INTERMESO

Kisah Pemburu Kerja
di Masa Corona

Melamar pekerjaan di era pandemi COVID-19 butuh perjuangan dan kesabaran ekstra. Sebagian tertolong karena keberuntungan.

Foto: Seorang karyawan tengah bekerja di sebuah kantor di Jakarta (Agung Pambudhy/detikcom)

Sabtu, 26 September 2020

Setiap hari Nyoman Tri Wira Arta tak berhenti memeriksa kotak masuk di akun surat elektroniknya. Tak terhitung pula berapa kali ia menekan tombol refresh, sambil berharap sebuah e-mail balasan masuk. Tapi pesan yang ia tunggu-tunggu tak kunjung datang.

Hampir sembilan bulan semenjak Wira, begitu ia disapa, mengalami PHK alias pemutusan hubungan kerja. Tanpa alasan jelas, Wira diberhentikan dari posisinya sebagai  analisis produk pasar di sebuah perusahaan swasta pada akhir 2019.

Setelah terkena PHK, kehidupan lulusan Universitas Gunadarma Jurusan Teknik Mesin ini tidak berhenti begitu saja. Wira kembali menemukan 'jodoh'-nya di pameran lowongan kerja yang diselenggarakan oleh Universitas Indonesia pada awal Januari lalu.

Sebuah perusahaan batu bara di Palembang menawarkan pekerjaan sebagai tenaga maintenance mesin. Kontrak kerja pun diteken. Tinggal menunggu hari sampai keberangkatannya ke Palembang. Sayangnya, pandemi COVID-19 menghentikan langkah Wira.

“Awal Maret tiba-tiba dapat kabar saya nggak bisa berangkat karena Jakarta masuk zona merah. Tapi sampai sekarang pun mereka nggak ada kabar kejelasannya bagaimana,” tutur Wira saat dihubungi detikX beberapa hari lalu.

Sejak pandemi, Wira merasakan susahnya mencari kerja. Berkali-kali lipat lebih susah ketimbang sebelum pandemi. Maklum, pencari kerja seperti Wira harus bersaing dengan pengangguran baru akibat COVID-19. Ketua Umum Kadin Indonesia Rosan Roeslani dalam sebuah webinar pada Kamis pekan ini memprediksi bakal ada tambahan 5 juta pengangguran baru saat Indonesia masuk jurang resesi.

Nyoman Tri Wira Arta
Foto: dok. pribadi

"Pertumbuhan ekonomi di Indonesia minus 1,7 persen dan 0,6 persen akan meningkatkan kemiskinan dan pengangguran secara signifikan. Sekarang jumlah pengangguran kurang-lebih 7 juta orang, dan akan bertambah lebih dari 5 juta," ujarnya.

Apalagi setiap tahun di Indonesia ada tambahan 2,24 juta orang yang membutuhkan lapangan kerja baru. Selain itu, berdasarkan data ketenagakerjaan saat ini, ada 8,14 juta orang yang setengah penganggur dan 28,41 juta orang pekerja paruh waktu. Dengan demikian, setidaknya ada 46,3 juta orang yang tidak bekerja secara penuh.

Segala cara telah Wira coba untuk menemukan pekerjaan baru di tengah pandemi dan persaingan yang bertambah ketat. Berbagai platform pencari kerja, seperti LinkedIn dan Jobstreet, telah ia susuri. Termasuk bekerja sampingan sebagai ojek online di tengah waktu senggangnya.

Untuk mendapatkan pekerjaan kantoran, Wira selalu terkendala dengan penampilan fisiknya. Saat Wira masih berusia 7 tahun, kelas I SD, Wira pernah mengalami sebuah kecelakaan saat tengah bermain di bengkel ayahnya. Kejadian ini membuat wajahnya mengalami luka bakar. “Kondisi fisik sangat berpengaruh. Kendala pencaker (pencari kerja) yang utama harus good looking,” ujar anak ketiga dari empat bersaudara ini.

Dua tahun masa pengobatan akibat luka bakarnya membuat kondisi ekonomi keluarga Wira terseok-seok. Kakak-kakaknya harus bahu-membahu membiayai uang sekolah adiknya.

“Keluarga saya bener-bener down dari segi fisik, ekonomi, dan lain-lain. Tapi selalu ada Ibu yang memberikan saya motivasi dan semangat sampai saat ini saya bisa jalani semua dengan baik dan kuat. Walaupun penuh tantangan, always be positif,” ungkap Wira, yang juga menjadi content creator meme di Instagram @memelucuindonesia_official.

Kisah itu pun dibagikan Wira di LinkedIn. Kisah itu ternyata mencuri perhatian para pengguna aplikasi tersebut hingga mendapat ribuan likes dan ratusan komentar. Tak sedikit yang akhirnya menawari Wira pekerjaan. Tulisan Wira pun berujung sebuah telepon lowongan pekerjaan. Sebuah perusahaan bergerak di bidang kesehatan menawari Wira bekerja sebagai tenaga administrasi.

Pelatihan bagi korban PHK karena COVID-19 di Balai Mulya, Jakarta, 7 Mei 2020. Tak semua orang yang terdampak COVID berwirausaha. Sebagian berjuang mencari pekerjaan..
Foto: Aprilio Akbar/Antara Foto

“Karena posting-an itu, tiba-tiba saya dipanggil dua hari lalu jadi admin untuk tes PCR swab test. Saya dipekerjakan kalau ada panggilan untuk tes PCR saja. Tapi sangat membantu untuk mengisi kekosongan. Apalagi saya masih harus membiayai adik saya sekolah,” kata Wira.

Pada masa pandemi ini, ada pula kejadian unik, terutama kisah mencari kerja. Ang Harry Tjahjono, seorang manajer pada sebuah perusahaan logistik di Jakarta, membagikan kisah yang ia dapatkan dari temannya di LinkedIn. Temannya menerima lamaran kerja seorang ibu berusia 58 tahun yang memiliki seorang anak masih SMA.

Rupanya ada alasan di balik aksinya memberikan pekerjaan kepada sang ibu. Bukan hanya itu, ia bahkan memberikan beasiswa untuk anaknya. “Believe it or not, ibu ini berpuluh tahun lalu saat di masa kejayaan pernah memberikan kerjaan kepada teman saya yang masih baru lulus kuliah, meski background pendidikan nggak sama dengan posisi yang dilamar. Tapi ibu itu memberikan chances. Trust,” tulis Harry di LinkedIn.

Sukses yang diraih temannya itu karena kesempatan yang diberikan si ibu. Suami sang ibu sudah meninggal. Karena pandemi COVID-19, ibu itu dirumahkan. Dan ada anak yang masih sekolah. Sudah 3 bulan ibu itu melamar pekerjaan tapi belum ada yang menerimanya.

“Pas sekali melamar di perusahaan teman saya. Nggak pakai interview diundang ke kantor teman saya hiring dia. Duh, dengar cerita begini merinding. Makanya, semakin kuat keyakinan saya, jika kita kasih kesempatan buat orang lain, sebenarnya kita ini sedang menciptakan kesempatan buat diri kita sendiri,” tutup Harry.


Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE