INTERMESO

Menghapus Air Mata Hamida

“Hamida hanya salah satu contoh. Masih ada jutaan Hamida dengan berjuta cerita yang perlu dibantu.”

Foto-foto: dok pribadi Firdaus Guritno

Senin, 22 Oktober 2018

Tak sekali pun orang pernah melihat Hamida menangis ataupun mengeluh. Padahal separuh tubuh sebelah kiri bocah berusia 5 tahun ini mengalami luka bakar. Hamida memilih diam walau ketiaknya, juga sebagian kepala, lengan, dan punggungnya, sering sekali terasa luar biasa nyeri.

Ketegaran Hamida mungkin boleh disandingkan dengan sosok Jihan Zahira. Anak perempuan yang usianya terpaut dua tahun lebih muda dari Hamida. Jihan, meski senyumnya makin pudar, juga tak pernah merengek meski rumahnya hancur dilibas tsunami di Palu, Sulawesi Tengah, sebulan lalu.

Hamida menjalani hari-hari sulit di Kota Reyhanli, Provinsi Hatay, Turki. Kota di tepi perbatasan Turki dengan Suriah ini mendapat julukan Suriah Kecil karena menjadi pusat berkumpulnya pengungsi dari Suriah sejak perang berkobar dari 2011. 

Perang brutal di negeri itu membuat warga Suriah tak punya pilihan lagi selain segera angkat kaki. Tak terkecuali keluarga Hamida. Sama seperti rata-rata pengungsi lain, orang tua Hamida tak sempat lagi membawa banyak harta benda saat meninggalkan kampung halaman di Suriah pada 2014. Keluarga kecilnya itu harus hidup serba-terbatas di kamp pengungsian. Ketika Hamida tersiram minyak panas saat tak sengaja menyenggol ibunya yang sedang memasak makanan di panci, mereka sekeluarga kelimpungan mencari uang untuk pengobatan.

Firdaus Guritno dari ACT untuk Suriah

Agar Hamida tak makin menderita, gadis kecil itu harus menjalani operasi di sebuah rumah sakit di Kota Antakya, Turki. Tapi, meski telah bekerja kalang kabut, orang tua Hamida hanya sanggup mengumpulkan 30 lira atau setara dengan Rp 90 ribu, per hari. Jangankan untuk biaya operasi Hamida, untuk bertahan hidup saja uang itu tak cukup.

Khayrul Haq, mahasiswa semester III di Kastamonu University, Turki, kaget saat pertama kali melihat kondisi Hamida. Khayrul merupakan relawan kemanusiaan di bawah naungan tim Global Humanity Response (GHR) Aksi Cepat Tanggap (ACT). Dia bergabung dengan ACT sejak setahun lalu.

“Ketika saya bertemu dengan Hamida, saya benar-benar sedih melihat kondisinya. Kami segera berinisiatif melaporkan masalah ini ke kantor ACT di Indonesia supaya Hamida segera mendapatkan pertolongan karena kondisinya yang parah,” kata Khayrul.

Untuk pengobatan luka bakar Hamida, ACT membuka penggalangan dana melalui laman kitabisa.com. Hingga saat ini baru terkumpul dana Rp 71 juta dari target Rp 250 juta. Uang saweran itu baru digunakan untuk membawa Hamida ke Rumah Sakit Universitas Mustafa Kemal Ataturk untuk menjalani operasi. Hamida akhirnya menangis ketika pertama kali melakukan pengambilan sampel darah menjelang operasi. Dasar Hamida anaknya tenang dan penurut, operasi perdana berjalan lancar.

Bagi Khayrul, yang sudah beberapa kali bolak-balik ke Kota Reyhanli, Hamida merupakan serpihan kecil dari ratusan ribu cerita sedih lainnya yang dibawa oleh pengungsi Suriah di Reyhanli. “Hamida hanya salah satu contoh. Masih ada jutaan Hamida lain dengan jutaan cerita yang perlu dibantu,” tutur pria asal Makassar ini. Sampai saat ini, di Reyhanli tercatat terdapat sekitar 125 ribu pengungsi Suriah dan hanya 90 ribu penduduk Turki. Saking banyaknya, jumlah pengungsi Suriah sudah melebihi penduduk asli warga Turki.

Rombongan bantuan dari ACT untuk Suriah

Di sela kegiatan kampus sebagai mahasiswa jurusan Islamic Studies, Khayrul menggunakan waktu senggangnya untuk menyambangi Reyhanli, kota yang jaraknya hanya 60 km dari Aleppo, salah satu medan tempur paling sengit di Suriah. Berkat keahliannya berbicara dalam bahasa Turki dan Arab, Khayrul kerap diminta ACT menemani tamu dari berbagai organisasi kemanusiaan untuk menyaksikan langsung kehidupan pengungsi Suriah.

Khayrul berangkat dari Kastamonu, kota bagian selatan Turki, menuju Ankara, ibu kota Turki, dengan menumpang bus selama empat jam. Tiba di Ankara, dia melanjutkan perjalanan dengan pesawat selama satu setengah jam menuju daerah perbatasan Turki. Reyhanli masih harus ditempuh dengan berkendara selama lima puluh menit. Makin dekat ke perbatasan Suriah, makin banyak pos pemeriksaan yang harus dilewati.

“Sering ada pemeriksaan oleh polisi, terutama karena kami orang asing. Mau apa datang ke sini? Nanti dikira teroris atau apa,” ujarnya. Semakin mendekat ke Kota Reyhanli, terlihat pemandangan wilayah Suriah yang merupakan gugusan perbukitan. Kendaraan dengan nomor polisi dari Kota Aleppo juga mulai terlihat di jalan raya. Ketika mulai memasuki pusat kota Suriah Kecil yang tandus ini, barulah tampak kehidupan para pengungsi.

“Waktu musim panas, suhu udara di sini bisa hampir 40 derajat Celsius. Masih ada keluarga yang tinggal di tenda. Kalau punya sedikit uang, ada yang menyewa garasi rumah orang Turki dengan membayar uang sewa per bulan. Bahkan ada yang cerita dua tahun nggak mandi karena, kalau mandi, kata mereka, itu terlalu boros, mending buat minum saja,” katanya. Kini Khayrul tak hanya jadi penerjemah, ia juga terpanggil untuk aktif dalam berbagai kegiatan kerelawanan.

Di Reyhanli, Khayrul tidak sendiri. Ia bertugas bersama relawan ACT lainnya. Firdaus Guritno-lah yang mengajaknya bergabung dengan ACT untuk membantu pengungsi dari Suriah. Pria asal Banjarmasin ini sudah punya jam terbang lumayan panjang di dunia kerelawanan. Saat ini Firdaus bertanggung jawab sebagai Middle East-Syam & Afrik Desk-Global Humanity Response Aksi Cepat Tanggap (ACT). Salah satu tugasnya menyediakan pasokan logistik untuk pengungsi Suriah. Sudah delapan tahun Firdaus tinggal di Turki. Dan sudah lama ia bermimpi dapat mengabdikan hidup untuk kegiatan kemanusiaan. Dulu alumnus Istanbul University ini terpikir untuk membuat sebuah perpustakaan umum, yang inspirasinya datang dari aksi Indonesia Mengajar.

Firdaus Guritno dari ACT untuk Suriah

“Saya pernah punya mimpi, setelah bekerja, uangnya disumbangkan untuk membangun rumah baca,” tutur Firdaus. Saat ini dia tengah berada di Palu untuk memberikan bantuan pasca-tsunami dan gempa. Setelah menuntaskan kuliah, ACT menawari Firdaus untuk bergabung. “Ternyata, bertemu ACT dengan program global, saya bisa bersinggungan di dunia kerelawanan. Kenapa nggak? Setelah meletus perang, pengungsi Suriah membanjiri Turki. Saya diminta pegang program itu ke lapangan. Kami mengatur rencana dan mendistribusikan logistik, amanah dari masyarakat indonesia ke ACT.”

Berbekal donasi yang disumbangkan warga Indonesia, Firdaus bersama timnya rutin membelanjakan uang itu untuk membeli paket logistik di pasar Turki. Satu paket pangan siap santap berisi makaroni, kacang-kacangan, minyak zaitun, aneka bumbu, garam, gula, serta makanan kaleng. Cukup digunakan satu keluarga selama satu bulan. Ia masuk ke bilik kamp pengungsian, flat, ataupun bungker bawah tanah. Namun, belakangan, bantuan logistik itu kerap tersandung masalah, terutama ketika harga pangan melonjak secara tiba-tiba.

Dia menduga, ada sejumlah pihak yang mengail untung dengan memanfaatkan perang dan bencana. ”Barang ditimbun dulu, baru saat krisis pangan dilepas dengan harga tinggi. Kami jadi susah, khususnya untuk stok peralatan medis,” ujar Firdaus, yang belum lama ini menyelesaikan misi mengantar hewan kurban ke perbatasan Sudan dan Sudan Selatan.

Agar tak tersandung masalah yang sama, ACT membentuk Indonesia Humanitarian Center (IHC), pusat penyediaan bantuan pangan dan logistik bagi para pengungsi Suriah. Gudang untuk menyimpan aneka keperluan pengungsi Suriah ini diresmikan Maret lalu. Kala itu lima truk yang membawa sekitar 75 ton bantuan logistik memasuki gudang IHC di Reyhanli. Untuk mengatasi solusi krisis pangan, ACT di Reyhanli juga menggagas program pabrik roti. Bekerja sama dengan pabrik roti lokal di Turki, program pabrik roti ACT memproduksi hingga 2.400 potong khobz tiap harinya. Roti ini tak hanya dibagikan kepada pengungsi Suriah di perbatasan Turki-Suriah, tapi juga di dalam Suriah.

Hamida bersama Khayrul Haq, relawan  ACT di perbatasan Turki

“Kami menyalurkan roti kepada 2.000 keluarga setiap hari,” kata Firdaus. Ia menjalankan tugas distribusi logistik di tengah bahaya yang tak tahu kapan akan mengancam keselamatan jiwanya. Seperti kejadian pada 2013, ketika sebuah bom mobil meledak untuk pertama kalinya di pusat keramaian di Reyhanli. Saat itu para pekerja kemanusiaan terpaksa meninggalkan Reyhanli karena kondisinya tak kondusif.

Di tengah kondisi serba-terbatas, Firdaus melihat banyak masalah pengungsi Suriah ini yang perlu segera dibereskan. Namun dana yang terbatas menyebabkan ia dan timnya tak bisa bekerja maksimal. “Ketika pengajuan dana sudah dilakukan tapi ternyata terkendala ketersediaan dana, kami sebagai pelaksana sedih juga. Kadang saya suka bertanya, apakah kami sudah kasih yang terbaik? Karena masih banyak sekali yang butuh bantuan,” tuturnya.


Penulis/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE