INTERMESO

Pandemi Corona

Ambyar! Kala Harus Lebaran di Perantauan

“Anak saya bilang, ‘nggak apa-apa, Ayah, yang penting uangnya pulang,' ha-ha-ha.”

Foto: banyak perantau yang bekerja di ibu kota tidak bisa mudik pada Lebaran kali ini (Rengga Sancaya/detikcom)

Sabtu, 23 Mei 2020

Lantunan takbir di tengah suasana desa yang hening tak bisa didengarkan Sutrisno pada Lebaran tahun ini. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, ia bakal melewatkan Lebaran di perantauan, jauh dari anak-istri dan handai taulan. Warga Desa Kali Jirak, Kecamatan Tasikmadu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, ini, memilih mematuhi larangan pemerintah untuk mudik di tengah pandemi virus corona (COVID-19).

Kesehatan diri dan keluarga adalah segala-galanya bagi Sutrisno pada saat ini. Meski dia dalam keadaan sehat, namun perjalanan pulang kampung memiliki risiko yang besar untuk tertular virus COVID-19. “Terus terang sangat sedih nggak bisa pulang Lebaran tahun ini. Selama 30 tahun merantau di Ibu Kota, baru kali ini saya Lebaran tidak mudik. Biasanya saya sudah di kampung tiga hari menjelang hari raya Idul Fitri,” kata Sutrisno yang juga Ketua Sedulur Bumi Karanganyar (Sebra) ini saat berbincang dengan detikX, Rabu, 20 Mei 2020.

Sutrisno mengatakan terakhir pulang kampung saat menikahkan anaknya pada Februari 2020 lalu. Setelah itu, virus corona mulai merajalela dan dia memutuskan untuk menunda kepulangan sampai hari ini. Menurut Sutrisno, dia sudah memberi tahu jauh hari kepada anak dan istri di kampung bahwa kemungkinan besar tidak mudik Lebaran tahun ini. “Keluarga di rumah sudah saya beritahu bahwa Lebaran tidak pulang. Anak saya bilang, ‘nggak apa-apa, Ayah, yang penting uangnya pulang, ha-ha-ha,” ujar pria yang tinggal di Cipondoh, Tangerang, itu.

Arus mudik lebaran tahun 2019. Lebaran menjadi momentum bagi para perantau untuk mudik ke kampung halaman.
Foto: Dok Detikcom

Memang, menurut Sutrisno, berat ketika harus berlebaran tanpa berkumpul dengan keluarga dan sanak-saudara. Biasanya Lebaran adalah ajang silaturahmi keluarga besar. Pada hari biasa, kumpul bareng seperti itu sudah agak sulit dilakukan. Selain bermaaf-maafan, lebaran selalu diisi dengan makan-makan bersama. Namun, kehangatan Lebaran di kampung itu kini tak bisa dirasakan oleh Sutrisno. “Ya, nanti pakai video call untuk bersilaturahim dengan keluarga di kampung. Memang menjadi kurang berkesan Lebaran tahun ini, tapi bagaimana lagi” katanya.

Kita juga nggak belanja baju-baju buat anak tahun ini. Saya dan istri memilih untuk tidak ke mana-mana."

Sebagai ketua paguyuban perantau, Sutrisno juga ikut mengkoordinir acara acara mudik bareng Lebaran yang digelar oleh Pemkab Karanganyar. Sebanyak 30 bus disiapkan untuk mengangkut para perantau. Namun, acara mudik gratis yang sudah digadang-gadang sejak Februari 2020 lalu terpaksa dibatalkan. “Lebaran tahun lalu 20 bus, dan tahun ini rencananya 30 bus. Ya, sudah batal akhirnya,” kata Sutrisno dengan nada pasrah.

Untuk mengobati kerinduan akan suasana Lebaran di kampung halaman, Sutrisno berencana mengundang sesama perantau dari Karanganyar yang tidak mudik untuk kumpul bareng. Para sedulur Karanganyar di perantauan diminta membawa masakan-masakan khas Jawa saat Lebaran nanti. Tentunya, acara kumpul-kumpul itu dilakukan dengan protokol kesehatan. “Yang dari Jatiyoso saya suruh bawa makanan-makanan desa seperti srundeng dan apem, ha-ha-ha,” kata Sutrisno.

Tetap bertahan di Jakarta di kala Lebaran juga dilakukan Eddy Prayitno. Eddy adalah perantau asal Desa Jatinom, Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Wonogiri, Jateng. Pada Lebaran-lebaran sebelumnya, ia selalu menyempatkan diri mudik, meski pernah juga tidak pulang kampung. Namun, untuk Lebaran kali ini, sudah jauh-jauh hari sebelumnya dia memberi tahu orangtua dan keluarga di kampung halaman kalau tidak bisa pulang. “Orangtua juga memahami, karena kondisi bumi lagi seperti ini,”ujar Eddy kepada detikX, Rabu, 20 Mei 2020.

Karena tidak bisa mudik, para perantau menggunakan teknologi untuk bisa bersilaturahim dengan keluarga di kampung halaman
Ilustrasi: Shutterstock

Di Jakarta pun, karena situasi yang belum menentu ini, Eddy tidak mempunyai rencana pergi ke mana-mana untuk merayakan Idul Fitri. Salat Ied akan dikerjakan di rumah, karena pemerintah masih belum mengizinkan untuk berjamaah di masjid atau tanah lapang. Dia dan keluarga kecilnya akan mengisi lebaran dengan cara sederhana di tempat tinggalnya di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. “Kita juga nggak belanja baju-baju buat anak tahun ini. Saya dan istri memilih untuk tidak ke mana-mana,” kata Eddy.

Eddy yang juga Ketua Paguyuban Keluarga Wonogiri Sukses (Keris) itu mengatakan, sebagian anggota Keris pulang kampung pada Lebaran ini. Sebab, tidak ada pilihan lain kecuali kembali ke desa mereka. Di Jakarta, mereka tidak bisa bertahan hidup karena tidak punya pekerjaan lagi. Namun, ada juga yang seperti Eddy tetap bertahan di Jakarta karena takut membawa penyakit apabila mudik ke kampung halaman.

Sayangnya, menurut Eddy, perantau yang tetap bertahan di Ibu Kota belum tersentuh bantuan secara merata, termasuk dirinya. Padahal, ia sendiri sudah didata melalui paguyuban perantau Jateng sekitar 1,5 bulan yang lalu untuk bantuan dari Gubernur Jateng. Namun, hingga saat ini belum ada kelanjutannya lagi. “Sudah saya tanyakan lagi, tapi belum ada jawaban. Kalau yang di Bekasi, saya lihat dari postingan teman-teman, sudah dapat,” kata Eddy yang berharap bantuan itu segera diturunkan.


Penulis: Irwan Nugroho
Desainer: Irwan Nugroho

[Widget:Baca Juga]
SHARE