INTERMESO

Kudeta G30S

Kisah Penemuan Sumur Maut Lubang Buaya

“Jangan-jangan para korban yang dicari diceburkan di sumur itu.”

Foto: Daerah Lubang Buaya dipotret dari udara sebelum pembangunan Monumen Pancasila Sakti (Repro dari buku Monumen Pancasila Sakti [1988] karya Soedjono)

Rabu, 30 September 2020

“Tong, di situlah daerah latihan Pemuda Rakyat, BTI (Barisan Tani Indonesia), Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia), dan ormas PKI (Partai Komunis Indonesia) lainnya. Di situ kamu periksa semua, karena di tempat itulah mereka disiksa. Kalau mereka dibunuh, juga di sekitar tempat itulah adanya,” begitu perintah Letnan Satu Feisal Tanjung, Komandan Kompi Tanjung Batalion 2 Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD), yang sekarang bernama Komando Pasukan Khusus/Kopassus) kepada Letnan Dua Sintong Panjaitan, Komandan Peleton 1/A Kompi Tanjung, pada Minggu, 3 Oktober 1965.

Feisal, mantan Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (kini Tentara Nasional Indonesia/TNI) dan Sintong Panjaitan, Penasihat Presiden Bidang Pertahanan dan Keamanan di era Presiden BJ Habibie pada 1999, adalah saksi sekaligus pelaku sejarah di seputar peristiwa Gerakan 30 September (G30S) tahun 1965. Seperti tertuang dalam buku biografi Sintong Panjaitan, Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando (2009), keduanya pernah ditugasi dalam operasi penumpasan gerakan kudeta tersebut.

Beberapa peleton dari Kompi Tanjung Batalion 1 RPKAD ditugasi menyisir Desa Lubang Buaya, Kecamatan Pondok Gede, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat (sekarang menjadi Kelurahan Lubang Buaya, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur). Pencarian hilangnya tujuh jenderal adalah salah satu fragmen penting G30S. Para jenderal dan perwira pertama TNI itu diculik dan dibunuh tujuh regu pasukan Pasopati dari Tjakrabirawa atas perintah Kolonel Untung (Komandan Batalion I Kawal Kehormatan Tjakrabirawa) pada Kamis, 30 September 1965, malam, hingga Jumat, 1 Oktober 1965 Subuh.

G30S, yang melibatkan beberapa pentolan PKI, dianggap sebuah kudeta di tubuh Angkatan Darat dan pemerintahan Sukarno. Peristiwa 55 tahun lalu itu menjadi sejarah kelam bagi bangsa Indonesia. Kudeta gagal itu menyebabkan gugurnya sejumlah perwira tinggi AD. Jenderal TNI Ahmad Yani (Menteri/Panglima Angkatan Darat/Kepala Staf Komando Operasi Tertinggi) dan Mayjen TNI Donald Izacus Panjaitan (Asisten IV Menteri/Panglima AD bidang Logistik) gugur ditembak saat diculik di rumah dinasnya. Sementara itu, Jenderal TNI Abdul Haris Nasution berhasil meloloskan diri walau kakinya terkena peluru.

Sumur tua Lubang Buaya yang digunakan untuk mengubur jenazah para jenderal dalam peristiwa kudeta G30S tahun 1965
Foto: Buku Kudeta 1 Oktober 1965, Sebuah Studi tentang Konspirasi (2005) karya Victor M Fic

Empat jenderal lainnya yang diculik, disiksa, dan dibunuh adalah Letjen TNI Raden Suprapto (Deputi II Menteri/Panglima AD bidang Administrasi), Letjen TNI Mas Tirtodarmo Haryono (Deputi III Menteri/Panglima AD Bidang Perencanaan dan Pembinaan), Letjen TNI Siswondo Parman (Asisten I Menteri/Panglima AD Bidang Intelijen), Mayjen TNI Sutoyo Siswomiharjo (Inspektur Kehakiman/Oditur Jenderal AD). Semuanya ditemukan sudah menjadi jenazah dan dikubur di dalam sumur di Lubang Buaya.

Presiden sedih sekali atas nasib para jenderal yang diculik, khususnya Jenderal Ahmad Yani, jenderal yang sangat disayanginya itu."

Korban lainnya yang gugur adalah Kapten Pierre Tendean (ajudan AH Nasution) dan Aipda Karel Satsuit Tubun (anggota Brimob yang bertugas di rumah Wakil Perdana Menteri II Dr J, Leimena). Termasuk Ade Irma Nasution, putri bungsu AH Nasution, meninggal dunia akibat tembakan personel pasukan Pasopati Tjakrabirawa.

Di luar Jakarta, oknum pasukan Batalion L juga menculik Brigjen TNI Katamso Darmokusumo (Komandan Korem 072/Pamungkas) dan Kolonel Raden Sugiyono Mangunwiyoto (Kepala Staf Korem 072/Kodam VII/Diponegoro) dari rumah dinas masing-masing. Keduanya disiksa dan dibunuh, lalu dimasukkan ke sebuah lubang di tengah rawa di belakang Markas Batalion L di Kentungan, sekitar 6 kilometer sebelah utara Kota Yogyakarta.

1 Oktober 1965 pagi, suasana sepi tapi tegang. Sintong bersama beberapa personel RPKAD yang tengah bersiap-siap akan diberangkatkan menjadi relawan ke Kuching, Malaysia, mendadak dipanggil Feisal. Ia bersama para komandan kompi di RPKAD kemudian menghadap Komandan RPKAD Kolonel Sarwo Edhie Wibowo. Mereka diberi tahu bahwa suasana negara genting, sejumlah perwira tinggi di tubuh TNI menghilang.

Alih-alih bertugas ke Kuching, mereka diperintahkan mencari keberadaan para jenderal yang hilang dan memulihkan situasi keamanan di Jakarta, khususnya merebut kembali kantor RRI di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, yang sempat dikuasai pemberontak, serta Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma di Jakarta Timur. Tanggal 3 Oktober 1965, RPKAD menerima laporan intelijen bahwa para jenderal dibawa ke Desa Lubang Buaya.

Rumah di Lubang Buaya yang digunakan untuk menahan para perwira Angkatan Darat (baik yang telah gugur dan masih hidup) oleh G30S.
Foto: Repro buku Kronik '65 "Catatan Hari Per Hari Peristiwa G30S Sebelum hingga Setelahnya (1963-1971) karya Kuncoro Hadi dkk.

Informasi itu adalah kesaksian Agen Polisi Dua Sukitman, yang sempat diculik pasukan Pasopati ketika berpatroli tanggal 1 Oktober 1965 Subuh di dekat rumah DI Panjaitan di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Sukitman berhasil kabur dari sekapan penculiknya dan melarikan diri ke Markas Komando RPKAD di Cijantung, Jakarta Timur.

Tentunya suasana Desa Lubang Buaya pada 1965 tak seramai seperti sekarang. Saat itu wilayah di timur Jakarta ini masih sepi dan masih berupa kebun dan hutan, termasuk hutan karet. Di Desa Lubang Buaya hanya terdapat 13 rumah yang terpencar jauh satu sama lain. Satu kawasan hanya dihuni tiga rumah dan satu sumur. Kondisi itulah dimanfaatkan para simpatisan PKI dan menjadikan basis berkumpul serta mengusir warga.

Tak mudah bagi pasukan RPKAD menemukan titik lokasi tempat penyekapan, penyiksaan, dan pembunuhan para jenderal itu. Lebih-lebih, Sukitman tak tahu persis tempatnya. Dibantu warga, pasukan Sintong menyisir seluruh tempat yang ada. Beberapa kali mereka menemukan gundukan tanah yang diduga sebagai timbunan baru, tapi gagal. Baru setelah itu ada seorang warga menunjukkan tempat lain di bawah pohon pisang, berupa sumur tua yang sudah ditimbun dan disamarkan. “Jangan-jangan para korban yang dicari diceburkan di sumur itu,” ucap Sintong dalam bukunya. Ia pun meminta semua personel Peleton 1 Kompi Tanjung terus menggali lubang secara bergantian dengan warga.

Ditemukan timbunan dedaunan segar, batang pohon pisang dan pohon lainnya. Mereka semakin yakin lubang itu adalah lubang jenazah para jenderal ditimbun karena menemukan potongan kain yang biasa digunakan sebagai tanda oleh pasukan Batalion Infanteri 454/Banteng Raider dari Jawa Tengah dan Batalion Infanteri 530/Raiders dari Jawa Timur. Baru di kedalaman 8 meter tercium bau busuk.

Malam semakin larut, seorang personel RPKAD berteriak ketika menemukan kaki yang tersembul ke atas dari dalam timbunan. Sintong meminta penggalian terus dilakukan hingga jenazah para jenderal terlihat agak jelas di kedalaman 12 meter. Temuan itu langsung dilaporkan kepada Feisal, dan diteruskan kepada Panglima Kostrad Mayjen Soeharto.

Sumur Lubang Buaya
Foto : Agung Pambudhy/detikcom

Versi sedikit berbeda diutarakan mantan Wakil Komandan Resimen Tjakrabirawa Kolonel CPM Maulwi Saelan seperti dikutip dari bukunya berjudul Maulwi Saelan: Penjaga Terakhir Presiden (2014). Pada 1 Oktober 1965 siang, pasukan patroli Resimen Tjakrabirawa yang tengah mengontrol perumahan perwira di Pasar Rebo menemukan Agen Polisi Dua Sukitman di depan kantor PENAS, Bypass, Jakarta Timur. Sukitman, yang terlihat kebingungan, lalu dibawa ke Markas Tjakrabirawa untuk dimintai keterangan.

Keesokan harinya, 2 Oktober 1965, Sukitman diserahkan ke Kodam V Jaya, yang saat itu dipimpin oleh Brigjen Umar Wirahadikusuma. Lalu Sukitman kembali dibawa ke Mako Kostrad di Gambir, Jakarta Pusat. Pada 3 Oktober 1965, Maulwi melaporkan perkembangan, termasuk penemuan agen polisi itu kepada Presiden Sukarno. “Presiden sedih sekali atas nasib para jenderal yang diculik, khususnya Jenderal Ahmad Yani, jenderal yang sangat disayanginya itu,” kata Maulwi.

Maulwi juga ditugasi Sukarno mengawal pencarian para jenderal. Ia ditemani Letnan Kolonel Ali Ebram dan Sersan Udara PGT (Pasukan Gerak Tjepat) Poniran dan Kolonel Penerbang Tjokro melakukan pencarian ke lokasi seperti diceritakan Sukitman. Saat mereka menemukan sebuah rumah, tiba-tiba pasukan RPKAD yang dipimpin Mayor CI Santoso datang dengan membawa Sukitman sebagai penunjuk jalan.

Tim Maulwi dan Santoro bernegosiasi dan akhirnya melakukan upaya pencarian dan menggali sumur tua tersebut. Sumur tua berdiameter 75 cm dengan kedalaman lebih dari 12 meter menyulitkan evakuasi jenazah. Pada 4 Oktober 1965, Soeharto meminta bantuan kepada Komandan Korps Komando Angkatan Laut (KKO) Brigjen Hartono untuk meminjam peralatan dan tim penyelam dari Kompi Intai Para Amfibi (Kipam) ke Lubang Buaya. Tim terdiri atas sembilan penyelam, di antaranya Letnan Satu (Lettu) Mispam Sutanto, Pembantu Letnan Satu (Peltu) Kandouw, Peltu Sugimin, serta dua dokter dr Kho Tjio Ling dan drg Sumarno.

“Jadi ketemu di jalan, 'Ayo, Min (Sugimin) melok (ikut)'. 'Nang endi (ke mana)?' 'Lubang Buaya'. Mereka nggak tahu Lubang Buaya iko opo (itu apa). Cuma ketemu di jalan, saya nunjuk-nunjuk begitu saja, ada sembilan orang,” tutur Kandouw di kediaman Sugimin di Surabaya, 19 September 2014.

Kesembilan orang itu kemudian berangkat dari Markas KKO di Kwitang, Jakarta Pusat, tanpa tahu di mana letak Desa Lubang Buaya. Tim ini sempat berputar-putar antara Halim Perdanakusuma dan Cililitan. Baru pukul 04.00 WIB mereka tiba di Lubang Buaya, tapi dihadang pasukan RPKAD yang berjaga-jaga. Sempat terjadi ketegangan dan adu mulut di antara mereka.

Proses pengambilan jenazah para jenderal dari dalam sumur di Lubang Buaya 1965
Foto: YouTube Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI)

“Saya bertengkar mulut dengan mereka. Terus dokter Sumarno datang, 'Sudah, Ndow, kalau memang nggak boleh masuk (Lubang Buaya), ya pulang saja kita. Wong, kita mau kerja kok, mau membantu. Yo wis (ya sudah), nggak boleh masuk ya pulang',” ujar Kandouw mengenang kembali peristiwa 55 tahun lalu.

Untung saja ketegangan tak terlalu lama ketika Soeharto datang dan langsung menanyakan keberadaan tim KKO yang dimintanya datang. “Mana anak-anak KKO yang saya minta datang ke sini?” tanya Soeharto. Lalu Kapten Czi Sukendar dari Kostrad melaporkan bahwa tim yang diminta sudah datang. Akhirnya tim dari Kipam KKO yang dipimpin Kapten Winanto masuk ke lokasi. Secara bergantian, pasukan KKO dan RPKAD masuk ke dalam sumur yang sempit.

Satu per satu jenazah para jenderal itu diangkat oleh Kopral Anang (RPKAD), Praka Subekti (KKO), dan Serma Suparimin (KKO). Akhirnya, pukul 13.30 WIB, tujuh jenazah jenderal bisa diangkat ke permukaan sumur. Ketujuh jenazah itu lalu dibawa untuk diautopsi, dibersihkan, dan dikuburkan. Enam jenazah dan dua perwira pertama TNI itu dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan. Brigjen Katamso dan Kolonel Sugiono dimakamkan di TMP Kusuma Negara, Yogyakarta.

HUT TNI ke-20, 5 Oktober 1965, menjadi hari yang kelam. Bangsa Indonesia berduka atas gugurnya putra-putra akibat pengkhianatan tersebut. Ke-10 perwira tinggi dan menengah ini lalu dianugerahi sebagai Pahlawan Revolusi sesuai Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 111/KOTI/1965 tanggal 5 Oktober 1965 oleh Presiden Sukarno.


Penulis: M Rizal
Editor: Irwan Nugroho





SHARE