INTERMESO

Balada Starling di
Hiruk Pikuk Jakarta

“Dua kali itu saya ditahan sebentar sama dikasih surat peringatan. Bukannya nggak kapok, tapi di sini kita cari nafkah, mau gimana lagi.”

Foto: Penjual kopi keliling di Jakarta (Ari Saputra/detikcom) 

Minggu, 27 Juni 2021

Sebuah sepeda berwarna merah muda dengan keranjang di depannya membelah kemacetan Jakarta. Di belakang setangnya, seorang pria paruh baya yang biasa disebut Pak Kumis mengayuh pedal dengan susah payah. Sesekali ia mencondongkan badan ke depan supaya laju sepeda menjadi lebih ringan.

Di bagian belakang, beban yang dibawa Pak Kumis cukup berat. Dua termos berisi air panas masing-masing sebanyak 2,5 liter. Belum lagi galon air dan termos besar berisi pecahan es batu. Sedangkan di depan, keranjang dipenuhi berbagai macam rencengan kopi dan minuman instan beraneka rasa.

“Ini kan kopi saya (penataan kopinya) kalau dilihat dari jauh kayak kembang, kayak bunga. Kalau dari deket nggak. Tapi kalau dari jauh, kelihatan (kayak kembang),” ucap Pak Kumis dengan bangga menunjukkan hasil rangkaian rencengan kopinya kepada detikX beberapa waktu lalu.

Sebelas tahun sudah pria asal Surabaya, Jawa Timur, ini menekuni pekerjaan sebagai pedagang 'starling' alias 'Starbucks keliling'. Starbucks merupakan kedai kopi asal Amerika Serikat yang sudah memiliki banyak cabang di berbagai belahan dunia. Sedangkan istilah starling merupakan penjual kopi yang menjajakan dagangan mereka menggunakan sepeda.

Pak Kumis, sebut saja namanya begitu, seorang penjual kopi Starling di dekat Grand Indonesia
Foto: Clara Anna/detikcom

Entah mengapa dan sejak kapan nama Starbucks dibawa-bawa untuk menyebut penjual kopi sepeda keliling di Jakarta itu. “Istilah starling, saya sendiri juga kurang tahu asalnya dari mana. Dari pelanggan saja yang saya dengar suka nyebut kata-kata starling itu,” ucap Pak Kumis, yang indekos di daerah Hayam Wuruk, Jakarta Pusat.

Pak Kumis bukan satu-satunya starling yang mangkal di kawasan Sudirman-Thamrin. Ia dan beberapa pedagang starling lainnya memilih Mal Plaza Indonesia sebagai tempat mangkal favorit.

Kopi keliling dikenal sebagai idola para kuli proyek atau pekerja jalanan. Tapi berbeda dengan Pak Kumis, pelanggannya kebanyakan berasal dari mal yang menjual barang-barang branded itu. Bahkan pelanggan loyal Pak Kumis tak sungkan bertukar nomor telepon untuk memudahkan pemesanan segelas kopi.

Kita belanja ambil di bos. Kita harus ambil sama bos, baru dikasih tempat tinggal, nggak bayar lagi gitu."

“Pelanggan saya ada yang dari orang lewat tapi kebanyakan dari Plaza Indonesia,” ucap Pak Kumis sambil menunjuk ke arah mal. Tak lama sebuah panggilan telepon masuk. Di ujung telepon terdengar suara seorang pria menanyakan lokasi Pak Kumis. ”Saya di tempat biasa,” ujar Pak Kumis.

Sejurus kemudian, pria yang tadi melakukan panggilan telepon sudah berdiri di depan sepeda. Lengkap dengan setelan jas warna hitam dan sepatu pantofel. Ia mengeluarkan uang Rp 5.000 untuk ditukar dengan segelas kopi hitam pahit yang disajikan dalam gelas plastik.

“Kalau beli di dalam mal, satu gelas bisa Rp 50 ribu. Di sini Rp 5.000 juga sudah bisa nikmatin kopi. Sudah begitu racikan Pak Kumis paling enak. Hitung-hitung bagi rezeki buat pedagang kopi keliling,” ucap pria yang bekerja sebagai pramuniaga di salah satu toko perhiasan mewah di Plaza Indonesia ini.

Pak Kumis bukan barista yang punya teknik khusus dalam membuat kopi. Tapi Pak Kumis punya skill khusus dalam hal meracik dan menentukan takaran air yang tepat. Meracik kopi dan minuman instan memang terkesan sederhana. Tapi, menurut Pak Kumis, jika takaran itu salah, rasanya tentu akan berbeda.

Setiap kopi dan minuman instan punya takaran masing-masing dan tidak bisa diperlakukan sama. Dan tampaknya racikan tangan Pak Kumis-lah yang membuat pelanggannya tak berpindah hati.

Penjaja Starling mengayuh sepeda di kepadaran lalu lintas Jakarta 
Foto : Ari Saputra/detikcom

“Air termos ini, kalau sudah lewat 4 jam, sudah nggak enak lagi. Apalagi kalau mau bikin kopi hitam. Airnya harus benar-benar panas. Makanya saya bawa ini kompor portabel buat bikin air panas sendiri,” tutur Pak Kumis.

Berbeda dengan Pak Kumis, sebagian pedagang starling berjualan secara berkelompok. Mereka sama-sama berasal dari Kabupaten Pamekasan, Madura. Seperti Mamat, yang juga mangkal di daerah Sudirman. Ia membeli rencengan kopi berikut air panasnya di sebuah agen. Mamat dan para pedagang starling lainnya juga tinggal di dalam satu kompleks yang sama. Hanya, Mamat enggan memberitahukan lokasi tinggalnya.

"Kita belanja ambil di bos. Kita harus ambil sama bos, baru dikasih tempat tinggal, nggak bayar lagi gitu,” ungkapnya. Mamat takut jika lokasi tinggal mereka jadi incaran penggerebekan Satpol PP. Namun, menurut informasi yang beredar, kompleks pedagang starling ini terletak di Senen, Jakarta Pusat.

Bukan tanpa sebab para pedagang starling ini takut pada iring-iringan Satpol PP. Selama lima tahun berjualan kopi, sudah dua kali Mamat ditangkap Satpol PP karena ketahuan berjualan di trotoar jalan. Sering kali mereka harus main kucing-kucingan dengan Satpol PP.

“Biasanya mereka patroli mulai pukul 21.00 WIB. Kalau dari jauh sudah kelihatan, wah buru-buru kabur. Tapi dua kali itu saya ditahan sebentar sama dikasih surat peringatan. Bukannya nggak kapok, tapi di sini kita cari nafkah, mau gimana lagi,” kata Mamat, yang berusia 45 tahun.

Perantau asal Madura rupanya bukan hanya bekerja sebagai tukang potong rambut, pengepul besi tua, ataupun penjual sate ayam, tapi juga penjual kopi keliling. Mamat awalnya datang ke Jakarta karena diajak temannya. Ia tak menyangka pekerjaan meracik kopi keliling ini juga menjanjikan.

Aneka ragam minuman yang dijajakan starling
Foto : Ari Saputra/detikcom

“Bawa modal seadanya, cuma Rp 2 juta. Sudah langsung habis dipakai buat beli sepeda bekas sama peralatannya buat jualan kopi,” ungkap Mamat.

Jika sedang ramai, Mamat mengaku bisa menjual sampai 100 gelas per hari. Namun, semenjak pandemi COVID-19, banyak pekerja yang merupakan pelanggan pedagang starling dirumahkan. Akibatnya, pendapatannya pun menurun cukup tajam.

“Bisa sampai Rp 500 ribu per harinya. Tapi itu uangnya saya pakai lagi buat modal beli kopi sama airnya. Kalau sekarang Rp 100 ribu juga udah bersyukur,” ujar Mamat. Dari hasil usahanya, Mamat mengirimkan keuntungannya kepada keluarga di kampung halaman.


Reporter: Clara Anna
Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE