INTERMESO

Yang Hilang karena Gempa Malang

Gempa bumi di Malang menyisakan duka. Mereka kehilangan harta benda dan keluarga.

Foto: Dampak gempa Malang (Zabur Karuru/ANTARA Foto)

Minggu, 11 April 2021

Sudarmi kini hanya bisa berharap pada kebaikan hati tetangganya. Untuk waktu yang tak bisa ditentukan, Sudarmi harus menumpang berteduh di rumah tetangga sekitar di Dusun Tawing, Desa Ngadisuko, Kecamatan Durenan, Trenggalek, Jawa Timur. Sebab, rumah yang selama ini dihuninya roboh akibat gempa.

Atap dan genting rumah sederhana berukuran 15 x 4 meter itu runtuh akibat diguncang gempa pada Sabtu, 10 April 2021, di saat matahari mulai tergelincir. Hanya bagian dinding yang masih tegak berdiri, itu pun sudah keropos dan usang. “Rumah ini dibangun tahun 1990. Tinggal bagian dapur kecil ini saja yang masih utuh,” ucap Sudarmi.

Pada saat lindu datang, Sudarmi sedang duduk-duduk di ruang tamu. Tiba-tiba, telinganya mendengar suara gemuruh yang lalu disusul oleh guncangan keras. Perempuan yang telah berusia lanjut itu kemudian ke luar rumah untuk menyelamatkan diri. Sudarmi melihat dengan mata kepalanya sendiri rumah satu-satunya yang ia tinggali ambruk digoyang gempa.

Sudarmi, salah satu penduduk Trenggalek yang harus mengungsi karena rumahnya roboh akibat gempa
Foto: 20Detik

Sudarmi tidak tahu kapan ia dapat kembali membangun rumahnya yang rusak parah. Selama ini, ia tinggal sebatang kara di Dusun Tawing. Tidak punya keluarga maupun saudara yang dapat diandalkan untuk membantunya. “Ndak punya anak, ndak punya saudara, ndak punya suami. Saya tinggal sendirian,” ujar Sudarmi dengan tatapan nanar.

Sempat melambai-lambaikan tangannya pas saya berangkat kerja. Padahal biasanya tidak pernah."

Sudarmi bukan satu-satunya penduduk yang harus kehilangan tempat tinggal akibat gempa M 6,1 yang berpusat di laut Malang. Di Trenggalek, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat mencatat 65 bangunan roboh karena lindu. Dan selain di Trenggalek, 11 kabupaten/kota di Jawa Timur terdampak gempa yang menyebabkan banyak rumah penduduk dan bangunan lainnya roboh.

Dampak cukup parah terlihat di Kabupaten Malang yang dekat dengan pusat gempa. Pemerintah Kabupaten Malang menetapkan tanggap darurat kebencanaan. Sebanyak 1.697 rumah dan bangunan mengalami kerusakan dari ringan hingga sedang. Gempa juga membawa korban jiwa tiga penduduk Kabupaten Malang.

Suasana pengungsian korban gempa di Lumajang
Foto: Zabur Karuru/ANTARA Foto

Suwarni sampai saat ini masih merasa bersalah mengapa didirinya nekat pergi dari rumah untuk berangkat kerja pada Sabtu pagi kemarin. Padahal, hari itu, entah mengapa, hatinya ragu-ragu untuk meninggalkan anaknya, Imam Santoso, 26 tahun, seorang diri. Imam adalah seorang yang memiliki riwayat gangguan jiwa.

Tapi, kewajiban juga harus ditunaikan. Usai menyuapi anaknya, Suwarni yang tinggal di Desa Sidorenggo, Kecamatan Ampel Gading, Kabupaten Malang, ini, berangkat bekerja. Anaknya sempat melambaikan tangan kepada Suwarni. “Sempat melambai-lambaikan tangannya pas saya berangkat kerja. Padahal biasanya tidak pernah,” tuturnya.

Imam menghabiskan waktu di kamar pada siang harinya. Nahas, begitu gempa terjadi, ia tak sempat bisa menyelamatkan diri. Imam tertimpa atap rumah yang terbuat dari semen. “Anak saya tertimpa cor-coran,” kata Suwarni. Suwarni yang masih berada di tempat kerjanya mendengar kabar anaknya terjebak reruntuhan. Namun, begitu tiba di rumah, ia harus mendapati kenyataan anaknya telah meninggal karena gempa.

Anak-anak berada di antara puing bangunan yang roboh di Majangtengah, Malang, akibat gempa.
Foto: Ari Bowo Sucipto/ANTARA Foto 

Hingga Minggu sore, terdapat tiga penduduk Ampel Gading Kabupaten Malang, meninggal dunia akibat gempa, termasuk Iman. Dua korban meninggal lainnya adalah Munadi, 70 tahun, warga Desa Wirotaman, dan Misni, 53 tahun, warga Desa Tamanasri.

Jumlah korban meninggal paling besar terjadi di Kecamatan Tempursari, Kabupaten Lumajang, yakni lima orang dinyatakan meninggal karena gempa. Identitas para korban adalah dua warga Desa Tempurrejo (Ahmad Fadholi dan Sriyani), dan tiga warga Kaliuling (Juwanto, H, Nasar, dan Bonami).

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyebut korban meninggal akibat gempa Malang mendapatkan santunan Rp 10 juta dari pemerintah. Pemerintah juga akan menanggung seluruh pengobatan korban yang mengalami luka-luka.


Penulis: Tim detikcom

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE