INTERMESO

Seribu Nyali Franky
Si Pemberani

“Dia meminta temannya mencari potongan kelingkingnya yang
jatuh dari ketinggian ratusan meter.”

Foto: dok pribadi via facebook

Senin, 11 November 2019

Tidak hanya sekali dua kali Franky Kengkang Kowaas bikin istrinya was-was. Suatu kali Franky pernah menghilang tanpa kabar di tengah pendakiannya menuju puncak Carstensz Pyramid atau Puncak Jaya di Papua. Franky pergi bersama rombongan tamu yang kebanyakan merupakan orang asing. Mereka ingin menyentuh atap tertinggi di lempeng Austronesia itu.

“Kalau boleh, aku mau bertukar posisi dengan Franky. Aku menjadi dia dan dia menjadi aku. Kenapa? Biar Franky tahu betapa banyak hariku habis dengan debar jantung yang keras,” ucap Nanvie Jane Tagah, istri Franky. Sudah 87 kali Franky bolak-balik mendaki Carstensz. Pun pada akhirnya, Franky selalu selamat dan kembali ke dalam pelukan sang istri. 

Namun, kali ini Nanvie begitu takut kegusaran dalam hatinya akan menjadi kenyataan. Sebuah kabar dari televisi membuat tulang-tulangnya seakan copot. Acara berita menampilkan penampakan gempa yang berpusat di Palu dan Donggala September 2018 silam. Siaran itu memperlihatkan kondisi Hotel Roa Roa yang luluh lantak dihantam gempa. Dari 80 kamar yang tersedia, 76 di antaranya penuh. Ketika bencana terjadi, suami Nanvie tengah bermalam di situ.

Mendiang Franky Kengkang Kowaas (tengah)
Foto : Facebook

Bukan Franky namanya kalau nyalinya ciut. Dia tahu, angka minimal untuk tetap safe melakukan base jumping adalah 60 meter.”

Saban hari Franky meminta izin berangkat ke Palu. Ia ingin mewujudkan cita-citanya mendirikan bisnis tambang emas. Untuk itu Franky survei melihat tambang emas di daerah Palu Moutong. Rencananya Franky akan berangkat subuh, tapi sang istri menahannya sampai sore hari. “Hanya sebentar aku bisa menahannya. Dia memang harus pergi, aku harus melepaskan pelukanku saat itu,” ujar Nanvie dikutip dari buku Franky 'Kengkang' Kowaas Petualang Seribu Nyali.

Jumat saat terjadi gempa, pigura foto Franky terjatuh dan kacanya pecah. Nanvie memandang sorot mata suaminya yang tertangkap dalam foto itu. Sambil kepalan tangannya teracung ke atas langit, Franky tampak penuh percaya diri. Sifat itu juga meluluhkan hati Nanvie yang terpaut 12 tahun lebih muda dari suaminya.

Sebagai penggila olahraga ekstrem, begitu banyak kejadian nyaris merenggut nyawa Franky. Rasanya baru kemarin ia terempas dan membentur dinding pencakar langit di Kuala Lumpur. Sejak 2008, Franky juga mencanangkan diri sebagai orang Indonesia yang akan menjadi seven summiter, penakluk tujuh puncak tertinggi di dunia. Beberapa gunung tertinggi di dunia itu pun telah berhasil ia jelajahi. “Franky boleh saja berkali-kali lolos dari nasib buruk. Semoga kali ini pun dia mengalami hal yang sama,” tutur ibu dari tiga orang anak ini.

Franky memang dikenal sebagai sosok penuh energi dan pemberani. Dia tidak pernah takut pada apapun. “Takutlah hanya kepada Tuhan,” ucap Franky suatu kali. Namun sewaktu kecil, Franky yang lebih dikenal dengan nama Kengkang ini memang sangat takut pada setan dan ular, dua makhluk yang dia pikir akan menyergapnya di tempat sepi. Setiap kali pulang kuliah dan melewati jalan sepi, ia siap dengan batu-batu di tangan. Kengkang kecil melempar batu ke setiap rumah. Tujuannya agar anjing mengonggong lalu pemilik rumah akan keluar. Lumayan ada yang menengok dia di saat jalanan sepi.

Barangkali seribu nyali Franky berasal dari sang ayah. Ayah pria kelahiran Samarinda, 18 juli 1961 itu adalah seorang mantan tentara kerajaan Hindia Belanda. Meski tentara Belanda, banyak dari anggotanya merupakan asli pribumi. Franky bangga punya ayah seorang tentara. Terlebih karena petualang ayahnya keleiling indonesia di banyak pelosok.

Franky Kengkang Kowaas.
Foto : Facebook

“Kengkang selalu menunggu saat papi berkisah penuh heroik saat pindah tugas di Kalimantan, Halmahera, Gombong, Tarakan, bahkan Papua Nugini dan Australia. Kengkang pastti duduk bersila mendegarkan kisah itu bersama saudara-saudaranya,” kata Nanvie mengenang masa kecil Franky.

Minat Franky kepada olahraga alam datang karena dia terlebih dahulu jatuh cinta pada kegiatan pramuka, meskipun Franky tidak mau mengakuinya. Ketika usianya masih 16 tahun, Kengkang remaja sudah melaut naik kapal menuju Sibolangit, Sumatra Utara, menghadiri pertemuan bergengsi pramuka seluruh tanah air, yaitu Jambore Silangit. Acara ini merupakan jambore nasional kedua yang pernah diselenggarakan di Indonesia. Melalui kegiatan pramuka Kengkang remaja betul-betul digembleng baik secara mental, fisik, intelektual, spiritual dan jiwa sosialnya sebagai individu. 

Franky baru mulai tergoda dengan alam liar ketika ia melihat sampul buku dan majalah luar negeri koleksinya menampilkan petualangan di sungai. Saat itu Franky yakin di Sulawesi Utara banyak sungai yang bisa dijadikan surga arung jeram. Dalam perjalanannya itu, Franky menemukan Sungai Nimanga yang kini menjadi lokasi arung jeram favorit. Sejak menekuni rafting secara profesional banyak penghargaan yang ia raih. Salah satunya meraih Gold Medal for Slalom, National Rafting Champion pada 2001. Anak kelima dari sembilan bersaudara ini juga ikut memberangkatkan tim ke Paman Sam. Mereka menghadiri World Rafting Championship di Gauley dan New Rivers. Dalam acara itu 500 profesional di bidang olahraga arung jeram berkumpul dan bertanding.

“Bukan hanya Sungai Nimanga, Franky juga mengembangkan olahraga paralayang di Bukit Tempengan. Awal mulanya Franky menempatkan diri sebagai kelinci percobaan,” kata Nanvie.

Franky memang bukan James Bond yang dalam film 'A View to Kill' dapat melompat dari menara Eiffel menggunakan parasut. Di usia yang tak lagi muda, Franky justru tergoda dengan olahraga base jumping. Olahraga ini mewajibkan pelakunya untuk terjun bebas dari atas gedung pencakar langit. Ketimbang terjun bebas dari helikopter atau pesawat, base jumping bisa dibilang paling berbahaya di dunia. Jarak lompatan jumper menjadi amat pendek. Seperti ketika Franky nekat loncat dari atas Menara Pelita di Malaysia yang tingginya paling hanya 86 meter. Sementara jika menggunakan pesawat terbang minimal ketinggiannya mencapai 800-900 meter. Dari atas gedung ini Franky hanya punya waktu 50-55 detik sebelum menyentuh tanah.

“Bukan Franky namanya kalau nyalinya ciut. Dia tahu, angka minimal untuk tetap safe melakukan base jumping adalah 60 meter,” ucap Nanvie. 

Awalnya Franky hanyalah penggila olahraga ekstrem. Mata franky makin terbuka. Ia mengubah kecintaannya menjadi ladang yang menghasilkan panen melimpah. Franky mengembangkan bisnis arung jeram di Sungai Nimanga dan mendirikan Waraney Arum Jeram 1997 silam. Sementara di tahun 2005, Franky mendirikan Manado Advanture, layanan wisata alam bebas yang lebih beragam. Salah satunya termasuk membuka jalur pendakian ke Carstensz Pyramid.

Franky saat melakukan olah raga base jumping 
Foto : Facebook.

Banyak orang berpikir, Franky akan pergi kepada Illahi sambil mencium es di puncak gunung bersalju, atau ditemukan di arus liar sungai atau saat membelah langit dengan parasutnya.  Kematian Franky pada akhirnya tidak 'mengotori' citra olahraga ekstrem. Dia menghembuskan nafas terakhir di luar lingkaran itu. Jenazah Franky ditemukan lima hari setelah gempa, di antara puing-puing Hotel Roa Roa.

Ketika ditemukan terlihat jari Franky terjuntai di reruntuhan. Kelingking sebelah kiri tidak lengkap ruasnya, ciri khas fisik yang meyakinkan Nanvie bahwa jenazah itu merupakan sang suami. Kehilangan kelingking itu Franky dapatkan ketika berlatih terjun payung di Lanud Pondok Cabe, Tangerang Selatan. Tali parasut yang mengembang melilit kelingking tangan kiri Franky. Daya dorong angin yang kuat seketika memutus ruas jari itu. “Franky kelihatan santai. Malah sempat bergurau. Dia meminta temannya mencari potongan kelingkingnya yang jatuh dari ketinggian ratusan meter”.  

Franky turut membantu mengembangkan industri pariwisata Manado. Paket wisata kini bukan hanya gunung dan pantai tapi juga olahraga ekstrem. Pada minggu keempat puncak peringatan mengenang kepergian Franky, sahabatnya yang juga atlet paralayang berkumpul dan melakukan aksi tabur bunga dari langit. Selain Franky, mereka turut mengenang tiga olahragawan paralayang kebanggaan Sulawesi Utara, Petra Mandagi, Gleen Mononutu dan Loren Kowaas yang tewas dalam bencana itu. “Franky sudah terbaring dan tenang. Yang tersisa kemudian adalah kenangan dan warisannya,” tutur Nanvie.


Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE