INTERMESO

Jelajah Ibu Kota Baru

Antara Transmigrasi dan Isu Korupsi

“Kalau arwah ayah saya masih ada, dia pasti senang. Dia sudah bersusah payah di sini. Tapi tak apa, hasilnya akan dirasakan
anak-cucunya.”

Penampakan rumah transmigran di calon ibu kota RI

Foto: Ardan Adhi Chandra/detikcom

Jumat, 20 September 2019

Mengunjungi Desa Sidorejo di Kecamatan Penajam, Kabupaten Penajam Paser Utara, tak lebihnya seperti berkunjung ke desa-desa yang ada di Pulau Jawa. Mayoritas warga di desa ini menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa sehari-hari. Nama desanya sendiri juga diambil dari bahasa Jawa. Hal itu wajar karena Sidorejo merupakan desa transmigrasi yang 90 persen warganya berasal dari Jawa, khususnya Jawa Timur-Jawa Tengah.

Sidorejo didatangi transmigran sejak 1957 pada era Presiden Sukarno, yang juga menjadikan desa itu sebagai desa transmigran pertama di Kalimantan. Muhaji, Kepala Desa Sidorejo, mengisahkan perjuangan masyarakat transmigran pada awal-awal babat alas di Sidorejo. Sidorejo, yang dulu masuk Kelurahan Petung, masih berupa rawa-rawa. Hal itu menyulitkan warga bercocok tanam. “Karena itu, pendahulu kita menjadi bingung untuk melanjutkan hidup,” kata Muhaji kepada detikX, Selasa, 9 September 2019, di kantor Desa Sidorejo.

Mereka yang tak sanggup bertahan, kata Muhaji, pindah ke Balikpapan atau kembali lagi ke Jawa. Tak mengherankan, pada masa-masa awal transmigran itu, banyak rumah dan lahan yang ditinggal oleh pemiliknya. Dari 100 keluarga datang paling awal sebagai transmigran, sebut Muhaji, yang bertahan tidak lebih dari separuhnya.

Suasana Desa Sidorejo
Foto: Ibad/detiX


Ada istilah di warga kampung dulu, sore sakit pagi mati. Bahasa Jawanya gegeblug. Warga banyak yang mati karena terjangkit malaria tropikal. Warga yang sakit tidak bisa dibawa ke rumah sakit karena terlampau jauh dan akses jalan yang buruk.”

Slamet belum genap berusia 6 tahun ketika dia dan keluarganya menjejak Pulau Kalimantan pada pertengahan 1957. Kala itu dia dan keluarganya hidup melarat di Jawa karena ayahnya hanya buruh tani di Wonogiri. Maka, ketika pemerintah membuka program transmigrasi ke Kaltim, ayahnya tidak berpikir panjang untuk mendaftar. “Ketika mendapat kabar akan ada program transmigrasi dan akan diberi rumah dan lahan 1 hektare, ayah saya langsung tertarik. Kami sekeluarga akhirnya boyongan ke Kalimantan,” kata Slamet kepada detikX, Selasa, 9 September, di Desa Sidorejo.

Slamet dan ratusan transmigran lainnya berangkat dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, menuju Kalimantan. Mereka diangkut menggunakan kapal Pelni. Sesampai di Pelabuhan Balikpapan, Slamet melanjutkan perjalanan ke Penajam menumpang kapal layar. Dari Pelabuhan Penajam, perjalanan masih harus dilanjutkan lewat jalur darat sejauh 30 kilometer dengan truk ke penampungan di Petung. “Di pos itu semua mengantre untuk mendapatkan ransum, mendapatkan nomor rumah yang diundi,” ucap Slamet.

Dari kantor Kelurahan Petung ke rumah yang telah disiapkan, jaraknya kurang-lebih 3 kilometer. Jarak itu harus ditempuh Slamet dan kedua orang tuanya dengan berjalan kaki. Slamet ingat bagaimana ayahnya kerepotan saat berjalan karena harus memanggul karung berisi beras. Ibunya pun tak kalah repot karena menggendong dirinya yang masih kecil. Perjalanan 3 kilometer itu pun memakan waktu hingga berjam-jam karena sulitnya medan. “Jalan belum ada pengerasan. Jalannya masih menggunakan knopel (kayu bulat yang disusun) dan tidak menancap di tanah karena masih berupa rawa-rawa, sehingga kalau berjalan itu bergoyang-goyang,” ujar Slamet mengenang.

Slamet, transmigran pertama di Kalimantan
Foto: Ibad/detiX

Sesampai di tujuan, mereka terkejut. Ternyata bangunan rumah yang disiapkan pemerintah adalah rumah panggung di atas rawa. Atap rumah hanya dilapisi daun-daun nipah kering. Suasana di sekitar rumah berupa hutan belantara. Banyak pohon meranti dan pohon ulin berusia ratusan tahun menjulang tinggi. Kala itu Slamet masih sering menemukan hewan-hewan liar, seperti beruang, orang utan, dan ular.

Kemalangan keluarga Slamet bertambah ketika melihat lahan pertanian yang disediakan pemerintah ternyata belum siap ditanami. Pohon-pohon besar yang ditebangi masih dibiarkan berserakan begitu saja,  sehingga menutupi area ladang. “Akhirnya ayah saya dibantu saya jugalah yang merapikan kayu-kayu itu. Babat alas di ladang itu memakan waktu hingga 5 tahun hingga akhirnya bisa ditanami padi,” tutur Slamet.

Pada tahun pertama, memang Slamet dan keluarganya masih mendapatkan jatah beras dan ikan asin dari pemerintah untuk bertahan hidup. Namun, pada tahun-tahun berikutnya, ketika sudah tak lagi mendapatkan ransum, ayah Slamet terpaksa ke Penajam untuk menjadi buruh tani harian kepada warga pribumi. Slamet sendiri membantu ayahnya dengan mencari kelapa untuk dijual ke pasar Penajam. Masa sulit itu dilalui hingga bertahun-tahun sebelum akhirnya ladang mulai bisa ditanami.

Masalah kesehatan di desa transmigrasi itu juga sangat menyedihkan. Pada masa awal-awal mendiami desa transmigrasi itu, wabah penyakit malaria menjangkiti sebagian besar warga. Buruknya infrastruktur jalan dan jauhnya fasilitas kesehatan menyebabkan banyak dari mereka yang meninggal dunia. “Ada istilah di warga kampung dulu, sore sakit pagi mati. Bahasa Jawanya gegeblug. Warga banyak yang mati karena terjangkit malaria tropikal. Warga yang sakit tidak bisa dibawa ke rumah sakit karena terlampau jauh dan akses jalan yang buruk,” katanya.

Muhaji, Kepala Desa Sidorejo
Foto: Ibad/detiX

Mengenai buruknya fasilitas dan kondisi lahan warga transmigrasi di Desa Sidorejo ini, mantan Panglima Kodam Mulawarman Brigadir Jenderal Soehario Padmodiwirio alias Hario Kecik, dalam bukunya yang berjudul Pemikiran Militer 2: Sepanjang Masa Bangsa Indonesia (2009: 188), menyebutkan telah terjadi korupsi atau penyalahgunaan wewenang dari Jawatan Transmigrasi dalam hal pengiriman transmigran ke Kaltim. Tujuan utama pengiriman transmigran bukan untuk menyejahterakan masyarakat, melainkan lantaran Shell/BPM pada waktu itu memerlukan tenaga kerja dalam jumlah yang sangat besar untuk dipekerjakan dalam pemasangan pipa besar dari Tanjung (Jumlai) ke Balikpapan.

“Jalan paling murah untuk perusahaan asing itu adalah dengan menyalahgunakan Jawatan Transmigrasi melalui pejabat-pejabat korup. Orang-orang dari Jawa Tengah dengan janji mendapat tanah sebagai transmigran dikirim dalam jumlah mendekati ribuan ke Kalimantan timur. Ternyata, setelah dikumpulkan di semacam kamp interniran di Petung, mereka ditelantarkan supaya terpaksa mau bekerja menggali tanah guna pemasangan pipa untuk menyalurkan minyak jenis minyak tanah kental berkadar parafin tinggi dari Tanjung ke Balikpapan,” tulis Hario Kecik.

Setelah pekerjaan penggalian pipa itu selesai, ribuan warga transmigran di Petung atau Sidorejo tidak memiliki mata pencarian. Ketika itu warga transmigran berbondong-bondong membanjiri Kota Balikpapan untuk mengemis. Karena itu, pada tahun 1960-an itu muncullah istilah 'Pengemis Petung'. “Yang merupakan kekurangajaran Jawatan Transmigrasi adalah, untuk menutupi kejahatannya itu, meneruskan secara resmi proyek transmigrasi palsu di Petung itu walaupun kondisi tanah di situ tidak layak untuk pertanian. Untuk menutupi kejahatan mereka dan Shell, ribuan petani dari Jawa Tengah dikorbankan,” pungkas Hario Kecik.

Meski begitu, kini, setelah kurang-lebih 60 tahun berlalu, Sidorejo sudah jauh lebih makmur. Masyarakat desa sudah bisa mengolah tanah garapannya dengan menanam padi dengan varietas unggul, sehingga bisa memanen padi satu tahun tiga kali. Angka kesejahteraan warga juga meningkat secara drastis. Hal ini ditunjukkan dengan terpilihnya Desa Sidorejo sebagai desa terbaik kedua se-Provinsi Kaltim selama 3 tahun berturut-turut. “Setelah mekar dari Kelurahan Petung pada 2010, alhamdulillah desa ini sekarang dari awalnya paling terbelakang sekarang sudah mulai bisa menyusul ketertinggalan,” kata Muhaji.

Suasana Desa Sidorejo
Foto: Ibad/detiX

Slamet juga bisa dibilang saat ini sudah hidup sejahtera. Sepuluh anaknya rata-rata ia kuliahkan hingga lulus sarjana. Pada 2007, Slamet bahkan diundang Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Istana Negara mewakili Provinsi Kaltim sebagai petani teladan. Ketika ditanya tanggapannya soal pemindahan ibu kota baru ke Kabupaten Penajam Paser Utara, Slamet terlihat begitu emosional. “Kalau arwah ayah saya masih ada, dia pasti senang. Dia sudah bersusah payah di sini. Tapi tak apa, hasilnya akan dirasakan anak-cucunya,” kata Slamet sambil bergetar.


Reporter/Penulis: Ibad Durohman
Redaktur: Deden Gunawan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE