INTERMESO

Kisah ‘Life of Pi’
dari Bandung (1)

Berlayar dari New York ke Indonesia menggunakan
perahu layar kecil seorang diri.

Ilustrasi : Edi Wahyono

Senin, 16 Desember 2019

Entah sudah berapa kali Fazham Fadlil diperingatkan untuk tidak pergi melaut. Ibunya bahkan sengaja memberikan hukuman supaya pria yang akrab disapa Sam itu jera. Bagi ibu Sam yang lahir dan dibesarkan di kota, laut adalah tempat berbahaya. Apalagi saat itu Sam masih sangat kecil. Namun semua usahanya sia-sia. Luasnya samudera dan dalamnya lautan tidak pernah membuat Sam gentar. Setiap kali ia memandang ke arah lautan biru, seolah ada suara yang memanggilnya untuk mengarungi samudera.

Masa kecil Sam dihabiskan di Pulau Buluh. Panjangnya hanya satu kilometer. Pulau ini letaknya beberapa ratus meter dari Pulau Batam. Bagi anak pulau seperti Sam, keahlian mendayung atau berlayar datang secara alami. Seperti layaknya kemampuan berjalan kaki. Hampir setiap keluarga yang tinggal di pulau mempunyai sampan dayung. Alat ini sekaligus menjadi moda transportasi dan mata pencarian mereka. Tetapi bagi Sam kecil, sampan adalah alat yang bisa membawanya ke mana saja.

“Pulau kecil tempat saya tinggal terasa agak sempit, laut menjadi tempat bermain yang tak ada batasnya. Di sana aku memancing, berenang, menyelam, berlayar atau hanya menghabiskan waktu tanpa berbuat apa-apa,” ungkap Sam seperti dituturkan di bukunya, Mengejar Pelangi di Balik Gelombang (2017). Dengan sampannya Sam biasa mengarungi laut dan mengunjungi pulau tak berpenghuni seorang diri sampai sore hari.

Di Lautan Hindia, Pulau Jawa
Foto : repro dari buku Mengejar Pelangi di Balik Gelombang

Angan-angan berlayar ke tempat jauh semakin menggebu. Ketika beranjak dewasa Sam memang bekerja di atas kapal. Ia bekerja sebagai awak kapal pada sebuah perusahaan raksasa kapal pesiar bergengsi milik Holland America Cruise. Perjalanan panjang pada banyak negeri orang membawa Sam bersandar di pelabuhan Kota New York, Amerika Serikat pada tahun 1970-an.

Pria kelahiran Singapura tahun 1950 ini takjub dengan gedung-gedung pencakar langit yang mengisi sudut-sudut kota New York. Belum lagi museum dan perpustakaan yang menyediakan akses tak terbatas pada kegemaran Sam dalam hal membaca buku. Keputusan kabur dari kapal pesiar itu dirasa sudah tepat. Sam pun larut dengan jutaan penduduk New York lain sebagai penduduk ilegal alias Illegal alien. Sam bekerja banting tulang. Mulai dari pencuci piring kotor restoran, penjaja makanan di atas kereta sampai pengantar makanan siap saji.

“Saya bekerja di New York sampai 20 tahun. Sampai akhirnya saya mendapatkan Green Card di tahun 1984. Hidup saya di sana sebetulnya sudah nyaman. Bisa dibilang lebih banyak suka dari pada dukanya,” ungkap Sam yang ditemui detikX di Bandung, Jawa Barat, pekan lalu.

Dari bekerja serabutan hingga akhirnya Sam memiliki pekerjaan tetap sebagai kaligrafer di sebuah studio seni grafis. Sam punya sebuah tempat tinggal di apartemen dan motor besar Harley Davidson. Hidupnya di negeri Paman Sam itu sudah sejahtera. Jaminan pensiun pun sudah ada. Tapi lambat laun suara yang terdengar dari laut terdengar kembali. Keinginan Sam untuk melaut semakin kuat.

“Akhirnya memutuskan untuk meninggalkan New York dan memenuhi impian saya sejak kecil. Menyeberangi lautan seorang diri. Saya juga merasa bersalah dengan keluarga di Indonesia, seolah  i’m not doing my part, ninggalin rumah dari kecil, makanya saya mau pulang,” kata Ayah tiga anak ini.

Mengganti Layar Depan (Jib)
Foto : repro dari buku Mengejar Pelangi di Balik Gelombang

Obsesi menyebrangi lautan membuat Sam membeli sebuah kapal layar di Annapolis, Maryland dekat sebuah teluk besar di Pantai Timur Amerika. Teluk yang dikenal dengan nama Cheseapeake Bay. Sam jatuh cinta pada pandangan pertama dengan sebuah perahu berlayar biru bikinan tahun 1972. Perahu yang kemudian ia berni nama Stray, artinya “Binatang Jalanan”. Ia beri nama demikian karena di kawasan Brooklyn tempat Sam tinggal, ia dikenal sebagai sosok dermawan pemberi makan kucing dan anjing liar yang kelaparan. Stray dulunya merupakan perahu balap yang dapat memuat delapan orang.

Sam dan Stray berlayar dari pelabuhan New York di saat musim dingin menyapa, Desember 1992. Tujuan persinggahan pertama di Tanjung Harapan. Stray melewati jembatan yang Patung Liberty dan meninggalkan gedung-gedung tinggi di Lower Manhattan. Juga Brooklyn tempat di mana ia tinggal puluhan tahun. Setelah melalui jembatan Verrazano yang menghubungkan Brooklyn dan Staten Island. “Saya menyalakan terompet beberapa kali sebagai tanda perpisahan, i'm outta here,” ucap Sam.

Pukul lima sore suasana sudah gelap gulita. Ia mematikan lampu di dalam perahu. Dan membiasakan diri melihat dalam kondisi gelap. Tak satu pun bintang bersinar menghiasi langit. Malam yang dilewati Sam bersama Stray menjadi mimpi buruk. Terutama ketika Stray mengarungi wilayah rawan seperti Gulf Stream. Di sana mengalir berlawanan antara arus laut dengan arus angin. Ini menyebabkan gelombang laut menjadi liar.  Angin menderu semakin kuat dan menimbulkan badai angin. Permukaan laut menjadi putih dan menyebar naik ke udara menyerupai semprotan atau spray.

Suasana gelap. Kelam tak ada setitik cahaya malam. Sam mulai kelelahan. Rasa takut menghampiri dirinya. Sesekali kapal terangkat ke udara oleh gelombang laut dan jatuh tanpa aba-aba. Barang-barang dalam perahu berhamburan keluar. “Saat terjebak dalam badai saya hanya bisa pasrah. Ayat-ayat Alquran saya bacakan dalam hati. Sosok ibu yang membuat saya tidak putus harapan. Saya nggak ingin membuat ibu sedih karena anaknya menghilang di laut. Makanya saya harus bertahan,” ungkap Sam yang sebelumnya tidak memberi kabar kepada ibunya tentang perjalanan pelayaran ini.

Fazham Fadlil Berjualan Barang Custom di Bandung
Foto : dok. instagram Fazham Fadlil

Ia bertahan dalam kepungan badai dan mencoba menyadarkan diri dengan banyak memakan buah-buahan kering seperti kurma, apricot, hingga kacang-kacangan. Untuk mencegah hypothermia ia membungkus seluruh badannya dengan kertas timah atau alumunium foil. Badai memang berlalu tapi kondisi kapal tidak memungkinkan Sam untuk melanjutkan pelayaran lebih jauh. Akhirnya ia mengalah dan memutuskan kembali ke New York.

Sam baru saja melewati kematian. Dia berhasil keluar dari kepungan badai di Samudra Atlantik. Tapi amukan laut tidak membuatnya jera. Enam bulan kemudian, setelah cuaca lebih bersahabat, Sam melanjutkan perjalanannya. Keberhasilannya menaklukan jarak New York-Jakarta dengan kapal layar seorang diri membuat ibunya begitu terkejut. “Faktor ibu yang membuat niat saya melanjutkan berlayar semakin kuat. Kalau saya tidak melakukannya saat itu. Mungkin sampai saat ini saya akan terus dihantui rasa penyesalan,” tuturnya.

Bersambung...


Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE