INTERMESO

Pulangnya Sang Kiai
ke Tanah Suci

Mbah Moen tak hanya dihormati sebagai ulama besar di Tanah Air, tapi juga di Arab Saudi. Sering menjadi penengah pihak yang bertentangan.

Ilustrasi: Edi Wahyono

Rabu, 7 Agustus 2019

Bakda Isya, sejumlah ulama Timur Tengah, termasuk dari Indonesia, berkumpul di majelis Ma’had Sayyid Ahmad bin Muhammad bin Alawy al-Maliki al-Hasani di kawasan Ar-Rusaifah, Mekah al-Mukarramah. Tak hanya itu, sejumlah perwakilan jemaah haji asal Indonesia dan santri juga berkumpul di majelis itu.

Saat itu tiga hari menjelang pelaksanaan puncak ibadah haji, Wukuf di Arafah, pada musim haji 2009. Setiap tahun menjelang puncak ibadah haji, aktivitas di pondok pesantren itu ditutup sementara dengan acara pengajian dan tausiah, baik untuk santri, jemaah haji, maupun para petugas haji.

Berjejer sejumlah ulama dari Mekah, Turki, Maroko, Suriah, Palestina, Yaman, dan negara lainnya, termasuk Indonesia. Ulama dan jemaah kebanyakan mengenakan pakaian serbaputih, kemeja koko, gamis, peci putih, dan serban.

Tapi ada yang mencolok di antara deretan ulama yang duduk di hadapan majelis. Tampak seorang lelaki sepuh mengenakan pakaian sederhana baju batik motif berwarna biru, sarung, dan peci (songkok) hitam.

Awalnya kehadiran pria sepuh itu tak dikenali. Namun, ketika sejumlah ulama itu menyalami, bahkan ada yang berupaya mencium tangannya, ia menjadi perhatian. Apalagi yang punya rumah, Sayyid Ahmad, begitu mendekat, pria itu berdiri meraih tangan Sayyid Ahmad. Terjadi saling tarik untuk saling mencium tangan. Mereka berdua tersenyum dan pria tua itu mencium tangan tuan rumahnya. Begitu juga sebaliknya.

“Wartawan detikcom, ya? Itu Mbah Moen dari Sarang, Rembang,” tiba-tiba seorang pria berbaju dan peci putih bertanya kepada saya, yang saat itu menghadiri acara tersebut di sela-sela bertugas liputan ibadah haji pada September-November 2009.

Jenazah Mbah Moen akan disalatkan di Masjidil Haram dan selanjutnya dimakamkan di Mekah, Selasa, 6 Agustus 2019.
Foto: Hanni Sofia/Antara Foto

Ya, dialah ulama besar Tanah Air, yakni KH Maimun Zubair, yang kerap disapa Mbah Moen, pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar, Karangmangu, Sarang, Rembang, Jawa Tengah. Itulah sosok ulama karismatik yang cukup dihormati di kalangan nahdliyin (panggilan untuk kader Nahdlatul Ulama), juga para pembesar di Tanah Air.

Lantas kenapa ulama besar itu malah mencium tangan ulama yang lebih muda seperti Sayyid Ahmad. Muklisin, keponakan Mbah Moen, menjelaskan itulah kebesaran seorang ulama yang tinggi ilmu agamanya. Ia akan tetap bersikap takzim atau hormat kepada anak dan cucu dari gurunya, yaitu Sayyid Alawy al-Maliki al-Hasani. Apalagi dalam diri Sayyid Ahmad mengalir darah Nabi Muhammad SAW dari cucunya, Hasan.

“Ya, dua-duanya saling menghormati. Yang satu menghormati Mbah Moen sebagai ulama besar dan sepuh. Begitu juga sebaliknya,” jelas Muklisin saat itu.

Selama berada di Mekah, dua kali saya bertemu dengan Mbah Moen di tempat itu. Selain penampilannya yang sederhana, tutur kata dan ucapannya juga selalu lembut dibarengi dengan senyuman. Pertemuan ketiga kalinya terjadi saat Muktamar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama di Makassar, Sulawesi Selatan, pada pertengahan 2010.

Saat itu, Mbah Moen sedang dikerubungi wartawan dan tersenyum lebar saat ditanyai siapa calon kuat Ketua Rois Am (Syuriah), pimpinan tertinggi NU. “Lo, kok ketemu di sini lagi?” tiba-tiba Mbah Moen bertanya kepada saya.

Proses muktamar sedikit memanas ketika pemilihan Ketua Rois Am PBNU. Saat itu calonnya ada dua, yaitu KH Hasyim Muzadi, Ketua Umum PBNU sebelumnya, dan KH Sahal Mahfudz. Menjelang pemilihan, Mbah Moen ditanyai dukungannya. Ia menebar senyum dan akhirnya meladeni pertanyaan wartawan. “Jadi siapa yang akan kuat dipilih, Mbah? Mbah milih siapa?” tanya wartawan kala itu.

“Mbah Sahal dan Mbah Hasyim itu dulu satu pondok. Mbah Sahal senior, Mbah Hasyim junior. Tapi nilai Mbah Sahal delapan, Mbah Hasyim sembilan,” jawab Mbah Moen. Didesak apa maksudnya, Mbah Moen hanya tertawa.

Mbah Moen dikenal sangat rajin berziarah ke Tanah Cuci sekaligus melaksanakan ibadah haji. Kepergiannya ke Mekah tanpa menggunakan visa haji atau ongkos naik haji (ONH) pada umumnya. Berbagai cara ditempuh agar bisa berangkat, bahkan dengan menggunakan visa pekerja atau visa ziarah.

“Ya, malah beliau pernah haji berangkat dengan visa pekerja karena hanya itu yang didapatkan beliau. Apakah dengan visa ziarah, visa apa pun yang bisa didapat, sampai pernah dengan visa pekerja,” ujar Katib Am PBNU Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, Selasa, 6 Agustus 2019.

Mbah Moen aktif di dunia politik. Sering menengahi kubu yang bertentangan, termasuk di Partai Persatuan Pembangunan dan PBNU. Ia menjadi penengah kubu Romahurmuziy dan Djan Faridz ketika berkonflik di kepengurusan partai. Dan pada Pilpres 2019, nama Mbah Moen kerap muncul karena menjadi rebutan dukungan antara kubu Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Tiba-tiba kabar duka wafatnya Mbah Moen terdengar pada Selasa, 6 Agustus 2019. Mbah Moen dikabarkan wafat ketika melaksanakan ibadah haji di Mekah. Kiai yang usianya genap 90 tahun itu mengembuskan naas terakhir di Rumah Sakit An-Noor Al-Fatihah di kawasan Abraj Kudai, Mekah, pukul 04.17 waktu setempat.

Mbah Moen lahir di Karangmangu, Sarang, Rembang, Jawa Tengah, pada 28 Oktober 1928, bertepatan dengan pembacaan ikrar Sumpah Pemuda. Putra KH Zubair Dahlan ini digembleng sejak kecil di sejumlah pondok pesantren, di antaranya Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, di bawah asuhan langsung KH Abdul Karim (Mbah Manaf). Selama itu pula, ia mengaji kepada KH Mahrus Ali dan KH Marzuki.

Calon presiden Joko Widodo saat mendapat hadiah dari Mbah Moen di Jakarta, Sabtu, 13 April 2019.
Foto: dok. Istimewa

Saat usianya 21 tahun, Mbah Moen bersama kakeknya, KH Ahmad bin Syu'aib, berangkat menuju Mekah untuk belajar kepada Sayyid Alawy bin Abbas al-Maliki al-Hasani, Syekh Al-Imam Hasan al-Masysyath, Sayyid Amin al-Quthbi, Syekh Yasin Isa al-Fadani, Syekh Abdul Qodir al-Mandaly, dan beberapa ulama lainnya.

Sepulang belajar dari Mekah, Mbah Moen juga masih meneruskan belajar agamanya kepada sejumlah kiai di Jawa. Di antaranya kepada KH Baidowi, KH Ma’shum Lasem, KH Bisri Mustofa (Rembang), KH Wahab Chasbullah, KH Muslih Mranggen (Demak), KH Abdullah Abbas Buntet (Cirebon), dan Syekh Abdul Fadhol Senori (Tuban).

Tak aneh bila kematangan ilmu agama Mbah Moen tak diragukan lagi. Berbagai kitab dihafal di luar kepalanya, seperti fikih, hadis, dan tata bahasa Arab. Karena itu, sepulang berguru kepada sejumlah ulama itu, Mbah Moen mengabdikan dirinya mengajar dan mengembangkan Pondok Pesantren Al-Anwar di tanah kelahirannya sejak 1965.

Bukan hanya mengurusi santri di pondok, Mbah Moen juga terjun ke dunia politik dan menjabat Ketua Majelis Syariah Partai Persatuan Pembangunan. Juga sempat menjadi anggota DPRD Kabupaten Rembang selama tujuh tahun. Juga menjadi anggota MPR RI utusan Jawa Tengah selama tiga periode.

Jenazah Mbah Moen sempat disemayamkan dan disalatkan di kantor Daerah Kerja (Daker) Mekah Panitia Penyenggara Haji Indonesia di Syisyah. Lalu jenazahnya dibawa ke Masjidil Haram, yang jaraknya sekitar 3,5 kilometer dari Daker Mekah. Setelah disalatkan di Masjidil Haram bakda Zuhur, jenazah Mbah Moen dikuburkan di pemakaman Ma’la (Jannatul Mualla), yang berjarak 1 km dari pintu Babus Salam Masjidil Haram.

Pemakaman Mbah Moen di Ma’la sudah direstui pihak keluarga, walau sebenarnya mereka ingin Mbah Moen dimakamkan di Indonesia. Pasalnya, Mbah Moen selama ini sering mengungkapkan keinginan meninggal di Mekah. Bahkan, Mbah Moen ingin meninggal dunia pada hari Selasa.

“Selama hidupnya, Mbah Moen selalu membahas soal Selasa. Memang beliau dari orang-orang bahwa ingin meninggal di Mekah pada hari Selasa. Dan ini juga bertepatan dengan hari Selasa,” ungkap salah seorang putra KH Maimoen Zubair, Majid Kamil MZ, di kediamannya di Rembang, Selasa, 6 Agustus.

Selamat jalan, Mbah Moen.


Reporter/Redaktur: M Rizal
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE