INTERMESO

Menjemput Rezeki Saat Pandemi

Omzet pabrik produk kecantikan ini justru naik saat pandemi corona. Karyawan baru pun direkrut di saat perusahaan lain melakukan PHK.

Ilustrasi: Edi Wahyono

Selasa, 28 April 2020

Saat pandemi virus corona atau COVID-19 mulai masuk ke Indonesia, Septia Erianty mulai diliputi rasa khawatir. Terutama ketika memikirkan nasib pabrik yang baru saja selesai ia bangun dan baru beroperasi awal tahun ini. Bagi Septi, pabrik bernama Organic Lombok Indonesia ini bagai mimpi jadi kenyataan. Kerja keras Septi dalam berbisnis skincare selama beberapa tahun belakangan ini terbayarkan. Dari sekedar menjadi reseller skincare, hingga akhirnya bisa membuat produk perawatan kulit sendiri.

Maka dari itu Septi tak rela jika perusahaan yang ia bangun dengan susah payah harus takluk karena dilibas virus corona. Belum sempat balik modal, perusahaannya tak akan bertahan lama jika tidak ada pemasukan. Skenario terburuk yang paling Septi takutkan jika harus ikut merumahkan pekerjanya. “Ketika pandemi juga saya mikir haduh gimana ini bayar gaji karyawan, belum balik modal juga karena perusahaan baru berjalan,” ujar Septi ketika dihubungi detikX.

Septia Erianty
Foto : Dok Pribadi.


Kalau orang memecat karyawan, sekarang kami Alhamdulillah malah merekrut. Dari cuma berempat sekarang kita ada sepuluh karyawan."

Dalam kondisi serba tak menentu seperti sekarang ini, pebisnis seperti Septi memang harus punya mental baja. Musibah bisa saja menjadi malapetaka. Tapi sebagai pengusaha yang adaptif, Septi dapat memutarbalikkan keadaan. Pandemi yang disebabkan virus dari Kota Wuhan, China, ini justru membawa rezeki untuk Septi. Produk Organic Lombok Indonesia yang baru saja ia rintis justru mulai dikenal.

“Kalau orang memecat karyawan, sekarang kami alhamdulillah malah merekrut. Dari cuma berempat sekarang kita ada sepuluh karyawan. Saya pun mau nggak mau harus turun tangan, lembur terus sampai nggak tahu hari,” kata Septi yang memproduksi produk perawatan kulit berbahan Spirulina.

Semua ini berkat kejelian Septi melihat peluang di tengah krisis. Jauh hari sebelum grafik pasien terinfeksi virus COVID-19 mulai menanjak, ia telah menyusun berbagai strategi. Salah satunya dengan menyiapkan materi pemasaran yang tepat sasaran. Pada tahap awal, kosmetik perawatan wajah dengan merk dagang Spirusea laku keras.

“Saya bikin campaign, mumpung di rumah kapan lagi rawat diri, maskeran untuk rawat wajah. Kami ngeluarin produk peel off untuk komedo. Kan facial di klinik kecantikan nggak boleh, jadi komedonya bisa dibersihin sendiri di rumah. Sejak saat itu produk peel off, masker, body scrub kita grafik penjualannya naik gila-gilaan,” ungkap Septi yang memasarkan dagangannya melalui Instagram @organiclombok.

Aktivitas pengemasan produk kecantikan di Produk Organic Lombok milik Septia Erianty
Foto : Dok Produk Organic Lombok.

Namun strategi ini pun tak akan bertahan lama. Septi sadar produk skincare buatannya saat ini bukanlah kebutuhan utama. Karena kebijakan Work From Home, orang juga akan mulai mengerem pengeluarannya. Ketimbang skincare, mereka akan lebih rela mengeluarkan uangnya untuk membeli masker. Untuk itu Septi kembali mengeluarkan strategi agar perusahaannya tetap berjalan. Ia pun mengeluarkan obat herbal tradisional spiruvita.

“Saya juga punya kapsul obat herbal tradisional bernama Spiruvita. Saat itu kita bikin promo, kalau kamu beli skincare atau kapsul, akan dapat masker kain satu pcs. Anggap saja bonusnya nggak usah beli masker kain,” ucap Septi yang juga memproduksi hand moist. Fungsinya sama seperti hand sanitizer, hanya bedanya memiliki kandungan pelembab.

Bukan hanya itu, Septi yang kini telah memiliki 37 distributor di seluruh Indonesia sangat merasa terbantu dengan program pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat. Program bernama JPS Gemilang ini menjadi angin segar, bukan hanya untuk pengusaha seperti Septi, melainkan Industri Kecil Menengah atau IKM di NTB. Melalui program ini, paket sembako yang dibagikan kepada warga kurang mampu memanfaatkan produk buatan IKM. Septi kebagian memasok sabun batangan.

Bahan-bahan untuk pembuatan produk kecantikan
Foto : Dok Produk Organik Lombok Indonesia

“Kami sudah menyalurkan 80 ribu lebih sabun batang untuk keperluan paket sembako. Paling tidak, berkat kebijakan ini, sudah ada jaminan kita pasti bisa bertahan untuk enam bulan ke depan,” ujar Septi. Ia berharap pemerintah provinsi lain mencontoh kebijakan ini.


Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE