbeda.

Harmoko juga menegaskan hubungannya dengan Soeharto setelah pelengseran baik-baik saja. “(Hubungan dengan Soeharto) baik-baik saja. Ini buktinya,” ujar Harmoko kepada detikcom sambil memperlihatkan buku ‘The Life and Legacy of Indonesia's Second President’ yang dibubuhi tanda tangan Soeharto pada 27 November 2007 atau dua bulan sebelum Soeharto wafat, 27 Januari 2008. Selain tanda tangan Soeharto, di buku itu juga tertera tulisan tangan Soeharto, yang berbunyi ‘untuk Saudara Harmoko’.

Semua tudingan pengkhianat kepada dirinya dibuka blak-blakan oleh Harmoko dalam bukunya berjudul ‘Berhentinya Soeharto, Fakta dan Kesaksian Harmoko’ setebal 298 halaman. “Dalam buku itu, saya ingin menyampaikan suasana kebatinan para pimpinan DPR saat itu. Sehingga pimpinan DPR membuat pernyataan meminta Soeharto mundur,” begitu kata Harmoko.


Penulis: M. Rizal Maslan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE