INTERMESO

Melongok Tempat Fitness Syariah

“Kita berharap para perempuan berjilbab bisa lebih bebas dan ekspresif saat latihan fisik. Nggak malu-malu lagi saat melakukan gerakan.”

Ilustrasi: iStock

Sabtu, 1 Mei 2021

Di luar, perempuan-perempuan muslim ini tampil dengan menggunakan niqab atau hijab. Tapi begitu mereka masuk ke dalam S Fitness Center Muslimah, sebuah pusat kebugaran yang terletak di Jalan Cihampelas, Bandung, mereka nampak seperti orang berbeda. Terutama saat mengikuti kelas belly dance atau tari perut.

Meski tujuannya untuk berolahraga, peserta S Fitness yang kebanyakan mahasiswa dan ibu-ibu ini tidak mau tampil setengah-setengah. Mereka kompak menggunakan kostum khusus untuk tarian yang diyakini berasal dari Turki dan Mesir. Terdiri dari atasan pendek, biasanya diberi untaian koin atau mote. Ditambah sejenis ikat pinggang dan rok atau celana harem.

Sebelum mulai, mereka juga melepas niqab maupun hijabnya. Tarian dengan gerakan mengombak terutama di bagian pinggang ini memang kerap dimanfaatkan untuk membakar kalori dan lemak berlebih di tubuh. “Kostum belly dance kan memang seksi, ya. Pakai atasannya crop top. Totalitas banget mereka kalau udah kelas belly dance. Jadi seru banget kelasnya,” ucap Sri Indah Ihsani, Founder S Fitness Center Muslimah, kepada detikX beberapa waktu lalu.

Tentu para peserta fitness tidak sembarang melepas pakaian yang menutupi aurat mereka. Para hijabers bebas membuka kerudung atau burqanya karena rumah kebugaran ini hanya dihuni oleh para perempuan muslim. Berdiri sejak tahun 2016, S Fitness menjadi tempat pertama khusus perempuan muslimah di Bandung. Hingga kini sudah 300 member yang bergabung. Karena pandemi COVID-19, jumlah member menurun setengahnya.

Dua member S Fitness sedang melakukan olahraga
Foto: Dok S Fitness

Ide mendirikan tempat fitness syariah itu berawal dari keresahan founder dan co founder S Fitness saat mencari tempat olahraga nyaman bagi perempuan muslim. Karena kebanyakan tempat fitness hingga saat ini bercampur antara laki-laki dan perempuan. Hal ini membuat perempuan muslim seperti Indah merasa risih. Melalui S Fitness, Indah berharap bisa membuat perempuan muslim lebih aktif dalam berolahraga.

Selain itu kalau pakai celana legging dan crop top untuk olahraga, kita jadi tahu progress perkembangan olahraga kita."

“Dengan didirikannya S Fitness kita berharap para perempuan berjilbab bisa lebih bebas dan ekspresif saat latihan fisik. Nggak malu-malu lagi saat melakukan gerakan,” ujar lulusan Magister Sport and Science Institut Teknologi Bandung ini. Mulai dari staf sampai pengajar di S Fitness merupakan perempuan muslim, sehingga peserta merasa nyaman.

S Fitness selain dikhususkan untuk perempuan muslim, juga untuk mengakomodir perbedaan prinsip dalam hal membuka aurat di hadapan perempuan non muslim. Ada yang berpendapat boleh membuka aurat di depan perempuan non muslim, namun ada pula yang tidak setuju.

“Yang saya pelajari, yang bukan muhrim itu termasuk non Islam walaupun sama-sama perempuan. Itu juga prinsip yang saya pegang. Dan di kalangan teman-teman muslim bercadar prinsip semacam ini diterima. Mereka menyambut baik konsep S Fitness ini dan punya kepercayaan terhadap kami,” kata Indah. Selain belly dance, S Fitness menyediakan berbagai bentuk olahraga lain, seperti pilates, yoga, zumba dan sebagainya.

Tidak banyak tempat olahraga menawarkan kenyamanan seperti S Fitness. Itu sebabnya Miranti begitu girang saat menemukan tempat fitness semacam ini di Bandung. Ia bergabung di awal tahun 2016. Selama ini Miranti merasa tidak nyaman berolahraga di luar ruangan meski sudah menggunakan pakaian khusus olahraga untuk perempuan muslim. Terutama saat Miranti merasa gerah dan berkeringat setelah olahraga, namun ia tidak bisa leluasa melepaskan hijab.

“Selain itu kalau pakai celana legging dan crop top untuk olahraga, kita jadi tahu progress perkembangan olahraga kita. Dan saat melakukan gerakan angkat beban misalnya, jadi ketahuan kalau misalkan ada gerakan yang salah, bagaimana pun tetap lebih nyaman baju khusus olahraga biasa,” ujar Miranti yang bekerja sebagai peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Bandung. Di S Fitness Miranti bisa menggunakan atasan crop top dan celana legging untuk olahraga.

Seorang sember sedang melakukan angkat beban
Foto: Dok S Fitness

Olahraga sudah jadi bagian gaya hidup Miranti. Sejak SMP, Miranti sudah mengalami kelebihan berat badan. Ia baru mulai berolahraga saat duduk di bangku kuliah. Biasanya Miranti memilih olahraga lari. Namun ia sempat vakum saat mengalami cedera lutut. Dokter yang memeriksanya menyarankan Miranti untuk olahraga di tempat fitness.

Semenjak itu Miranti berolahraga di S Fitness. “Motivasi utamanya memang karena mau nurunin berat badan. Tahun lalu awal pandemi sempat naik dari 64 kg jadi 72 kg. Tapi sekarang sudah 3 bulan rutin olahraga lagi. Alhamdulillah sudah turun malah jadi 62 kg,” tuturnya.

Selain S Fitness, ada pula tempat olahraga yang menawarkan konsep syariah. Ichan Moksa sempat menjajal berkonsep syariah saat dirinya masih tinggal di Makassar. Selama enam bulan ia sempat nge-gym di tempat itu sebelum akhirnya pindah ke Jakarta. Tempat gym bernama Khair Fitness ini menempati sebuah ruko tak jauh dari rumahnya. “Saya olahraga di sana karena kebetulan lokasinya dekat rumah. Kebetulan yang ada saat itu tempat fitness syariah. Waktu itu di tahun 2017 baru buka, nggak tahu sekarang masih ada apa nggak,” katanya.

Tempat gym ini tidak bercampur antara lawan jenis, sehingga sangat kondusif dan aman terutama untuk perempuan fitness. Jika dilihat dari luar, Khair Fitness tidak ada bedanya dengan tempat kebugaran lain. Dilengkapi dengan alat olahraga seperti treadmills, sepeda statis dan sejumlah alat angkat beban. Bedanya di Khair Fitness dilengkapi dengan ruangan untuk sholat.

Selain itu menurut pengalaman Ichan, tidak ada foto figur fitness yang menampilkan aurat. Musik yang digunakan pun bukan musik dengan irama penuh hentakkan layaknya musik dugem. Terkadang Ichan berolahraga sambil diiringi musik religi yang menurutnya juga ampuh membangkitkan motivasi.


Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE