INTERMESO

Jalan Pulang dari Suriah (1)

“'Kamu kok bisa ada di sini (Suriah)?' Berulang kali Bunda yang masih tak percaya mengatakan kalimat itu.”

Ilustrasi : Edi Wahyono

Rabu, 18 Februari 2020

Risau dan gelisah menggelayuti hati Febri Ramdani ketika mendapati ibu dan kakak perempuannya sudah tak ada di rumahnya di Depok, Jawa Barat, pada Jumat, 31 Juli 2015 silam. Tiga hari berselang, ibu dan kakaknya tak kunjung pulang. Febri yang kala itu berusia 21 tahun masih berpikir positif, karena sebelumnya sang ibu mengirimkan pesan singkat bahwa sedang mengantar kakaknya yang sakit kanker berobat ke luar kota.

Sekian hari berlalu, Febri mencoba menelepon, mengirim SMS, bahkan email kepada ibu dan kakaknya, namun tak berbuah balasan. Begitu juga nomor paman, bibi, serta saudaranya yang lain. Bahkan tetangga pun sempat ia tanyai soal kebaradaan ibu dan kakaknya itu. “Rasa gelisah mengepung hati dan pikiran saya, bersamaan datangnya rasa curiga bahwa mereka benar-benar pergi ke Suriah,” ungkap Febri dalam buku berjudul 300 Hari di Bumi Syam: Perjalanan Seorang Mantan Pengikut ISIS yang diluncurkan di Universitas Indonesia Salemba, Jakarta Pusat, Selasa, 11 Februari 2020, lalu.

Febri Ramdani
Foto : Wildan/20detik

Keyakinan Febri beralasan, sebab beberapa bulan terakhir dia sempat mengintip layar komputer di rumahnya yang menampilkan laman pencarian tiket ke Turki. Juga ditemukan riwayat pencarian berita-berita tentang sudah ditegakkannya kekhalifahan Islam di Suriah. Sempat terlintas di pikirannya, tak mungkin ibu dan kakaknya berangkat ke sana di tengah kondisi ekonomi terpuruk. Usaha suami kakaknya, Hidayat, juga sedang dililit utang. “Setelah mereka pergi itu, saya syok. Saya depresi. Ya sudah gila nih keluarga saya pergi semua. Jadi keluarga saya yang pergi itu ibu saya, ada kakak, keponakan, sepupu, dan om saya,” ujar Febri yang kini berusia 26 tahun saat ditemui usai peluncuran bukunya itu.

Selama beberapa bulan, Febri hidup seorang diri tanpa ibu dan kakaknya. Untuk biaya hidup, Febri sering dibantu oleh seseorang bernama Om Bow, karyawan kakak iparnya, Hidayat. Awalnya Om Bow ini tak pernah memberitahu ke mana kelurganya pergi. Om Bow jugalah yang menyarankan agar Febri meninggalkan rumahnya dan menjual seisi barang-barang berharga yang ada di dalam rumah untuk kebutuhan hidupnya. Dua kali Febri harus pindah rumah kos sambil berjualan sendal.

Setelah satu tahun lebih, rasa rindu Febri kepada ibunya makin menggebu. Saat itu, Om Bow pun sudah terbuka dan mengatakan memang ibu dan kakaknya sudah berada di Suriah. Sementara Hidayat ditangkap otoritas Turki sebelum berhasil masuk ke Suriah. Febri akhirnya tertarik ke Suriah setelah melihat video propaganda Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Kelompok yang dicap teroris ini mengklaim kota-kota yang dikuasainya di Irak dan Suriah terjamin keamanan, ketentraman dan kesejahteraannya.

Pasukan Demokratik Suriah dan AS membombardir pertahanan ISIS terakhir di Suriah pada 2019 lalu
Foto : Reuters

ISIS menjanjikan pendidikan dan pengobatan gratis, serta sembako murah. Bisa bebas memilih mau ikut berperang, menjadi masyarakat sipil biasa, bekerja, atau membuka usaha sendiri. “Dorongannya karena kangen saya sama ibu. Saya ngerasa bersalah, ya sempat bandel lah saya dulu. Ya, mau menebus kesalahan dan akhirnya pergi ke sana menyusul ibu saya untuk minta maaf. Ya bonusnya itu kan tempatnya baik, kata medianya (ISIS).”

Febri membuat Kartu Keluarga palsu dan paspor untuk berangkat ke Suriah. Setelah semua siap, Febri berangkat pada 14 September 2016. Ia menggendong tas ransel dan koper, seperti backpacker yang akan berwisata ke Turki. Ia terbang dengan pesawat Turkish Airlines. Sesampainya di Turki, Febri bertemu dengan Om Bow. Selama lima hari mereka jalan-jalan ke tempat wisata sebagai kamuflase. Tempat yang dikunjungi, seperti Blue Mosque, Hagia Sophia, Galata Bridge, Topkapi Palace, dan Istikal Street.

Om Bow kemudian mengenalkan Febri dengan seorang panitia yang mengkoordinir para muhajir (imigran) yang akan pergi ke Suriah. Febri akhirnya berpisah dengan Om Bow, pria yang hingga kini tak diketahui nasib dan keberadaannya. Febri bersama 50 imigran dari negara lainnya berkumpul di suatu tempat di Istambul. Mereka terdiri dari beberapa pria, wanita, remaja dan anak. Dengan menumpang bus, mereka menuju Kota Hatay yang berjarak 826 km dari Istambul dan berbatasan langsung dengan Suriah.

Setelah melalui perjalanan yang melelahkan selama sehari semalaman, Febri dan rombongan tiba dipinggiran Hatay. Semua penumpang diminta mengumpulkan paspor, KTP, SIM dan tanda pengenal lainnya. Mereka juga diminta meninggalkan barang bawaan yang tak diperlukan. Hanya baju yang menempel di badan, tas kecil, HP dan dompet yang boleh dibawa. Dipimpin seorang smuggler (penyelundup), mereka berlari menuju bukit tanpa boleh berhenti. Febri harus merayap, merunduk dan bersembunyi untuk menghindari patroli tentara Turki.

Banyak WNI yang berada di Suriah ingin pulang, namun ditolak oleh pemerintah Indonesia dan masyarakat
Foto : Wahyu Putro A/ANTARA Foto

Febri dan rombongan sempat bersembunyi di sebuah gudang kosong. Mereka bermalam selama beberapa hari. Setalah itu perjalanan dilanjutkan sambil berjalan kaki sampai sebuah tempat di Kota Salqin, Suriah. Saat di kota itulah, rombongan ditangkap tentara Jabhat Al Nusra (JN), faksi penentang pemerintahan rezim Bashar Al Assad (Nushairiah) sekaligus musuh ISIS. Mereka lalu dikirim ke Kota Idlib yang merupakan basis kelompok para jihadis, salah satunya faksi Jund Al Aqsa (JA). Di kota ini, Febri melihat bangunan banyak yang hancur. Mereka ditahan di sebuah apartemen berlantai 4-5. Di tempat itulah, Febri bertemu dengan muhajir asal Indonesa seperti Abi Hatim, Fadli, Isa, AM, Pak Adi dan Pak Aris.

Walau sebagai tahanan JN, Febri dan imigran lainnya diperbolehkan keluar gedung seperti masyarakat biasa. Namun, aktivitas mereka selalu diawasi oleh tentara dan mata-mata JN. Imigran asal Indonesia dan negara lain kerap diintrogasi tentara JN tentang maksud kedatangan mereka ke Suriah. Kalau ada yang mengaku akan bergabung ke ISIS bakal langsung dipenjara dan dibunuh. Pada Desember 2016, Febri sempat mengalami kota itu dibombardir pesawat tempur koalisi.

Menjelang tahun baru 2017, Febri dan rombongan Abu Hatim dikabari salah satu panitia koordinator bernama Abu Aus bahwa jalan menuju wilayah Daulah Islamiyah/ISIS di Raqqa mulai terbuka. Untuk menuju wilayah itu, Febri dan muhajir lainnya harus kucing-kucingan dengan tentara JN. Bersama rombongan muhajir asal Saudi Arabia, Jerman, Inggris, Perancis, Tunisia, Turki, Aljazair, Kazakstan, Turkistan dan Pakistan mereka menyusup menuju Raqqa.

Di sebuah tempat bagian selatan Suriah, yaitu di kota Hama, Febri bersama rombongan lain kembali ditahan, kali ini oleh pasukan ISIS. Selama ditahan mereka diinapkan disebuah apartemen. Di tempat itulah semua pria lajang atau yang tidak membawa keluarga diwajibkan mengikuti pelatihan agama (Dauroh Syar’i) dan pelatihan militer (Dauroh Asykari). Pria lajang akan dijadikan pasukan ISIS.

Judul Foto
Foto : Credit By

Febri sempat menolak mengikuti kedua pilihan itu, karena dirinya hanya ingin ketemu ibu dan kakaknya serta keluarganya yang lain yang dikabarkan berada di Raqqah. Pihak ISIS pun mengijinkan Febri mencari dan menemui keluarganya selama dua hari, setelah itu ia harus ikut pelatihan. Diantar salah satu anggota ISIS asal Indonesia, Febri mencari kebaradan keluarga di Raqqa. Tak beberapa lama akhirnya ia mengetahui tempat tinggal para muhajir asal Indonesia. Di tempat itulah Febri bisa bertemu ibu dan kakaknya. Di tempat itu, Febri juga bertemu dengan saudaranya yang lain.

Ibu dan kakak perempuannya terkejut seolah tak percaya bisa bertemu Febri. Mereka saling berpelilan, haru, rindu dan bahagia menjadi satu. “Kamu kok bisa ada di sini, ya Allah? Berulang kali Bunda yang masih tak percaya mengatakan kalimat itu,” ungkap Febri mengenang pertemuan yang mengharukan itu.

(Bersambung…..)

Reporter: Syailendra Hafiz Wiratama
Redaktur: M Rizal
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE