INTERMESO

Dari Bumbu Rujak
ke Layar Kaca

“Semua resep saya bagikan cuma-cuma tanpa ada rahasia.”

Ilustrasi: Edi Wahyono

Selasa, 10 Desember 2019

Berawal dari bumbu rujak, Restu Utami Dewi jadi terkenal di kalangan ibu-ibu pengguna media sosial. Etu, begitu ia disapa, tak sengaja melakukan eksperimen pada menu rujak kesukaannya. Bumbu rujak yang umumnya menggunakan kacang tanah ia ganti dengan kacang mete panggang.

Begitu hasil jepretan rujak mete dibagikan di Instagram, pengikut Etu langsung antusias. Jumlah follower-nya pun meningkat tajam. “Bukan cuma di Instagram, tempat asal saya di Cikampek jadi pada demam rujak kacang mete,” ungkap Restu kepada detikX dengan logat Sunda yang kental.

Hingga kini Etu berhasil mengumpulkan 358 ribu follower. Rujak mete dipasarkan di Cikampek melalui BBM, Facebook, dan Instagram, yang pengikutnya saat itu baru berjumlah 2.000-an. Setelah produknya di-endorse salah satu penggiat diet di Instagram, akun @restuutamidewa mulai kebanjiran order. Di luar dugaan, permintaan bumbu rujak mulai berdatangan dari luar kota. “Tangan saya sampai memar-memar biru kaya kena KDRT. Siapa sangka, berkat bumbu rujak, saya bisa tampil di beberapa acara stasiun TV,” kisah Etu. 

Kini Etu tidak hanya dikenal sebagai tukang jualan bumbu rujak premium. Etu yang serbabisa ini membagikan keahlian memasak yang ia pelajari secara otodidak. Sebelumnya, Etu hanya ‘koki’ rumahan yang memasak hanya untuk keperluan dapur keluarga. Lambat laun, ibu tiga anak ini mulai menjadikan hobinya sebagai profesi.

Restu Utami Dewi
Foto : Instagram

Selepas lulus S2 di salah satu universitas swasta, Etu merasa tidak cocok menjadi pekerja di kantoran. Lalu ia nekat menjadi wiraswasta dan bekerja dari rumah. Setelah memiliki anak 1, ia membuat brand CakiCake yang menjual Edible Image Cake di Cikampek. Saat itu 8 tahun lalu, kue dengan hiasan foto di permukaannya sedang jadi hit. “Modal awal buat beli printer, mixer besar, dan oven saya pinjam dulu dari orang tua,” kata Etu.

Nama CakiCake diambil dari nama anak pertamanya, Shaqi. Etu memilih bahan-bahan premium untuk memproduksi kuenya karena ia sendiri menyukai makanan yang enak. Ternyata menjual kue premium di Cikarang tidak mudah. Pelanggan menginginkan kue yang murah dan enak. “CaciCake sampai dapat julukan kue mahal,” ungkap Etu saat menuturkan pengalaman pertamanya berwirausaha.

Tapi ini kalimat yang terus ditanamkan dalam diri Ibu Etu. “Sabar, sabar, sabar, saya bukan tukang tipu, saya sama seperti penjual lainnya jualan pasti pengin dapat untung.” Setelah dua tahun berjalan, CakiCake mulai menarik hati konsumen. Salah satunya karena order dari salah satu pelanggan berpengaruh di Cikarang.

“Saat itu ada order dari Cici yang buka toko perhiasan. Dia kasih tantangan untuk bikin kue. Ternyata dia suka,” tutur Etu. Sejak itu kue buatan Etu dipasarkan dari mulut ke mulut. Banyak pelanggan yang merekomendasikan kuenya.

Meski telah disibukkan oleh kegiatan membuat kue dan mengurus ketiga anaknya tanpa pengasuh, Etu tetap menerima tantangan dari salah satu penerbit buku. “Pagi saya dapat telepon dari penerbit yang saya idamkan dengan Pak Su (suami Etu). Rasanya kaya PDKT sama cowok, terus langsung ditembak, itu bikin ser-ser gimana gitu,” ungkapnya.

Mimpi Etu menerbitkan buku resep makanan pun terwujud. Kumpulan resep menu masakan dan kue Etu kini sudah menjadi dua wujud buku. Keduanya pun masuk kategori best seller. Buku 'Go Kitchen 1' terjual 8.000 eksemplar dalam masa pre-order. Sedangkan buku 'Go Kitchen 2 'terjual 5.000 eksemplar.

Kue buatan Restu Utami Dewi
Foto : Instagram

Buku resep Etu laris dan memiliki fans garis keras dari seluruh Indonesia. Alasannya, Etu tidak segan membagikan resepnya tanpa ada yang disembunyikan. Termasuk resep jualannya. “Semua resep saya bagikan cuma-cuma tanpa ada rahasia. Karena saya percaya rezeki kita tidak akan tertukar,” ungkap Etu, yang juga dikenal dengan jargon khasnya ‘Sakiceup Tring!’. Etu justru senang, karena resepnya, ia bisa mendorong para ibu rumah tangga lebih berdaya. “Waktu saya ngadain meet and greet sama pembaca, banyak yang bilang terima kasih ke saya. Sebab, berkat buku itu, mereka jadi bisa jualan, nggak cuma ngandelin uang dari suami.”


Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE