INTERMESO

KISAH PARA WAPRES


    CINTA TERAKHIR SANG WAPRES

"Saya mau sama Ibu ini karena saya merasa benar-benar seorang laki-laki. Laki-laki biasa seperti yang lain. Lelaki rakyat biasa yang bisa bebas ketawa-ketawa"

Ilustrasi : Edi Wahyono

Selasa, 14 Agustus 2018

Semua orang yang ditanya sepanjang Jalan Ahmad Yani, dari tukang ojek, tukang parkir, sampai pemilik warung, tahu belaka siapa pemilik rumah itu. Meski kini tak tampak jelas dari jalan, lantaran tertutup rimbunnya rumpun pisang dan semak belukar, dulu rumah itu mestinya sangat megah dan mewah.

“Oh, rumahnya Pak Hamengku Buwono,” jawab mereka nyaris seragam saat ditanya lokasi Kedaton Shwarna Bhumi. Di balik pagar putih yang mengelilingi kompleks Kedaton, ada papan terpasang bertuliskan, ‘Dilarang Masuk ke Areal Tanah dan Bangunan ini Tanpa Seizin Kementerian Hukum dan HAM RI sesuai SK Menteri Keuangan RI nomor 28/KM.06/2015’. Gerbang hitam besar yang jadi pintu masuk kompleks Kedaton sudah tampak kusam dan berdebu.

Dulu, kurang lebih 20 tahun lalu, Kedaton Shwarna Bhumi merupakan kediaman Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Rumah besar di tanah seluas 1,6 hektare itu ditinggali Sri Sultan bersama istri terakhirnya, Norma Musa atau KRAy Nindyo Kirono. Namun sudah sekian lama rumah itu kosong tak berpenghuni, membuatnya tampak seram dan muram. Kontras dengan bangunan tinggi Hotel The Sahira yang masih tampak relatif baru, persis di sampingnya.

Kedaton Shwarna Bhumi di Bogor, kini

Mulai dibangun pada 1982, kompleks Kedaton Shwarna Bhumi siap dihuni dua tahun kemudian. Kedaton dengan 23 ruangan itu dirancang oleh arsitek senior Adhie Moersid. “Semula ini hanya rumah peristirahatan biasa, tapi akhirnya berkembang menjadi tempat tinggal bangsawan yang lengkap yakni sebuah kedaton,” kata Adhie, dikutip dalam buku Hari-hari Sri Sultan Hamengku Buwono IX, bertahun-tahun silam. Kedaton ini menjadi semacam hadiah Sri Sultan untuk istri terakhirnya, Norma.

Kedaton ini memenuhi semua syarat rumah bagi seorang Raja Jawa seperti Sri Sultan. Ada pendopo, bagian keputran dan keputren, ruang tidur tamu, ruang penyimpanan pusaka, dapur khusus untuk memuaskan hobi memasak Sri Sultan, juga kolam renang tertutup di bagian belakang. Dulu, bila tak tinggal di rumahnya di Jalan Halimun, Jakarta Pusat, Sri Sultan dan Norma lebih banyak menghabiskan waktu menikmati hujan di Bogor.

“Kadang kalau Pak Sri Sultan lagi di rumah, beliau suka pesan gado gado ke saya. Nanti saya antar ke pos jaga atau pembantunya yang ambil,” Mariah, 61 tahun, pemilik warung gado-gado di sebelah Kedaton, menuturkan kepada DetikX beberapa hari lalu. Menurut Mariah, dia sudah berjualan gado-gado di sana sebelum Sri Sultan tinggal di Kedaton.

Sungguh sayang, bangunan megah itu kini kosong dan merana. Pada siang hari, hanya petugas keamanan dari Kantor Imigrasi Bogor yang berjaga. “Jaganya cuma sampai jam 6, kalau malam kosong. Sekarang dijaga, takut ada yang menduduki tanah ini,” kata Hendar, salah satu petugas keamanan. Kabarnya, di tanah itu akan dibangun Kantor Imigrasi.

Dulu, setelah Sri Sultan tiada, Mariah bercerita, rumah besar itu sempat menjadi kantor perusahaan film milik saudara Norma. Entah bagaimana duduk ceritanya, Kedaton Shwarna Bhumi kini menjadi milik negara. Kedua pemiliknya, Sri Sultan dan Norma Nindyo Kirono sudah berpulang. Sri Sultan wafat 20 tahun silam, sementara Norma berpulang tiga tahun lalu.

Kalau Bapak makan, semua orang menyembah. Bapak tak bisa makan lagi bersama saya. Saya pikir, begini toh hidup di Kraton. Alangkah tidak enaknya

KRAy Norma Nindyo Kirono, istri Sri Sultan Hamengku Buwono IX

Sri Sultan Hamengku Buwono IX
Foto : repro. buku Tahta untuk Rakyat

Norma yang masih tampak cantik di usia senja itu lah yang selalu menemani Sri Sultan di hari-hari terakhirnya. Norma pula yang ada di samping Sri Sultan saat mantan Wakil Presiden Indonesia kedua itu wafat di Rumah Sakit Universitas George Washington, Amerika Serikat, pada Minggu malam, 2 Oktober 1988.

No…It’s impossible,” Norma meratap, seperti dikutip dalam biografi Sri Sultan, Tahta untuk Rakyat, saat diberitahu dokter bahwa suaminya meninggal dunia. Norma merupakan istri kelima Sri Sultan. Raja Yogyakarta itu tak punya permaisuri. Semua istrinya punya kedudukan yang sama sebagai garwo ampeyan atau selir.

“Saya menikah dengan Bapak pada tahun 1976. Surat-suratnya lengkap dan ada pada Bapak,” kata Norma dikutip dalam buku Hari-hari Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Saat itu, Sri Sultan masih menjabat Wakil Presiden. Ketika menikah dengan Sri Sultan, Norma sudah lama menjanda dengan satu anak.

Norma memang ‘beda’ dengan keempat istri Sri Sultan sebelumnya. Dia bukan seorang perempuan Jawa, bukan perempuan yang terbiasa dengan segala adat istiadat dalam Kraton. Dia lahir dan melewatkan masa kecilnya di Kampung Tanjung, Muntok, Pulau Bangka. Saat Norma menjelang remaja, beberapa pemimpin Republik yang masih muda, antara lain Mohammad Hatta, Mohammad Roem dan Ali Sastroamidjojo, diasingkan Belanda ke Pulau Bangka, tak jauh dari kampung Norma. Beberapa bulan kemudian Sukarno menyusul.

Norma diperkenankan Belanda untuk melayani Bung Karno, Bung Hatta, dan tokoh-tokoh Republik kala itu. “Dia pemberani, tidak pemalu dan lincah,” Nyonya Roem mengenang. Tertarik melihat gadis Bangka yang pemberani itu, Bung Karno mengusulkan agar Norma bersekolah di Jakarta. Beberapa tahun kemudian, Norma hijrah ke Jakarta. Dia tinggal di rumah Haji Agus Salim. “Karena Haji Agus Salim juga punya anak gadis.” Belakangan, Norma pindah ke rumah keluarga Roem. Saat itu, Roem menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri.

Sri Sultan bersama Bung Karno
Foto : repro. buku Tahta untuk Rakyat

Setelah tamat SMA di Jakarta, menurut Nyonya Roem, Norma bekerja di Sekretariat Negara. Sempat menikah dan punya satu anak, Norma bercerai dengan suaminya pada awal 1960-an. Sejak itu tak banyak kabar soal Norma hingga bertahun-tahun kemudian dia menikah dengan Sri Sultan. Kala itu, usia Norma sudah 46 tahun, sementara umur Sri Sultan 64 tahun.

Norma yang orang Melayu, yang bebas dan tak biasa dengan segala unggah-ungguh di lingkungan Kraton Yogyakarta, ini lah yang konon ‘mencerahkan’ masa tua Sri Sultan. Di depan Norma, Sri Sultan tak lagi merasa seperti Raja yang mesti disembah dan selalu jaga wibawa. “Saya mau sama Ibu ini karena saya merasa benar-benar seorang laki-laki. Laki-laki biasa seperti yang lain. Lelaki rakyat biasa yang bisa bebas ketawa-ketawa,” Norma mengutip kata-kata Sri Sultan.

Kalau sedang ada di Kraton, saya jarang bicara dengan Bapak

Jika tak sedang ada di lingkungan Kraton Yogyakarta, Sri Sultan dan Norma memang tak ada beda dengan pasangan-pasangan lain. “Kalau sedang ada di Kraton, saya jarang bicara dengan Bapak,” kata Norma. Meski mulai paham dengan segala adat dalam Kraton, Norma tetap bukan seorang putri Jawa. “Kalau Bapak makan, semua orang menyembah. Bapak tak bisa makan lagi bersama saya. Saya pikir, begini toh hidup di Kraton. Alangkah tidak enaknya.”

Tapi justru Norma yang ‘beda’ ini sepertinya yang membuat Sri Sultan ceria. “Pak Sultan itu kan orangnya baik sekali dan royal. Sama orang lain saja baik, apalagi kepada orang yang paling dekat dan mau mengerti beliau,” kata Nelly Adam Malik, janda mendiang Wakil Presiden Adam Malik, yang bersahabat karib dengan Norma. “Bisa jadi dengan Bu Norma, Pak Sultan merasa seperti rakyat biasa. Dan itu dirasakannya cocok.”

Saat meninggal pada September 2015, jenazah Norma diterbangkan dari Jakarta dan dimakamkan di Astana Saptorenggo, kompleks pemakaman keluarga Kraton Yogyakarta, di Imogiri. Di kompleks itu pula Sri Sultan dan istri-istrinya dimakamkan.


Reporter/Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Sapto Pradityo

[Widget:Baca Juga]
SHARE