INTERMESO

Dipaksa Menjadi
Budak Seks Jepang

Ratusan ribu perempuan di beberapa negara Asia, termasuk Indonesia, diculik dan ditawan oleh tentara Jepang pada Perang Dunia II. Mereka diperkosa dan dipaksa menjalani perbudakan seksual atau yang disebut ianfu.

Foto: AP via BBC

Sabtu, 24 Oktober 2020

Air mata Mardiyem kembali meleleh ketika mengingat kembali tragedi yang merenggut masa kanak-kanaknya. Meski peristiwa memilukan itu telah terjadi puluhan tahun silam, rasa trauma masih membayangi kehidupan Mardiyem. Ketika usianya 13 tahun, ia ditawan di markas sebagai jugun ianfu, sebutan untuk perempuan yang dipaksa menjadi budak seks oleh tentara Jepang.

Mardiyem berkisah ada tetangganya yang baru pulang dari Kalimantan menawarinya bekerja sebagai penyanyi. Tetangganya menyampaikan kabar bahwa pemerintah Jepang membuka lowongan kerja bagi perempuan untuk dipekerjakan sebagai pelayan restoran dan pemain sandiwara di Kalimantan.

"Saya waktu itu pintar menyanyi keroncong," kata Mardiyem, yang saat tengah menceritakan kisahnya berusia 73 tahun. Kesaksian itu dimuat dalam buku Momoye: Mereka Memanggilku, Biografi Sejarah Jugun Ianfu di Indonesia (2007) karya Eka Hindra dan Koichi Kimura. Mardiyem meninggal dunia bersamaan dengan tahun buku itu terbit.

Mendengar kabar adanya lowongan kerja itu, Mardiyem begitu gembira. Membayangkan dirinya dapat mewujudkan cita-cita sebagai penyanyi. Ketika ia diberangkatkan dari Yogyakarta ke Telawang, sebuah perkampungan di pinggir Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, hatinya begitu berbunga-bunga.

Almarhumah Mardiyem 
Foto : jurnalperempuan.org

Begitu tiba di sana, Mardiyem dan 24 orang temannya, yang kebanyakan berasal dari Ambarawa, Jawa Tengah, menempati rumah panjang yang telah disekat menjadi 24 kamar. Rumah panjang itu lebih mirip sebuah barak tentara. Setiap orang menempati sebuah kamar berukuran 7,5 meter persegi dengan perlengkapan sebuah tempat tidur, meja, dan kursi. “Saya menempati kamar nomor 11 dan mendapat panggilan nama Momoye,” ujar Mardiyem.

Kalau saya tidak berani menelanjangi diri di dunia internasional menangani jugun ianfu, selamanya jugun ianfu tidak akan mendapatkan keadilan. Saya sudah capek dicemooh. Saya ingin semua orang, terutama generasi muda, tahu seluruhnya."

Namun saat itu firasat buruk segera menyelimuti Mardiyem. Firasat buruk Mardiyem berubah menjadi kenyataan. Mardiyem harus menelan pil pahit. Cita-citanya sebagai penyanyi harus kandas. Mardiyem kala itu masih berumur 13 tahun, belum lagi datang bulan. Tiba-tiba ia dia dipaksa melayani nafsu tentara Jepang. Belum hilang rasa nyeri yang dideritanya, datang lagi lelaki kedua, menyetubuhinya tanpa memberinya kesempatan untuk beristirahat.

Dalam sehari, Mardiyem dipaksa melayani hingga 15 tentara Jepang sekaligus. Akibatnya, organ reproduksinya mengalami pendarahan hebat. Insiden inilah yang menyebabkan Mardiyem harus melakukan operasi pengangkatan rahim pada 1950.

"Keluar darah terus-menerus, sempat diobati dan kering. Hingga akhirnya tahu-tahu saya hamil," beber Mardiyem. Begitu tahu dirinya hamil, pihak tentara Jepang langsung berusaha menggugurkan kandungannya. "Perut saya ditekan secara paksa pada usia kandungan 5 bulan," tuturnya sambil menunjukkan kesedihan hingga kerut-kerut kulit keriputnya semakin jelas.

Mardiyem menjadi jugun ianfu selama kurun waktu 1943-1945. Mardiyem bersama perempuan lain yang selamat dibebaskan ketika pemerintah Jepang angkat kaki dari Indonesia. Saat Jepang kalah dalam Perang Dunia II, Agustus 1945, para gadis korban ianfu itu dilepas begitu saja. Mereka kehilangan arah, dan kesulitan pulang ke rumah. Negara sibuk dengan urusan kemerdekaannya, sehingga para korban tidak mendapatkan pernyataan resmi dari pemerintah, dan dengan sendirinya menjadi orang buangan.

Tentara Jepang dalam Perang Dunia II
Foto: dok. BBC

Mardiyem sempat berangkat ke Jepang untuk memperjuangkan hak-haknya sebagai jugun ianfu. Dia beserta empat jugun ianfu lainnya didampingi empat pengacara dari sejumlah LSM berjuang di pengadilan masyarakat internasional, Tribunal, Tokyo, pada 2000. Pengadilan pun memenangkan gugatan seluruh jugun ianfu se Asia, dan menyatakan bersalah kepada Kaisar Akihito karena melakukan kejahatan kemanusiaan secara sistematis. Masyarakat Jepang menganggap jugun ianfu hanyalah pekerja seks komersial biasa, dan tidak memandang adanya kejahatan perang.

“Kalau saya tidak berani menelanjangi diri di dunia internasional menangani jugun ianfu, selamanya jugun ianfu tidak akan mendapatkan keadilan. Saya sudah capek dicemooh. Saya ingin semua orang, terutama generasi muda, tahu seluruhnya. Tidak hanya sepotong-potong, agar mereka tahu dan mengerti bahwa menjadi jugun ianfu bukan mau kami dan bahwa kami bukan pelacur,” ungkap Mardiyem.

Pada saat mantan jugun ianfu bebas dan mulai bersosialisasi, masyarakat luar justru mengucilkan dan menjauhi mereka. Hal inilah yang sempat membuat mereka menutup diri dari masyarakat. Hingga pada 1992 mulai terjadi pergerakan dari para mantan jugun ianfu. Mereka meminta pemerintah Indonesia menuntut pemerintah Jepang untuk mengakui dan meminta maaf.

Keterbukaan informasi dari praktik perbudakan seksual terjadi ketika seorang perempuan bernama Tuminah dari Solo, yang merupakan korban ianfu pertama dari Indonesia, berani berbicara kepada publik. Tuminah bersaksi atas semua kebrutalan seksual yang dia alami selama masa pemerintahan Jepang di Solo pada 1942-1945. Keberanian Tuminah muncul berkat dukungan Dr Koichi Kimura, seorang aktivis dan teolog Jepang. Kesaksian Tuminah tersebut dimuat di koran Suara Merdeka yang ditulis oleh Joko Santoso, yang juga dikenal sebagai penyair Solo bernama Gojak.

Patung budak seks Jepang di Korea Selatan sebagai simbol kebiadaban tentara Jepang selama Perang Dunia II 
Foto: dok. Getty Images via BBC

Jugun ianfu merupakan salah satu upaya pemerintah Jepang untuk memenuhi semua kebutuhan prajuritnya. Mulai kebutuhan sandang, pangan, hingga kebutuhan seksual di daerah yang dikuasainya. Hal ini guna menjaga semangat dan ketahanan fisik prajurit selama berada di medan perang. Karena itu, pemerintah Jepang di Indonesia pada saat itu mendatangkan sejumlah wanita yang sengaja dipekerjakan guna memenuhi kebutuhan seksual tentara Jepang yang bertugas di Indonesia.

Fenomena jugun ianfu ini muncul hampir di seluruh daerah jajahan Jepang pada masa itu, yaitu Indonesia, Malaysia, China, Korea Utara, Korea Selatan, Taiwan, Filipina, dan Timor Leste, yang diduduki Jepang selama masa penjajahan 1931-1945. Perekrutan jugun ianfu ini dilakukan secara paksa dan tanpa pandang bulu. Bahkan perempuan Belanda yang pada saat itu masih berada di Indonesia pun tidak luput dari sasaran perekrutan.

Jumlah korban yang menjadi budak seks pun tidak dapat dipastikan dengan jelas. Selain karena kurangnya dokumentasi resmi yang mencatatnya, dokumen-dokumen terkait hal itu sudah dimusnahkan oleh pemerintah Jepang sendiri. Menurut sejarawan Yoshiaki Yoshimi, yang melakukan penelitian akademis pertama, diperkirakan ada 50 ribu sampai 200 ribu wanita yang diculik dan ditempatkan di rumah bordil militer. Sejarawan China Hua Lun Huang dalam buku The Missing Girls and Women of China, Hong Kong and Taiwan: A Sociological Study of Infanticide, Forced Prostitution, Political Imprisonment, “Ghost Brides”, Runaways and Thrownaways menyebut jumlahnya 360-410 ribu orang.


Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE