INTERMESO

Ke Afrika Aku Belajar

“Pelajar Indonesia di sini hanya sekelumit. Itu karena kuota yang terbatas untuk lima belas orang.”

Foto: dok. Agus Ghulam Ahmad

Selasa, 5 November 2019

Bagi Agus Ghulam Ahmad, Maroko, Afrika Utara, terasa seperti surga. Di sepanjang jalan terlihat aneka hijau-hijauan. Pohon zaitun mudah ditemukan bergerombol di pinggir jalan. Begitu pula dengan tanaman jeruk, yang menghiasi jalan dan pekarangan rumah. Di negara yang beda satu jengkal dengan Spanyol ini, jalanan amat lengang. Tak seperti Jakarta, pengguna jalan tak lagi perlu memangkas umur di jalanan.

Kehidupannya di Maroko bermula dari sebuah pesan pada September 2014. Sebuah pesan dari Kementerian Agama yang menyatakan Agus lolos beasiswa. Pria kelahiran 1996 ini merupakan satu dari segelintir orang yang terpilih menerima beasiswa Universitas Hasan II Casablanca Jurusan Akidah dan Perbandingan Agama.

“Pelajar Indonesia di sini hanya sekelumit. Itu karena kuota yang terbatas untuk 15 orang,” ujarnya, yang semasa kuliah tinggal di Kota Fes. Pada awal masa kuliah di Universitas Hasan II Casablanca, terhitung tak sampai seratus pelajar yang mengenyam pendidikan di Maroko. Terpaut jauh dengan negeri-negeri Timur Tengah lain.

Saat pertama kali menerima kabar mengenai beasiswa, tak terhitung banyaknya keluarga dan kerabat yang memuji Agus. Padahal kehidupan di Maroko, terutama pada masa awal, lebih banyak ‘garam’ daripada ‘gula’. Mahasiswa asing seperti Agus tertatih untuk lulus dan babak belur kemudian.

Di kotaku, biaya sewa rumah 2.500 dirham per bulan, dibagi delapan orang. Ditambah dengan iuran makan dan internet, untuk dua bulan aku membayar 1.200 dirham. Tinggal sisa 300 dirham di tangan.”

Agus Ghulam Ahmad

Agus Ghulam Ahmad
Foto: dok. Instagram

Tahun pertama belajar di Jurusan Akidah dan Perbandingan Agama terasa begitu kejam. Agus kesulitan memahami ucapan dosen karena ia berbicara bahasa Arab dengan cepat. Tak ada jeda setahun persiapan bahasa bagi pelajar asing. Agus pun mengatasinya dengan bantuan alat perekam.

“Tiap kelas berlangsung harus sedia perekam suara untuk nanti malam diulang dalam kamar. Begitu terus sampai berbulan-bulan,” kata Agus, yang sempat ikut remedial lebih dari setengah mata kuliah pada tahun pertama. Setelah tahun pertama terlewati, Agus baru mulai terbiasa dengan tempo dan irama penyampaian dosennya.

Karena mendapatkan beasiswa, Agus kuliah dengan cuma-cuma tanpa bayar biaya per semester. Terlebih mahasiswa asing yang menempuh sarjana juga mendapatkan uang saku alias sangu dari Kerajaan Maroko per dua bulan sebesar 1.500 dirham atau kini sekitar Rp 2,1 juta. Jumlah itu lebih dari cukup untuk kebutuhan makan sehari-hari.

Uang itu digunakan Agus untuk sewa rumah. Sebetulnya ada asrama kampus yang diberikan cuma-cuma, tapi mahasiswa Indonesia jarang menggunakan karena prosesnya berbelit-belit.

“Di kotaku biaya sewa rumah 2.500 dirham per bulan, dibagi delapan orang. Ditambah dengan iuran makan dan internet, untuk dua bulan aku membayar 1.200 dirham. Tinggal sisa 300 dirham di tangan,” tuturnya dalam buku Perantau Ilmu Timur Tengah-Afrika.

Adikza Nurul Islam (depan-paling kiri) bersama teman-temannya
Foto: dok. pribadi

Karena uang di kantong yang pas-pasan, banyak mahasiswa memilih tidak pulang kampung saat liburan tiba. Mereka harus menunggu bertahun-tahun untuk pulang sampai masa kuliah berakhir. Akibatnya, mereka mesti rela melewatkan banyak peristiwa di kampung halaman.

“Ini bukan Jakarta-Surabaya, yang bisa ditempuh jarak 2 jam perjalanan di atas awan. Segala hal berbau undangan itu aku benci. Bukan mengapa, tapi karena aku tak bisa datang,” tutur Agus.

Adikza Nurul Islam juga merasakan susahnya hidup di negeri orang, terutama pada tahun pertama. Adikza tengah menempuh pendidikan di Universitas Az-Zaitunah Tunisia, Afrika Utara. Negara termakmur ketiga di Afrika. Berbeda dengan di Indonesia, pemilihan jurusan baru ada pada tahun kedua. Ketika masa ujian tiba, Adikza harus menjawab soal dengan metode manhajiyyah alias makalah. Setiap soal dijawab dengan format pembukaan, isi, dan penutup.

“Kalian bayangin saja sendiri, berapa lembar HVS gue abisin buat jawab soal-soal,” tuturnya dalam buku Perantau Ilmu Timur Tengah-Afrika. Sesi perkuliahan dimulai dari Senin sampai Sabtu, dari pukul 08.00 pagi hingga 17.00 waktu setempat.

Untuk biaya kuliah, kampus-kampus di Tunisia boleh dibilang masih terjangkau. Misalnya, mahasiswa jenjang S1 hanya dikenai biaya materi dan administrasi sebesar 60 dinar atau Rp 297 ribu, sementara mahasiswa S2 dan S3 hanya 110 dinar atau sekitar Rp 546 ribu.

Yang mahal itu justru biaya hidupnya. Beasiswa pemerintah Tunisia untuk mahasiswa Indonesia telah terhenti sejak beberapa tahun belakangan. Adikza harus membayar biaya sewa flat dua kamar yang mencapai 200 dolar. Itu pun hanya rumah kosong tanpa perkakas. Sedangkan negara lain masih memperoleh beasiswa bulanan dan jatah tinggal di asrama kampus.

Adikza Nurul Islam
Foto: dok. Instagram

Untungnya mahasiswa bisa menikmati fasilitas math'am jami'i alias kantin mahasiswa. Di kantin ini, mahasiswa menikmati menu beragam dan bergizi dengan porsi besar untuk ukuran orang Arab. Harganya pun kaki lima. Uang 1 dinar bisa ditukar lima kupon untuk lima kali makan. Semua bisa murah karena subsidi pemerintah. Menunya juga beragam, mulai daging sapi, ayam, kambing , ikan, telur, dan salad.

Gue biasa makan di meja berderet duduk berhadapan, berbaur dengan semua orang dari berbagai negeri,” ungkap Adikza. Fasilitas ini tersedia di mana-mana di sekitar kawasan kampus atau asrama mahasiswa. “Di sini nggak cuma mahasiswa doang yang makan. Guru, dokter, hingga tukang bangunan, bahkan pejabat. Di meja ini kamu lupa dengan perbedaan warna kulit atau bentuk rambut. Kami disatukan dengan kesamaan perasaan lapar.”


Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE