Aksi Nekat Pemuda Demi Proklamasi
6 & 9 AGUSTUS 1945
Jepang yang menjajah Indonesia menyerah tanpa syarat kepada sekutu setelah Hiroshima dan Nagasaki dibom atom.
SUTAN SYAHRIR MENDENGAR KABAR TERSEBUT
14 AGUSTUS 1945
Sukarno, Mohammad Hatta, dan Ketua Badan Penyelidik Usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) Radjiman Wediodiningrat kembali dari Da Lat, Saigon, Vietnam bertemu dengan Jenderal Terauchi, PangliMa Angkatan Perang Jepang di Asia Tenggara.
Jenderal Terauchi menyampaikan bahwa Pemerintah Jepang di Tokyo memutuskan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia. Kemerdekaan itu akan digodok Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang diketuai Sukarno.
Aktivis Menteng 31: AM Hanafi, Chaerul Saleh, Soediro, SK Trimurti, dan Sayuti Melik menunggu Sukarno-Hatta di kebun pisang dekat Lapangan terbang Kemayoran.
Sukarno ditemani Hatta dan Radjiman Wediodiningrat,
yang berjalan meninggalkan pesawat
dan dihadang oleh pemuda
Wakil Ketua Asrama Angkatan Baru Indonesia Menteng 31, Chaerul Saleh, juga pendiri Persatuan Pelajar Indonesia (PPI), memimpin rapat rahasia pemuda pukul 17.00 WIB di belakang Laboratorium Pegangsaan 15.
Yang hadir antara lain: Chaerul Saleh, Soebadio, Soebianto, AM Hanafi (menteng 31), Aidit (menteng 31), Lukman, Djohar Noer (asrama Baperpi di Cikini 71), Adam Malik, Armansyah, Wikana dan Yusuf Kunto (mata-mata Jepang dari Asrama Indonesia Merdeka Kebon Sirih 81), Eri Soedewo, Syarief Wahidin Nasution, Nasrun, Syarif Thayeb, Karimoedin, Darwis (asrama Baperpi di Cikini 71), dll.
Pertama, mendesak Sukarno dan Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan hari itu juga, 15 Agustus 1945. Kedua, menunjuk Wikana (Kelompok Kaigun, yang bekerja di Angkatan Laut Jepang), Darwis, dan Soebadio Sastrosatomo agar menemui Sukarno-Hatta, menjelaskan agar proklamasi jangan melalui PPKI karena badan itu bikinan jepang. Ketiga, membagi tugas kepada mahasiswa, pelajar, dan pemuda seluruh Jakarta untuk merebut kekuasaan dari Jepang.
Pertemuan Wikana dan golongan tua di rumah sukarno pada 15 Agustus 1945 pukul 22.00 WIB. Sukarno ditemani Hatta, Achmad Subarjo. Ahmad Subarjo datang bersama BM Diah, keponakannya yang baru bebas dari penjara. Wikana bersama Darwis.
kemudian mereka terlibat dalam perdebatan sengit ...
Wikana balik badan dengan rasa kecewa dan marah
Para Pemuda kembali rapat pukul 24.00 WIB di belakang Laboratorium Pegangsaan 15. Chaerul Saleh mengusulkan agar Sukarno-Hatta dibawa ke luar Jakarta, ke Rengasdengklok, di mana ada Tentara PETA yang siap menghadapi segala kemungkinan bila Proklamasi dibacakan. Selain itu agar kedua tokoh tidak dimanfaatkan Jepang untuk menghalangi proklamasi. Menjelang subuh 16 Agustus 1945, para pemuda bergerak.
Hatta yang baru bangun untuk makan sahur kaget ketika Sukarni, Jusuf Kunto, dan Subeno sudah ada di ruang tengah rumahnya dengan senjata. Hatta dibawa memakai mobil.
Mobil datang ke rumah Sukarno. Soekarno bersama Fatmawati yang sedang menggendong bayinya, Guntur Soekarno, digiring keluar dari rumahnya di Jalan Pegangsaan Timur No 56 untuk menuju Rengas Dengklok.
SukarNo-hatta dibawa kembali ke Jakarta dari rengasdengklok
Chaerul Saleh, Wikana, Djohar Nur, Adam Malik, Pandu Kartawiguna, dll melangsungkan rapat atau berbincang-bincang dan menyusun teks proklamasi. Alat-alat penyiaran juga sudah siap semuanya. Namun, Wikana menahan agar proklamasi tidak dibacakan.
Ahmad Subarjo tiba di Rengasdengklok
Sukarno, Hatta, dan Amhad Subarjo tiba di rumah Laksamana Tadashi Maeda, Jalan Imam Bonjol No 1 (Sekarang Museum Proklamasi). Sekitar pukul 03.00 WIB, mereka masuk ruangan dengan meja berbentuk oval untuk merumuskan naskah proklamasi. Di dekat Ahmad Subarjo agak ke belakang ada: Sukarni, Soediro, dan BM Diah. Naskah ditulis dengan pulpen di sebuah kertas buku tulis yang diambil sesobek.
Sukarni sempat menyodorkan teks proklamasi yang digagas pemuda. Tapi Sukarno kurang Puas.
Sukarno memegang pulpen dan menulis naskah proklamasi dengan Hatta dan Ahmad Subarjo yang mendikte.
Sukarno memerintahkan kepada Sayuti Melik yang kebetulan melintas di ruangan untuk mengetik naskah proklamasi.
Sayuti Melik kebingungan karena di rumah Laksamana Maeda
adanya mesin ketik berhuruf kanji. staf maeda pergi
ke kantor militer Jerman untuk meminjam mesin tik.
Sayuti Melik mengetik naskah proklamasi itu didampingi BM Diah. Setelah itu naskah asli dibuang ke tempat sampah.
BM Diah memungut teks Proklamasi dan setelah itu memasukkannya ke saku celana.
Sukarno di hadapan sekitar 50 orang termasuk anggota PPKI dan pemuda sambil memegang naskah proklamasi yang telah diketik. Di situ, Sukarno meminta persetujuan yang hadir.
SETELAH DITANDATANGANI OLEH SUKARNO DAN HATTA, PROKLAMASI DIBACAKAN di Rumah Sukarno. Sebelumnya, proklamasi hendak dibacAkan di Lapangan Ikada, tapi banyak tentara Jepang berkeliaran di lapangan tersebut.



