INTERMESO

Penolong Bibir Sumbing dari Bekasi

“Kalau kalian berani menghalangi pekerjaan saya, hati-hati ya, bukan dari saya tetapi dari yang di Atas.”

Foto : Suter Andre Lemmers saat bakti sosial di Kupang/Dok Yayasan Sinar Pelangi

Minggu 24 November 2019

Bandara Kemayoran menjadi saksi kedatangan Suster Andre Lemmers di Jakarta. Pemilik nama lengkap Antonia Maria Lemmers ini telah memantapkan hati untuk meninggalkan tanah airnya Belanda dan menjadi misionaris. Bagi Suster Andre, berkarya di tanah kelahirannya tidaklah menarik. Begitu juga untuk bertugas di Eropa dan Amerika.

Sejak mengucap kaul kekal dan menjadi anggota kongregasi Suster FCJM, Suster Andre sangat ingin mengabdikan pelayanannya untuk masyarakat di negara berkembang. Pilihannya jatuh pada Indonesia, negara yang belum pernah ia kunjungi.

Gambaran daerah misi tempatnya bertugas pun belum terbayang sama sekali. Tepat pada tanggal 13 Mei 1973, Suster Andre tiba di Jakarta. Namun, ia hanya tiga bulan singgah. Waktu itu digunakan untuk beradaptasi sekaligus belajar Bahasa Indonesia. Selanjutnya Suster Andre akan berkarya di Papua.

Baru beberapa jam Suster Andre menginjakan kaki di Jakarta, perasaan tidak nyaman muncul di benaknya. Pemandangan Jakarta jauh berbeda dengan kota-kota di Belanda. Dia merasakan kesenjangan antara orang kaya dan miskin begitu jauh. Rumah-rumah megah di beberapa tempat berbanding terbalik dengan gubuk-gubuk kecil di perkampungan dan tepi kali. Di tepi jalan, dia lihat beberapa orang tergeletak tidur. Apalagi dia menyaksikan semua pemandangan sambil duduk dengan tenang di mobil.

Acara bakti sosial Yayasan Sinar Pelangi di NTT
Foto : Dok. Yayasan Sinar Pelangi

“Saya tidak merasa nyaman karena saya merasa seperti seorang raja melewati kota-kota Jakarta dan melihat orang-orang yang sangat miskin, tidak punya tempat tinggal, rumahnya kecil, kadang-kadang tidak punya atap, aduh saya merasa sedih,” ucap Suster Andre dalam buku berjudul Penolong Bibir Sumbing Dari Spaarndam.

Sampai-sampai banyak orang yang menyebut saya ini bapak sumbing. Karena mereka melihat penampilan saya seperti laki-laki. Rambut pendek, suara saya seperti laki-laki, jadinya saya dianggap bapak-bapak.'

Suster Andre jadi teringat dengan keluarganya di Belanda. Dia juga bukan lahir dari keluarga kaya raya. Mereka hidup sebagai keluarga sederhana. Orang tuanya, Hendrikus Waladimir Albert Ernest Lemmers dan Cornelia Maria Van Der Vaart, mesti banting tulang membesarkan 15 orang anaknya. Suster Andre sendiri merupakan anak kelima. Saat itu jumlah besar dalam satu keluarga merupakan hal yang biasa. Demi membantu perekonomian keluarga, Suster Andre putus sekolah di usia 14 tahun. Pekerjaan kasar sudah biasa ia lakukan. Di saat bersamaan ia harus jadi asisten rumah tangga dan memerah sapi untuk dapat makan.

Namun, keluarga Suster Andre punya rumah dengan beberapa kamar meski harus berbagi dengan yang lain. Sementara di Jakarta ia menyaksikan kehidupan yang jauh lebih sederhana ketimbang keluarganya. “Kalau Jakarta yang merupakan ibu kota seperti ini, bagaimana dengan Sumatra dan Irian (Papua)?” ucap Suster Andre dalam benaknya.

Suster Andre tiba di Enarotali, kota kecil di pedalaman Papua. Letaknya diapit oleh gunung-gunung tinggi. Kedatangan Suster Andre di Papua disambut kerumunan masyarakat setempat. Kedatangan pesawat di Bandara Enarotali menjadi hiburan tersendiri bagi warga sekitar. Disebut sebagai bandara walaupun wujudnya hanyalah lapangan tanah rata yang ditumbuhi rerumputan.

Untuk mengenal lingkungan baru itu, Suster Andre menyapa warga dengan berkeliling kampung dan melihat kehidupan masyarakat setempat. Ternyata jauh lebih sederhana. Mereka kebanyakan tinggal di rumah panggung. Peralatan makan seperti sendok dan garpu pun mereka tidak punya. Suster Andre juga merasakan kesulitan berkomunikasi. Selain karena Bahasa Indonesia yang belum lancar, warga setempat menggunakan bahasa Mee sebagai bahasa pengantar.

Setelah operasi bibir sumbing, pasien menjalani terapi wicara
Foto : Dok Yayasan Sinar Pelangi

“Dalam keadaan seperti itu, saya menulis di catatan harian bahwa saya terkesan adik-adik, kakak-kaka suster-suster yang saya sangat cintai. Saya merasa sepi, saya merasa tertekan. Tuhan tolonglah saya supaya saya menjadi orang yang bebas, tolonglah saya untuk melihat positifnya dari hal-hal di sekitar saya sekarang ini” tutur Suster Andre yang kini berusia 76 tahun.

Lambat laun, perasaan kalutnya itu hilang dengan berbagai kesibukan. Suster Andre membantu mengajar cara bercocok tanam. Terutama karena mata pencaharian utama warga setempat adalah berkebun dan berburu. Suster Andre mengajari teknik pemupukan menggunakan kotoran manusia. Hasil percobaannya, tanaman gladiol dan matahari tumbuh subur.

Selama empat tahun berkarya di Papua, Suster Andre juga turun tangan membantu masalah kesehatan masyarakat. Tapi ia harus pergi meninggalkan tanah misinya itu. Salah satu alasannya karena ia mengidap penyakit malaria.

Baru delapan bulan kembali ke Belanda, ternyata kesempatan datang kembali. Suster Rina Ruigrok dari Biarawati Karya Kesehatan atau BKK menawarkan karya kesehatan di Jakarta. Suster Andre merupakan orang yang tepat, terutama karena ia memiliki latar belakang pendidikan perawatan. Suster Andre jadi teringat situasi ketimpangan di Jakarta. Memori itu seolah memanggil kembali untuk berkarya di tengah masyarakat. “Tawaran ini sungguh tak diduga sama sekali. Tanpa pikir saya bilang mau saya sangat setuju. Ternyata pimpinan saya tidak keberatan sehingga saya kembali ke Jakarta sebagai misionaris,” ungkapnya.

Kedatangannya kedua kali ke Jakarta, Suster Andre terlibat dengan Yayasan Usaha Mulia yang diprakarsai oleh Johanna Sunarti Nasution, istri Jenderal Abdul Haris Nasution. Yayasan ini menampung orang miskin yang tidak punya biaya berobat dan pasien kritis yang ditolak rumah sakit. Suster Andre ikut melayani warga di permukiman kumuh di pinggir rel kereta Tanah Abang, masyarakat di pembuangan sampah Simprug, Jakarta Selatan. Pelayanannya turut merambah ke tepi Sungai Ciliwung.

Pada awal tahun 1980-an pemerintah Indonesia mengeluarkan kebijakan pembatasan bantuan dari negara asing. Yayasan yang selama ini mengandalkan donasi dari luar negeri harus mencari akal dari dalam negeri. Tenaga asing yang bekerja cukup lama di Indonesia pun diberi dua pilihan, kembali ke negara asal atau menjadi WNI.

Kebijakan ini juga berimbas pada Suster Andre. Dia bisa saja pulang ke Belanda dan berkumpul dengan keluarga tercinta. Namun Suster Andre tetap mantap pada pilihannya yaitu untuk melayani di tengah masyarakat. Sambil menggunakan kebaya, Suster Andre mengikuti proses pengambilan sumpah di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Suster Andre Lemmers
Foto : Dok Yayasan Sinar Pelangi

Pilihan Suster Andre untuk berkarya di Indonesia membuahkan hasil. Ia menginisiasi berdirinya Yayasan Sinar Pelangi. Sejak awal berdiri hingga kini telah berusia lebih dari 30 tahun, Yayasan yang berlokasi di Jati Bening, Bekasi, ini memberikan perhatian untuk menolong anak-anak penyandang cacat fisik. Mereka seringkali tersingkir dalam pergaulan. Dianggap aib dan kutukan oleh keluarga dan lingkungan sekitar. Pemerintah pun belum menjamah mereka. Yayasan ini menangani penderita catat sumbing, langit-langit mulut yang terbelah, luka bakar, tumor, hidrosefalus dan lain-lain. Untuk menangani pasien yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia, Yayasan Sinar Pelangi bekerja sama dengan berbagai rumah sakit di Jakarta.

Suster Andre sampai mendapat julukan bapak bibir sumbing. Saat melayani di Kali Ciliwung, Suster Andre mendapat pasien pertama, seorang gadis berusia 16 tahun dengan bibir sumbing. Kabar itu menyebar Sehingga Suster Andre kebanjiran pasien. “Sampai-sampai banyak orang yang menyebut saya ini bapak sumbing. Karena mereka melihat penampilan saya seperti laki-laki. Rambut pendek, suara saya seperti laki-laki, jadinya saya dianggap bapak-bapak,” katanya.

Pembangunan balai pengobatan sempat mendapat hambatan. Banyak instansi dari pemerintah yang terus menerus mempertanyakan izin. Padahal Suster Andre sendiri yang telah mengurus syarat perizinan hingga selesai. “Pekerjaan saya bukan kemauan saya pribadi. saya datang dari jauh untuk menolong bangsa Indonesia bukan untuk saya pribadi,” kata Suster Andre ketika menghadap ke salah satu instansi.

“Agama kita berbeda tapi sebenarnya Tuhannya sama. Kalian punya Nabi Muhammad saya punya Yesus. Pekerjaan saya bukan kemauan saya pribadi tetapi kehendak yang di Atas. Kalian tahu itu,” tegas Suster Andre. “Kalau kalian berani menghalangi pekerjaan saya, hati-hati ya, bukan dari saya tetapi dari yang di Atas. Awas kalau kalian memanggil saya lagi. Hati-hati. Di Atas yang akan mengatur.” Sejak peristiwa ini tidak ada satu pun dari pejabat atau instansi yang mendatangi.

Berkarya di tengah masyarakat nonkatolik, Suster Andre kerap menerima tuduhan Kristenisasi. Padahal misinya bukan ingin membaptis mereka, tetapi membantu untuk memperbaiki kehidupan masyarakat yang masih sederhana. Baginya, membaptis orang bukanlah tujuan hidupnya. Dia ingin masyarakat dapat tertolong dengan kehadirannya.

Selain pasien cacat, Yayasan Sinar Pelangi juga mengembangkan pelayanan di bidang lain. Seperti menyediakan fasilitas kamar perawatan pasien, gedung kerajinan tangan, bengkel otomotif, klinik bedah umum, panti jompo, gedung panti asuhan, kolam renang untuk fisioterapi dan sebagainya.


Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Irwan Nugroho

[Widget:Baca Juga]
SHARE