INTERMESO

Kisah ‘Life of Pi’
dari Bandung (2)

Ia menerjang ombak sendirian dari New York hingga Tanjung Priok. “Di laut saya sadar, kita sebagai manusia nggak ada apa-apanya dibanding alam semesta.”

Ilustrasi : Edi Wahyono

Selasa, 17 Desember 2019

Usia Fazham Fadlil boleh genap 69 tahun. Tapi memorinya masih sangat tajam, terutama ketika mengingat aksi gilanya pada 1992. Meski rambut hitamnya nyaris tak tersisa, lengan gelap bekas sengatan matahari seolah menjadi saksi bisu ketika dirinya mengarungi lautan dunia sendirian selama lima bulan lamanya.

Pria yang akrab disapa Sam itu mengejar mimpinya berlayar seorang diri dari Amerika Serikat untuk kembali ke kampung halamannya di Indonesia. Dari New York, Sam menempuh perjalanan menuju Jakarta dengan perahu layar. Panjang perahu bernama Stray ini tak lebih dari 12 meter. “Kalau saya pikir kembali, saya seperti orang gila. Malam-malam di tengah lautan sendirian,” ucap Sam membuka percakapan dengan detikX saat ditemui di Bandung, Jawa Barat, Rabu, 11 Desember 2019.

Awalnya Sam mencoba berlayar dari pelabuhan di New York saat musim dingin Desember 1992. Namun usahanya gagal karena Stray dihantam badai. Tapi bukan Sam namanya kalau menyerah di tengah jalan. Juni 1993, ia melanjutkan kembali pelayarannya. Musim telah berganti dan meninggalkan dinginnya salju. Pelayaran ini melewati rute panjang: Samudra Atlantik, Laut Karibia, Terusan Panama, lalu masuk ke lautan paling luas di dunia, Samudra Pasifik. Setelah itu, barulah Stray memasuki perairan Indonesia.

Saya suka berbaring memandang langit lama-lama. Di laut saya sadar, kita sebagai manusia nggak ada apa-apanya dibanding alam semesta. Melaut sendiri itu juga total freedom, kita bekerja sama dengan alam. Mau berlayar ke mana saja terserah selama angin membolehkan.”

Kapal "Stray" yang dipakai Sam berlayar dari New York ke Tanjung Priok.
Foto : repro dari buku Mengejar Pelangi di Balik Gelombang

Sebelum berangkat, Sam mengecek seluruh kondisi Stray dan perlengkapan, mulai makanan, alat navigasi, sekoci, tali-tali, hingga peta yang isinya memuat jalur yang akan ditempuh. Tak ketinggalan ratusan buku berbagai genre yang ia masukan ke dalam kapalnya. Sejak kecil Sam memang sangat gemar membaca buku. “Perahu layar saya kemudinya sudah otomatis. Jadi sebetulnya tidak banyak yang saya lakukan di atas kapal. Saya biasa mengisi waktu luang dengan membaca buku,” tutur Sam. Sesekali Sam mengecek kondisi sekitar. Mulai arah angin sampai kapal-kapal yang melintas di sekitar perahu layarnya.

Sam memang bukan satu-satunya pelaut yang pernah melakukan pelayaran seorang diri. Orang pertama yang mengelilingi dunia dengan perahu layar adalah Joshua Slocum, seorang mantan kapten kapal Amerika. Dia melakukan pelayaran pada 1895. Menempuh waktu tiga tahun dengan menghabiskan jarak 46 ribu mil. Pada 1967 tercatat lagi seorang sipil berkebangsaan Inggris, Francis Chinchester, 66 tahun, mengelilingi dunia dan hanya singgah di Australia. Mereka berlayar dengan berbagai alasan, salah satunya mengaku bahagia berada di laut lepas.

“Saya nggak ada apa-apanya. Istilahnya orang sudah mendaki Gunung Everest, tapi saya hanya mendaki Gunung Tangkuban Perahu saja sudah dibuat heboh. Saya agak malu juga sebenarnya,” ucap Sam merendah. Dia pun ragu ada catatan mengenai perjalanan para pelaut di Indonesia. “Kalau kita belajar sejarah, ketika Majapahit menaklukkan Indonesia, mereka kan nggak mungkin pakai pesawat terbang. Pasti menggunakan perahu untuk berlayar. Nggak ada catatan tentang bagaimana navigasi dan logistik mereka, nggak ada yang tahu bagaimana. Banyak yang hilang dari sejarah kita.”

Kembali ke kapal Stray, Terusan Panama masih sekitar 2.000 mil lagi. Tapi global positioning system (GPS) atau alat bantu navigasi kapal mati. Ini tentu mempersulit Sam menentukan posisi di laut. Tetap tenang, ia mengambil buku Emergency Navigation karya David Burch. Buku ini membahas teknis menentukan posisi di laut tanpa bantuan kompas, sextant, dan alat navigasi modern lainnya. Sam mempelajari teknik menggunakan matahari, bulan, bintang sebagai penunjuk arah.

Peta perjalanan kapal Sam selama lima bulan berlayar dari New York hingga Tanjung Priok.
Foto: Luthfy Syahban

Stray bergerak masuk ke Terusan Panama dan kemudian memasuki Samudra Pasifik, yang luasnya hampir 30 persen dari permukaan bumi. Perjalanan melintas Samudra Pasifik menyenangkan bagi Sam karena tergolong tenang tanpa hambatan berarti. Ia juga disuguhi berbagai pemandangan menakjubkan. Hampir setiap hari lumba-lumba mengiringi Stray, meloncat melakukan gerakan akrobatik. Ketika senja tiba, pada saat air laut tenang, Sam terkesan melihat matahari terbenam di lautan. Seolah tak ada batas antara Sam dengan semesta.

Pada malam hari, ia menikmati suasana lain. Kabut tipis berada di atas riak ombak. Sinar bulan menyinari perahu dan sekelilingnya. Sekitar 50 meter di belakang Stray, rombongan ikan paus berenang dengan kecepatan lambat. Di malam lain, ribuan bintang terhampar jelas di angkasa. Keheningan malam dan lukisan indah itu ia nikmati sendiri. Hanya ada air di samudra, perahu, dan langit penuh cahaya kelap-kelip.

“Saya suka berbaring memandang langit lama-lama. Di laut saya sadar, kita sebagai manusia nggak ada apa-apanya dibanding alam semesta. Melaut sendiri itu juga total freedom, kita bekerja sama dengan alam. Mau berlayar ke mana saja terserah selama angin membolehkan,” tutur Sam, yang selama perjalanan mengaku banyak mendapatkan pencerahan spiritual.

Sam akhirnya tiba di perairan Indonesia dan bersandar di Bali. Ia sempat harus berurusan dengan petugas karena masuk tanpa kelengkapan izin. Ketika sampai di Indonesia, ia tak memiliki uang rupiah sepeser pun. Di Bali ia segera menelepon ibunya. “Ibu saya kaget bukan main. Beliau nggak tahu kalau saya selama ini nggak menghubungi karena sedang berlayar,” ucap Sam. Ibunya sempat terdiam kesusahan mencerna kabar yang baru ia terima dari anaknya.

Sam di kapal layarnya.
Foto : repro dari buku Mengejar Pelangi di Balik Gelombang

Keputusan Sam meninggalkan segala kenyamanan di New York tak pernah ia sesali. Padahal kala itu ia sudah mendapat pekerjaan tetap di studio seni kaligrafi terkenal. Kini Sam masih menyalurkan hobinya di bidang seni dengan menjual jasa lukis custom melalui akun Instagram @totebagbysam. Sesekali keinginan kembali berlayar mencuat. Sam rindu pemandangan matahari terbit dan terbenam ke dasar lautan. “Setiap hari saya bangun pukul 03.00 WIB hanya untuk melihat matahari terbit. Sampai saat ini keinginan berlayar juga masih kuat. Tapi saya nggak tahu akan kembali terwujud atau tidak,” ungkapnya.


Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE