INTERMESO

Mendalang Sampai Akhir Hayat

Menurut Ki Manteb, menjadi dalang itu harus kuat tirakat dan puasa mutih. Ia juga pernah tidur di dalam kotak wayang.

Ilustrasi: Edi Wahyono

Sabtu, 3 Juni 2021

“Jadi dalang itu sama saja seperti pendakwah. Kalau ulama dan kiai dakwahnya melalui jalur pendidikan, jadi guru, ustaz, nah dalang ya lewat kesenian. Pakai wayang,” begitu seloroh Ki Manteb Soedharsono, dalang wayang kulit yang sangat kondang itu sambil tersenyum kepada saya.

Saat itu awal Januari 2013. Saya menyambangi Ki Manteb di rumahnya yang asri di Desa Doplang, Kecamatan Karangpandan, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Baru saja mobil listrik Tucuxi yang dikendarai mantan Menteri BUMN, Dahlan Iskan, menabrak tebing di lereng Gunung Lawu di Desa Dadi, Plaosan, Magetan, Jawa Timur. Sebelum kecelakaan, Tucuxi sempat dimandikan dan doa tolak bala oleh Ki Manteb di Solo.

Dalang kharismatik yang terkenal dengan frasa ‘Pancen Oye’ dalam iklan obat sakit kepala itu dikenal ceplas-ceplos dan humoris. Saya pun diajak ngobrol hingga berjam-jam lamanya. Wajar bila ia mampu berlama-lama ngobrol, karena ia terbiasa semalam suntuk membawakan lakon cerita pewayangan di atas panggung. Ia sangat bersemangat berbicara tentang dunia pewayangan, apalagi soal filsafat Jawa.

Menurut Ki Manteb, dalang bukanlah pekerja seni yang pekerjaannya sekadar menghibur masyarakat. Tapi sebagai dalang ia juga ingin melestarikan kebudayaan dan kesenian Jawa. Apalagi wayang kulit merupakan warisan kesenian yang digunakan oleh Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga, dua dari sembilan penyebar Islam pertama  di Tanah Jawa atau yang dikenal dengan sebutan wali songo, sebagai sarana berdakwah.

Aksi dalang Ki Manteb Sudarsono dalam acara pagelaran Wayang Kulit Semalam Suntuk untuk menyambut tahun baru 2019 di TMII, Jakarta.
Foto : Rengga Sancaya/detikcoom

“Wayang dulu digunakan sebagai sarana dakwah, sehingga masyarakat dulu banyak yang masuk Islam,” kata pria berperawakan kecil kelahiran Dusun Jatimalang, Desa Palur, Kecamatan Mojolaban, Kecamatan Sukoharjo pada 31 Agustus 1948 ini.

Ki Manteb mengutarakan dirinya tak sepaham dengan orang yang menganggap wayang penuh dengan ajaran klenik atau kejawen. Ia begitu mencintai dunia pewayangan yang sudah mendarah daging dalam tubuhnya. Darah seni mendalang itu diperoleh dari keluarganya sendiri, yaitu ayah dan ibunya, Ki Brahim Hardjowiyono dan Soedarti.

Karena piawai dalam bidang sabet wayang, Ki Manteb mendaparkan gelar ‘dalang setan’ dari tokoh sesepuh pewayangan dan mantan Menteri Penerangan RI, Boedihardjo."

Ki Brahim adalah seorang dalang tusi di kampungnya. Sedangkan Soedarti adalah seorang sinden dan pengerawit. Darah seni mendalang juga turun dari kedua kakek dari ayah dan ibunya, yaitu Ki Djarot Hardjowiguno dan Ki Gunawan Gunowihardjo asal Tepus, Mojogedang, Karanganyar. Tak cukup itu, Ki Manteb juga sempat belajar kepada dalang legendaris tahun 1970-1980-an, yaitu Ki Narto Sabdo, Ki Sudarman Gondo Darsono, dan Ki Anom Suroto.

“Jadi dalang juga harus kuat tirakat, puasa mutih (hanya makan nasi dan air putih), juga puasa tidak makan dan minum, tidak merokok dan tidak tidur sehari semalam, termasuk tidur di dalam kotak wayang pernah,” kata Ki Manteb.

Dalam buku Ki Manteb Soedharsono, Profil Dalang Inovatif tulisan Nurdiyanto dan Sri Retna Astuti (2015), disebutkan saat berusia lima tahun, Ki Manteb sudah bisa memainkan wayang dan menabuh beberapa intrumen gamelan, seperti demung, bonang dan kendang. Ia pernah jadi pengendang cilik saat mengiringi pertunjukan wayang yang digelar Ki Warsino dari Baturetno, Wonogiri. Umur 10 tahun, Ki Manteb sudah mampu menatah wayang kulit dengan baik, yang akhirnya bisa membuat wayang kulit sendiri.

Pamor Ki Mantab sebagai dalang makin moncer ketika Ki Narto Sabdo meninggal dunia pada tahun 1985. Salah satu penggemar berat Ki Narto, Soedharko Prawiroyudo, menemui Ki Manteb yang dianggap memiliki kemiripan dengan gurunya. Ia diundang mendalang dalam acara khitanan anak Soedharko. Soedharko lalu menjadi promotor Ki Manteb untuk menggelar pertunjukan wayang bertajuk lakon 'Banjaran Bima’ sebanyak 12 episode di Jakarta tahun 1987.

Keterampilan Ki Manteb dalam memainkan anak wayang, apalagi dalam adegan peperangan, akhirnya membuat banyak penggemarnya menjulukinya sebagai ‘Dalang Setan’. “Karena piawai dalam bidang sabet wayang, Ki Manteb mendaparkan gelar ‘dalang setan’ dari tokoh sesepuh pewayangan dan mantan Menteri Penerangan RI, Boedihardjo,” terang Humas Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Esha Karwinarno kedapa detikcom, Jumat, 2 Juli 2021.

Ki Manteb Sudharsono
Foto : Bayu Ardi Isnanto/detikcom

Ki Manteb hingga kini dikenal sebagai dalang yang mampu mengelaborasi tradisi lama dan modern dunia pewayangan di Indonesia, khususnya di Jawa. Ia dinilai mampy menghadirkan pagelaran wayang yang kreatif-inivatif dalam bingkai estetika baru, bahkan banyak diikuti para dalang muda. “Tradisi pedalangan yang semua sangat fenomenal di bidang catur (cakapan), telah diubah dengan bidang sabetan wayang, semenjak munculnya Ki Manteb. Fenomena sabetan menggejala di kalangan dalang-dalang muda yang menggantikan tren catur wayang,” lanjut Esha.

Karena kelebihannya itulah, ISI Surakarta menobatkan Ki Manteb sebagai salah satu Dewan Empu dan dosen tak tetap di kampus tersebut. Ki Manteb diminta menjadi dosen khusus yang mengajarkan mata kuliah praktik pedalangan gaya pokok. Dalam perjalanan hidupnya, Ki Manteb menjadi dalang kondang hingga mancanegara. Bahkan, beberapa penghargaan disematkan kepadanya.

Ia menerima penghargaan Satya Lencana Kebudayaan dari Presiden Soeharto tahun 1995. Menerima penghargaan UNESCO Award di Place de Fantenoy, Paris, Perancis pada 21 April 2004. Memecahkan rekor MURI saat mementaskan pakeliran selama 24 jam 28 menit tanpa henti pada 4 September 2004. Dinobatkan sebagai Sang Maestro oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tahun 2009. Terakhir memperoleh penghargaan bergengsi Nikkei Asia Price untuk bidang kebudayaan pada 19 Mei 2010.

Selama berkiprah di dunia pewayangan, Ki Manteb juga berhasil menciptakan beberapa lakon baru. Di antaranya, ‘Banjaran Karna’ tahun 1989, ‘Banjaran Gahtutkaca’ atau ‘Prawira Kusuma Nagara’ tahun 1990, ‘Banjaran Bisma’ tahun 1991, ‘Banjaran Durgandini’ tahun 1997, ‘Banjaran Gathutkaca’ tahun 2003, ‘Bima Bangkit’ tahun 2007, ‘Banjaran Gandamana’ dan ‘Banjaran Drupadi’ atau ‘Sejatine Drupadi’ tahun 2009, dan ‘Banjaran Abiyasa Dhalang’ Sejati tahun 2010.

Meski dalam kondisi tak sehat, Ki Manteb tetap mendedikasikan profesi mendalangnya hingga akhir hayatnya. Ia sempat menggelar pertunjukan wayang kulit di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta Timur, Minggu, 27 Juni 2021. Dua hari kemudian, dengan kondisi kesehatannya yang kian menurun, ia tetap mendalang secara virtual di pendoponya pada Selasa, 29 Juni 2021 hingga pukul 01.00 WIB. Bahkan di tengah acara, ia sempat muntah darah.

Jenazah dalang kondang Ki Manteb saat disemayamkan di rumah duka, Desa Doplang, Kecamatan Karangpandan, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.
Foto : Bayu Ardi Isnanto/detik.com

“Sepulang dari Jakarta, beliau kondisi panas dan istirahat sehari. Pagi mendalang virtual lagi di rumah hampir semalaman, setelah itu beliau nge-drop,” ucap putra sulung Ki Manteb, Medhot Soedharsono, kepada detikcom, Jumat, 2 Juli 2021.

Pihak keluarga akhirnya memberikan penanganan medis di rumahnya, termasuk melakukan tes swab kepada Ki Manteb. Dari hasil swab, Ki Manteb divonis terpapar COVID-19. Tiga hari kemudian, Ki Manteb pergi selama-lamanya pada Jumat, 2 Juli 2021 pagi dalam usia 72 tahun. Ki Manteb mewujudnya cita-citanya mendalang sampai akhir hayatnya.

“Pokoknya sebagai dalang, sebagai seninam, kita harus tetap berkarya apapun resikonya. Coro kasarnya mati neng ngenggon dilakoni (cara kasarnya meninggal di tempat dijalani),” kata Ketua Paguyuan Dhalang Surakarta (Padhasuka) KGPH Benowo kepada detikcom, Jumat, 2 Juni 2021.


Penulis: M Rizal Maslan
Editor: Irwan Nugroho

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE