INTERMESO

Karena Corona Hidupku Tak Lagi Sama

“Kenyataannya sampai sekarang sudah mau enam bulan tubuh saya belum kembali normal.”

Ilustrasi: Edi Wahyono

Minggu, 21 Februari 2021

Daniel Farhan tak lagi bersemangat ketika disajikan sepiring nasi goreng lengkap dengan kerupuk dan acar kesukaannya. Makan siangnya itu ia tandaskan dengan raut wajah datar tanpa ekspresi. Sejak terpapar virus COVID-19, Farhan tidak lagi bereaksi kalau nasi gorengnya dimasak terlalu asin atau terlalu pedas. Ia telah kehilangan indera perasa dan penciumannya.

“Masih mending hambar, ini sama sekali nggak ada rasanya. Cuma tekstur doang. Di rumah juga udah nggak pernah ditanya lagi makannya enak atau nggak. Pecuma kan saya nggak bisa ngerasain makanan,” kata Farhan saat dihubungi detikX beberapa waktu lalu.

Pertengahan Oktober tahun lalu, Farhan harus menelan pil pahit. Hasil tes Swab PCR di salah satu rumah sakit swasta di Bogor menyatakan dirinya positif COVID-19. Padahal sebelumnya Farhan yang baru saja lulus dari Universitas Pasundan Bandung ini tak pernah sekalipun mendengar atau mengetahui keluarga dan kerabatnya terinfeksi COVID-19.

Farhan juga tak tahu menahu mengapa dirinya bisa terinfeksi virus itu. “Sebelum positif, saya sempat bolak balik ke dokter gigi dan rumah sakit karena ada masalah dengan pencernaan. Bisa jadi terpaparnya dari situ, tapi cuma dugaan aja. Ini murni keteledoran saya,” ucap Farhan.

Pria berusia 22 tahun ini mengawali sakitnya dengan berbagai gejala, mulai dari batuk, mual dan demam. Ketika bangun di pagi hari Farhan mencium aroma busuk menyengat di hidungnya. Ketika mengecek kondisi sekitar, Farhan tidak bisa menemukan sumbernya. Semenjak saat itu pula Farhan tidak lagi bisa mencium aroma dan merasakan rasa. Sering kali Farhan mencocokkan bau minyak kayu putih ke lubang hidungnya, namun hasilnya nihil.

Daniel Farhan, salah satu penyintas COVID-19
Foto : Dok pribadi Daniel Farhan (Instagram)

Setelah mendapat perawatan di rumah sakit selama 13 hari, Farhan yang mengambil jurusan Administrasi Negara ini resmi menyandang status sebagai penyintas. Hasil swab ketiga menyatakan dirinya bebas dari COVID-19. Meski kondisinya sedikit membaik, indera penciuman dan perasanya belum pulih benar. Walaupun begitu, Farhan optimis kondisinya akan berangsur membaik. Farhan mengira hidupnya akan kembali normal seperti dulu kala.

Banyak yang akhirnya dipotong gaji bahkan dipecat karena tidak produktif di pekerjaan. Ada juga satu ibu rumah tangga sampai kirim pesan ke saya. Dia mengeluh karena nggak bisa mencium aroma dan merasa sampai sudah enam bulan."

“Kenyataannya sampai sekarang sudah mau enam bulan tubuh saya belum kembali normal. Saya masih mencium aroma busuk itu. Kalau penciuman udah balik 70 persen tapi perasa masih 50 persen," cerita Farhan yang pernah magang di Kementerian Sekretariat Negara RI ini. “Terutama juga produk olahan susu seperti yogurt, susu, keju rasanya aneh, susah dijelasin.” Setiap pagi dan malam hari, Farhan juga selalu mengalami hidung tersumbat.

Segala cara sudah Farhan tempuh untuk mengembalikan indera penciuman dan perasanya. Selama tiga bulan setelah dinyatakan negatif, Farhan bolak balik ke rumah sakit untuk melakukan perawatan di dua dokter Telinga, Hidung, dan Tenggorokan (THT) berbeda. Mulai dari endoskopi sampai CT Scan sudah dilakukan untuk menemukan kelainan pada hidungnya. Dokter pun sampai angkat tangan. Mereka tak menemukan keanehan pada organ yang berkaitan.

“Setiap konsultasi ke dokter saya sampai yang dalam hati bilang udah nggak masalah kena polip atau sinus yang penting jelas ada penyakitnya. Kalau begini udah dinyatakan sehat sembuh dari COVID-19, dokter THT juga bilang normal, tapi saya masih merasakan sakit. Saya jadi bingung, dokternya juga bingung mau kasih treatment apalagi,” keluhnya. Kondisi ini membuat Farhan begitu frustasi. “Akhirnya salah satu dokter menyarankan untuk tunggu sampai genap enam bulan. Karena pasiennya ada yang akhirnya sembuh total setelah enam bulan. Kalau memang belum sembuh juga saya bakal dirujuk ke dokter syaraf, ini sudah dikasih surat rujukannya.”

Potret para pasien Corona saat melakukan senam di Stadion Patriot Candrabhaga, Bekasi, 17 November 2020.
Foto : Rengga Sancaya/detikcom

Fenomena gejala berkepanjangan yang dialami Farhan ini merupakan Long COVID atau Long Term COVID. Ini merupakan suatu keadaan di mana seorang penyintas COVID-19 yang telah dinyatakan negatif dan tidak menular, namun masih memiliki berbagai keluhan dan menurunkan kualitas hidup penderitanya. Long COVID sendiri bukanlah istilah medis. Sampai saat ini penelitian mengenai Long COVID masih berlangsung.

Istilah itu diperkenalkan oleh Dr. Elisa Perego asal Lombardy, Italia, yang pada waktu itu merupakan daerah yang paling terdampak COVID-19. Ia merupakan peneliti dan penyintas yang masih memiliki berbagai keluhan. Sejauh ini ada sebanyak lebih dari 200 macam keluhan yang meliputi hampir seluruh bagian tubuh manusia. Long COVID juga telah dilaporkan berdampak pada neuropsikiatri, termasuk kesehatan mental pada penderitanya.

Berdasarkan penelitian yang dilansir Medical Xpress, Angelo Carfi MD dari Fondazione Policlinico Universitario Agostino Gemelli IRCCS di Roma dan rekannya menemukan bahwa sebanyak 25,3 persen penyintas COVID-19 masih bergejala hingga 60 hari pasca dinyatakan negatif COVID-19. Sedangkan 14,8 persen masih bergejala hingga 90 hari.

Juno Simorangkir, pendiri komunitas COVID Survivor Indonesia sekaligus penyintas COVID-19, menyayangkan belum adanya perhatian khusus mengenai fenomena Long COVID ini, terutama dari pemerintah. Padahal Juno kerap kali menerima keluhan dari para penyintas yang tergabung dalam komunitasnya.

“Banyak yang akhirnya dipotong gaji bahkan dipecat karena tidak produktif di pekerjaan. Ada juga satu ibu rumah tangga sampai kirim pesan ke saya. Dia mengeluh karena nggak bisa mencium aroma dan merasa sampai sudah enam bulan. Saking stress-nya dia sampai mau bunuh diri karena dia kan harus menyiapkan makanan untuk keluarga tapi nggak bisa karena gejala itu,” ungkapnya.


Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE