INTERMESO
"Saya bilang ke mahasiswa, kalau saya tidak bisa menjernihkan air yang berasal dari tinja dan air limbah, saya berhenti jadi dosen. Negara rugi menggaji saya"
Foto : dok.pribadi IPAL Center
Senin, 27 Agustus 2018Usianya memang sudah tidak lagi muda. Akhir tahun ini Abie Wiwoho Hantoro akan merayakan hari jadi ke-70. Namun jika dibandingkan dengan teman seumuran, staminanya masih sangat luar biasa. Bicaranya juga lancar. Apalagi kalau diajak berdiskusi soal tinja, bidang yang sudah ia geluti di hampir separuh hidupnya. Abie, begitu ia disapa, sangat antusias sekali.
Di usia mendekati ‘kepala tujuh’, Abie belum ‘pensiun’, masih ‘bergelimang’ kotoran manusia. Dia masih mengajar mata kuliah soal air limbah di Politeknik Kesehatan Jakarta. Mata kuliah yang menurutnya bikin mahasiswa geleng-geleng kepala. Kadang dia juga masih blusukan keliling Indonesia untuk membangun jamban dan tangki septik. Sudah tak terhitung berapa banyak fasilitas sanitasi yang telah ia bangun.
Konsistensinya ini membuat kerabat bahkan keluarga Abie heran, mengapa ia masih ngotot berkarya di bidang yang menurut kebanyakan orang menjijikkan itu. “Siapa sih yang nggak jijik dengan tinja, tapi ini panggilan tugas. Dan mungkin sudah suratan takdir hidup saya dihabiskan untuk menangani masalah tinja dan air,” kata Abie kepada DetikX beberapa pekan lalu.
Ketika ditemui detikX di Bekasi beberapa waktu lalu, Abie mengenakan kaos berkerah berwarna biru dongker. Baju itu merupakan replikasi kaos berlogo Turn Back Crime. Sementara logo di bagian dada sebelah kanan diganti menjadi Zero Waste Water. Ia sengaja menggunakan 'seragam' ini untuk menularkan kepedulian masyarakat terhadap buangan limbah rumah tangga yang mencemari lingkungan.
Tak sekali pun terlintas di benaknya jika kelak ia akan berurusan dengan hajat banyak orang. Saat masih bocah, sama seperti teman sebaya, dia juga ingin jadi tentara, dokter atau perawat. Tapi postur tubuhnya yang pendek membuat ia minder duluan. Abie juga berasal dari keluarga tak mampu. Selepas lulus SMA, pria asal Ponorogo, Jawa Timur, ini memilih mengadu nasib ke Jakarta.
Ia bekerja yang tak butuh banyak syarat, menjadi tukang jahit. Berbekal uang pas-pasan, dia mendaftar kuliah. Hanya Politeknik Kesehatan Jakarta 2 yang menerima Abie sebagai mahasiswa. Melalui jurusan Kesehatan Lingkungan, Abie berkenalan dengan masalah sanitasi.
Baca Juga : Hidup di Jakarta Dikepung Tinja

Setelah lulus kuliah, Abie baru melihat sendiri, betapa buruknya kondisi sanitasi di Indonesia. Tak Jakarta, tak kota-kota besar lain, kondisinya sama buruknya. Pada tahun 1974, ia ditugaskan oleh almamaternya untuk ke Sulawesi Utara. Tepatnya di Kabupaten Minahasa. Abie ditugaskan untuk membantu jalannya proyek Instruksi Presiden (INPRES) tentang Samijaga atau Sarana air minum dan jamban keluarga.
Proyek ini menyasar daerah yang masih belum terjamah fasilitas buang air besar. Saat itu, Minahasa merupakan salah satu daerah miskin yang sebagian besar warganya tak punya jamban. Mereka buang air besar di sembarang tempat. Hingga suatu ketika, Minahasa terserang wabah kolera atau penyakit diare akut yang disebabkan bakteri Vibrio cholerae.
Waktu saya sedang bertugas, ada wabah kolera. Situasi di puskesmas kacau sekali karena dokter cuma satu. Sedangkan infus dulu belum ada.'
“Waktu saya sedang bertugas, ada wabah kolera. Situasi di puskesmas kacau sekali karena dokter cuma satu. Sedangkan infus dulu belum ada. Setelah enam jam, banyak yang nggak tertolong dan meninggal. Menakutkan sekali,” Abie menuturkan pengalamannya. Kejadian itu rupanya begitu membekas di benak Abie. “Kejadian itu seolah mengendap di memori paling dalam. Makanya saya berpikir nggak bisa begini terus. Masalah limbah ini harus ada yang urus. Sebagai seorang sanitarian, saya berkewajiban untuk memutuskan mata rantainya.”
Selama bertahun-tahun, Abie menjadi ‘mantri kakus’ di Minahasa. Julukan itu diperolehnya lantaran semangatnya yang luar biasa dalam mengembangkan jamban. Berbekal pengalamannya sebagai petugas pengawas air minum dan jamban keluarga di Minahasa, Abie kembali ke Jakarta. Sebelumnya, Abie juga sempat menempuh pendidikan magister di jurusan Kesehatan Lingkungan, Universitas Indonesia. Ia bisa kuliah lagi berkat kebaikan seorang dokter di tempatnya bertugas yang memberikan bantuan secara cuma-cuma.
Di ibu kota negara, permasalahan sanitasi yang dihadapi ternyata malah lebih runyam. Meski setiap rumah kebanyakan telah memiliki jamban, tidak banyak yang terhubung dengan tangki septik. Untuk membangun tangki septik di permukiman padat berjarak 10 meter dengan sumur merupakan hal mustahil. Akibatnya jarak antara satu tangki septik dengan tangki septik lain berhimpitan. Akibatnya, kualitas air tanah makin buruk lantaran tercemar tinja.
Baca Juga : Sandiaga dan Jakarta yang 'Darurat' Tinja
Setelah mendapat tugas baru sebagai dosen di almamaternya, Abie putar otak, bagaimana memecahkan masalah pengelolaan tinja di kota besar dan sangat padat penduduk seperti Jakarta. Ia ingin menciptakan sebuah teknologi tepat guna untuk mengelola lumpur tinja di pemukiman padat. Tujuannya agar setelah diolah, residu cair bisa berubah menjadi air bersih. Atau setidaknya memiliki kadar bakteri Escherichia coli lebih rendah dan sesuai dengan ketentuan baku mutu air yang diterbitkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup.
Bersama mahasiswanya, sudah ratusan kali Abie melakukan percobaan namun semua masih belum membuahkan hasil. Sampai ia diberi julukan raja gagal. “Setiap hari saya berjam-jam nongkrong, melihat air tinja supaya bisa menjadi bersih. Sampai saya bilang ke mahasiswa, kalau saya tidak bisa menjernihkan air yang berasal dari tinja dan air limbah, saya berhenti jadi dosen. Negara rugi menggaji saya,” kata pendiri IPAL Center ini.
Seperti kata pepatah, usaha tidak akan menghianati hasil. Hal itu benar adanya. Tahun 2014, atau tepatnya setelah hampir lima belas tahun, Abie berhasil merumuskan desain Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang dia cita-citakan. IPAL karya Abie mengusung teknologi biofilter ramah lingkungan. Sementara untuk menyesuaikan lahan pemukiman warga yang sempit agar dapat dibangun tangki septik, Abie menggunakan rumus Wiro Sableng 212.
Ia sengaja menggunakan nama pendekar di novel silat karya Bastian Tito ini agar lebih akrab dan mudah diingat. Sementara angka 212 merupakan rumus dimensi tangki septik dengan ukuran 2 meter x 1 meter x 2 meter. Kapasitas ini sudah cukup menampung limbah rumah tangga yang berasal dari kamar mandi, cucian dan dapur. Warga pun tak perlu repot memikirkan jarak 10 meter. Karena Abie menjamin tangki septik buatannya tak akan mencemari sumber air bersih.
“Kami membuat desain tangki septik yang sangat cocok diaplikasikan di permukiman padat. Dengan keterbatasan yang ada, saya mengganti biofilter impor dengan tempurung kelapa, botol minum, kerang,bambu dan sebagainya,” kata Abie. Di Jakarta, tangki septik ‘Wiro Sableng 212’ karya Abie ini sudah banyak digunakan di daerah permukiman padat di Jakarta seperti Kelurahan Semper Barat, Penjaringan dan Duri Utara. “Dari limbah tinja, cucian dapur dan sebagainya hasilnya airnya sejernih air pegunungan. Ini bukan sulap bukan sihir tapi ini fakta.”

IPAL untuk rumah sakit
Foto : dok. pribadi Abie Wiwoho
Selain pemukiman padat, sasaran pengguna teknologi tangki biofilter ciptaannya yaitu untuk rumah sakit maupun puskesmas. Selain menghasilkan limbah domestik, rumah sakit juga mengeluarkan limbah yang mengandung patogen berbahaya. Biasanya berasal dari sisa pembedahan atau persalinan. Sementara dari sejumlah kasus yang ditemui Abie, rumah sakit tidak sanggup menggunakan teknologi IPAL karena harganya mahal.
Abie menawarkan solusi IPAL yang tak kalah efektif dengan produk impor dengan harga jauh lebih murah. RS Khusus Bedah Bina Estetika di Menteng, Jakarta Pusat, merupakan salah satu pengguna IPAL buatan Abie. Karya inovasi Abie sempat membuat Johanna Brismas Skoog, Duta Besar Swedia di Indonesia, penasaran. Dia ingin membuktikan langsung pengolahan limbah dengan IPAL tersebut. Hasilnya, air bersih dan tidak terlalu berbau.
“Kalau menggunakan IPAL impor, pengolahan 1 meter kubik limbah saja bisa makan ongkos Rp 30-40 juta. Sedangkan rumah sakit tipe C saja total limbahnya bisa 25 meter kubik. Kalau dihitung bisa sampai Rp 1 Milyar, mereka mana mampu,” kata Abie. Dengan alat buatannya, rumah sakit bisa mengirit ongkos lumayan besar. “Dengan IPAL Biofilter, biaya untuk mengolah 50 meter kubik nggak sampai Rp 20 juta. Sangat murah, ongkosnya bisa ditekan asal mau pakai material sederhana yang sudah ada.”
Jangan hanya lulus lalu jadi pegawai bank. Banyak sekali permasalahan di sekitar kita yang harus diurus
Sebagai ‘master tinja’ dan ‘mantri kakus’, Abie tak pernah pusing soal honor. Terkadang jika ada yang butuh bantuan, Abie kerap memberikan desain secara cuma-cuma kepada masyarakat yang tinggal di permukiman padat. Abie bergurau, ia hanya minta dibayar 2M alias cukup dengan ucapan 'Makasih, mas'.
Sudah berhasil membuat IPAL dengan teknologi ramah lingkungan dan irit ongkos, Abie memiliki target ambisius agar Indonesia kelak dapat terbebas dari pencemaran air limbah dan tinja. Namun untuk mewujudkan harapannya itu, di usianya saat ini, Abie tak bisa sendiri. Ia membutuhkan tenaga-tenaga muda yang bersedia menggantikannya suatu saat nanti.
Persoalannya, mendengar kata tinja saja orang sudah mengerutkan jidat. Apalagi orang yang mau berurusan dengan tinja, pasti sangat lah langka. Ketiga anak Abie sudah memiliki pekerjaan masing-masing, mereka pun ogah berurusan dengan tinja. Kini Abie ingin memberikan tongkat estafet kepada orang-orang pintar di perguruan tinggi. Sayangnya menurut Abie, tidak banyak pula diantara mereka yang mau menggunakan ilmunya untuk terjun langsung menyelesaikan masalah di masyarakat.
“Saya sebenarnya sudah lelah juga urus limbah karena sudah sepuh. Tapi mau mencari bibit pengganti, banyak yang nggak suka. Padahal banyak universitas, politeknik, sarjana, semuanya itu orang pandai,” tutur Abie. Ia mengajak anak-anak muda untuk tidak takut menghadapi keterbatasan dan menjadi praktisi sanitasi dan air. “Pesan saya pada penerus muda sekali-sekali lah sumbang ilmu. Jangan hanya lulus lalu jadi pegawai bank. Banyak sekali permasalahan di sekitar kita yang harus diurus. Terutama masalah sanitasi.”
Reporter/Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Sapto Pradityo