INTERMESO

Corona Bikin Makin Melarat

“Dan untuk rencana saya sendiri ingin punya rumah untuk saat ini terhenti karena saya sudah tidak bekerja lagi.”

Ilustrasi: Edi Wahyono

Minggu, 4 Juli 2021

Bagai sudah jatuh tertimpa tangga. Itulah kiranya ungkapan yang dapat menggambarkan kondisi Shelvina Nur Agustin saat ini. Usai dinyatakan positif COVID-19, karyawan di sebuah perusahaan industri cokelat ini harus menelan pil pahit. Kontrak kerjanya tidak lagi diperpanjang.

“Alhamdulillah sehat setelahnya dan jadi pengangguran, deh,” cuit Shelvi sambil menyertakan emoticon sedih. Shelvi ikut meramaikan sebuah thread di Twitter. Isinya curhatan generasi Z dan milenial tentang betapa mengenaskannya hidup mereka di masa pandemi ini.

Gimana umur 40 millenial mau punya rumah, lha wong di umur 25 saja gaji habis buat tes PCR dan beli masker,” tulis akun Mbak Gebi @nodamembundle pada 27 Juni lalu. Cuitan ini langsung mendapat 28 ribu balasan dan 61 ribu likes.

Cuitan Mbak Gebi begitu mewakili jeritan hati Shelvi. Selain terpaksa jadi pengangguran, perempuan yang baru saja berusia 21 tahun ini terpaksa menghabiskan gaji terakhir dan tabungannya hanya untuk melakukan serangkaian tes COVID-19.

Ilustrasi swab antigen
Foto: Grandyos Zafna/detikcom 

Semua bermula ketika ada pemeriksaan PCR rutin di area kerjanya. Saat itu Shelvi dinyatakan reaktif, namun tanpa gejala. Untuk memastikan hasilnya, perempuan yang berdomisili di Bandung ini kembali melakukan tes PCR kedua. Hasilnya Shelvi dinyatakan positif dan wajib melakukan isolasi mandiri di rumah. Anggota keluarga lain yang berjumlah tujuh orang dan serumah dengan Shelvi juga menjalankan tes PCR.

“Kalau saya masih tanggungan dari perusahaan, sedangkan keluarga biaya sendiri,” ungkapnya saat dihubungi detikX. Shelvi ikut menanggung biaya PCR masing-masing keluarganya sebesar Rp 900 ribu per orang. Sedangkan besaran gajinya saja tidak lebih besar dari UMR Kota Bandung.

Seharusnya bisa buat makan tapi malah buat test antigen yang kepakai buat 1 hari doang."

“Karena kan kontak serumah hampir 24 jam jadinya takut banget, makanya dilakukan PCR saja ternyata yang reaktif hanya saya saja. Seluruh keluarga alhamdulillah sehat.”

Meski sedang tidak ada pemasukan, Shelvi masih punya kewajiban untuk membeli obat, vitamin, masker dan kebutuhan tambahan lainnya selama masa pandemi. Sama seperti cuitan Mbak Gebi, impiannya untuk memiliki rumah sementara harus dipendam. Setidaknya sampai Shelvi kembali dapat bekerja lagi. ”Dan untuk rencana saya sendiri ingin punya rumah untuk saat ini terhenti karena saya sudah tidak bekerja lagi,” katanya.

Sejak terinfeksi COVID-19 Desember tahun lalu, Syena Purnama tak lagi pergi bekerja dengan menaiki transportasi umum seperti Trans Jakarta atau KRL. Syena tidak tahu pasti bagaimana dirinya bisa terinfeksi COVID-19. Namun, melihat penumpang transportasi umum yang terkadang abai protokol kesehatan dan penuh terutama di jam sibuk, membuat Syena ketakutan sendiri.

“Saya kapok sekali karena waktu sakit itu ngalamin sesak nafas. Sedangkan saya cuma isolasi mandiri. Tapi setelah sembuh mau nggak mau masih harus pergi kerja, sementara ini saya belum berani naik transportasi umum dulu,” tutur perempuan berusia 26 tahun ini.

Klinik maupun fasilitas kesehatan lainnya berlomba menawarkan pelayanan tes swab
Foto : Rengga Sancaya/detikcom

Sejak itu, pengeluaran Syena naik berkali-kali lipat. Ongkos untuk pulang pergi dari Grogol ke Slipi saja bisa sekitar Rp 60 ribu per hari. “Itu baru ongkosnya aja,” ucap Syena.

Pekerjaannya sebagai Front Officer di sebuah hotel di Jakarta ini membuat Syena wajib menyediakan masker dan cairan disinfektan. “Dalam sebulan masker dua kotak habis buat saya sendiri. Karena saya kan kerjanya berhadapan langsung sama customer,” ungkapnya.

Belum lagi pemeriksaan COVID-19 yang kerap ia lakukan berkala secara mandiri. “Sejak sakit saya suka parno. Jadi kadang tes antigen sendiri. Itu saja sudah ngos-ngosan bayarnya. Semua pengeluaran bisa sampai 50% dari gaji saya.”

Semenjak pandemi COVID-19 melanda Indonesia, Atarieza Noorainavira begitu merasakan repotnya bekerja di perusahaan yang mewajibkannya sering bolak balik ke luar kota. Manajer di perusahaan percetakan itu menceritakan, pernah dalam sebulan, ia harus melakukan lima kali perjalanan dalam satu bulan.

“Perjalanan ke Semarang, ke Jogja ke Solo dan paling jauh ke Medan. Kita keluar kota itu harus test swab antigen dulu. Nah, itu waktu aku ke Medan 1 orang bisa sampe 300 ribu sedangkan aku yang pergi ke Medan ada sekitar 6 orang. Bayangin aja kalo 300 ribu 6 orang itu gede banget. Cuma untuk swab antigen yang itu cuma bertahan 3 hari atau 2 hari gitu kalo nggak salah," ucap Vira. “Seharusnya bisa buat makan tapi malah buat test antigen yang kepakai buat 1 hari doang,” keluhnya.

Ilustrasi pemakaian hand sanitizer
Foto : iStock

Biaya yang mahal membuat perempuan berusia 22 tahun ini mengandalkan tes gratis yang difasilitasi maskapai penerbangan. Hanya saja prosesnya begitu ruwet dan menyulitkan penumpang. Protokol kesehatan seperti menjaga jarak pun sulit dilaksanakan saat mengantri giliran tes gratis ini.

Ketika terpaksa melakukan tes COVID-19 di fasilitas layanan kesehatan, Vira juga kerap bingung dengan harga tes yang berbeda-beda. “Kalau ada yang gratis kenapa nggak semua digratisin aja gitu loh. Kenapa harus ada yang bayar, dan setiap puskesmas atau rumah sakit ngadain swab antigen itu harganya beda-beda, nggak dihargain sama rata gitu. Jadi kaya bisa dibilang, ini tuh jualan atau gimana, sih? Nggak ngerti, deh. Berlomba-lomba dengan harga mahal,” keluh Vira.


Reporter: Clara Anna
Penulisa: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE