INTERMESO

Anarko Sindikalis dan Jejak Anarkisme di Indonesia

Kelompok anarko sindikalis diduga berada di balik kerusuhan demonstrasi menentang omnibus law UU Cipta Kerja. Jejak anarkisme sudah ada di Indonesia sejak zaman kolonial Belanda.

Ilustrasi: Edi Wahyono

Selasa, 13 Oktober 2020

Lebih dari seribu remaja ditangkap dalam aksi demonstrasi menolak Undang-Undang Cipta Kerja di Jakarta pekan lalu. Polisi menyebut sebagian besar remaja yang melakukan perusakan dan pembakaran sejumlah fasilitas umum itu adalah anggota anarko sindikalis. Mereka datang ke Jakarta untuk berbuat kerusuhan, mendompleng unjuk rasa menolak UU yang baru diketok DPR itu.

Pada 1 Mei 2019, dalam demonstrasi peringatan Hari Buruh Sedunia (May Day) di Bandung, Jawa Barat, Jenderal Tito Karnavian, yang waktu itu masih menjabat Kapolri, juga mengungkap adanya kelompok anarko sindikalis yang terlibat dalam demonstrasi. Personel anarko sindikalis, yang mengenakan pakaian serbahitam, disebut sebagai dalang kerusuhan.

Anarko sindikalis, menurut Tito, adalah paham di mana para pekerja ingin bekerja dengan bebas, tidak terikat dengan aturan. Salah satu ciri kelompok ini adalah coretan simbol 'A', yang jejaknya ditinggalkan dalam setiap kegiatan. Paham anarko sindikalis menyebar dari Eropa, Amerika Selatan, dan Asia. Di Indonesia, paham itu masuk beberapa tahun lalu dan tumbuh di kota-kota besar, seperti Yogyakarta, Surabaya, Malang, dan Makassar.

Banyak varian anarko selain sindikalis, antara lain anarko individualis, anarko antifasis, anarko komunis, anarko feminis, dan masih banyak lagi. Semuanya adalah cabang paham anarkisme. Istilah anarko sindikalis atau revolusioner sindikalis muncul saat paham itu diadopsi gerakan buruh. Rudolf Roker dalam buku Anarchism and Anarcho Syndicalism (1949) mengatakan banyak kaum anarkis menghabiskan sebagian aktivitas mereka di pergerakan buruh, sehingga melahirkan gerakan anarkis sindikalis.

Anarkisme itu sendiri, seperti diuraikan Roker, adalah pemikiran sosial yang penganutnya menganjurkan penghapusan kapitalisme dan menggantinya dengan kepemilikan bersama. Kaum anarkis juga menginginkan penghapusan semua institusi sosial-politik yang ada di masyarakat. Negara dengan lembaga politik berikut birokrasinya diganti dengan komunitas bebas yang terikat satu sama lain oleh kepentingan sosial-ekonomi.

Kelompok anarko sindikalis (berpakaian hitam-hitam) yang diamankan seusai demo May Day di Surabaya pada 2019
Foto: dok. detikcom

Dengan kata lain, seperti tertuang dalam sebuah tulisan di situs Anarkis.org, anarkisme adalah pemikiran yang mendambakan suatu orde yang spontan. Para penganut anarkisme umumnya menolak prinsip otoritas politik. Pada saat yang sama, mereka percaya bahwa keteraturan sosial akan terwujud tanpa adanya otoritas politik itu. Bentuk otoritas politik yang ditentang kaum anarkis adalah yang jelas dimiliki negara modern.

Mikhail A Bakunin (1814-1846) adalah seorang filsuf Rusia yang sering dianggap sebagai ‘kakek’ penganut anarkisme. Bima Satria Putra, dalam buku Perang yang Tidak Akan Kita Menangkan: Anarkisme dan Sindikalisme dalam Pergerakan Kolonial Hingga Revolusi Indonesia (1908-1948), bilang Bakunin adalah teman sekelas sekaligus lawan debat Karl Marx dalam forum Asosiasi Pekerja Internasional (Internasional I) pada 1864-1876.

Silang pendapat Bakunin-Marx terletak pada ide diktator proletariat. Karl Marx dan pengikutnya berpendapat masyarakat tanpa kelas dapat terwujud dengan alat-alat produksi yang telah direbut dari tangan para borjuis yang dikelola oleh negara. Sedangkan Bakunin dan penyokongnya menolak kehadiran negara. Mereka mengajukan gagasan tentang kepemilikan langsung alat-alat produksi itu di bawah asosiasi-asosiasi buruh.

Bima menjelaskan cukup lengkap dan runtut mengenai sejarah anarkisme yang tumbuh dan berkembang di Indonesia sejak era kolonial Belanda. Jejak pertama adalah kritik tajam terhadap sistem kolonialisme yang dilontarkan seorang keturunan Belanda, Eduard Douwes Dekker. Tulisan tokoh bernama samaran 'Multatuli' itu telah menginspirasi dan membangkitkan opini publik melawan penjajah.

Lalu anarkisme menyebar seiring menguatnya gerakan kalangan kiri di Indonesia. Pada awal abad ke-20, bermunculan sindikat-sindikat pekerja, seperti serikat buruh kereta api (VSTP) dan Perhimpunan Sosial Demokrat Indonesia (ISDV) pada 1914. Tokoh-tokoh awal Partai Komunis Indonesia (PKI), sebut saja Semaun, Darsono, Alimin, dan Muso, berperan sebagai kunci penggerak organisasi-organisasi tersebut.

Mikhail A. Bakuni
Foto: dok. BBC

Aksi pemogokan kerap dilancarkan untuk menuntut hak-hak para pekerja. Ambil satu kasus: pemogokan besar-besaran VSTP pada 1923 untuk menuntut kerja 8 jam dan diakhirinya pemecatan buruh tanpa alasan oleh perusahan. Pemogokan itu berakhir dengan pemecatan buruh yang ikut aksi mogok dan penangkapan pemimpin VSTP. Belanda pun mengawasi secara ketat jalur-jalur kereta api yang rawan disabotase.

Menurut Bima, paham anarkisme di Indonesia menurun sejak 1926, ketika PKI gagal melakukan pemberontakan terhadap Belanda. Sejak 1965, gerakan kelompok kiri praktis disingkirkan dari Indonesia hingga akhirnya menjelang kejatuhan Orde Baru muncul Partai Rakyat Demokratik (PRD). Bukannya mati, setelah akhir Orde Baru itu, anarkisme dan  sindikalisme ternyata muncul dalam bentuk lain.

“Keduanya muncul kembali dengan masuknya subkultur punk dan skinhead di Indonesia. Kemunculan ‘generasi kedua’ ini, selain membuat grup musik, mereka membentuk berbagai kolektif anarkis dan berjejaring pada aras nasional dengan sporadis,” papar Bima.

Kelompok ini cukup aktif mengkampanyekan lagu-lagu bernada anarkisme dan anti-otoritarian. Salah satu grup band anarcho-punk yang muncul adalah Runtah, yang dibentuk pada 1995 di Bandung. Para anarcho-punk lalu direkrut oleh PRD selama satu dekade terakhir Orde Baru dengan membentuk Front Anti Fasis (FAF). FAF menginisiasi dua konsolidasi nasional, yang gagal.

Pertama, pada 1999 dengan munculnya Jaringan Anti Fasis Nusantara (JAFNus). Namun jaringan ini bubar dengan sendirinya. FAF juga dibubarkan oleh Gerakan Pemuda Ka’bah karena dianggap berbau komunis. Kedua, konsolidasi dilakukan pada awal 2007 dengan membentuk Jaringan Anti-Otoritarian (JAO). JAO sebenarnya semacam bentuk asosiasi bebas jejaring kolektif anarkis di Indonesia.

Vandalisme yang dilakukan pendemo saat menolak UU Cipta Kerja di Jakarta, Kamis, 8 Oktober 2020. Tampak simbol anarkisme ditulis di fasilitas umum yang dirusak.
Foto: Rachman Haryanto/detikcom

Pada Hari Buruh 1 Mei 2007, JAO tampil di hadapan publik untuk mengetahui respons dari pihak lain terhadap gerakan mereka. Dan pada Hari Buruh setahun sesudahnya, untuk pertama kali bendera hitam berlogo 'A' dilingkari berkibar dalam aksi tunggal anarkis. Hampir 200 orang anggota JAO dari berbagai kota melakukan long march dari STIE Perbanas, Jakarta, ke Wisma Bakrie 2 sebagai protes bencana lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur.

Para anarkis memilih terlibat dalam aksi langsung, baik okupasi maupun blokade, serta terlibat dan mendukung pertempuran jalanan dalam melawan kapitalis dan represi negara. Kota-kota besar di Indonesia menjadi penyumbang barisan anarkis yang radikal. Sejak 2007, makin banyak gelombang perlawanan yang ditunjukkan oleh para anarkis di Indonesia. Sebagian harus mengalami penangkapan dan pemenjaraan.

“Dua orang anarkis Eat dan Billy tertangkap beberapa jam setelah peledakan ATM BRI di Sleman. Pengeboman tersebut sebagai bentuk solidaritas terhadap Tukijo, petani di Kulon Progo yang dipenjara 2 tahun 6 bulan karena aktivitas antitambangnya,” tulis Bima.

Kekerasan, perusakan, dan pemberontakan bukanlah metode tunggal untuk para anarkis. Namun tindakan-tindakan tersebut dapat mempengaruhi siklus kapital serta psikologi pasar secara langsung. Dalam beberapa aksi yang dilakukan tanpa henti, pemerintah akhirnya mengubah kebijakan. Contohnya demo buruh menolak Undang-Undang Tenaga Kerja pada 2001 di Bandung yang berujung rusuh. UU tersebut dibatalkan.

Bima berkesimpulan ada beberapa pendorong tumbuhnya anarkisme di Indonesia pada masa kini. Pemuda-pemuda yang terasing di perkotaan menemukan anarkisme sebagai kritik terhadap konsumerisme. Anarkisme tumbuh karena rutinitas hidup yang dihabiskan untuk bekerja bagi kapitalisme. Di samping itu, anarkisme menawarkan kerangka kerja untuk mengkritik negara dan struktur sosial yang menindas.


Penulis: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE