INTERMESO

Amarah
The Smiling General

Soeharto dikenal punya pembawaan kalem dengan senyum selalu menghiasi wajahnya. Namun, di balik itu, kemarahannya bisa meledak.

Ilustrasi: Edi Wahyono

Senin, 29 Juli 2019

Suasana setelah jumpa pers Presiden Soeharto bersama Perdana Menteri Australia Malcolm Fraser berubah jadi tegang. Beberapa aparat militer berbaju preman mengejar rombongan wartawan. Satu per satu wartawan yang hadir dalam jumpa pers di peternakan Tapos, yang terletak di kaki Gunung Salak, Jawa Barat, itu dimintai keterangan. Semua mendapat pertanyaan yang sama, "Siapa wartawati yang bertanya tadi?"

Dudi Sudibyo, yang saat itu ikut hadir di Tapos sebagai wartawan foto harian Kompas, menuturkan semua wartawan kompak tutup mulut. "Tak seorang pun yang menyebut nama wartawati itu," ujar Dudi, yang sekarang lebih dikenal sebagai pengamat penerbangan, kepada detikX beberapa waktu lalu. "Padahal semua tahu yang tanya itu Annie Bertha Simamora, wartawan Sinar Harapan, yang duduk sederet dekat saya.".

Pertanyaan Annie rupanya membuat jengkel Soeharto. Dudi menyebut Annie menyinggung soal sapi-sapi yang baru saja didatangkan dari Australia sebelum kunjungan Malcolm Fraser. "Pertanyaan kurang lebih berbunyi 'apakah bantuan sapi itu untuk peternakan Tri-S di Tapos atau untuk negara'," kata wartawan kelahiran Pacet, Mojokerto, Jawa Timur, 19 Maret 1944, itu.

Soeharto saat itu memang tidak menampakkan raut amarah di wajahnya saat menjawab pertanyaan itu. Begitu juga dengan nada suaranya yang tetap datar nyaris tanpa kesan gusar. "Dari kalimat yang dia pakai untuk menjawab, meski tuturnya halus khas orang Jawa, kami tahu Bapak (Soeharto) marah," ujar Dudi saat menceritakan peristiwa yang terjadi pada 10 Oktober 1976 itu.

Tapos merupakan bekas perkebunan N.V. Cultuur Maatschappij Pondok Gedeh. Hak guna usaha kawasan ini kemudian dialihkan ke Perusahaan Negara Perkebunan XI saat masa nasionalisasi perusahaan Belanda pada 1957. Namun, pada 1973, berdiri PT Rejo Sari Bumi (RSB), yang dipimpin putra kedua Presiden Soeharto, Sigit Harjojudanto. HGU kemudian dialihkan ke perusahaan itu.

Soeharto menerima kunjungan PM Malcolm Fraser di Tapos.
Foto: dok. PPHOS

Sigit lalu membangun peternakan modern di lahan itu, yang di dalamnya terdapat tempat untuk menyilangkan ternak lokal dengan ternak varietas unggul. Ada juga lahan untuk menanam pakan ternak berupa jagung dan rumput khusus. Peternakan pun dilengkapi dengan fasilitas pengolahan dan penyimpanan pakan.

Asisten Menteri/Sekretaris Negara Urusan Dokumentasi dan Media Massa Gufron Dwipayana, yang akrab disapa Dipo, menyebut peternakan diberi nama Tri-S Ranch atau singkatan dari Sari Silang Studi. Peternakan itu, menurut Dipo, dibangun untuk tujuan membantu program pemerintah dalam perbaikan mutu ternak dengan jalan perkawinan.

"Selain berfungsi sebagai tempat pembibitan berbagai jenis sapi unggul dari luar negeri, juga merupakan suatu pusat penelitian bagi penyediaan, penanaman, dan pengawetan makanan ternak," tulis Dwipayana dalam buku Jejak Langkah Pak Harto 27 Maret 1973-23 Maret 1978. Ternak hasil persilangan akan disalurkan ke peternak kecil di berbagai daerah melalui program bantuan presiden.

Tatkala Presiden Soeharto melakukan kunjungan informal ke Australia pada awal April 1975, PM Australia Gough Whitlam mengajaknya bertemu di perkebunan di lepas pantai Townsville, Queensland. Perkebunan ini juga memiliki peternakan sapi. Soeharto tercengang melihat ukuran tubuh sapi Australia. Dia pun mengutarakan keinginannya mendatangkan sapi jenis Brahman untuk disilangkan di  Tri-S Ranch, Tapos.

Presiden Soeharto beramah tamah dengan para penyandang cacat di Bandung, 23 Agustus 1976
Foto: koleksi Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI)

Armada Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) diperintahkan menjemput sapi-sapi itu untuk mewujudkan keinginan Soeharto. Untuk tugas ini, AL menyiapkan operasi khusus yang diberi nama Operasi Andhini Bhakti. Andhini adalah bahasa Sanskerta untuk sapi. Demi kesuksesan operasi, ALRI memodifikasi kapal angkutnya agar layak mengangkut sapi pesanan orang nomor satu di Indonesia itu.

...bukan hanya sapi-sapi yang diturunkan dari pesawat."

Ternyata bukan hanya kapal perang ALRI yang dikerahkan. Dudi menyebut, sebelum Malcolm Fraser berkunjung, ada sejumlah sapi yang diangkut memakai pesawat terbang. "Seingat saya, saat pesawat tiba di Halim, bukan hanya sapi-sapi yang diturunkan dari pesawat. Namun juga lalat-lalat yang lebih besar dari lalat Indonesia beterbangan di sekitar tubuh sapi," kata Dudi.

Dengan datangnya sapi-sapi unggul dari Australia, peternakan seluas 750 hektare itu kemudian menjelma jadi panggung bagi Soeharto untuk mewujudkan impian masa kecilnya hidup di tengah-tengah alam pedesaan dan kaum tani. Tentu impian itu disesuaikan dengan kedudukannya sebagai presiden. Tapos pun menjadi salah satu destinasi kunjungan tetamu kepresidenan.

Memegangi cucu Haryo Wibowo Sigit menaiki kuda
Foto: dok. ANRI

Menggendong cucu saat peringatan HUT pernikahan
Foto: dok. ANRI

Setiap menerima kunjungan ke Tapos, Soeharto pasti mempertunjukkan keahliannya beternak. Pria yang lahir di Desa Kemusuk, Yogyakarta, itu bahkan tak segan mengaduk kotoran ternak, lalu mencium baunya. Dia seolah hendak mengatakan dirinya memang seorang petani. Presiden yang bertani dan petani yang menjadi presiden. Tabu bagi masyarakat untuk mengusik 'panggung' kesayangan mantan Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) itu.

Anda masih muda kok sudah punya tanah seluas ini. Uangnya dari mana?"

Wartawan senior Toeti Kakiailatu menuliskan pengalaman terkait Tapos lainnya dalam artikel di buku 34 Wartawan Istana Bicara tentang Pak Harto. Alkisah, sekitar tahun 1974, Soeharto mengundang banyak wartawan ke Tapos, termasuk Toeti, yang waktu itu meliput untuk harian Pelopor Baru. "Bukan hanya wartawan Jakarta, tapi juga wartawan se-Jawa Barat," tulis Toeti.

Saat itu Soeharto mengajak juga putra ketiganya, Bambang Trihatmodjo. Toeti mendapat cerita dari Menteri Penerangan Mashuri Saleh, seusai pertemuan itu, Presiden berang. Soeharto kepada Mashuri dengan nada marah menyampaikan ada seorang wartawati bertanya kepada Bambang. "Wartawati itu bertanya kepada anak saya, Anda masih muda kok sudah punya tanah seluas ini. Uangnya dari mana?" ujar Soeharto kepada Mashuri.

Bambang rupanya tersinggung. Saat pertemuan selesai, dia mengadu kepada ayahnya. Sang empunya hajat yang ikut gusar memerintahkan agar semua foto pertemuan di Tapos segera dicetak untuk mencari wartawati itu. Mashuri pun bertanya kepada Toeti apakah kenal dengan wartawati yang dicari. "Saya tidak bertemu Bambang dan tidak kenal semua wartawati, apalagi yang dari luar Jakarta," jawab Toeti.

* * *

Soeharto memang piawai menyembunyikan emosinya di balik senyuman. Namun, ada waktu amarahnya tampak secara terbuka. Subchan Zaenuri Echsan menjadi pemantiknya. Subchan, yang lebih populer dipanggil Subchan ZE, lahir di Kepanjen, Malang Selatan, Jawa Timur, pada 1931. Pada zaman Orde Lama, Subchan ZE tergolong pengusaha muda yang sukses. Pada usia 31 tahun, dia terpilih sebagai Ketua IV Pengurus Besar Nahdlatul Ulama di Kongres Solo.

Karier politiknya terus melejit sehingga kemudian diangkat sebagai Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) pada 1966. Subchan ZE dikenal sangat kritis terhadap Presiden Sukarno. Sifatnya itu tak berubah ketika Soeharto mengambil alih kursi presiden. Dalam pidatonya sebagai Wakil Ketua MPRS, Subchan ZE menyampaikan kritik tentang gaya Soeharto memangkas perangkat demokrasi, termasuk partai politik.

Perlawanan Subchan ZE terhadap Soeharto meruncing menjelang Pemilihan Umum 1971. Selama masa kampanye untuk Partai NU, anak Rochlan Ismail itu dengan sengit menyerang Menteri Dalam Negeri Jenderal Amirmachmud, yang dinilai berat sebelah mendukung Golkar. Dia pun mengancam akan mengadukan kecurangan dalam Pemilu 1971 kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa. Kata 'jihad' kadang diselipkan dalam pidato-pidato politiknya untuk mengobarkan semangat.

Letnan Kolonel Soeharto bersama prajurit Tentara Republik Indonesia memasuki Yogyakarta
Foto: Koleksi ANRI

Presiden Soeharto sangat terusik oleh kecaman demi kecaman tersebut. Saat meresmikan Pasar Klewer, Solo, pada pertengahan Juni 1971, suami Siti Hartinah itu dalam pidato tanpa teks mengatakan, "Akhir-akhir ini dilontarkan dengan suara yang lantang setelah pemilihan umum kalau tidak memuaskan akan berjihad. Berarti akan menimbulkan kekacauan dan pemberontakan.... Oleh karena itu, perlu kita peringatkan, agar supaya pemimpin-pemimpin yang demikian ini benar-benar menyabarkan diri, tidak mudah menghasut daripada rakyat...."

"Kita peringatkan jangan sampai terjadi, karena akhirnya hanya akan merugikan pembangunan. Akan tetapi, andaikata toh terjadi, demi kepentingan keamanan, demi kepentingan daripada pembangunan, demi kepentingan daripada Pancasila dan UUD 1945, tak ada jalan lain bagi rakyat bersama-sama dengan ABRI harus menghadapi jihad dengan jihad pula, agar supaya benar-benar pembangunan kita ini bisa dilaksanakan."

Pernyataan tersebut diungkapkan Soeharto dengan rasa marah. Wartawan Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara Alwi Shahab, yang hadir meliput, menyebut ekspresi wajah Soeharto dalam acara peresmian itu terlihat tegang. "Berlawanan dengan julukannya sebagai The Smiling General," tulis Alwi dalam buku 34 Wartawan Istana Bicara tentang Pak Harto.

Soenarto Soedarno, penulis naskah pidato Soeharto sejak akhir 1960-an, saat bertemu detikX di gedung Granadi, Jakarta, mengungkapkan, sangat jarang Presiden Soeharto berpidato tanpa teks seperti yang terjadi di Pasar Klewer itu. Setelah Soeharto lengser, baru Soenarto berani menanyakan maksud menambahkan pidato di luar naskah pidato resmi. "Situasi politik menuntut Pak Harto mengeluarkan pidato seperti itu," ujar Soenarto.


Penulis: Pasti Liberti Mappapa
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE