INTERMESO

Bahagia Menjadi Minimalis

“Setelah merapikan barang aku jadi banyak merenung, banyak orang di luar sana bisa hidup hanya dengan 3 pakaian,
kenapa aku nggak puas-puas.”

Ilustrasi: Edi Wahyono

Sabtu, 28 September 2019

Sebagai pasangan suami-istri baru, menemukan hunian dengan harga miring di kota sepadat Jakarta bukan perkara mudah. Setelah ‘blusukan’ ke sana kemari, Lia Rifany Sebayang dan suaminya, Bastian, akhirnya menemukan sebuah apartemen di bilangan Kelapa Gading, Jakarta Utara. Meskipun ukurannya mungil, namun harganya sesuai dengan budget mereka. Fany, begitu perempuan itu disapa, juga tak masalah meski lokasi apartemennya agak jauh dari lokasi kantornya yang berada di Jakarta Pusat.

Tapi lambat laun, karena hidup berdua dalam satu atap, apartemen yang ditinggali Fany terasa semakin sesak. Apalagi karena hobi Fany yang gampang tergoda dengan barang-barang branded. Setiap ada kesempatan, Fany kerap menggunakan jastip alias jasa titip untuk membeli tas merek-merek mewah seperti Coach dan Katespade. 

Agenda belanja itu ia jadikan sebagai sarana pelepas penat, meskipun Fany kembali pusing ketika melihat angka tabungannya ikut menipis. “Dulu aku belanja untuk stress relieve, tapi efek itu cuma sementara saja. Setelah mendapatkan barang yang kita inginkan, ya sudah, stress lagi kalau lihat tabungan,” canda Fany saat berbincang santai dengan detikX beberapa waktu lalu.

Lia Rifani
Foto : Dok Pribadi

Bisa dibilang aku beli rumah baru kekumpul uangnya karena konsisten menerapkan gaya hidup minimalis juga. Efeknya ke kehidupan juga aku lebih bisa menerima diri sendiri, lebih bersyukur dan nggak compare dengan hidup orang lain. Kita sadar, hidup yang dikasih buat kita sudah luar biasa banget, sudah beryukur banget.”

Lia Rifany

Barang belanjaan Fany semakin menumpuk, sementara pasutri yang sama-sama bekerja sebagai karyawan swasta ini tidak ada waktu untuk sekedar membereskan rumah. Akibatnya laci dan lemari semakin sesak. Membersihkan dan merapikan rumah pun menjadi hal yang berat untuk dilakukan. Beruntung Fany punya hobi merawat tanaman hijau dan kaktus. Setidaknya tanaman-tanaman ini yang membantu Fany melepaskan diri dari kejenuhan.

Hidup Fany berubah setelah menemukan sebuah video di YouTube mengenai gaya hidup minimalis. “Aku lupa siapa influencer yang pertama kali aku tonton, cuma saat itu aku merasa gaya hidup ini bisa jadi solusi dari tempat tinggal aku yang sumpek dan nggak tertata ini,” ungkap lulusan Universitas Sumatera Utara (USU), Medan, ini.

Gaya hidup minimalis mulai meledak di Jepang sejak tahun 2011. Gaya hidup minimalistik dipengaruhi oleh Buddhisme Zen yang menentang gaya hidup konsumtif dengan cara mengurangi barang-barang yang mereka miliki. Konsep dari gaya hidup ini adalah “Less is more”. Dengan sedikit barang yang dimiliki, maka kita akan punya waktu lebih banyak untuk melakukan hal produktif lain.

Perkakas di dapur
Foto : Dok Lia Rifany

Gaya hidup minimalis juga lekat dengan nama penulis asal Negeri Sakura, Marie Kondo. Ia menerbitkan buku berjudul The Life-Changin Magic of Tidying Up atau keajaiban beberes yang mengubah hidup manusia. Dalam buku itu, Marie menganjurkan pembaca bukunya merapikan dan membuang barang-barang yang tak terlalu penting untuk kehidupan sehari-hari. Nama Marie (Konmari) bahkan dijadikan nama untuk aktivitas membereskan dan membuang barang-barang tak perlu. Bukunya pun terjual jutaan eksemplar.

Fany semakin mendalami gaya hidup minimalis. Ia merasa perlu menerapkan prinsip ini dalam keseharian demi menciptakan rumah yang dapat membuat penghuninya nyaman dan bahagia. Fany memulainya dengan membuang barang tak perlu dan membuang prinsip dibuang sayang. Ia juga menerapkan teknik membereskan barang-barang ala Konmari.

“Aku memilah dan membereskan barang di apartemenku, aku sortir. Ada satu kotak khusus untuk barang yang mau aku jual atau dihibahkan, satu kotak untuk di-keep sampai 10 hari, satu kotak lagi untuk 30 hari. Setelah jangka waktu itu kalau barangnya ternyata sudah tidak aku pakai, maka tanpa pikir panjang akan aku buang,” kata Fany saat memulai menerapkan gaya hidup minimalis tahun 2018 silam.

Tak mudah memang membuang barang kesayangan, apalagi jika barang itu dibeli dengan hasil jerih payah sendiri. Tapi Fany menemukan kepuasan ketika barang-barang itu dibuang. Tak hanya dapat melegakan mata, namun juga pikiran dan hati.

Tempat tidur yang simpel
Foto : Dok Lia Rifany

“Setelah merapikan barang aku jadi banyak merenung, banyak orang di luar sana bisa hidup hanya dengan 3 pakaian, kenapa aku nggak puas-puas. Selama ini aku boros banget, padahal bisa banyak nabung nih sebenarnya. Aku minta maaf sama diriku kalau aku terlalu kalap. Itulah kesalahan masa lalu, kita harus forgive the past and start the future dengan hidup minimalis.” tuturnya.

Dampak positifnya, gaya hidup minimalis membuat tabungannya menjadi bengkak. Hasilnya, ia dan suami bisa membeli rumah impiannya. Sebuah rumah dengan konsep ala Muji House yang minimalis.  “Bisa dibilang aku beli rumah baru kekumpul uangnya karena konsisten menerapkan gaya hidup minimalis juga. Efeknya ke kehidupan juga aku lebih bisa menerima diri sendiri, lebih bersyukur dan nggak compare dengan hidup orang lain. Kita sadar, hidup yang dikasih buat kita sudah luar biasa banget, sudah bersyukur banget,” ungkapnya.


Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE