INTERMESO

Lidah Sukarno Berlabuh ke Sambal Pecel

“Kalau Bapak sedang menikmati, walaupun yang namanya Revolusi Indonesia berhenti, pasti Bapak tidak akan ambil pusing.”

Foto: Sukarno muda (Keystone/Hulton Archive/Getty Images)

Sabtu, 5 Juni 2021

Sukarno dan revolusi kemerdekaan Indonesia adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan. Namun, ada sesuatu yang akan membuat presiden pertama Indonesia tersebut lupa akan segala hal, termasuk revolusi. Apakah itu?

Guruh Soekarnoputra sempat berkelakar dalam bukunya Bung Karno & Kesayangannya bahwa ayahnya itu akan lupa dengan segalanya bila sudah berhadapan dengan sambal pecel. Makanan khas nusantara itu memang favorit Sukarno sepanjang hidupnya.

Tak peduli apapun lauknya, sambal pecel selalu menjadi menu wajib di meja makan Sukarno. “Wah kalau Bapak sedang menikmati, walaupun yang namanya Revolusi Indonesia berhenti, pasti Bapak tidak akan ambil pusing!” ujar Guruh.

Bukan cuma sambalnya, Sukarno juga menyukai nasi pecel. Hidangan ini biasa disajikan dengan berbagai sayuran rebus yang disiram dengan bumbu kacang yang khas. Setiap daerah di Indonesia pun memiliki nasi pecel dengan ciri khas masing-masing. Seperti di Madiun, Jawa Timur, yang menyajikan nasi pecel dengan parutan kelapa. Atau nasi pecel yang dihidangkan bersama sayur lodeh tempe seperti nasi pecel Kediri.

Presiden Sukarno
Foto: Dok Henri Cartier Bresson

Sementara Sukarno memilih nasi pecel Blitar sebagai favoritnya. Setiap pulang ke Blitar, Sukarno tak ingin melewatkan kesempatan mencicipi nasi pecel yang terkenal. Di bandingkan daerah lain di Indonesia, nasi pecel Blitar cara penyajiannya lebih sederhana. Pilihan sayur rebus yang digunakan mulai dari daun bayam, pepaya, singkong, kenikir, kacang panjang, kemangi, mentimun dan sawi. Tapi seringnya yang dihidangkan hanya dua sampai tiga macam sayur. Yang wajib ada hanya tauge rebus saja.

Kesederhanaan makanan khas Jawa itu berhasil membuat Sukarno jatuh hati. Atau karena si penjual pecel yang begitu berkesan bagi Bung Karno? Rukiyem, pemilik warung pecel Mbok Pin, merupakan penjual pecel kegemaran Bung Karno. Tahun 1978, saat penulis Anjar Any bertandang ke Blitar, Rukiyem masih hidup, tetap dengan profesinya menjual nasi pecel di Jl. A. Yani No. 43 Blitar. Ia sendiri tinggal di Gebang I/10 Blitar. Warung pecel Rukiyem merupakan langganan Bung Karno dulu.

Makanya, kalau mendapat panggilan Bung Karno rasanya seperti menang lotere."

Setiap Bung Karno mengundang Rukiyem ke kediaman keluarga Soekarno di Jalan Sultan Agung, pria kelahiran Surabaya, 6 Juni 1901 ini akan menyapa akrab penjual pecel yang ketika itu masih muda. “Wah… penjualnya cantik, kebaya dan kainnya juga baru,” puji Sukarno.

Di kala undangan dari Soekarno sampai kepada Rukiyem, ia sengaja tampil maksimal. Dipilihnya kebaya terbaru, dipilihnya kain batik terbaik, dan disiapkannya bahan-bahan pecel kesukaan proklamator kemerdekaan Indonesia itu, termasuk pisang kapok bakar.Mendapat pujian oleh orang nomor satu di Indonesia saat itu, Rukiyem muda tersipu malu. Sambil tangannya sibuk menyiapkan sajian pecel dalam alas daun pisang. Rukiyem sudah hafal betul, daun-daun apa saja kesukaan Bung Karno, dan seberapa banyak takaran sambalnya.

“Beliau itu… kalau lagi pesen pecel, tidak sungkan-sungkan jongkok di depan saya… menunjuk ini-itu daun-daun mana yang ia kehendaki…. Saya bahagia sekali bisa meladeni beliau dan keluarganya. Sepertinya, tidak ada kebahagiaan lain yang lebih menyenangkan dibandingkan menyajikan sepincuk pecel kepada Bung Karno,” tutur Rukiyem dengan rona berbinar-binar.

Usai acara makan pecel, Bung Karno memberinya uang Rp 700. Suatu jumlah yang sangat-sangat besar ketika itu, mengingat harga sepincuk pecel hanya beberapa rupiah saja. “Makanya, kalau mendapat panggilan Bung Karno rasanya seperti menang lotere… ,” ujar Rukiyem sambil terkekeh kepada Anjar Any, penulis buku Menyingkap Tabir Bung Karno.

Hingga kini nasi pecel menjadi hidangan legendaris nan merakyat di Blitar. Menemukan warung nasi pecel di Blitar bukan hal yang susah. Setiap sudut Blitar punya warung pecel yang jadi andalan warga lokal.

Sukarno saat bertemu dengan Presiden Amerika Serikat John F Kennedy tahun 1961
Foto: Dokumentasi jfklibrary.org 

Selain Mbok Pin, ada juga Warung pecel Mbok Rah yang turut menjadi langganan Soekarno. Setiap pulang ke Jakarta, bumbu pecel Mbok Rah dibawanya serta. Bumbu itu pula yang menemani Sukarno dalam lawatan ke mancanegara. Bumbu pecel pun menjadi penolong pertama di saat tidak ada makanan yang cocok dengan lidah Soekarno. Seperti ketika Sukarno di Mongolia di mana semua makanan selalu dicampur susu kuda. “Di sana setiap harinya bapak selalu makan roti dengan sambal pecel saja. Kadang-kadang juga dengan kecap,” ujar Guruh.

Sementara ketika Sukarno melakukan lawatan ke negara-negara Eropa atau Amerika, Sukarno biasanya minta disediakan salad segar tanpa saus kepada manajemen hotel tempat menginap atau kepala rumah tangga istana. Sebagai gantinya, Sukarno menuangkan sambal pecel di atas salad itu.

Istri-istri Sukarno selalu membuat dan menyediakan bumbu pecel di rumah. Dalam buku Suka Duka Fatmawati Sukarno karya Kadjat Adra’i, Fatmawati bahkan tak sungkan belajar membuat bumbu pecel dari bakul. “Belajarnya bisa dari siapa saja, misalnya dari bakul pecel ketika masih di Bengkulu.”

Hartini juga belajar membuat sekaligus menikmatinya demi memenangi perhatian sang suami. “Walaupun sebenarnya Hartini kurang menyukai makanan itu,” ungkap Anjar Any dalam bukunya.


Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE